CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 237 – THE LINE THAT WE CAN'T CROSS (GARIS YANG TIDAK DAPAT KITA LEWATI)



Raditya terdengar mengambil nafas dengan berat.


“Bagaimana keadaan Agung dan Adinda sekarang ini?” tanyanya.


“Alhamdulillah, mereka baik-baik saja..“


“Tuan Hans ada dimana sekarang?” nada bicaranya mendesak dan terburu-buru.


Hans memicingkan matanya. Lalu menatap yang lainnya. Anggota Kuping Merah mengangguk pada Hans. Menyetujui permintaan Hans yang tanpa kata untuk memberitahukan lokasi mereka.


“Saya sedang berada di kediaman Keluarga Gumilar.”


“Baik, saya OTW ke sana sekarang. Assalamu’alaikum.”


Raditya memutuskan panggilan sebelum Hans menjawab salamnya.


Kedua alis Hans terangkat saat menatap nama Raditya menghilang dari layar gawainya.


“What's going on?_Ada apa ini?_” Leon mengerutkan keningnya.


“Hans, coba Lu cek keberadaan Tuan Thakur sekarang. Ada dimana dia?” Bramasta menelengkan kepalanya.


Hans mengetik pada gawainya. Sambil menunggu balasan dari anak buahnya, Hans mengambil jeruk di depannya. Semua terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Tentang Raditya juga tentang Tuan Thakur.


Suara notifikasi pesan chat masuk mengagetkan mereka semua. Hans segera membukanya. Kemudian segera membuat panggilan.


“Assalamu’alaikum. Kamu yakin? Sudah dicek lagi?” Hanya jeda sejenak.


“OK.Tetap awasi dan amati. Jadi pendengar yang baik.” Hans mengakhiri panggilannya.


“Apa?”


“Ada apa?”


Pertanyaan beruntun terarah pada Hans. Hans menghembuskan nafas kasar.


“Tuan Thakur, tidak ada di selnya.”


“WHAT ???!!”


“Yakin tidak ada di selnya? Bukan sedang ke toilet?” Indra mengurut alisnya.


Hans menggeleng, “Negatif.”


“Masih sakti rupanya..” Anton meluruskan kakinya.


Seorang pengawal memasuki ruang tengah.


“Ma’af Tuan... Di depan ada Pak Raditya.”


“Suruh masuk saja. Antarkan kemari, ya,” Agung berkata kepada pengawal.


Pengawal itu mengangguk lalu meninggalkan ruangan.


Suara langkah kaki kemudian terdengar. Pengawal tersebut mempersilahkan Raditya masuk ke ruang tengah.


Raditya berdiri di ambang ruang tamu dan ruang tengah. Tersenyum lebar pada semua orang.


“Assalamu’alaikum..”


“Wa’alaikumussalam..” semua kompak menjawab salam Raditya.


“Wah, kalian sedang kumpul semua? Saya menggangu ya?”


“Tidak.. tidak sama sekali tidak mengganggu Pak Raditya,” Hans menggerakkan tangannya mempersilahkan Raditya untuk duduk.


“Kebetulan kami sarapan bersama tadi,” Bramasta tersenyum.


“Special menu?” tanyanya lagi.


“Kupat tahu Gempol,” Indra terkekeh.


“Wah sarapan legend itu..” Raditya mengangguk-angguk sambil tertawa.


“Betul. Saya baru mencobanya. Benar-benar luar biasa rasanya. Saya sampai nambah. Istri saya juga, “ Leon tertawa.


“Oh my God.. porsi bungkus itu porsinya lebih banyak loh..” Raditya tertawa keras.


“Maklumin saja Pak.. perut bule memang beda,” Hans terkekeh keras.


“Hans, bukannya Lu juga bule?” Leon menyengir memandang Hans.


“Gue sama dengan Bram. Seperempat bule. Gak kayak Lu, Bang.. kadar kebulean Lu lebih banyak daripada kami..” Hans dan yang lainnya tertawa.


Raditya memandangi Agung lekat. Dia berdehem membuat perhatian semua terarah padanya.


“Pak Agung baik-baik saja?”


Adinda datang membawakan cangkir berisi teh dengan memakai nampan. Dia meletakkan cangkir dengan hati-hati di atas meja kaca depan Raditya.


Agung memperhatikannya. Hatinya terasa dipilin.


“Kamu baik-baik saja setelah kejadian pagi tadi?” Raditya menatap Adinda.


Adinda menoleh pada Agung dengan tatapan bertanya.


