CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 264 – TENTANG MINYAK DAN AIR



“Bagaimana?” Hans mencondongkan tubuhnya ke arah meja.


“Sendokin saja minyaknya kalau minyaknya banyak. Kalau minyaknya tinggal sedikit, berhenti menyendokinya karena akan membuat air ikut terbawa,” Adisti mengambil tisu, mengelap jejak embun pada kaca meja dari gelas jusnya.


“Terus?” Raditya tertarik mendengar keterangan Adisti.


“Taruh di atas wajan, panaskan dalam api yang besar. Air akan habis menguap terkena panas, meninggalkan hanya minyak saja. Minyak yang bisa dipakai untuk masak kembali,” Adisti menatap Raditya lalu menatap suaminya, “Ini berlaku bila kita menganggap air sebagai pengganggu.”


“Ada cara lain tapi lebih lama dan lebih ribet. Ini hanya berlaku bila kita menganggap minyak sebagai musuh kita. Pakai cara dingin.”


“Cara dingin?” Indra mengangkat kedua alisnya.


“Butuh banyak perlengkapan makanya Disti bilang ini cukup ribet.”


“Apa alatnya?” Bramasta ikut bertanya.


“Sendok sayur besar dan es batu.”


Keempatnya menatap Adisti dengan alis terangkat.


“Letakkan sendok sayur di atas es batu. Lalu masukkan ke air yang tercampur minyak. Otomatis, minyak akan melekat pada sendok sayur yang bersuhu rendah. Membentuk lapisan lilin di punggung sendok sayurnya. Angkat, singkirkan lapisan lilinnya.”


Keempatnya terdiam. Mencerna ucapan Adisti. Hans dengan jemari mengetuk meja membentuk suara derap kaki kuda, Bramasta dengan ujung telunjuk di cuping hidungnya, Indra dengan menggigiti buku jari telunjuknya dan Raditya dengan dahi mengernyit dan mata fokus pada satu titik.


“I got what’s your point_Saya tahu maksud kamu_,” Hans memandang Adisti diikuti oleh anggukan yang lainnya.


“Yang harus diperjelas di sini perspektifnya. Apakah kita memandang minyak atau air sebagai pengganggu?” Raditya menyandarkan punggungnya sambil bersidekap.


“Panaskan bila air adalah pengganggu. Dinginkan bila minyak adalah pengganggu..” Indra membuat kesimpulan.


“Panaskan air, biarkan air dan minyak saling bergolak di dalam wajan, menimbulkan percikan dan uap tebal dimana-mana...” Adisti tersenyum lebar, “It’s too risky, right?_Terlalu beresiko, kan?_”


Semuanya mengangguk.


“Jadi, pakailah cara dingin. Lebih aman walaupun dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Hasilnya pasti dan sunyi. Tidak ada percikan panas, tidak ada asap tebal yang bikin panik..”


“Artinya?” Raditya masih mengernyit.


“Artnya, singkirkan kaki tangan Tuan Thakur secara sembunyi-sembunyi. Tunjukan bukti keterlibatan mereka sebagai kaki tangan Tuan Thakur lalu berikan mereka pilhan. Mau terus atau mundur? Beri syarat untuk yang mau terus. Mutasi ke daerah terpencil sambil terus dipantau kinerjanya selama setahun.” Bramasta menjelaskan, “Bukan begitu, Buk Istri?”


Adisti mengangguk sambil tersenyum lebar pada suaminya.


Raditya mengangguk-angguk mengerti.


Hans mengambil tas kerjanya. Dia mengambil tempat dokumen yang terbuat dari plastik keras berbentuk boks yang rapi. Dia mengambilnya lalu menyerahkannya kepada Raditya.


“Silahkan dicek lagi. Ini para kaki tangan Tuan Thakur yang bisa orang-orang saya lacak berikut bukti-buktinya.”


Raditya menerimanya dengan wajah terperangah.


“Bagaimana bisa Tuan Hans bisa membuat daftar ini?”


“Saya juga mempunyai orang-orang saya di instansi Bapak. Saya butuh info untuk klien-klien AMANSecure. Tapi tidak semua info kami berikan kepada para klien kami. Hanya yang terkait dengan permintaan klien saja dan yang tidak membahayakan semua pihak.”


“Misalnya?” Raditya mulai membuka tempat dokumen itu.


“Bila kami sedang menyelidiki pencurian, kami mencari dalangnya dan dengan siapa komplotan itu beraksi dan siapa yang melindungi komplotan tersebut.”


“Penyelidikan seperti itu bukannya tugas instansi kami?”


“Untuk kalangan kami, berita kehilangan, pencurian ataupun sabotase akan menjadi aib bagi citra perusahaan. Menghubungi pihak berwajib hanya akan membuka aib yang mengurangi kepercayaan pasar terhadap perusahaan mereka. Nilai saham mereka bisa terjun bebas, Pak. Ujung-ujungnya bisa tutup perusahannya.”


Raditya mengangguk-angguk mengerti.


“Untuk itulah AMANSecure didirikan. Jasa penyelidikan swasta yang kita jamin kerahasiaannya. Kami mengumpulkan bukti-bukti. Yang nantinya akan diteruskan kepada pengacara perusahaan.”


