CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 42– INDRA & THE RITZ



Anton membantu memasangkan kamera kecil berbentuk pena pada saku kemeja Indra dan saku jas Leon.


“Tekan bagian atasnya untuk aktivasi kamera dan mikrofonnya,” kata Anton, “Daya rekamnya 90 menit. Cukupkan untuk kalian? Jangan lebih dari 90 menit berada di dalam sana.”


Indra dan Leon mengangguk.


“Bang Leon, jangan sampai membuka jasnya ya. Walaupun terasa gerah, tetaplah memakai jasnya. Ndra, lu pakai kacamata ini. Anggap saja lu lagi jadi Clark Kent, Superman versi manusia. Kalem aja, Bro, lu bakal tetap ganteng kok. Mirip Afghan, penyanyi, ” Anton menyerahkan kacamata berbingkai tebal berwarna hitam.


“Jangan saling mengirim pesan teks, karena akan mudah dibaca oleh orang yang ada di belakang kalian atau CCTV.”


“Satu lagi, siapkan uang tunai yang banyak sekali karena kalian harus membayar tunai. Penggunaan kartu ataupun pembayaran elektronik akan meninggalkan jejak yang sangat mudah dilacak oleh mereka. Penyamaran kalian akan terbongkar."


Indra dan Leon mengangguk lagi.


“Ingat, Bang Leon jadi bule Perancis dengan kemampuan berbahasa Indonesia hanya sedikit dan pengucapannya dengan logat Perancis,” kata Indra, “Nanti kalau ada yang nyelutuk pakai Basa Sunda, jangan langsung ditimpali. Okay??”


Leon memandang jengah pada Indra. Anton terkekeh geli.


“Bang, maaf ya Bang.. soalnya sudah sering banget kejadiannya,” Indra mengatupkan kedua tangannya di depan dada, “Ulah pundung, nyaa_Jangan marah, yaa_.”


“Gusti nu Agung_Ya Allah_...” balas Leon, “Pourquoi y a-t-il un home aussi bavard que toi _Kenapa ada laki-laki yang sangat cerewet seperti kamu_?”


“Ngomong apa Bang?” tanya Indra.


“Kamu memang cowok keren dan ganteng,” kata Leon dengan wajah datar.


“Beneran?” Indra tampak tidak yakin.


“Oui_iya_” Leon melengos.


“Lu ngerti, Ton?” Indra masih penasaran.


“Tau ah, gue paling gak ngerti dengan bahasa Perancis, ngomongnya susah, sengau-sengau gitu, i dibaca a, akhiran is juga dibaca a. Puyeng. Belum lagi kalau ngomong kayak yang muncrat-muncrat gitu,” kata Anton sambil tertawa, “Anggap aja iya lah. Biar cepet.”


“Ton, saya gak muncrat-muncrat loh ngomongnya,” protes Leon.


“Yaiyalah Abang kan Bahasa Ibunya adalah Bahasa Perancis…” jawab Anton, “Udah ah. Coba kita cek audio dan visualnya ya. Nanti ada anak buah saya yang mengawasi kalian dari dalam mobil yang diparkir tidak jauh dari The Ritz. Transmitternya hingga 150 meter. Pastikan jarak kalian dengan mobil Grandmax putih tidak berjarak lebih dari 150 meter. OK?”


“Eh, kita jadi kayak di film-film pengintaian a la FBI_CIA itu ya? Atau agen MI-6?”


“Agen togel, Bro!” tukas Anton cepat. Leon terkekeh.


Indra dan Leon meninggalkan B Group pukul 10.05 dengan mobil terpisah. Mobil Grandmax Putih mengikuti mereka dari belakang.


Indra memasuki The Ritz 10 menit lebih awal dari Leon. Langsung disambut petugas penerima tamu yang cantik dengan seragam pendek The Ritz.


“Selamat pagi, selamat datang di The Ritz. Ada yang bisa kami bantu, Tuan?”


“Ah ya.. saya membutuhkan stelan jas yang dijahit khusus untuk acara yang mendesak. Kira-kira bisa selesai dalam waktu sehari?”


“Wah, sangat mendesak sekali ya? Nanti kami tanyakan dulu pada Ibu Rita ya Tuan. Dia designer utama sekaligus owner The Ritz. Silahkan Tuan mengisi buku tamu dahulu.”


Penerima tamu menghubungi lantai atas lewat interkom di mejanya. Rita menerimanya di lantai atas sambil menatap layar monitor CCTV. Menatap wajah Indra yang di zoom in sambil tersenyum senang, dia menjawab, “OK, saya akan ke bawah 15 menit lagi. Bawa dia ke ruang tunggu ya sambil perlihatkan model-model jas yang kita produksi.”