“Pak Raditya menanyakan kejadian pagi tadi di toko bahan kue,” Agung menatap Adinda sambil tersenyum.


Kemudian Agung menatap Raditya sambil tersenyum, “Alhamdulillah, kami baik-baik saja Pak Radit. Tadi Adinda sempat shock tapi untungnya tidak sampai membuatnya terkena serangan panik. Bahkan sekarang sepertinya dia sudah lupa lagi dengan kejadian pagi tadi.”


“Wah.. Dinda sekarang sudah banyak berubah ya. Lingkungan yang positif membuat dia banyak berfikir positif juga. Tidak tenggelam dalam kesedihan,” mata Raditya memandangi Adinda yang sedang senyum dikulum.


“Din, saya request ya. Pakai cetakan yang baru..”


Kalimat Agung membuat Adinda menoleh cepat ke arahnya. Bukan hanya Raditya yang mengerutkan keningnya tapi yang lainnya juga.


“Cetakan yang mana?”


“Terserah kamu. Pilih sesuai feeling kamu saja. Siapa tahu malam nanti saya ingin ngemil di tempat baru ataupun Ahad pagi sarapan pakai kue buatan kamu..”


“Ooh kalian sedang ngobrolin kue...” Indra mengangguk-anggukan kepalanya tetapi memandang wajah Agung-Adinda-Raditya bergantian.


Bramasta dan Leon menggigit bibirnya untuk mencegah tawa mereka.


Suara denting microwave membuat Adinda berdiri meninggalkan area sofa setelah terlebih dahulu meminta maaf kepada semuanya.


Agung tampak menghembuskan nafas lega.


“Pelaku penyerangan itu... Pak Agung mengenalinya?” Raditya kembali lagi pada topik awal.


Agung mengangguk.


“Bagaimana Pak Raditya berkesimpulan bahwa kejadian tadi adalah penyerangan bukannya penjambretan ataupun perampokan seperti yang diduga oleh orang kebanyakan?”


Raditya terdiam. Untuk sejenak matanya menekuri lantai.


“Saya.. hanya membuat asumsi.”


“Asumsi bagaimana?” tatapan Hans dan yang lainnya menatap penuh rasa ingin tahu kepada Raditya.


Raditya terlihat seperti sedang menimbang kalimat yang akan diucapkannya. Sebelum akhirnya dia menghembuskan nafas kasar.


“Baiklah. Saya akan jujur saja. Semenjak mengetahui peristiwa tadi pagi di bandara, saya beberapa kali mengecek video yang beredar di masyarakat.”


Tidak ada yang menanggapi apalagi memotong kalimat Raditya. Semua menunggu ucapan Raditya berikutnya.


“Sosok pelaku, saya mengenalinya sebagai orangnya Jenderal X, atau yang lebih dikenal sebagai Tuan Thakur semenjak Prince Zuko membajak TV dan medsos.”


“Itulah sebabnya saya berasumsi bahwa itu bukan perampokan dengan kekerasan yang korbannya didapat secara acak. Tapi semuanya sudah diperhitungkan dengan cermat. Dan ini berhubungan dengan Tuan Thakur.”


“Dimana sekarang Tuan Thakur berada?” suara Hans terdengar dingin.


Raditya mengusap wajahnya kasar. Kemudian dia mengangkat kedua bahunya.


“Mon Dieu!” gumam Leon.


“My God!” Bramasta menggeleng.


“Dia benar-benar the untouchable person?” Indra menatap Raditya dengan kedua alis terangkat.


“There is a line that we can’t cross!_Ada sebuah garis yang kita tidak dapat melewatinya!_” Raditya terlihat sangat tertekan dan putus asa saat mengucapkannya.


“But why?_Tapi kenapa?_” Anton memajukan tubuhnya dari posisi duduknya.


“Money talk and power talk_Uang dan kekuasaan yang berbicara_” Raditya menatap lugas pada semuanya.


“Apakah pemegang kekuasaan tertinggi tersandera dalam buku hitam The Ritz dan Tosca Imperium?” Hans memicingkan matanya.


Raditya mengangguk.


“Jadi sebenarnya buku hitam sudah ditemukan?”


Raditya mengangguk lagi.


“Ada ditangan siapa sekarang?”


.


***


Sebenarnya Raditya ini berpihak kepada siapa ya?


Readers، ada cerita tentang Babang Indra di NovelToon juga ya.


Mampir yuk Masih sepi like karena banyak yang baca bukan dari aplikasi jadi gak bisa kirim like. Bantu Author untuk promosikan Babang Indra ya.


Mr. Secretary: Destiny Bound (Ikatan Takdir)