“Langsung membuat BAP di tempat kami?” Raditya memandang ragu.


Hans tersenyum lalu mengeleng.


“Para pengacara perusahaan akan langsung mengajukan somasi kepada orang ataupun perusahaan yang mencurangi perusahaan yang diwakili olehnya. Mereka langsung beraksi tanpa ribut-ribut di media.”


“Apakah AMANSecure juga pernah menerima perintah eksekusi langsung terhadap lawan klien?”


“Kami bermain di jalur legal, Pak Radit. Kami hanya melakukan tugas penyelidikan dan memberikan bukti-bukti. We didn’t play as God. Playing with human’s life_Kami tidak bermain sebagai Tuhan. Bermain-main dengan nyawa manusia_”


“Dengan apa saya harus membayar ini?”


Hans menggeleng.


“Pesan dari Tuan Alwin Sanjaya sangat jelas bagi saya. Pesannya sama dengan niat awal dari Pak Raditya saat pertama kali bergabung dengan instansi Bapak. Itu saja.”


“Saya khawatir dengan ungkapan, tidak ada makan siang yang gratis..”


Hans tertawa.


“Hanya itu keinginan Tuan Alwin Sanjaya. Sebenarnya, bukan hanya Tuan Alwin Sanjaya saja tapi juga Pak Gumilar, Pak Kusumawardhani dan juga beberapa pengusaha besar lainnya yang punya perhatian khusus terhadap nasib rakyat kecil.”


“Bagaimana bisa?” Raditya meletakkan tangan di dagunya.


“Kejadian pengemudi ojol yang tertabrak barakuda itu sebagai puncaknya,” Indra bergidik ngeri.


“Puncak dari segala ketidakadilan lainnya yang begitu mahal diperoleh oleh rakyat biasa,” Bramasta memandang Raditya.


“Singkirkan yang buruk agar tidak menulari yang lainnya, Pak Raditya. Jabatan baru Bapak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut,” Indra meyakinkan Raditya.


“Untuk bisa melakukan bersih-bersih, hanya bisa dilakukan oleh sapu yang bersih. Dan kami yakin Anda adalah orang yang bersih, Pak Raditya. Orang-orang saya sudah mengecek berkali-kali untuk memperkuat keyakinan kami,” Hans tersenyum menatap Raditya.


Raditya mengangguk.


“Terimakasih banyak atas kepercayaan yang diberikan kepada saya. Insyaa Allah, saya akan melakukan yang terbaik yang saya bisa,” Raditya menatap semuanya, “Tolong, ingatkan saya bila saya mulai lupa diri, bila saya mulai melenceng dari niat saya.”


Bramasta mengangguk.


“Kita sama-sama akan saling mengingatkan Pak Radit..”


Gawai Hans berdering. Setelah mengucap salam, dia terus diam mendengarkan lawan bicaranya. Sekali-kali bergumam.


“Pantau terus.” Hans mengakhiri panggilannya.


Dia meletakkan gawainya di atas meja. Kemudian mengambil tabletnya yang masih ada di depan Raditya.


“Pak Radit, ada pergerakan di rumah Bapak. Anda tingal sendiri kan di rumah itu?” Hans memandang Raditya lalu membuka tabletnya langsung ke aplikasi untuk membuka CCTV.


“Ya saya tingal sendiri. Tapi ada Bi Irah, ART di rumah saya. Tetapi dia pulang setelah menyelesaikan pekerjaan rumah. Biasanya sekitar jam 10 pagi dia sudah pulang atau bekerja di rumah lainnya.”


“Coba kita lihat.. dia Bi Irah atau bukan..” Hans menyerahkan tabletnya ke Raditya.


Indra yang duduk di sebelah Raditya langsung mencondongkan tubuhnya untuk ikut melihat. Bramasta yang penasaran, menghampiri mereka dan berdiri di belakang Raditya.


Raditya menggeleng.


“Bukan Bi Irah. Bi Irah perawakannya agak gemuk dan bertubuh pendek.”


Gambar hanya berupa siluet karena sosok tersebut sedang berada di area yang gelap terhalang gorden.


“Ah.. sudah mulai kelihatan. Laki-laki..” Indra menunjuk pada layar tablet.


“Sepertinya di si Topi Coklat tapi siang ini tanpa topi..” Bramasta mengerutkan keningnya.


“Hmm.. betul,” Radtya mengangguk.


Lalu dengan mengunakan tiga jari diusapkan ke layar tablet, membuat screenshot wajah si Topi Coklat. Dia mengirimkan hasil screenshotnya ke nomornya.


"Anda yakin tidak mengenalinya?" Hans bertanya.


“Tidak. Saya akan mengirim hasil screenshot itu ke salah satu anggota tim saya untuk mencari identitas melalui wajahnya.”


Bramasta yang berdiri di belakang tubuh Raditya menegakkan tubuhnya lalu menatap Hans dengan alis terangkat sebelah. Hans menggeleng dengan gerakan samar disertai senyum tipis yang nyaris tak terlihat.


Di belakang punggung Raditya, Indra mengacungkan jari telunjuknya lalu menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri pada Bramasta.


.


***


Calm down, Bram.


Jangan sampai Raditya curiga kalian adalah Prince Zuko..