
Mereka semua sibuk saling bantu menyiapkan peralatan untuk tampil live di TV pada saat jam tayang utama. Jamnya saat keluarga berkumpul menonton TV.
“Stasiun TV mana nih kali ini?” tanya Agung.
Dia berdiri di belakang Anton yang sedang memeriksa rating TV.
“Sebaiknya jangan satu stasiun TV saja. Tetapi kita pakai tiga TV dengan rating teratas,” Indra memberi ide.
“Bisa gak Ton? Sanggup gak kita masuk ke 3 TV?” Agung bertanya lagi.
“We'll see...” kemudian menoleh sambil tersenyum lebar pada Agung, “Insyaa Allah bisa.”
Anton berdiri sambil melepas headsetnya.
“Ada yang aneh dengan TV saluran berita yang ini,” tangannya menyentuh layar monitor laptopnya.
“Aneh kenapa?” Bramasta mengernyit.
“Stasiun TV itu menurunkan pengamanannya. Seolah-olah memang mempersilahkan kita untuk masuk..”
“Demi mendapatkan berita ataukah jebakan?” Adisti menatap Anton yang tampak bingung.
“I don’t know...” Anton terdiam kemudian menatap Hans, “Bagaimana Bang?”
“Itu stasiun TV yang pernah kita bajak kan?” Hans balas menatap Anton.
“Ya.. Dan setelah itu harga tayang iklannya dinaikkan drastis karena begitu banyaknya pengiklan yang berlomba-lomba memasang iklannya di stasiun TV itu,” Indra tersenyum miring, “Termasuk iklan-iklan dari B Group. Lu ingat gak Bram?”
Bramasta mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kapitalis banget..”
“Hukum ekonomi berlaku, Bang..” Agung terkekeh.
“Berapa lama durasinya nanti?” Indra mengamati waktu potongan-potongan video yang nanti akan ditayangkan.
“Sekitar 30 menit..” Anton mulai mengetik beberapa alamat IP palsu untuk mengecoh pelacakan.
“Berapa IP yang akan dipakai Ton?” Bramasta membungkuk di belakang Anton mengamati kerja Anton.
Anton terkekeh, “Jadi ingat iklan wafer: berapa lapis? Ratusan..“
Alis Bramasta terangkat keduanya.
“Ciyus Ton? Ratusan alamat IP?”
Anton dan Hans tertawa.
“Impossible lah dibuat ratusan IP dalam waktu sesingkat ini karena mengejar prime time.”
“Paling cuma dua puluhan ya Ton?” Hans ikut berdiri di belakang Anton.
“Gue buat tiga puluh Bang sebelum akhirnya terkirim maleware dan bom spam bagi si pelacak.”
Hans dan Bramasta mengangguk setuju.
“Lima belas menit menuju prime time...” suara Adisti membuat mereka kembali ke posisi masing-masing.
Anton dibantu dengan Agung yang juga memahami dunia cyber. Keduanya berkomunikasi menggunakan headset nirkabel.
Bramasta, Indra dan Adisti menunggu dengan tidak sabar sekaligus cemas.
Hans sudah mengenakan headsetnya. Dia juga sudah membuat poin-poin yang akan dibicarakannya nanti.
“Bang Hans, on the stage please,” Agung memperhatikan waktu yang terus berjalan di layar monitor laptop, “Kita sudah masuk ke dalam sistem mereka sekarang.”
“It’s count down on 3_Hitung mundur mulai dari angka 3_. Musik latar Prince Zuko akan diputar...” Anton menunjuk pada layar proyektor.
“Tiga...dua..satu!” Anton menekan tombol enter.
Tayangan yang sedang berlangsung di ketiga stasiun TV berhenti total. Berganti layar hitam. Kemudian muncul tulisan-tulisan kode binari dan juga bahasa mesin berwarna hijau dengan diiringi musik latar soundtrack di film Avatar saat Prince Zuko memimpin armada perangnya menyerang negara lain.
Sosok Prince Zuko muncul samar hingga menjadi jelas. Suara Hans yang tersamar menjadi suara Prince Zuko dalam bahasa Inggris.
"Selamat malam Warga +62. Saya Prince Zuko datang dalam damai. Melalui media TV dan media Burung Biru...”
Saat Hans berbicara, Anton memutar potongan-potongan video yang beredar di berbagai media sosial kiriman dari orang-orang yang berada di TKP.
“Karena viralnya video ini di media sosial membuat saya muncul lagi di hadapan Anda semua. Orang yang pernah dalam pengamatan saya. Orang yang pernah menjadi korban peristiwa The Ritz. Orang yang menolong seorang remaja dari bullying. Orang yang pernah menggagalkan perdagangan manusia. Agung Aksara Gumilar..”