Rita meraih kuas besar lalu menyapukan bedak tabur pada wajahnya. Menatap bilur-bilur merah keuanguan di punggungnya yang putih yang masih menyisakan rasa pedih bila menggerakkan tubuhnya dengan cepat. Di betisnya ada bilur merah keunguan juga.


Cemberut karena tidak bisa memakai gaun pendek mekar kesukaannya dia mengambil jumpsuit yang membentuk tubuhnya berwarna hitam dengan aksen benang-benang perak yang mencuat memberi efek seperti kerlip kunang-kunang. Diliriknya suaminya masih tertidur pulas berbalut selimut.


Indra diantar ke ruang tunggu di dalam. Ruang luas yang berfungsi sebagai ruang duduk sekaligus ruang display. Ada beberapa manekin tanpa kepala yang memperagakan stelan jas dan gaun pesta ataupun gaun pengantin. Dia memilih duduk di sebuah sofa tunggal berwarna peach dari beludru lembut. Lalu berdiri menuju tempat display stelan jas. Melihat-lihat dengan tatapan tidak minat.


Merasa geli dengan warna-warna yang terpampang di matanya, candy soft color.


Suara detak sepatu high heels memenuhi ruangan. Indra tidak mengalihkan pandangannya dari stelan jas di depannya. Aura tidak peduli terpancar dari tubuh Indra. Rita mendekati dengan senyum mega volt.


“Hay.. selamat pagi..” sapanya dengan ceria.


Indra menoleh sambil mengerutkan kening. Seorang wanita dengan busana seperti penyanyi dangdut pantura mengulurkan tangannya dengan gemulai. 2 kancing depannya tidak dikancingkan membuat efek tumpah ruah. Indra terdiam. Menatap dingin wanita di hadapannya. Lalu menatap uluran tangannya, “Maaf,” kedua telapak tangannya ditangkupkan di depan dadanya, “Semenjak pandemi merebak, saya sudah tidak bersalaman lagi dengan orang lain.”


“Owh…oh,” Rita terpana, tidak percaya dengan pendengarannya, “Ah ya..pandemi ya..”


Bibirnya tersenyum lebar, “No shake hands, it’s OK_Gak salaman, gak apa-apa_... Saya Rita Gunaldi. Designer utama The Ritz. Selamat datang di The Ritz,” suaranya ceria.


“Saya panggil Mas Andri saja ya supaya akrab,” Rita mendekati Indra. Tangannya menyentuh stelan-stelan jas yang digantung di lemari display, “Ada yang Mas Andri suka? Warna atau modelnya?”


“Are you kidding me_Kamu bercanda_?” Indra menatap Rita dengan alis terangkat, “Saya memakai warna-warna permen seperti ini?”


Rita melongo mendengar jawaban Indra.


“Saya ingin stelan jas yang dijahit khusus untuk saya, dengan model konservatif tetapi tetap trendi, ada detail yang terlihat maskulin dan warna yang bisa dipergunakan untuk acara sore hingga malam hari. Dan akan saya pakai besok sore. Bisa?” Indra menambahkan dengan cepat, “Maaf, tentang stelan yang ada di display bukan berarti designnya jelek tapi karena saya bukan penggemar K Pop. Itu saja,” Indra berusaha tersenyum pada penyanyi dangdut pantura di hadapannya.


Rita terpana melihat senyum Indra. Ketampanannya bertambah berkali lipat. Mengamati tubuhnya yang jangkung dengan bentuk yang sangat proporsional membuat Rita semakin bersemangat untuk menaklukkan hati klien barunya itu. Rita membalas senyum Indra.


“Ayo ikut saya, kita ke ruangan kerja saya,” kata Rita sambil mengerlingkan sebelah matanya pada Indra lalu berjalan di depan Indra dengan langkah gemulai. Indra bergidik merasa tengkuknya menjadi dingin.


Ruangan kerja Rita bernuansa krem dan putih. Meja kerja berbentuk bulan sabit yang top table-nya terbuat dari marmer impor Itali, kursi kerjanya berbungkus kulit berwarna putih yang diletakkan di tengah-tengah lengkungan meja. Di belakang kursi dinding berwarna krem dengan hiasan logam besar berwarna keemasan dengan bentuk kepala Medusa.


“Gianni Versace?” Indra menunjuk logo Medusa pada dinding di belakang Rita.


