
Hans tidak kembali ke ruangannya. Dia melangkahkan kakinya ke taman di lantai 5. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya menyapanya. Hans hanya menganggukkan kepala dengan mata tertuju pada gawainya.
Hans_Gue dapat laporan, dunia malam Batam pecah. Semalam tempat hiburan milik Ferdi Gunaldi di Batam, Tosca Imperial, digerebek dengan brutal oleh anak buah Tuan Thakur. Pers dilarang menyebarluaskan beritanya. Tapi the power of social media itu tak terbendung. Walau HP para pengunjung disita aparat tapi masih ada beberapa HP yang lolos dari sitaan dan merekam apa yang terjadi di sana_
Agung_Brutal bagaimana?_
Hans_Tidak sesuai prosedur penggerebekan. Ada surat tugas tapi disinyalir aspal, asli tapi palsu_
Indra_Bagaimana bisa surat penggerebekannya aspal?_
Hans_Pejabat tinggi yang menandatangani surat tersebut menyangkal mengeluarkan surat apalagi menandatanganinya_
Anton_Gue baru dapat beritanya dari sesama hacker, 4 orang tewas, 7 orang luka tembak, belasan lainnya luka-luka. Ini penggerebekan atau pembantaian sih?_
Bramasta_Pihak Tosca Imperial memakai jasa pengacara terkenal. Wah, makin ramai ini_
Agung_Berarti apa yang disampaikan oleh Virgo itu benar ya?_
Anton_Kita spill lagi ya. Spill wajah-wajahnya juga. Semalam gue udah dapat percakapan mereka. Noise-nya sudah gue kurangi, jadi pembicaraan mereka bisa terdengar_
Hans_Lu gak tidur, Ton?_
Anton_Tidur kok.. walau cuma sebentar. Karena penasaran, Bang. Jadi diulik terus.._
Bramasta_OK, kita spill malam ini? Tapi narasinya buat agar Virgo dan para pegawai di sana tidak diincar oleh anak buah Tuan Thakur_
Agung_Setuju_
Semua menyetujuinya.
Leon_Penyerangan Tosca Imperial membuat kehebohan publik Singapura. Selain karena tempat tersebut dimiliki oleh terpidana mati Ferdi Gunaldi, juga karena ada WN Singapura yang menjadi korban tembak. Dan kebetulan dia adalah seorang selebriti yang sedang naik daun di sana_
Anton_Daebak! Langsung jadi perhatian negara lain. Tuan Thakur dan kroninya akan semakin sulit bergerak kali ini_
Hans_Penggerebekan ini belum ada pihak yang mengaitkan dengan Tuan Thakur_
Bramasta_Ingatkan publik dengan dialog Rita dan Tuan Thakur tentang Tosca Imperial sebagai pembuka. Baru Prince Zuko tampilkan 4 anak buah Tuan Thakur_
Hans_Nanti shadow team akan melengkapi dengan profil keempatnya. Kita spill semua._
Indra_Bang Leon dimana?_
Leon_Gue sudah di Singapura. Pulang semalam. Layla ada kerjaan, gue juga ada meeting_
Hans_OK.. kita nanti malam kumpul di apartemen Bram ya, minus Bang Leon dan Agung_
Indra_Gung, Lu gimana perkembangannya?_
Agung_Alhamdulillah sudah dapat ijin dari dokter buat turun dari bed. Gilaaa! Sakit beud telapak kaki sewaktu baru menjejak lantai..._
Bramasta_Bunda cerita, Lu sampai berlinang air mata. Mana depan Adinda lagi... (emot ngakak 3x)
Indra_Halaaaah cemen Lu Gung.._
Leon_Hancur deh harga diri seorang pria (emot ngakak)
Agung_Issssh kok Bunda cerita ke Bang Bram pas bagian yang gak banget sih.._
Anton_Kira-kira Adinda jadi ilfil gak ya??_
Agung_Ya nggaklah. Berasa dapat terapi TLC_
Hans_Apa itu TLC?_
Agung_Tender Love and Care_
Indra_Dih!!
Perang stiker ngakak.
Bramasta_Padahal baru 5 hari gak menjejak lantai ya, Kakak Ipar. Telapak kaki jadi sakit banget. Ini salah satu nikmat yang sering kita lupakan saat bangun tidur_
Leon_Iya juga ya.._
***
Rumah Sakit XXX
Ruang VIP 2
Bramasta dan Adisti baru bisa mngunjungi Agung jam 2 siang setelah meeting bersama karyawan divisi wardrobe atau divisi busana.
Adinda sedang berbincang dengan Agung di atas bed.
“Bagaimana, masih sakit telapak kakinya?” tanya Bramasta mendekati bed.
“Masihlah..” Agung meringis, “Gak sanggup berdiri lebih dari 3 menit.”
