CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 78 – ES BALOK



Bramasta terbangun setelah alarm kedua berbunyi. Adisti meringkuk dalam dekapannya. Masih tertidur pulas. Dia berniat membiarkan Adisti tertidur karena sedang tidak sholat. Beringsut pelan agar tidak membangunkan istrinya.


Adisti bergumam dalam tidurnya. Entah apa yang diucapkannya.


“Ssssh… tidur lagi..” bisik Bramasta sambil menepuk-nepuk punggungnya.


Bramasta mengambil wudhu lalu sholat shubuh. Saat keluar kamar, terkejut dia melihat Agung tertidur di sofa.


“Kakak Ipar, bangun. Shubuh dulu..” Bramasta menggoyangkan lengan Agung.


Agung menggeliat lalu terlihat bingung.


“Buruan sholat dulu..”


“Hmmm.”


Agung berjalan gontai menuju kamar mandi. Menabrak kusen pintu dengan bunyi keras membuat Bramasta yang sedang mengambil air minum melongokkan kepalanya.


“Woiiiy bangun dulu woiy!” Bramasta terkekeh.


“Hmmm.”


Agung jauh tampak lebih segar saat keluar dari kamar mandi.


“Gue sholatnya dimana, Bang?”


“Di ruang tidur tamu saja. Arah kiblatnya ke jendela ya, agak miring kanan sedikit.”


Agung mengangguk.


Agung mengetuk pintu kamar. Bramasta mengernyit.


“Bang Indra, bangun.. sholat shubuh dulu.”


“Ada Indra di dalam?” tanya Bramasta heran.


Agung mengangguk.


“Kenapa A Agung tidak tidur juga di kamar ini?” Bramasta melongokkan kepalanya lalu mendapati Indra sedang menggosok-gosok matanya.


“Emangnya gue cowok keren apaan, Bang. Tidur seranjang dengan sesama batangan,” Agung menggelar sejadah.


“Dih!”


“Parah Lu Gung. Berarti Lu maunya tidur seranjang sama cewek dong. Laporin ke Bunda nih,” kata Indra sambil beranjak pergi.


“Bilangin aja ke adeknya..” kata Bramasta sambil terkekeh.


Agung yang hendak takbiratul ihram langsung berhenti.


“Isssh sana.. sana… ganggu orang mau sholat saja,” dia mengusir Bramasta dari kamar.


Bramasta masih terkekeh saat duduk di sofa tengah.


“Kenapa?” tanya Indra saat keluar dari kamar mandi.


“Gue diusir Kakak Ipar..”


“Dih, yang jadi tuan rumahnya siapa…. juga.”


“Dah buruan sholat, sana.”


“Disti belum bangun?”


“Belum. Lagi gak sholat ini. Lagian juga semalam tidurnya dini hari banget.”


“How is it?¬_Bagaimana rasanya?_” Indra menggerak-gerakkan alisnya.


“What?_Apaan?_”


“Punya bini.”


“Ya enaklah. Tidur ada yang nemenin. Bangun tidur gak sendirian lagi.”


“Bang, sholat dulu,” Agung keluar dari kamar langsung menghempaskan tubuhnya di sofa.


Indra masuk ke dalam kamar. Bramasta mengenakan sepatu olahraganya.


Bramasta berjalan ke mesin treadmillnya. Menggunakan remote ajaibnya untuk mematikan lampu, mematikan AC, membuka tirai jendela besar dan membuka jendela dan pintu balkon. Udara pagi yang segar menyerbu masuk ke dalam ruangan. Bramasta mulai berjalan santai di treadmillnya.


“Driver tidak menurunkan koper Disti?” tanya Bramasta.


Agung menoleh sambil mengingat, “Udah kok. Tapi katanya ditaruh di mobil Bang Leon.”


“Kenapa?”


Agung mengangkat bahu, “Kata driver diperintah oleh Kak Layla.”


Bramasta mengerutkan keningnya.


“Terus Adisti ganti bajunya bagaimana?” tanya Bramasta.


“Lah, bukanya Kak Layla sudah menyiapkan baju-baju Adisti di kamar Lu, Bos?” Indra tiba-tiba muncul di ambang pintu.


“Jadi lemari tambahan di kamar itu sudah ada isinya?” tanya Bramasta heran.


“Lah, gimana sih pemilik kamar. Gak meriksa dulu semalam?”


“Ya gak sempat lah. Sampai sini aja dini hari. Mau buka-buka lemari udah gak mood lagi.”


“Terus berarti Adek gak ganti baju? Tidur masih pakai gaun? Gile bener… Menjiwai banget jadi Queen Clarion,” Agung terkekeh.


“Ya ganti baju lah. Kasihan kalau harus tidur pakai gaun seperti itu.”


“Ciyeee, tidurnya gak pakai handuk kan?” Indra dan Agung kompak terkekeh.


“Isssh!” Bramasta menatap sebal pada mereka berdua.


“Nanti mimisan lagi… huwahahahahaha.”


Bramasta menaikkan speed treadmillnya sambil memakai earphone.


“Bang, Adek bangunin dong. Dimanja gitu nanti malah jadi kebluk..” Agung mengetuk pintu kamar Bramasta.


“Dek.. bangun Dek. Udah siang. Bantuin Bunda pindahin bibit tanaman ke polybag. Dek..”


Indra terkikik.


Terdengar suara Adisti seperti menggerutu kepada kakaknya. Terdengar suara jatuh. Agung segera membuka pintu. Ruangan masih diterangi dengan lampu tidur.


“Astaghfirullah… Dek, kamu jatuh?” Agung terkejut.


“Eh! POCOOOONG!!” teriak Agung panik, Indra meloncat dari sofa menyerbu kamar.


“Ada apa?” tanyanya tangannya menekan tombol saklar lampu plafon.


