
Hans memutar bola matanya jengah. Sementara yang lain melongo terkesima mendengar percakapan mereka berdua.
“Srimulat mode on,” bisik Indra. Agung dan Anton setengah mati menahan tawa.
“Please! Pokoknya beli bunga sajalah. Beli bunga untuk diri sendiri juga boleh. Atau untuk ibunya Pak Raditya!” Hans menghembuskan nafas dengan kesal.
“Tuan Hans...”
“Tolong jangan bilang ibu Anda sudah meninggal..“
“Memang seperti itu adanya,” Raditya terdengar santai.
“Pokoknya beli bunga,” Hans mulai kesal.
“Oh my God.. srimulat lagi nih..” Agung terkekeh perlahan.
“OK. Saya sudah dekat sekarang,” terdengar bunyi lampu sein dinyalakan.
“Ada yang mengikuti Anda?”
“Sejauh ini... Tidak ada. Tapi entahlah..”
“Baik, tunggu sebentar,” Hans memberi kode pada Anton.
“Tampilkan citra satelit, lalulintas tepat saat Pak Raditya keluar dari GOR Saparua. Perkiraan waktu, 7 menit yang lalu. Pindai kendaraan yang mengikuti motornya.”
“Pak Raditya pakai motor apa?”
“Honda Vario hitam, helm hitam polet hijau stabilo.”
Di ruang rapat terdengar suara Raditya tengah berbincang dengan pedagang bunga.
“Mawar ada?”
“Hapunten A, alhamdulillah mawar tos seep sadayana dinten ieu _Ma'af Bang, alhamdulillah mawar sudah habis semua hari ini_”
“Ieu naon?_Ini apa?_”
“Eta Herbras_Itu Herbras_. Ada beberapa warna..”
“Yang pink saja. Berapa?”
“40 ribu saja.”
“Per tangkai?”
“Per ikatnya, A. Saya jual murah soalnya mau pulang cepat.”
“OK. Saya beli. Dibungkus kertas ya Pak supaya gak rusak. Saya pakai motor.”
“Siap A.”
“Pak Raditya, mobil Suzuki APV hitam, mengikuti Anda semenjak Anda keluar dari GOR Saparua. Sekarang sedang berhenti di ujung pintu keluar Pasar Bunga.”
“Baik. Saya baru saja melewatinya..”
“Biarkan dia mengikuti Anda. Arahkan ke Jalan Merdeka.”
“OK.. Kemana?”
“Ada toko kue dengan kincir angin Belanda di atapnya. Toko kue di bangunan sudut Jalan Merdeka.”
“Ya saya tahu..”
“Belilah kue di sana. Kue tart atau kue besar lainnya. Pokoknya agar terlihat Anda sedang merayakan sesuatu yang romantis...”
“OK..” suara tarikan nafas Raditya terdengar di audio ruangan, "Tuan Hans, sebenarnya ada apa ini?”
“Masih berkaitan dengan kejadian kemarin. Ada yang berusaha keras untuk menyingkirkan Anda, Pak Raditya..”
“Saya mengerti. Saya juga merasa hal yang ganjil dengan panggilan penyergapan di GOR Saparua. Mereka bilang, team saya sudah berada di TKP, tapi saya tidak dapat menemukan jejak keberadaan mereka. Bahkan saya tidak diperkenankan untuk menghubungi team saya dengan alasan handphone mereka sudah disadap.” Suara klakson memanjang terdengar di audio.
“Rencana mereka hari ini adalah menjebak Anda tengah melakukan transaksi narkoba. Dibuat seolah operasi tangkap tangan.”
“$h11 1t!” lalu dengan cepat, Raditya menambahkan. “Ma’af. Saya kelepasan.”
“It’s OK . Bisa dimengerti..”
Hans menatap semua yang ada di ruangan rapat. Indra menunjuk gawainya, lalu menyebut nama Raditya tanpa suara, tangannya menunjuk Anton. Hans mengangguk mengerti.
“Besok siang, saat jam kerja, bisa datang ke kantor saya?” Hans mengecek jadwalnya, “Jadikan seperti kunjungan biasa. Terkait penyelidikan kasus yang melibatkan Adinda.”
“Insyaa Allah, sebelum makan siang, saya bisa. Ada apa sebenarnya?"
“Datang saja nanti. Saya tidak bisa mengatakannya di sini.”
“OK. Kincir angin sudah terlihat dari tempat saya sekarang. APV hitam masih di belakang saya.”
“OK. Setelah dari toko kue, bisa langsung menghilang dari mereka? Langsung saja pulang ke rumah. Matikan HP Anda. Jangan menerima telepon dari siapapun saat ini.”
“Siapapun?” Raditya terdengar heran.
“Siapapun,” Hans menambahkan lagi, “Nanti akan ada orang saya yang mengirimkan HP untuk anda. HP bersih, anti sadap, anti tracking dan anti kloning.”
“Tuan Hans, dengan apa saya harus berterimakasih?” suara Raditya terdengar lirih.
“Saya tidak meminta apapun. Tetaplah menjadi aparat negara yang lurus dan bersih. Memgayomi dan melindungi warga. Hanya itu.”
