
“Sebentar, untuk lebih memastikannya, saya tanyakan dulu pada kawan saya di sana,” Leon mengambil gambar Ferdi Gunaldi dengan kamera gawainya. Lalu mengetik cepat dan mengirimkan foto tersebut pada temannya. Tak berapa lama gawai Leon berdering. Leon menerimanya dalam bahasa Inggris.
“…..OK, wait a minute_Baik, tunggu sebentar_.”
Leon mendekati Anton yang sedang memindahkan rekaman video ke dalam bentuk file.
“Ton, tolong ambil adegan yang ada Ferdinya ya. Kirimkan via WA ya.”
Anton mengangguk. Sekitar 2 menit, Anton mengacungkan jempolnya ke Bang Leon, “Udah ya Bang..”
Leon balas mengacungkan jempolnya juga.
“I’ll send it now_Aku akan mengirimkannya sekarang_.”
Agung melirik arlojinya. Sudah hampir jam 2. Dia menghampiri bed Adisti.
“Dek, bangun.. siap-siap untuk fisio terapi,” Agung menepuk-nepuk lengan Adisti.
Adisti menggeliat. Melirik ke kakaknya.
“Dek, jaga dengan baik hadiah dari Bang Leon, ya.”
“Kenapa emang?”
“Itu barang asli. Harganya bikin merinding.”
“Merinding bagaimana? Hadiahnya aja belum Adek buka.”
Kenapa belum dibuka?”
“Sayang buat dibukanya.. cantik banget bungkusnya..”
“Isssh norak ih.”
Adisti terkekeh, “Kok Kakak tahu harganya?”
“Ya tahulah..” Agung membantu adiknya untuk duduk, “Buka gih hadiahnya.”
Adisti mengangguk. Dia mengambil kotak hadiah dari Leon. Membukanya perlahan lalu terkesiap.
“Kakaaaak ini bagus banget. Lembut banget kulitnya.”
Agung mengangguk setuju, “Barang mahal dari jauh aja udah kelihatan beda, ya.. Udah Dek, siap-siap fisioterapi ya. Udah sholat belum?”
Adisti mengangguk, “Udah tadi sehabis makan siang.”
“Tapi Kakak gak bisa anterin Adek untuk fisioterapi. Kakak harus meriksa laporan dulu. Gak apa-apa ya dianterin sama Abang Bramasta.”
Adisti mengangguk.
“Nanti kalau sakit, gak usah jaim. Kalau mau teriak-teriak aja, kalau mau nangis ya nangis aja. Gak usah jaim karena ada Abang..”
“Isssh, Kakak nih kalau ngomong..”
Agung kembali ke sofa U. Mereka masih membahas tentang Ferdi Gunaldi dan rencana untuk memberitahu tentang pelanggaran merk dagang dan penjualan barang palsu ke pemilik merknya. Bramasta, Daddy dan Hans tengah berbicara dengan Pak Armand mengenai langkah hukum yang akan diambil, sementara Leon tengah berdiskusi dengan Anton, Indra dan temannya yang berada di Singapura membahas mengenai Ferdi Gunaldi.
Agung tidak ingin menginterupsi.Dia mengirim pesan chat kepada Bramasta.
Agung_Bang, maaf. Aa minta tolong Abang untuk mendampingi Adek fisioterapi sebentar lagi ya. Aa harus memeriksa laporan kerjaan dulu._
Bramasta_OK. Gak apa-apa. Malah so sweet (emot mata love)._
Agung_Nanti akan ada perawat yang kemari untuk mengantar Adisti ke ruang fisioterapi._
Bramasta_Adisti udah bangun?_
Agung_Sudah. Sekarang sedang siap-siap._
Bramasta bangkit dari duduknya, mendekati bed Adisti. Notifikasi pesan chatnya berdering lagi.
Agung_Tapi tabahkan dan kuatkan hatimu ya Bang_
Bramasta_????_
Agung_Adisti bakal cengeng banget. Jangan lupa bawa headset buat nyumpel kuping._
Bramasta_(emot melongo) (emot ngakak 3x)_
Agung sudah larut dalam pekerjaannya di meja dekat sofabed ketika seorang perawat mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan.
“Selamat siang.. Pasien Adisti, sekarang ke ruang fisioterapi ya.”
Bramasta membantu Adisti turun dari bed. Lalu pamit pada semua yang ada di ruangan.
“Bram, pengawalan?” Daddy mengingatkan.
“Mereka sudah dihubungi. Mereka sudah siap di lobby bawah, Dad.”
“Pihak Direksi Rumah Sakit sudah mengatur pihak security untuk menjaga Tuan Bramasta dan Nona Adisti, Tuan,” kata perawat tadi menjelaskan kepada Daddy. Daddy mengangguk puas.
“Semuanya, kami pergi dulu. Assalamu’alaikum,” Bramasta melambai pada semuanya.
“Tiati, ya Dek, Bang,” Agung menatap mereka, “Ingat pesan Kakak, Dek..”
“Apaan?” tanya Adisti.
“Ga usah jaim nanti ya. Kalau mau menjerit, menjerit aja. Mau meraung juga meraung aja…”
“Issssh Kakak ini. Nyebelin banget deh..” Adisti bersungut-sungut meninggalkan Agung. Bramasta mengikutinya sambil terkekeh.
“Apaan Gung?” tanya Indra.
