
Bramasta menatap mata istrinya. Takjub dengan apa yang dilihatnya.
“Seniman memang beda ya,” gumam Indra mengagumi lukisan bunga anggrek bulan yang dibuat Adisti dengan bumbu sate.
Adisti membuka bungkus lontong di hadapannya. Mencocolkannya pada bumbu sate yang ia buat jadi lukisan, merusak lukisannya. Semuanya melongo melihat aksi Adisti.
“Yaaaaa, yaaaa, rusak deh.”
“Loh kok malah dicocol begitu?”
“Sayang banget padahal...”
Adisti menatap heran pada mereka semua, “Kenapa?”
“Lukisan yang Disti buat rusak,” Hans menunjuk pada piring lukisan bumbu sate.
“Ini makanan kan?” tanya Adisti sambil menunjuk piringnya.
Semuanya mengangguk.
“Untuk dimakan kan?” tanya Adisti lagi.
Semuanya mengangguk lagi.
“So, what’s the problem?” tanya Adisti lagi dengan sebelah alis yang diangkat. Mencocol lagi bumbu sate dengan lontongnya.
“Nggak...gak ada yang salah..” Hans menggerakkan kedua telapak tanganya pada Adisti, “Sok, mangga. Lanjutin makannya...”
Hans kembali ke kursinya sambil meletakkan sikunya di atas meja, memegangi pipinya.
“Nyerah deh gue kalau ngomong sama Disti.. Bram, istri lu tuh ya.. kadang-kadang, emang ya.. kadang-kadang...” Hans memandang Bramasta. Yang lainnya terkikik.
“Kadang-kadang bini gue kenapa?” Bramasta balas menatap Hans dengan galak.
“Kadang-kadang banyak benernya kalau ngomong..” jawab Hans sambil meletakkannya wajahnya di atas lengannya yang terlipat.
Tawa mereka meledak.
“Bosnya team shadow yang terkenal paling dingin, paling berbahaya di mata musuh, mendadak ambyar menghadapi Adisti..” kekeh Indra sambil menyusut air mata di sudut matanya.
Agung menepuk-nepuk punggung Hans, “ Adek gue mah emang gitu orangnya...”
Notifikasi pesan chat mereka serentak berbunyi. Mereka bersama-sama membuka gawai masing-masing. Anton mengirimkan video kepada mereka. Video Adisti yang tengah melukis dan memakan lukisannya. Diberi caption, saat Nyonya Bramasta galau...
Mereka tertawa bersama apalagi melihat ekspresi Hans.
“Kirim ke Tante Al..” kata Indra.
“Jangan.. gue malu..” Hans memelas.
“Done!”
Mereka tertawa lagi.
Pesanan datang. Mereka menyantap makanan mereka dalam suasana tenang. Bramasta berkali-kali mengelus punggung istrinya.
“Bagaimana caranya kita menyingkirkan kamera yang menempel pada bunga itu?” tanya Adisti, “Singkirkan saja kameranya. Tanamannya jangan. Tanamannya gak salah. Yang salah kamera dan orang yang memerintahkan memasang kameranya.”
“Abang bisa beliin Disti banyak bunga seperti itu.”
Adisti menggeleng.
“Tanaman itu juga makhluk Allah. Jangan dholim terhadap sesama makhluk.”
“OK, kita bakal singkirkan kameranya tanpa merusak tanamannya,” Bramasta mengalah.
“Singkirkan tanpa membuat pihak pemasang menyadari kalau kita sudah mengetahui keberadaan kameranya,” Hans mengelap sudut bibirnya dengan tisu.
“Caranya?” tanya Agung.
“Gue punya ide...” Anton meneguk jeruk panasnya.
Semua mata memandang Anton, menunggu dia menyelesaikan kalimatnya.
“Tadi sewaktu kita barengan masuk foyer, gue kan ngomong ke Pak Bos, media tanamnya sudah kering, harus disiram.”
Bramasta dan Indra mengangguk.
“Terus?” tanya Indra.
“Ya kita buat seolah-olah kameranya rusak tersiram air. Korsleting. Tapi gue butuh benda yang hitam sempurna, yang tidak tembus cahaya untuk memegangi dan menutupi kameranya. Sebelum kita hancurkan,” kata Anton.
“Pakai ini bisa gak?” Agung mengeluarkan sarung tangan kulitnya yang berwarna hitam.
Anton meraih sarung tangan full jari yang digunakan Agung saat mengendarai motornya, “Perfect! Tapi kayaknya masih baru ya. Gak apa-apa nanti gue gebukin pakai palu?”
“Hahh?” Agung keheranan, “Ya pakai aja. Pokoknya asal kamera itu bisa tersingkir dari apartemen.”
Anton mengangguk.
“Pak Bos punya palu?” tanya Anton.
Bramasta mengangguk.
“OK.. jadi nanti begini skenarionya...”
***
RUANG MONITOR DI SUATU TEMPAT
Dua orang pria menatap layar monitor yang temaram nyaris gelap dengan tatapan bosan.
“Gile bener... Asli boring banget!” pria yang berkumis mendengus kesal, “Sampai kapan kita harus menatap monitor gelap begini. Penasaran aku tuh, bunga itu mereka taruh di mana sih?”
“Mending nonton siaran ulangan bola piala dunia ya... Kroya lawan Portegal,” Pria berjaket kulit mengambil sekeping biskuit yang kemudian disemburkan.
“Jorok kali kau!”
“Banyak semutnya!”
Si Kumis terkekeh, “Kau rapi-rapi kan itu makanan yang sudah dari pagi terbuka. Buang-buang lah! Semut dimana-mana...”
