CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 146 – MAKAN SIANG DI B GROUP



Adisti merapikan berkas-berkas yang diberikan Indra terkait hal-hal yang harus ia tangani. Pembagian tugas. Dia melirik arloji yang melingkari pergelangan kirinya.


Arloji hantaran pernikahannya. Rantainya berwarna rose gold dengan beberapa diamond pada dial-nya. Feminin dan elegan. Dia tidak berani mengecek harga arlojinya. Khawatir dadanya jadi berdebar-debar dan pandangan matanya mendadak berkunang-kunang membaca deretan angka yang banyak.


Bramasta masih berbicara dalam bahasa Jerman di laptopnya. Meeting via zoom karena kendala jarak dan cuaca yang tidak bersahabat sehingga penerbangan ditangguhkan.


Adisti mengirim pesan chat kepada Adinda. Menanyakan tentang rencana girl time mereka. Masih 2 jam lagi Adinda pulang.


Sementara sebentar lagi waktu makan siang. Adisti menanyakan suaminya tentang makan siang mereka melalui pesan chat. Ia tidak mau mengganggu meeting suaminya.


Adisti_Bang, meetingnya masih lama?_


Bramasta yang sedang berbicara terjeda sejenak melirik layar gawainya. Dia tidak dapat menyembunyikan senyumnya membaca pesan Adisti.


“Kenapa nge-chat sih? Abang kan ada di dekat Disti?”


Adisti terperanjat suaminya berbicara dari kursinya.


“Abang bukannya masih meeting?” Adisti berbisik.


“Memang iya.”


“Kameranya masih on kan?”


“Masih. Kenapa memangnya?”


“Issh... Abang gimana sih. Disti cuma mau menanyakan kita mau makan siang dimana. Dah sana meeting lagi.”


“Eh, bentar lagi ya? Abang sampai lupa..”


Bramasta kembali pada meetingnya. Meminta meeting dilanjutkan setelah makan siang.


Mereka memilih makan siang bersama para karyawan di kafetaria gedung. Kehebohan terjadi saat pasangan suami istri itu memasuki kafetaria.


Bramasta dan Adisti melambaikan tangan mereka ke arah para karyawan. Sekali-sekali menjawab pertanyaan para karyawan yang terlontar. Pertanyaannya lucu-lucu dan spontan.


Suasana akrab tercipta. Bahkan saat mengantri bersama di jalur antrian makanan.


Tapi saat mereka berdua memilih meja tidak ada yang berani untuk duduk semeja dengan mereka. Meja untuk 4 orang yang mereka tempati kini hanya diisi berdua saja.


Para karyawan tahu diri, saat Bramasta dan Adisti sudah duduk dii mejanya, tidak ada lagi gangguan dari mereka. Mereka bisa menyantap makanan mereka dengan tenang.


Saat mereka sudah selesai, mereka mohon diri kepada seluruh karyawan yang sedang maksn siang di sana.


“Kami duluan ya,” kata Bramasta kepada semuanya sambil melambaikan tangannya.


“Selamat menikmati makan siangnya. Terimakasih untuk para chef kafetaria ini. Makanannya enak-enak,” Adisti mengacungkan kedua jempolnya.


Bramasta tertawa melihat istrinya. Lalu menarik tangan istrinya untuk berlalu dari kafetaria sebelum terjadi kehebohan lagi.


“Bang Indra gak makan? Gak kellihatan tadi.”


“Indra sedang ada meeting di luar. Sama cewek cakep,” bisik Bramasta sambil berjalan ke arah lobby.


Adisti menoleh cepat, matanya berbinar.


“Beneran, Bang? Gebetannya Bang Indra?”


Bramasta terkekeh.


“Kayaknya gak masuk dalam kriterianya Indra deh. Uget-uget style.”


“Dih!” Adisti meringis, “Siapa memangnya perempuan itu?”


“Sekretaris di Lennox Belle.”


“Perusahaan apa?”


“Garment, daily wear. Perusahaan baru yang ingin menjadi mitra B Group.”


“Next buat aturan saja. Untuk setiap perwakilan perusahaan yang hendak meeting dengan B Group harus menjaga sikap dan berbusana sopan,” Adisti mengetatkan gamitannya pada lengan Bramasta, “Gak usah merasa serba gak enak dengan dalih hak prerogatif seseorang dalam berbusana. Karena B Group juga punya hak prerogatif dalam bersikap.”


Bramasta menghentikan langkahnya untuk menatap istrinya.


“Lagipula dalam hal ini, B group adalah pihak yang berkuasa yang bisa mengatur semuanya. Ajukan syarat seperti itu, Disti rasa tidak akan memberatkan perusahaan-perusahaan yang akan bekerja sama dengan B Group. Kalian juga bisa meeting dengan maksimal. Lebih fokus. Tanpa disertai tingkah uget-uget.”


Bramasta tersenyum lebar menatap istrinya.