“Kata Bunda, si Adek cengeng banget saat di fisoterapi…”
Bramasta mengalihkan perhatian Adisti saat memasuki lift dengan mengajaknya mengobrol agar Adisti tidak teringat dengan trauma jatuhnya.
“Bunga-bunga yang di sudut lobby kayaknya buat Disti deh..”
“Masa?”
“Benar Nona. Itu semua untuk Nona dan Tuan dari para fans yang bersimpati atas penyerangan terhadap Nona,” kata Perawat Pendamping, “Di Lobby bawah hingga teras juga. Nanti setelah terapi, Tuan dan Nona bisa melihat-lihat di sana. Saya akan memberitahu security.”
“Waaah.. saya tidak menyangka akan seperti ini,” kata Adisti.
Bramasta menatap Adisti sambil tersenyum.
TING!
Pintu lift terbuka. Perawat tersebut keluar terlebih dahulu. Security yang berjaga di lift mengangguk. 3 orang pengawal yang disiapkan Daddy memakai seragam hitam menjaga dari jarak 5 meter dalam formasi segitiga. 2 orang di kanan kiri, 1 0rang di belakang. Sementara perawat berada di depan Bramasta dan Adisti memandu jalan. Bramasta dan Adisti berjalan berdampingan dan berjarak.
Tidak ada antrian dan tidak ada orang lain di sepanjang koridor. Mereka menunggu sebentar di ruang tunggu fisioterapi saat perawat memasukkan berkas ke dalam.
“Bang, kita balik lagi aja yuk ke atas..” bisik Adisti.
“Kenapa?” Bramasta tersenyum, “Takut?”
“Bukan takut..”
“Terus?”
“Ah Abang mah gak bakal ngerti. Abang gak ngerasain sih..”
“Don’t worry_Jangan khawatir_. I will always beside you_Aku akan selalu di sampingmu_.”
“Bang..ih beneran deh..Malah ngegombal. Balik lagi ke atas yuk..”
“Abang bukan ngegombal. Abang lagi pengen bersikap manis aja ke Disti..”
“Abang Bramasta itu udah always sweet banget ke Disti. Lama-lama Disti bisa diabetes nih..”
“Jangan dong..”
“Ah, Disti mau balik nih ke atas..”
Adisti berdiri dari duduknya. Tepat pada saat itu perawat yang tadi keluar menyuruhnya masuk. Bramasta terkekeh.
“Abang Bramasta kayaknya bakal hepi banget ya lihat Disti menderita di dalam sana.. Kakak ngomong apa aja sih ke Abang?” Adisti memasuki ruangan dengan terpaksa.
“Terus Disti pengennya dianter sama siapa di dalam? Bunda?”
“Nggak. Bunda malah ngomelin Disti sewaktu fisioterapi pertama. Cengeng, katanya.”
“Mau sama Mommy? Abang hubungi Mommy nih, Mommy sedang ada di ruang meeting di lantai paling atas.”
“Nggak.. malu.. Tapi Abang janji gak ngetawain atau ngejekin Disti ya..”
“Iya..”
Para petugas yang ada di ruangan itu senyum-senyum mendengar percakapan mereka.
Seorang terapis wanita menyentuh lengan kiri Adisti. Meluruskan lengannya ke depan dan ke atas. Memutarnya dengan hati-hati.
“Sudah jauh lebih baik dari terapi awal ya. Sepertinya ini akibat gerakan tendangan memutar yang dilakukan Nona kemarin,” Terapis tersebut tersenyum sambil memutar lengan Adisti, “Nona bisa pulih lebih cepat.”
“Tuh gak sakit kan?” Bramasta tersenyum memandang Adisti.
Adisti mengangguk.
Setelah beberapa menit, Adisti dibawa ke ruang yang lain. Terapi listrik untuk memperbaiki saraf pada lengannya. Baru juga dimulai, Adisti sudah menjerit kencang. Bramasta terlonjak kaget sambil memegangi dadanya.
“Astaghfirullah, Disti..” dia mengelus-ngelus dadanya sendiri, “Untung cakep jadinya Abang sayang.”
Petugas yang ada di ruangan itu tertawa.
Adisti meringis, “Abang mau gantiin Disti? Supaya Abang bisa merasakan rasanya bagaimana?”
“Uwogah…” Bramasta bersidekap sambil tertawa.
“Abang jahat ih ngetawain.”
“Ingat pesan Kakak, gak usah jaim…” ledek Bramasta.
“Au ah!”
Saat hendak di tapping pada bagian bahu untuk mengurangi rasa sakit oleh terapis pria, Bramasta menolak.
“Maaf, apa bisa dilakukan oleh terapis wanita saja?”
“Baik, Tuan Bramasta.”
Bramasta tampak lega.
“Tuan tidak menunggu di dalam?”
“Tidak, saya menunggu di sini saja. Masih belum halal, Mbak. Saya percayakan Adisti kepada kalian. Tolong tangani dengan baik.”
“Tentu Tuan.”
“Disti,” Bramasta memanggil Adisti dari balik tirai, “Abang nunggu di balik tirai aja ya. Kalau sakit, teriak aja.. gak usah jaim.”
“Abang 11 12 dengan Kakak deh..” kata Adisti dari balik tirai.
Bramasta terkekeh. Duduk di kursi yang sudah disediakan sambil mengecek laporan pekerjaan dari gawainya.