CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 15 – KONFERENSI PERS



Bramasta sedang menikmati sarapan paginya sambil mengamati foto-foto gerbang sementara site di Lembang yang dikirim oleh anak buah Indra saat notifikasi chat masuk.


Chat dari Hans, undangan konferensi pers sudah diedarkan. Bramasta hanya mengetik, “OK. TQ.” Sebagai balasan.


Menekan tombol panggilan untuk Indra. Nada hubung terdengar.


“Assalamu’alaikum. Jadwal gue apa pagi ini, Ndra?” jeda.


“OK. Hans udah hubungi lu?” jeda.


“Ubah tempat meeting yang diluar jadi di kantor kita saja. Supaya gak terlambat untuk konferensi pers sore nanti. Setengah jam sebelum acara, lu harus udah standby di kantor pusat ya, Ndra. Delegasikan tugas bila memang perlu.” Jeda.


“OK sampai ketemu di kantor. Fii amanillah. Assalamu’alaikum.”


Pekerjaan Bramasta berjalan lancar hari ini. Pukul 15.00 meeting terakhir hari ini sudah selesai. Acara konferensi pers diadakan pukul 16.00.


“Gue cabut dulu, Bos,” kata Indra sambil merapikan berkas meeting tadi. Bramasta mengangguk. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus dicek.


“Assalamu’alaikum,” pamit Indra.


“Wa’alaikumussalam. Fii amanillah. Nanti gue nyusul ya,” mata Bramasta tidak teralihkan dari layar laptopnya.


Parkiran gedung pusat lebih ramai dari biasanya. Tetapi selalu ada tempat parkir untuk Bramasta dan orang-orangnya. Bramasta memarkirkan mobilnya di samping mobil Indra yang sudah tiba lebih dahulu. Dia melirik arlojinya. Acara konferensi pers sudah di mulai sejak 10 menit yang lalu. Bramasta segera keluar dari mobilnya menuju lift untuk naik ke lobby di lantai dasar.


Acara konferensi pers tidak berlangsung lama untuk mencegah pertanyaan yang terlalu banyak dan bias. Pertanyaan pun dibatasi. Bramasta menggulung lengan kemeja abu tuanya hingga hampir mencapai siku. Tangan kirinya tersampir jas berwarna navy. Dasinya sudah ia gulung rapi di dalam mobilnya. Dia mengamati dari jauh. Saat sudah selesai, dia menghampiri mereka. Para wartawan heboh dengan kedatangannya. Bramasta tersenyum, melambai ke arah mereka.


Indra memasangkan mikrofon klip pada kemeja Bramasta.


“Assalamu’alaikum. Maaf saya ada bebearpa pekerjaan yang tidak bisa saya tinggal. Tetapi sekretaris B Group dan sekretaris Sanjaya Group sudah mewakili saya untuk menjelaskan semua tentang video evakuasi tersebut. Kedepannya saya mohon dengan sangat untuk tidak menghebohkan lagi video tersebut karena jujur saja, saya tidak suka kejadian heboh seperti ini. Saya ingin hidup normal seperti kalian semua tanpa harus kucing-kucingan karena kehebohan tersebut. Saya rasa apa yang saya lakukan bukanlah sesuatu yang istimewa karena sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menolong orang yang sedang membutuhkan pertolongan. Mohon pengertiannya kepada semua pihak,” Bramasta tersenyum sambil menangkupkan tangannya di dada.


Seorang wartawan maju dan bertanya dengan suara lantang, “Tuan Bramasta, kenapa Anda tidak menyukai kehebohan ini? Bukankah Anda bisa memakai kehebohan dari video tersebut untuk menaikkan popularitas Anda. Maju menjadi politikus, mungkin?”


Bramasta memandang Indra lalu terkekeh berdua sambil menggelengkan kepalanya, “Waduh, saya sama sekali tidak berminat untuk terjun ke dunia politik. Saya tidak menyukai popularitas yang berlebih. Kehebohan kemarin berdampak buruk bagi saya dan sekretaris saya,” Bramasta menunjuk pada luka bekas kuku di rahang kirinya yang kini hanya berupa garis merah melengkung, “Ini hasil kehebohan kemarin saat kami hendak menjenguk kerabat yang sakit.”