Agung yang disebut namanya langsung mencibir.
“Kali ini dia menjadi target operasi dari komplotan Tuan Thakur di video viral hari Minggu lalu. Ini buktinya..”
Anton memutar video dari CCTV toko yang menangkap kilasan wajah si Kurus saat hendak menusuk Agung. Wajah si Kurus di zoom. Lalu video diputar mundur dan dipercepat.
Teman si Kurus yang memastikan target diberi lingkaran. Saat dia melirik pada si Kurus dan mengangguk samar, adegan itu diperlambat dan diulang beberapa kali.
Narasi-narasi yang disampaikan Prince Zuko mengajak pemirsa untuk berfikir bahwa Agung bukanlah target acak peristiwa penjambretan.
Siapa si Kurus juga dibeberkan oleh Prince Zuko. Fakta-fakta si Kurus merupakan orangnya Tuan Thakur juga dibeberkan Prince Zuko.
Video CCTV dari tempat golf club pun diputar lagi. Menunjukkan pada masyarakat orang yang seharusnya berasa di balik terali besi masih bisa bebas berkeliaran untuk bersenang-senang.
Hans masih terus berbicara. Anton dan Agung juga masih memutar potongan video-video.
Indra memberi kode Hans. Hans mengangguk.
“Warga +62, seorang abdi negara yang selalu melakukan tugasnya dengan baik dan lurus kini tengah diincar oleh komplotan Tuan Thakur. Karir dan nyawanya terancam. Ancaman pembunuhan juga jebakan fitnah terkait narkoba sudah ditebar Tuan Thakur.”
“Mau sampai kapan Tuan Thakur dan komplotannya dibiarkan terus untuk menggerus tatanan yang sudah baik dan mencoreng institusi?”
“Keputusan ada di tangan Anda semua. Saya, Prince Zuko, datang dalam damai. Membuka mata kalian terhadap kejahatan terstruktur yang disembunyikan dari kalian.”
Gambar Prince Zuko mengabur. Lalu sebuah tulisan muncul membuat Bramasta, Indra dan Adisti tercengang. Tulisan dengan huruf komputer berwarna hijau itu berbunyi:
I GOT YOUR MESSAGE.
Diiringi musik latar Prince Zuko.
Anton memberi kode dengan jemarinya, menghitung mundur lagi.
“Cut!” teriaknya sambil melepas headset.
“Cek sosmed!” seru Agung sambil melepas headsetnya.
“Wow!”
“Langsung dibahas netizen. Dari kemarin hastag perombakan kencang terdengar ya..”
Gawai Hans berbunyi. Hans langsung menekan loudspeaker.
“Assalamu’alaikum Bang Leon.. bagaimana di sana?”
“Sorry tadi gue gak bisa ikut nimbrung ya. Mendadak ada meeting keluarga.”
“It’s OK Bang..!” Bramasta berseru.
“Netizen Singapura ikutan heboh. Gung, Lu bisa mengadakan jumpa fans di sini. Banyak banget yang jadi fans kamu,” Leon terkekeh.
“Issh apaan sih Bang Leon ini..” Agung melepas headset.
“Beneran Gung. Netizen Singapura turut mendukung hastag Netizen Indonesia,” Leon menambahkan.
“Pantas saja.. Hastagnya nomer satu trending topik dunia,” Adisti bersuara.
“Kita di sini sedang mengamati medsos, Bang,” Hans menyisir rambutnya dengan jemarinya.
“Tadi live? Bukannya rekaman?” Leon penasaran.
“Live dong...” Anton tertawa.
Indra yang sedang memperhatikan ruang kontrol dari panel kaca ruang rapat langsung berdiri, “Hans, semua monitor penyusup menyala merah!”
Semua ikut berdiri memandang ke arah ruang kontrol. Sebuah monitor menyala kuning, artinya penyusup masuk terlalu dalam.
Anton berlari ke ruang kontrol. Berbicara dengan para kru Shadow Team dengan cepat.
Tidak berapa lama, Anton memakai headset dan mulai mengetik dengan cepat perintah-perintah penghadangan.
“Masyaa Allah.. Hyung Anton..” Adisti bergumam sambil memegang erat lengan suaminya.
“Alhamdulillah kita punya Anton ya,” Indra menatap Anton yang tengah cyber war bersama para kru Shadow Team.
“Bagaimana keadaan di sana?” suara Leon terdengar lagi.
“Masih ditangani Anton, Bang,” Agung menjawab pertanyaan Leon.
Hans masih terpaku melihat kegiatan di ruang kontrol.
15 menit kemudian, Anton mengacungkan kedua jempolnya pada mereka yang mengamati dari ruang rapat.
.
***
Hyung Anton...Author padamu!
😁😁