“Hahh! Aku lagi..aku lagi!”
“Aku senior! Lagipula mana ada piala dunia kesebelasan Kroya? Kesebelasan Tegal?”
“Ah tak bisa diajak bercanda rupanya. Korea – Portugal!”
“Pasangan pengantin baru itu hobi sekali ya meninggalkan apartemen mereka. Sudah sejam mereka turun, tadi bilangnya mau makan di bawah, kenapa belum naik juga?” si Kumis mengusap kumisnya.
“Aku penasaran dengan isi rumah anak konglomerat itu.. Kapan kita diperintah Pak Bos untuk mengunjungi rumahnya ya? Daripada memandangi layar gelap begini..”
Si Kumis memandangi si Jaket Kulit yang sedang membenahi meja, “Ku kira kita ketahuan oleh anak muda jangkung itu.. Ku kira dia melihat kamera kita.”
Si Jaket Kulit tertawa meremehkan, “Tidak mungkin.. Pak Bos membeli barang bagus dan canggih. Lebih bagus daripada kamera-kamera yang kita pakai untuk merekam orang-orang penting pilihan Bos dengan selingkuhannya..”
***
APARTEMEN LANDMARK RESIDENCE
21.07
Lobby lift penthouse seperti biasa lengang. Bramasta, Adisti, Indra dan Anton memasuki lift. Seperti saat mereka tadi memasuki apartemen, hanya berempat. Hans dan Agung tetap berada di lobby. Mereka menanyai petugas sekuriti.
Mengikuti skenario Anton, mereka memasuki foyer dengan heboh, mengobrol seru. Kemudian Adisti meraba media tanam di dalam pot.
“Benar kata Bang Anton tadi.. media tanamnya kering.”
“Mau dipindahin buat disiram?” tanya Indra.
“Gak usah Bang.. nanti Disti siram di sini aja. Disti ambil airnya dulu.”
Bramasta menggeser dan memutar pot bunganya untuk menciptakan ruang titik buta kamera. Anton sudah mengenakan sarung tangan milik Agung. Memastikan kamera hanya ada satu yang dipasang pada jepitan tangkai bunga. Indra mengambil palu dari lemari perkakas pada laci pantry.
Adisti datang dengan sauce pan penuh air di tangannya. Panci bergagang panjang yang biasa dipakai Bramasta untuk menyeduh mie instan.
“Ma’af Bang, tadi airnya tumpah-tumpah. Nanti Disti rapikan lagi,” kata Disti pada suaminya.
Bramasta terkekeh sambil menjawil pipi istrinya, “Lagian kenapa bawa airnya banyak-banyak begitu sih?”
“Supaya kita gak perlu menyirami lagi tanamannya tiap hari...” kata Adisti sambil mengangkat panci di atas tanaman anggrek lalu menuangkan airnya.
Awalnya sedikit-sedikit tapi kemudian airnya ditumpahkan semua oleh Adisti.
“Yah.... tumpah deh..!” seru Adisti.
Tepat pada saat itu, Anton langsung menggenggam penjepit bunga. Lalu melepaskan sarung tangan Agung dengan penjepit bunga di dalamnya. Buntelan sarung tangan langsung diletakkan di atas lantai.
Tanpa suara, Indra menyerahkan palu pada Anton. Anton mengayunkan palu di atas buntelan sarung tangan. Terdengar suara kretak hancur. Anton beberapa kali mengayunkan palu untuk meyakinkan kameranya hancur.
Bramasta mengetik di WAG.
_It’s done!_
***
RUANG KENDALI DI SUATU TEMPAT
21.12
“Hey cepat pakai headsetnya. Mereka datang!” si Jaket Kulit memerintahkan si Kumis.
Layar monitor tampak terang. Pintu terbuka. Anak konglomerat masuk bersama istrinya. Diikuti pria yang dikenal publik sebagai sekretarisnya dan anak muda bertubuh jangkung.
Mereka mengobrol seru tentang sesuatu yang tidak mereka mengerti. Beberapa kali nama Avatar Aang, negara api, Katara, Appa dan suku pengendali air disebut. Lalu mereka tertawa bersama.
Si Istri tampak mendekati kamera, menyentuh tanaman dan hendak menyiram tanaman. Si Sekretaris menawarkan untuk membantu memindahkannya tapi si Istri menolak.
Anak Konglomerat menyentuh tanaman. Menggesernya dan memutar pot, kamera bergoyang-goyang, layar monitor sekarang berpemandangan dinding apartemen dan sedikit wajah Anak Konglomerat.
Suara si Istri terdengar. Meminta maaf sudah menumpahkan air pada suaminya. Anak Konglomerat tertawa sambil menoel pipi istrinya, kenapa membawa air begitu banyak. Si Istri berkata sambil mulai menyirami tanaman. Tangannya terangkat. Kamera bergoyang-goyang. Si Istri berteriak airnya tumpah. Air tumpah tak terkendali.
Lalu layar monitor menjadi gelap. Di headset juga tidak terdengar suara apa-apa. Kemudian terdengar suara dengingan nyaring yang menyakitkan telinga. Mereka berdua kaget, serentak melepas dan membanting headset yang mereka pakai. Telinga mereka berdenging.
“Katanya kamera bagus. Kesiram air saja langsung mati!” si Kumis menendang headsetnya yang terjatuh.
Si Jaket Kulit memegangi telinganya yang sakit, “Barang murahan. Korslet kena air!”
***
Yang penasaran dengan penjepit tangkai bunga yang dimaksud, bendanya memang kecil banget ya..
Mirip jepitan rambut ya.