Para wartawan bergumam semua melihat bekas kuku di rahang Bramasta. Beberapa wartawan media online langsung menulis “Wajah Bramasta terluka saat kehebohan kemarin pagi di lobby rumah sakit XXX, apakah kalian pelakunya?" “Bramasta terluka karena serbuan fans yang menggila”, “Bramasta dan Sekretarisnya haruskah cedera karena ulah fans dadakan?” dan berbagai tulisan lainnya yang sebenarnya terlihat menggelikan.


“Kejadiannya di lobby rumah sakit, menjelang jam bezoek. Sekretaris saya juga terluka,” Bramasta melanjutkan, ”Alhamdulillah pihak rumah sakit sangat tanggap terhadap kejadian tersebut. Kami sampaikan banyak terimakasih kepada rumah sakit XXX terutama para petugas security-nya.”


Bramasta tersenyum, “Saya rasa cukup dari saya, terimakasih banyak.”


Indra dan Hans berjalan sejajar dengan Bramasta. Pihak keamanan menghalau para wartawan yang masih meyodorkan mikrofon ataupun alat perekam kepada mereka. Bertiga mereka menuju lift khusus direksi. Di dalam lift, mereka betiga bersamaan membuang nafas lega.


“Akhirnya kelar juga.”


“Semoga berjalan lancar sesuai yang kita rencanakan dan prediksi.”


“Semoga kehebohan ini segera berakhir.”


Lift berhenti di lantai teratas. Bertiga mereka keluar dari lift. Lobby lantai teratas sudah ditata dengan meja-meja makanan dan minuman sama dengan di lobby bawah. Yang di lobby bawah sebagai jamuan untuk para wartawan dan yang di atas untuk para petinggi dan tim konferensi pers. Mereka bertiga mengisi cangkir poselen putih dengan kopi.


“Looking great at TV, Son,”_Kamu terlihat hebat banget di TV, nak_ Tuan Alwin Sanjaya menepuk pundak anaknya.


“Ya iyalah.. siapa dulu daddy-nya..” Bramasta meletakkan cangkir di meja lalu menyalimi Daddy.


“Beberapa hari kedepan tim IT dan multimedia akan memantau perkembangannya. Semoga kita bisa mengandalikan semuanya,” kata Tuan Alwin dibalas dengan anggukan dari ketiganya.


“Setelah ini kamu mau kemana, Bram?” tanya Daddy.


“Ke rumah sakit.”


“Lagi?” alis Daddy terangkat heran.


“Bram kangen dengan gadis yang dia selamatkan, Om,” kata Indra, “Sehari gak ketemu, bisa galau dia.”


“Isssh, rese amat sih Ndra.”


Indra terkekeh diikuti Hans dan Daddy.


“Sepertinya memang sudah saatnya untuk Tuan Bramasta menikah,” Hans ikut menimpali.


“Mommy antusias banget cerita pertemuan dia dengan Adisti dan keluarganya. Heboh. Bangun tidur pun masih cerita tentang Adisti. Memangnya seistimewa apa dia ? Daddy jadi penasaran..”


Pipi Bramasta bersemu kemerahan.


“Apaan sih Daddy…”


Daddy tekekeh melihat reaksi anaknya. Dia memandang ke arah Hans. Menaikkan satu alisnya lalu mengangguk. Hans paham. Dia mengangguk tidak kentara. Bahasa tubuh antara mereka. “Selidiki tentang gadis itu dan keluarganya”, itu pesan yang disampaikan.


“Ndra,” Daddy menatap Indra dengan serius, “Jadi apa benar huruf G kecil tulisan tangan Adisti itu mirip …..”


Belum sempat Daddy meneruskan sudah langsung dipotong oleh Bramasta, “Eit..eit, tar dulu nih. Ah, payah lu, Ndra!” Bramasta menepak lengan atas Indra.


Daddy dan Hans membelalakkan matanya lalu mengangguk-angguk.


“Oh, my_Ya ampun_...” kata Daddy di sela kekehannya.


“Ndra, lu cerita apa aja sih ke Mommy?”