“Insyaa Allah. Bantu saya untuk mengingat disaat saya lupa. Karena itu menjadi janji saya pada almarhum Ayah dan Ibu saya.”
“Insyaa Allah. Semoga bisa mengecoh mereka. Selamat berjuang. Tetap berhati-hati Pak Raditya. Sampai jumpa besok siang. Assalamu’alaikum.”
“Wa'alaikumussalam. Terimakasih banyak.”
Hans mengakhiri panggilannya.
“Mereka.. Masih komplotan Tuan Thakur?” Indra mengusap wajahnya.
Gawai mereka berbunyi serentak.
WAG Kuping Merah.
Bramasta_Disti sudah aman. Kami ke arah Bandung sekarang_
Agung_Fii amanillah, Bang.._
***
Helikopter dengan logo B Group baru saja meninggalkan helipad di top roof gedung Sanjaya Group.
Adisti menatap Bramasta sambil tersenyum lebar. Berbicara melalui headset yang terpasang untuk menghindari suara mesin juga telinga pekak akibat tekanan udara.
“Kirain Abang yang bawa...”
Bramasta menoleh. Dia tersenyum lembut menatap istrinya.
“Kalau Abang yang bawa, I can’t do this...“ Bramasta mencium kening istrinya lama, “I love you.”
Adisti memeluk suaminya. Menyandarkan kepalanya di tempat ia merasa nyaman dan aman, dada suaminya.
“Kasihan melihat mereka diintimidasi seperti itu...”
Bramasta membelai punggung istrinya.
“Bang, gak apa-apa kalau anak-anak itu Disti masukkan ke program beasiswa B Foundation? Juga untuk kehidupan selanjutnya B Foundation memberi modal untuk usaha kecil mandiri bagi jandanya Pak Anas Abadi?”
Bramasta tersenyum.
“Semua terserah Buk Istri. Kan Buk Istri sudah diserahkan tanggung jawab untuk mengurus B Foundation.”
“Merci beaucop_Terimakasih banyak_ Pak Suami.”
Mendengar Adisti berbahasa Perancis membuat Bramasta tersenyum lebar. Mengecup kening istrinya lagi.
Helikopter terbang berputar di atas The Cliff sebelum akhirnya terbang rendah di samping The Cliff. Ada panggung baja yang dibangun di atasnya. Landasannya berwarna hitam dengan tulisan huruf H berwarna kuning terang.
“Sewaktu Disti ke sini belum ada deh kayaknya..” kata Adisti saat melihat panggung helipad di bawahnya.
Bramasta tertawa, “Masa sih? Ini dibangun seminggu setelah kita menikah.”
Adisti menoleh menatap suaminya dengan mata melebar.
“Pak Suami kok gak cerita..”
“Mending langsung tahu jadi aja kan? Berasa dapat surprise...”
“Pak Suami baik banget sih.. Sering banget ngasih Disti surprise? Padahal Disti gak ngasih surprise apa-apa buat Pak Suami..” Adisti meloncat turun dari helikopter dibantu suaminya. Berjalan merunduk untuk menghindari terpaan angin baling-baling yang masih berputar.
“Kata siapa?” Bramasta berkata dengan suara keras agar Adsiti bisa mendengar apa yang diucapkannya, “Melihat Disti tiap pagi saat bangun tidur di samping Abang, itu sudah merupakan surprise buat Abang. Belum lagi saat baju-baju dinas malam berbahan halus lembut itu..”
Bramasta terkekeh saat Adisti mendaratkan cubitan.
“Abang ngomong kencang-kencang banget sih. Malu tahu!”
“Kalau gak teriak kan gak bakal kedengaran!”
Dari jarak 3 meter, seorang pemuda berwajah Arab rupawan dengan tubuh jangkung tersenyum lebar ke arah mereka.
“Assalamu’alaikum, Bramasta, Adisti..” sapanya sambil memeluk Bramasta.
Bramasta tertawa senang melihat kawan masa kecilnya.
“Wa’alaikumussalam, Khalid. Ahlan wa sahlan..”
Adisti tersenyum lebar pada Khalid.
“Hai Bang Khalid. Sama Umi?”
Khalid menggeleng.
“Umi lebih memilih pacaran dengan Babah.."
“Romantis ya..” Adisti tertawa.
“Seperti kalian berdua,” Khalid tersenyum lebar. Mereka bertiga menuruni undakan batu alam menuju The Cliff.
“By the way, saya dengar loh tentang baju dinas malam berbahan halus lembut itu..” Khalid tergelak kencang hingga bahunya berguncang.
Adisti dan Bramasta saling berpandangan dengan mata melebar.
Bramasta melesat menghindari Adisti.
“Tuh kan!” mengejar Bramasta dengan jari yang siap untuk mencubit, “Abang ih!”
.
***
Ciyeeee
Khalid seganteng siapa ya?
Jomblo berkualitas juga gak?
😁😁🤓
Mampir di cerita Babang Indra kesayangan para ibu-ibu karena wajahnya mirip aktor lawas Chow Yun Fat di Mr.Secretary: Destiny Bound.
Udah ketemu si Kakak dan Adik dalam mimpinya tuh yang manggil dia Papa.
😁🤓