CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 294 – PANGGUNG YANG BARU DIMULAI DAN PANGGUNG YANG USAI



Mereka semua sudah lengkap berkumpul di ruang VIP kafe milik B Group kecuali Agung dan Adinda. Mereka berdua datang dikawal dengan salah satu pengawal yang berseragam AMANSecure. Manajer kafe langsung mengantarkan mereka berdua ke ruangan VIP.


Agung melepas masker dan topinya saat berada di dalam ruangan. Begitu pula dengan Adinda melepas masker dan hoodienya.


“Melihat dandanan kalian ini, sudah mirip banget dengan para idol Korea ya..” Adisti menatap kakaknya dan calon kakak iparnya itu.


“Kakak juga gak mau seperti ini Dek. Kakak kan gak bisa beli gado-gado ataupun lotek di warung Ceu Entin..” Agung memandang buku menu yang sedang dibaca oleh Anton, “Belum pesan makanan?”


“Kita kan nunggu Lu, Bro.”


“Sorry telat. Tadi ada tamunya Bang Radit lagi yang datang. Dari Jakarta. Karena keadaan yang genting, Bang Radit tidak ingin ijin sakitnya diperpanjang. Dia meminta WFH dari kamarnya. Jadi mulai besok, Bang Radit sudah mulai melakukan meeting online,” Agung menjelaskan sambil mengambil buku menu di hadapannya.


Yang lainnya mengangguk mengerti.


“Nasi liwet kayaknya enak nih. Din?” Agung memandang Adinda yang duduk di hadapannya.


“Ciyeeeee kanebo kering mendadak hangat banget..” Indra terkikik geli.


“Naik peringkat mereka..” Hans berkata dengan wajah datar, “Sudah jadi pasangan srimulat.."


Semua tertawa riuh dengan ucapan Hans. Agung hanya memberikan cengirannya kepada mereka semua.


“Jadi bagaimana, Sayang? Mau menu yang sama dengan saya gak?”


“Sayang?” Adisti melebarkan matanya.


“Sayang??” Leon tergelak keras.


Adinda menatap Agung lurus.


“Om.. plis deh gak usah ngomong pakai sayang-sayangan begitu.. Geli tahu dengarnya..”


Tawa meledak lagi dari ruangan itu. Untung saja ruangannya dibuat kedap suara.


Agung menatap tak percaya pada Adinda.


“Tega ih!” bibirnya mencebik.


“Ayam goreng kremes!” Adinda melipat tangannya di atas meja.


“What??! Setelah saya selalu dikatain oleh mereka sebagai kanebo kering sekarang kamu ngatain saya ayam goreng kremes??” Agung mencebik.


Suara tawa terdengar lagi lebih lama. Hans dan Leon tampak mengelap sudut matanya dengan tisu.


“Astaghfirullah... punya calon suami kok baperan amat..” Adinda menatap tak percaya pada Agung, “Kan tadi Om nanya Dinda mau makan apa. Barusan Dinda jawab, mau makan ayam goreng kremes. Kenapa malah nuduh Dinda ngatain Om Agung?”


“Eh!” Agung terperanjat pipinya memerah, “Laaah kirain...”


“Lu kenapa Bang?” Anton menyenggol siku Agung, “Lu kok gak seperti biasanya sih..”


“Gue gugup, Ton..” Agung bergumam pelan tapi tidak cukup pelan hingga membuat semuanya masih bisa mendengar ucapan Agung.


“What’s wrong?” Anton menatap wajah Agung.


“Gue gugup kalau dilihatin Adinda.. bawaannya gue salah ngomong mulu..”


“Dih!” Anton mendengus menahan tawa.


Saat dia melirik ke arah Indra yang juga menahan tawa akhirnya dirinya pun tertawa lepas.


“Din, tukeran tempat duduk,” Indra memerintahkan Adinda, “Gung, Lu geser ke kursi Anton, Dinda di kursi bekas Lu.”


Semuanya patuh pada pengaturan Indra. Anton sekarang berada di samping Indra.


“Nah kalau begini kita bisa makan dengan tenang. Gak khawatir keselek karena tingkah kalian berdua yang srimulat banget,” Indra mengangguk puas, lalu memandang Adisti, “Ibu Negara, silahkan mencatat pesanan...”


Adisti mengacungkan ibu jarinya. Dia mempunya kemampuan mengorganisir dengan baik dan cepat. Pesanan dengan cepat ia buat. Para pria keturunan bule lebih memilih lasagna dan pria pribumi lebih memilih nasi liwet sedangkan para wanita memilih ayam goreng kremes.


“Jadi apa yang Lu mau bicarakan Hans?” tanya Bramasta setelah pelayan berlalu mengambil pesanan.


“AMANSecure menarik diri dari kasus yang terjadi di rumah sakit pagi tadi,” Hans memandang semuanya dengan tenang.


“What? How?” Leon mengangkat kedua bahu dengan telapak tangan menghadap depan.


“Ah... gak rame kalau begini mah...” Indra memainkan kotak tisu di depannya.


“Tokoh idola kita bahkan belum turun tangan..” Anton meletakkan pipinya di telapak tangannya.


“Yaaaaa... kecowa deh..” Adisti mengambil botol air mineral mini di hadapannya.


“Kecoak?”


Bramasta mengambil botol itu dari tangan istrinya. Membuka segel dan tutup botolnya lalu menyerahkan kembali pada istrinya.