“Terimakasih banyak untuk sarannya, Mrs. Bramasta. Sekarang Abang harus menelepon Indra dulu. Siapa tahu dia butuh sebuah telepon untuk menyelamatkan dari keadaan terhimpit aksi uget-uget.”


“Kita mau kemana sih?”


“Taman samping. Duduk-duduk saja. Daripada balik lagi ke atas. Boring kan di dalam ruangan terus.”


Bramasta kembali ke gawainya.


“Wa’aalaikumussalam, Ndra. How is it? Need some help?” _Bagaimana? Butuh bantuan?_ Jeda.


Bramasta terkekeh, “I knew it. That’z why i make a call.” _Makanya gue telepon_Jeda.


“Lu di mana sekarang?” Jeda.


Bramasta terkekeh keras.


Lamat-lamat Adisti bisa mendengar suara Indra yang sedang mengomel di ujung telepon. Adisti ikut cekikikan.


Bramasta menunjuk bangku kayu kosong di bawah naungan pergola bunga warna ungu dan pink. Adisti mengangguk.



“Disti baru saja memberi masukan tentang aturan meeting dengan B Group. Kita bisa pakai itu di persyaratan kerja sama dengan B Group.” Jeda.


“Lu sudah selesai belum meetingnya?” Jeda.


“Selesaikan makan siangnya. Lalu segera balik ke kantor. Gak usah ladeni bila dia minta diantar ke kantornya dengan dalih mobilnya mogok. Modus lama. Banyak taksi online.”


“Ndra,” Bramasta teringat sesuatu, “Setelah sampai kantor, buat nota untuk perusahaan Lennox Belle untuk mengirimkan perwakilan yang berattitude baik dan bisa berbusana sopan. Memangnya kita cowok keren murahan!” Jeda.


Adisti terkikik geli.


“Ya.. hati-hati ya. Jauh-jauh dari uget-uget. Fii amanillah.”


“Wa’alaikumussalam..”


Adisti menatap puncak gedung, matanya menyipit karena silau.


“Disti belum pernah ke top floor B Group. Abang gak ngajakin?”


“Mau ngapain?”


“Cuma ingin lihat-lihat saja.”


“Males ke atasnya. Lagipula helinya sedang gak ada.”


“Memangnya ada dimana sekarang helinya?”


“Di hangar. Servis berkala. Nanti saja ke atasnya ya, kalau helinya sudah balik.”


”Kenapa harus ada heli?”


“Kan sekalian bisa ajak Disti terbang..”


Adisti meleletkan lidahnya.


“Eh serius.. Abang punya lisensi menerbangkan heli. Indra juga punya.”


“Bang Hans juga?”


Bramasta mengangguk.


“Bang Leon?”


Bramasta menggeleng.


“Bang Leon gak suka bawa heli. Tapi dia punya lisensi menerbangkan pesawat jet pribadi.”


“Artinya, Bang Leon punya pesawat pribadi?” alis Adisti terangkat.


Dia sungguh tidak menyangka perjalanan hidupnya akan menemui hal-hal yang baru dan luar biasa. Kehidupan yang ia pikir hanya sekedar cerita dalam film ataupun novel-novel.


“Keluarga Iskandardinata mempunyai saham di beberapa perusahaan maskapai luar negeri. Mereka juga mempunyai usaha penyewaan jet-jet kecil.”


“Beberapa selebriti sering berfoto ataupun membuat konten dalam pesawat jet kecil, seolah itu pesawat pribadi mereka.”


Bramasta mengangguk, “Ada yang memang milik mereka sendiri tetapi kebanyakan mereka menggunakan jasa rental pesawat jet untuk menaikkan pamor mereka.”


“Lalu heli milik B Group apakah disewakan juga?” tanya Adisti penasaran.


“Tidak secara resmi. Bila ada relasi yang butuh heli dan berniat memakainya, why not? Selama heli tersebut dalam keadaan baik dan sedang menganggur.”


“Kenapa gak buat armada taxi air saja, Bang?”


“Gak minat. Modalnya besar dan resikonya juga besar. Lagipula Abang tidak suka mengurusi kebutuhan orang-orang hedon.”


Adisti terkikik.


“Jangan sampai ada crazy rich yang minta dianterin ke pasar tradisional pakai heli demi mendapatkan sensasi perhatian masyarakat. Terus posting di sosmednya dengan caption: Jalan becek, gak ada ojek. Yaudah pakai heli aja..”


Bramasta ikut terkekeh.


“Turunnya bagaimana? Pakai parasut atau pakai tangga tali?” tanyanya.


“Lemparkan saja ke bawah..”


.


***


Catatan Kecil:


Pergola adalah naungan peneduh dari matahari yang terbuat dari balok-balok tanpa diberi penutup permanen.


Penutup atasnya biasanya digunakan tanaman merambat ataupun tanaman yang mempunyai tangkai panjang.


Fungsi Pergola sama dengan sebagai rambatan tanaman.