“Tau tuh Agung, teriak pocong tadi,” jawab Indra.


“Eh bukan pocong. Ini Adek…”


“Disti ngapain? Lagi main costplay jadi ulat raksasa?” tanya Indra menahan tawa.


Bramasta terperangah menatap istrinya yang membungkus dirinya dengan bedcover. Berusaha melepaskan diri dari bedcover yang membungkus tubuhnya hingga kepalanya. Menggeliat-geliut seperti ulat.


“Kak, bantuin napah? Adek gak bisa berdiri!”


“Iya.. ma’af..” Agung dibantu Indra sibuk membantu Adisti untuk duduk.


“Disti gak kenapa-napa?” tanya Bramasta.


“Hmmm,” Adisti hanya bergumam sambil menatap ke arah lain.


“Dek, kenapa memilih jadi ulat sih pagi-pagi begini?” tanya Agung.


“AC-nya dingin banget..”


“Ma’af ya. Tadi rencananya Abang mau balik lagi ke kamar setelah ambil minum. Gak tahunya ada Kakak Ipar tidur di sofa. Terus juga ada Indra di ruang tidur tamu. Keasyikan ngobrol jadi lupa balik lagi ke kamar..”


“Memangnya mau balik lagi ke kamar ngapain, Bang?” tanya Agung yang langsung mendapat sikutan dari Indra.


“Tidur lagi lah. Nemenin Disti tidur di kamar..” jawab Bramasta.


“Ah Lu Gung. Nanyanya polos banget. Jadinya aja kita mendengar kalimat bucin pagi-pagi begini kan?” Indra menghela nafas.


“Ma’af ya..” Bramasta duduk di samping Adisti.


Adisti bergeser.


“Dek, masa gitu aja ngambek sih?” tegur Agung.


“Tau ah,” Adisti mencebik.


“Ma’af..” kata Bramasta lagi.


“Abang manisnya ke Disti saat ada orang lain. Tapi saat cuma berdua? Es balok, jutek, kayak yang gak kenal..”


“Abang gak gitu kok..” Bramasta membela diri.


Agung bersidekap menatap Bramasta dan adiknya bergantian.


“Abang gak gitu, Kakak Ipar..” menatap Agung dengan wajah cemas.


“Semalam, di mobil tiba-tiba ngomongnya ketus ke Disti: Gak usah diceritain, kali!”


“Memangnya Adek ngomong apa?”


“Abang nanyain yang bareng dengan Kakak siapa. Adek jelasin, itu A Halim. Yang dari dulu naksir ke Disti tapi saat itu Disti udah keburu jadian sama..”


“Dek, cukup. Yang kayak gitu gak usah diceritain ke Abang. Apalagi Abang dalam keadaan capek,” Agung menatap Adisti tajam.


“Kamu tuh ya kadang begitu dewasa tapi kadang juga masih bocah banget…” Agung menyentil dahi Adisti. Adisti mengaduh.


“Kakak Ipar, jangan menyakiti Disti,” Bramasta langsung memeluk Adisti sambil mengusap-usap dahinya.


“Gemes banget.”


“Terus yang es balok itu apaan?” tanya Indra kepo.


Bramasta melotot pada Indra yang dibalas dengan cengiran.


“Sewaktu habis nolongin Abang yang hidungnya berdarah, tiap Abang ngomong ke Disti, Abangnya sama sekali gak mau lihat ke Disti. Padahal Disti kan khawatir banget dengan keadaan Abang. Ngasih kaos ke Disti juga kaya yang gak ikhlas gitu bajunya dipinjam Disti..”


Indra dan Agung tampak melongo.


“Bukan begitu, Disti. Abang gak bermaksud seperti itu. Abang juga saat itu panik,” Bramasta memandang pada Indra dan Agung dengan tatapan meminta tolong, “Bantuin dong jelasin ke Disti..”


Agung langsung berbalik badan. Menarik Indra keluar dari kamar.


“Pulang yuk,” kata Agung pada Indra.


“Gue lapar, Gung.”


“Gampang.. nanti kita mampir ke gerai kopi.”


“Tapi kita kan belum mandi..”


“Don’t worry. Udah kena air wudhu mah langsung auto ganteng dunia akherat..”


“Kakak Ipar.. Ndra..” Bramasta memanggil.


Agung yang sedang merangkul Indra berhenti melangkah. Lalu menengokkan kepalanya pada Bramasta.


“Ma’af Bang, kalau untuk yang itu, Abang jelasin sendiri saja ke Adek. Kita gak punya kapabilitas dan otoritas buat jelasinnya.”


“Iya Bos. Nanti bisa-bisa kita malah ikutan mimisan juga.”


“HUWAHAHAHA.”


Indra mengambil kunci mobilnya di meja nakas kamar tidur tamu.


“Eh, ntar Gung. Gue lupa ngasih tahu pesan Kak Layla.”


“Bos, kata Kak Layla ambil koper Adisti di rumah Mommy,” Indra membuka pintu kamar, “Sekalian makan si…”


Dia tidak melanjutkan kalimatnya. Kedua alisnya terangkat. Mulutnya melongo.


“Setdah!”


“Apaan sih??” Agung penasaran, melongokkan kepalanya ke dalam kamar. Keduanya kini dalam pose yang sama. Melongo.


“Mata suci gue ternoda..”


“Gue aja belum pernah kaya gitu.”


Adisti masih dalam costplay ulat raksasa membelakangi pintu kamar. Bramasta tengah menciumnya. Di tengah ciuman mereka, Bramasta melirik ke arah pintu sambil mengibaskan tangannya pada mereka. Bahasa kibasan tangan Bramasta: “Go away!”


***


Noh... Go Away kata c Babang.


Diusir kita...


🤣🤣🤣