“Hmmh, dulu sewaktu Adek habis jatuh dari jurang, terus pertama kali turun dari tempat tidur, diledekin cengeng...” Adisti mencibir pada Agung, “Sekarang merasakan sendiri kan rasanya. Nangis juga kan?”
Adinda terkekeh sambil menutupi mulutnya. Dekik kecil di bawah matanya muncul.
“Gak malu berurai air mata depan Adinda?” Adisti mencibir lagi.
“Ambyar deh sosok super hero, otot kawat tulang besi. Yang dikeroyok berandalan malah bisa ngalahin semua berandalannya, mirip-mirip film Bollywood..” Adisti masih mengoceh.
Adinda makin terbahak dengan ucapan Adisti.
“Eh, tumben diam..? biasanya langsung menyambar seperti petir..” Adisti mengerutkan kening lalu menoleh pada Agung yang masih memperhatikan Adinda dengan lekat.
“Ya Allah.. pantesan diam. Rupanya sedang terpana..” Adisti meringis menatap Agung yang masih tidak menyadari ucapannya.
Bramasta dan Bunda ikut memperhatikan Agung. Lalu keduanya serentak tertawa.
“Kakak Ipar... ih, malu-maluin aja,” Bramasta melambaikan tangannya di depan wajah Agung.
Agung mengerjap. Tampak terkejut. Membuat semuanya tertawa melihat kelakuannya.
“Sampai segitunya, Kak..” kekeh Bunda.
“Ada apa? Kalian bicara apa?”
“Gak Kak. Gak ada tayangan ulang. Udah lewat jauh. Malah sekarang udah belok di tikungan,” Adisti mendudukkan dirinya di sofa bed.
Bramasta menghampiri pesawat telepon interkom di meja pantry. Lalu menekan tombol untuk perawat. Mengabari dirinya dan Adisti sudah datang dan siap untuk turun ke lobby.
“Nanti kami hubungi lagi ya Tuan Bramasta apabila semuanya sudah siap di bawah,” suara perawat di ujung telepon interkom terdengar.
“Bunda nanti ikut kan?” tanya Bramasta.
“Nggak, Nak Bram. Bunda di sini saja ditemani Adinda. Bunda malu harus berhadapan dengan para wartawan.”
“Loh, kenapa harus malu?”
“Bunda tidak terbiasa di depan kamera, Bang. Ya sudah nanti Adek yang menjadi perwakilan keluarga ya Bun?” Adisti memeluk lengan Bunda.
“Nah, begitu lebih baik. Bunda jadi lega sekarang,” Bunda terkekeh.
Pintu diketuk. Seseorang mengucapkan salam sambil mendorong pintu. Dua orang perawat masuk. Salah satunya mendorong kursi roda untuk Agung.
“Tuan Agung sudah siap?”tanya salah seorang perawat dengan senyum yang tidak lepas dari wajahnya.
Agung mengangguk lalu duduk di tepi ranjang. Bramasta bersiap di depan Agung. Adinda di sampingnya.
Setelah menghela nafas beberapa kali, Agung menapakkan kakinya di atas lantai kamar rawat inapnya. Wajahnya seperti kaget dengan sengatan rasa nyeri pada telapak kakinya. Walau ia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi rasa sakitnya.
Bramasta menuntunnya untuk duduk di kursi roda. Adinda berusaha membantu dengan memegang lengan Agung. Namun Agung berulang kali menepisnya dengan samar.
Adinda menggigit bibirnya. Dia merasa kecewa niat baiknya ditolak Agung. Seperti ada yang pecah di dalam sana.
Seorang perawat menahan lengan Agung ketika Agung mulai duduk di kursi roda. Setelah merapikan posisi kaki pada tempatnya, perawat tadi tersenyum memandang Agung.
“Sudah nyaman duduknya?”
Agung mengangguk. Dia melirik pada Adinda yang tengah menunduk. Kemudian memalingkan wajahnya menatap jendela.
Agung mengernyit.
“Kenapa, Kakak Ipar? Terasa sakit?” tanya Bramasta.
Agung menggeleng.
“Kita pergi sekarang?” tanya Agung kepada Bramasta.
“Whenever you ready, Bro,” kata Bramasta sambil tersenyum.
“Disti, Sayang..” panggil Bramasta, "Have you ready yet?_Sudah siap belum?_"
Adisti keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar dan rapi.
“Dih.. dandan dulu,” cibir Agung.
“Ofcourse_Iya dong_,” Adisti meleletkan lidahnya pada Agung.
Bramasta dan para perawat tertawa.
“Dinda,” panggil Agung kepada Adinda yang tengah menatap luar dengan mata sendu.
Adinda menoleh kemudian berusaha menutupi perasaannya dengan senyumnya.
“Iya, Om?”
“Saya ke bawah dulu ya.”
Adinda mengangguk tetapi tidak menatap Agung. Hati Agung serasa dicubit.
.
***
Ah, Babang Agung nih. Depan Adinda mendadak jadi kulkas 3 pintu. Jaim beud!