“Plesetan, Sayang...,” Adisti tersenyum, “Terima kasih Pak Suami..”


“Your always welcome, Dear..” Bramasta membalas senyum istrinya.


Adinda mencolek lengan Agung sambil menunjuk Adisti dan Bramasta dengan dagunya.


Agung mengangguk lalu mengambilkan botol air mineral di hadapannya. Lalu melakukan hal yang sama persis yang dilakukan Bramasta.


“Saya bukannya minta minum, Om..” Adinda menatap bingung pada Agung yang menyodorkan otol air mineral kepadanya.


“Bukan...”


“Terus?”


“Cuma mau ngasih tahu Om, mereka sweet banget ya.”


Sontak semua perhatian tertuju kepada Adinda dan Agung.


“Kalem saja. Nanti saat kita sudah halal, kita bakalan lebih sweet daripada mereka..” Agung tersenyum yakin pada Adinda.


“Ciyeeeeeee,” Indra dan Anton kompak berciyee sambil terkikik bersama.


Bramasta dan Adisti saling berpandangan kemudian tertawa bersama.


Hans dan Leon sama-sama terkekeh pelan. Keduanya menggelengkan kepalanya.


“Mereka gak percaya kalau saya juga bisa romantis..” Agung melirik pada Adinda.


“Sama Om. Saya juga gak percaya...” Adinda memalingkan wajahnya menghadap Agung sambil tersenyum. Memamerkan dekik kecil di bawah matanya.


Suara kikikan berubah menjadi sura tawa lepas setelah Adinda menanggapi kalimat Agung.


Agung menatap Adinda tidak percaya. Kemudian meminum habis air dalam botol mineral yang tadi ia bukakan untuk Adinda.


Dia mengubah posisi duduknya. Memiringkan tubuhnya sehingga terlihat membelakangi Adinda.


“Jadi alasannya apa Bang Hans?”


Wajah Agung tampak serius. Semua tawa berhenti. Semua menatap Hans menunggu Hans menjawab pertanyaan Agung.


“Kita beri kesempatan kepada mereka untuk berbenah diri dan tampil di masyarakat dengan citra baru..”


Agung menganggukan kepalanya.


“Kapan Bang Hans memikirkan hal ini?”


“Saat Pak Raditya meminta kita untuk membiarkan tim mereka untuk membersihkan TKP dari proyektil dan selongsong peluru.”


“Ah ya.. saat itu gue melihat Abang terlihat cukup terkejut dengan ucapan Bang Radit.”


“Gue baru menyadari kita belum memberikan panggung untuk mereka sebagai ajang unjuk diri untuk memperbaiki citra diri di masyarakat yang sudah porak poranda.”


Yang lainnya mengangguk mengerti dengan alasan Hans dan menyetujuinya.


“Tapi pengawalan di rumah sakit tetap dari AMANSecure kan?” Leon menatap Hans.


Hans mengangguk.


“Kita tetap komit tentang keselamatan Pak Raditya. Mereka pun menyadari kalau mereka masih belum selesai berbenah dan masih melakukan screening bagi anak buah Tuan Thakur..”


“Yang menyerang pagi tadi itu...?” Bramasta tidak menyelesaikan kalimatnya.


Hans mengangguk.


“Masih anggota aktif. Mereka orang-orangnya perwira yang menembak Pak Raditya.”


“Wah.. masih banyak ya PRnya. Masih banyak pion-pion Tuan Thakur yang masih berkeliaran di luar siap melakukan tugas kotornya,” Indra mengerutkan keningnya.


“Heran.. padahal semua rekening, harta dan simpanannya sudah dibekukan dan disita. Tapi kok masih saja orang percaya dengan Tuan Thakur dan yakin mereka akan dibayar olehnya,” Anton memainkan botol air mineral di tangannya.


“Mungkin saja dia punya tempat pencucian uang yang tidak diketahui. Atau punya anak buah yang sangat loyal padanya,” Adisti memberikan pendapatnya.


“Masih ingat gak percakapan dengan Rita Gunaldi di The Ritz? Saat Rita meminta Tuan Thakur membantunya menghadapi para pemegang merek dagang brand internasional yang sudah memberinya somasi? Dan Tuan Thakur bilang dia juga punya orang-orang kepercayaannya di Singapura?” Bramasta memiringkan wajahnya sambil menatap rangkaian bunga sebagai centerpiece meja.



Hans meninju pahanya sendiri.


“D A M N ! Kok gue sampai lupa sih dengan dialog itu?”


“Nanti gue akan minta tolong teman-teman gue yang memang sudah menyelidiki Tuan Thakur terkait penembakan seleb Singapura saat terjadi malam berdarah di Tosca Imperium," Leon menatap Hans dan Bramasta.


Hans mengangguk setuju.


“Naga-naganya idola kita bakal beraksi lagi nih untuk menuntaskan Tuan Thakur..” Anton tersenyum lebar, “Gue kok mendadak kangen ya saat kita semua beraksi dan sibuk saling bantu..”


Indra dan Bramasta mengangguk setuju. Agung hanya tersenyum saja.


Pintu diketuk dari luar. Pembicaraan tentang Raditya dan Tuan Thakur dihentikan dahulu.


Pelayan datang membawa troli makanan. Makanan disajikan.


.


***


Tuan Thakur kita habisi saja ya biar gak ganggu lagi..


Jangan lupa like dan minta update.


Utamakan baca Qur'an ❤️