“Gue kan gak berani bohong ke Tante, Bos. Lagian Tante jago banget ngorek keterangan. Kayaknya Tante berbakat jadi interogator, Om,” kata Indra beralih duduknya di seberang Bramasta.


“Makanya Om gak berani macam-macam di belakang apalagi di depan Tante,” kata Daddy sambl menyuap sepotong pie buah.


“Suami takut istri?” tanya Indra sambil menaik turunkan alisnya.


“Bukan takut istri, tapi gak mau mengecewakan istri, gak mau menyakiti istri. Makanya nikah supaya tahu apa yang Om rasakan. Iya gak, Hans?” Daddy melahap soes éclair dengan penuh kepuasan.


Hans yang ditanya menjawab dengan cengiran di wajahnya.


“Udah ah, Bram pergi dulu,” Bram menghampiri Daddy sambil mencium tangannya, salim.


“Gak dinner dulu di sini?” tanya Daddy.


“Gak, nanti aja di rumah sakit.”


“Memangnya rumah sakit sekarang berfungsi seperti restoran juga ya?” ledek Daddy, “Menu di sana enak-enak?”


“Menu apapun akan terasa enak, Om kalau dinikmati bareng gebetan.”


“Cih, sekarang sudah gak mau dinner bareng Daddy lagi..” Daddy meledek anaknya lagi, “Ajakin Daddy dong..”


“Gak mau,” Bramasta bangkit dari duduknya, “Bye everyone_Dah semuanya_. Assalamu’alaikum.”


Tiba di rumah sakit saat 30 menit usai jam bezoek sore. Jalur parkir VIP sudah mulai sepi. Petugas security langsung mengenalinya. Menyapa dengan ramah. Saat pintu lift terbuka, tampak Agung keluar dari lift.


“Assalamu’alaikum, Pak Bramasta,” sapa Agung.


“Wa’alaikumussalam. Mau kemana, A?’ tanya Bramasta.


“Ke apotek di lobby. Bunda kehabisan minyak kayu putih.”


“Ya udah, kita sekalian makan malam yuk di resto cepat saji di lobby.”


Agung mengangguk.


“Tadi kami menonton live konferensi persnya,” Agung membuka percakapan.


“Ah, nanti saja bahas itu di atas,” kata Bramasta, “Bagaimana perkembangan Adisti?”


“Alhamdulillah Adisti pulih dengan cepat. Besok sudah diperbolehkan pulang.”


“Alhamdulillah. Jadwal check up?”


“3 hari lagi check up dan fisio terapi.”


“Hubungi saya atau Indra ya A, untuk menyiapkan kendaraannya.”


“Jangan merepotkan, Pak. Kami bisa memesan taksi online untuk transportasi.”


“Nggak, please, tolong jangan merasa sungkan. Dan juga tolong jangan menolak.”


“Terimakasih banyak, Pak Bram. Andai keluarga Hilman Anggoro tidak bersikeras menuntut Adisti, kami masih memiliki mobil. Walau bukan mobil mewah dan tahun terbaru,” Agung menundukkan tatapannya, “Adisti belum tahu kalau mobil APV silver kami sudah dijual Ayah untuk mengganti kerugian keluarga Hilman Anggoro. Setiap kali Adisti menanyakan ketidakadaan mobil di garasi, selalu dijawab mobil ada di bengkel untuk diservis.”


Bramasta mengangguk, “Memangnya berapa ganti ruginya?”


Agung menghela nafas panjang, “150 juta rupiah.”


“Harga APV?”


“Pastinya tidak mencukupi, Pak. Apalagi kami jual dalam keadaan BU cepat. Tabungan Ayah, simpanan perhiasan Bunda dan tabungan dan motor saya masih jauh dari mencukupi. Kami menggadaikan tanah kami di Garut,” Agung menekan keningnya yang mendadak merasa nyeri, “Setelah kami membayarkannya, Nyonya Hilman berhenti meneror Adisti melalui handphonenya.”


“Chatnya masih tersimpan?”


“Masih Pak.”


“Bisa pinjam handphone Adisti?”


“Tidak saya bawa Pak. Ada di rumah,” Agung menatap heran, “Maaf, buat apa, Pak?”


“Kita ambil lagi harta keluarga A Agung.”


Agung menatap nanar mata Bramasta.