Rita tertawa. Suara tawanya bagaikan denting lonceng kecil yang memikat. Tetapi Indra tidak terpikat.


“Bukanlah. Saya hanya suka dengan bentuknya juga kisah legenda Medusa.”


“Tapi itu kenapa sama persis dengan logo Versace?”


“Anggap saja, saya dan Gianni punya selera yang sama, OK?” Indra mengangguk. Rita melanjutkan lagi, “Lagipula saya juga menjual produk-produk dari Versace juga, seperti tas, dompet dan ikat pinggang."


“Ibu kenal dengan Giani secara personal?” tanya Indra.


Rita membelalakkan matanya, “Whattt? Ibu? Apa saya setua itu?” wajahnya cemberut.


“Eh, maaf. Saya harus memanggil Anda apa? Tidak mungkin saya memanggil Anda dengan nama saja karena itu sangat tidak pantas. Usia Anda di atas saya,” Indra tersenyum.


“Panggil saya t e t e h. Teh Rita.”


“OK. Teh Rita.”


“Nah begitu baru bener,” senyum genit terpancar lagi pada wajahnya, “Tadi menanyakan tentang saya dan Gianni? Tidak.. saya tidak pernah bertemu dengan Gianni Versace. Namanya terlalu besar untuk digapai,” Rita tertawa kecil.


“OK, kalau begitu kita bicarakan model yang Mas Andri inginkan ya, Mas Andri deskripsikan, saya berusaha menggambarnya. OK?”


Indra mengangguk dan memulai mendeskripsikannya.


Saat pemilihan bahan, Rita berusaha melakukan kontak fisik dengan Indra. Indra menghindarinya. Tapi pada saat pengukuran badan, kontak fisik itu tidak bisa dielakkan lagi.


“Apakah tidak ada asisten laki-laki yang dipekerjakan untuk mengukur tubuh klien pria?” Indra merasa tidak nyaman saat tubuhnya digrayangi dengan sengaja oleh Rita.


“Ada, sayangnya dia tidak masuk hari ini,” Rita membelai tengkuk Indra yang membuatnya sangat tidak nyaman. Rita tersenyum melihat reaksi Indra yang menahan nafasnya.


Tiba-tiba gawai Indra berdering. Panggilan masuk menyelamatkannya dari aksi tangan Rita.


“Ya?...OK. Saya sebentar lagi selesai dan akan langsung ke lokasi. 5 menit lagi saya selesai urusan di sini,” Indra melirik Rita yang berdiri di sampingnya tampak cemberut dan kesal. Indra tersenyum penuh kemenangan, “OK. See you at location_Baiklah. Sampai jumpa di lokasi_. Thankyou so much for your help_Terimakasih banyak untuk bantuanmu_.”


Indra menoleh pada Rita, “Bisa dipercepat urusan kita? Saya harus segera berada di lokasi meeting saat ini.”


Indra berdiri dengan tak sabar. Beberapa kali tangannya memeriksa arlojinya. Rita menjadi tidak bisa bermain-main dengan tubuh pemuda di hadapannya lagi. Pengukuran stelan jas selesai dalam waktu 2 menit.


“Besok fitting jam segini saja ya?” Rita masih sibuk mencatat di bukunya.


“Maaf, tidak bisa Teh. Sepertinya tidak sempat untuk fitting. Besok jam segini sepertinya saya masih di pesawat. Untuk pembayaran, saya beri DP dulu ya, cash. Saya tidak suka bertransaksi non cash. Berapa totalnya?” kata Indra sambil melihat lagi ke arah arlojinya dengan didramatisir.


“Totalnya 17 juta. Tidak apa-apa bayar DP dahulu. Nanti pada saat pengambilan baru dilunasi,” Rita tersenyum sedih memandang Indra, “Sayang sekali Mas Andri tidak bisa fitting ya..”


“Simpan ukuran baju saya. Kalau saya puas dengan stelan buatan Teh Rita saya akan memesan lagi. Ini DPnya, 10 juta dulu ya. Sisanya nanti dibayar pada saat pengambilan baju oleh orang suruhan saya.”


“Tentu…Terimakasih banyak. Ini tanda terimanya. Semoga kita bisa bertemu lagi ya..”


Indra mengangguk lalu pergi tanpa menoleh lagi.


Indra baru merasa lega saat memasuki mobilnya. Menghembuskan nafas lega 3 kali sambil mengucap hamdalah. Lalu menelepon Anton.


“Assalamu’alaikum. Thanks Bro. Gue masih perjaka tulen hingga saat ini…”