CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 102 – MA’AF, KUOTA SUDAH PENUH



Agung sangat menyukai pekerjaannya di Sanjaya Group. Lebih teratur dan jauh lebih profesional. Dulu saat di Buana Raya, dia mengerjakan laporan dari nol termasuk input data juga dia lakukan sendiri karena anak buahnya melakukan tugas lainnya.


Bahkan membuat poin-poin penting untuk dibicarakan di rapat yang seharusnya tugas para manajer. Dan beberapa kali dalam rapat bulanan, Agung mengusulkan kesimpulan laporan bulanan yang sebenarnya adalah keputusan perusahaan yang seharusnya dilakukan oleh para dewan direksi dan direktur utama.


Agung menulis poin-poin penting di bukunya untuk dibicarakan pada rapat nanti. Kata Adisti, tulisannya jelek. Memang sih dia juga merasa tulisannya jelek, bahkan terkadang tidak bisa dibaca oleh orang lain.


Mengingat Adisti, dia jadi melihat ke arah sofa. Adiknya masih tertidur berselimutkan selimut pinjaman. Dia membereskan berkas di mejanya kemudian meninggalkan Adisti.


Dia menulis pesan:


“Kakak meeting dulu. Ada biskuit kesukaan kita di lemari kabinet belakang kursi Kakak. Ada coklat Ratu Perak juga. Yang gede gak boleh Adek makan, itu punya Kakak. Adek makan coklat yang kecil aja. Jangan ilerin selimutnya, itu selimut pinjaman. Malu kalau balikinnya bau iler Adek. Yang punya orangnya cakep. Kebaca kan tulisan Kakak?”


Agung berjalan sambil mengirim pesan chat pada Bramasta.


_Bang, Adek lagi tidur di sofa. Aa tinggalin Adek. Bentar lagi meeting dimulai_


Agung lalu men-silent gawainya.


Bramasta membuka pintu ruangan Agung. Sepi. Hanya terdengar suara nafas halus istrinya yang tengah tertidur. Dia melihat pesan Agung di atas meja sofa. Bramasta membacanya lalu tersenyum. Merasakan kehangatan hubungan kakak dan adik yang luar biasa itu.


Penasaran dengan biskuit favorit mereka, Bramasta membuka lemari kabinet di belakang kursi Agung. Ternyata biskuit cracker keju yang asin dengan bentuk lembaran tipis-tipis. Sedangkan coklat Ratu Perak yang dimaksud ternyata brand coklat dalam negeri yang rasanya selalu membuat kangen para perantau yang tinggal di luar negeri.


Bramasta meraih kemasan besar coklat, lalu menggigitnya dalam ukuran besar. Duduk di dekat kaki Adisti. Kemudian beralih ke ujung sofa satunya. Memakai sandaran tangan sebagai bantal. Tangannya masih menggenggam kemasan coklat. Memperhatikan wajah istrinya yang tengah tertidur pulas. Akhirnya dia ikut tertidur.


Agung kembali ke ruangannya setelah meeting hampir 2 jam. Mengucap salam dengan perlahan dan melihat Adisti masih tertidur juga suaminya ikut tertidur.


“Haisssh..coklat gue..” Agung mengambil dengan perlahan dari tangan Bramasta lalu menggigit sambil berjalan ke arah kursinya.


Mengambil gawainya, mengarahkan kamera kepada mereka berdua dengan coklat Ratu Perak yang sudah digigit bagian bawahnya. Lalu mengirimkan di WAG.


_Kayaknya ruangan gue jadi ruang tidur yang enak bagi pasangan pengantin baru. Simpanan coklat gue pun diembat pula_


Indra_Lu buka orderan aja sewa sofa buat tidur, Gung. Bonus coklat. (Emot ngakak 3x)_


Hans_Sleep only. Not for + + activity_


Leon_Danger! Nanti bakal susah jalan lagi..._


Anton_Gue masih bocil ya.. kagak ikutan.._


Hujan emot ngakak di WAG.


Adisti menggeliat. Mengerjap bingung, disorientasi. Di ujung sofa lainnya, suaminya tengah tertidur pulas. Sedih dengan keadaan mereka hari ini. Adisti merasa dia bersalah. Terlalu kekanakan. Terlalu egois mementingkan keinginannya sendiri.


Beringsut mendekati suaminya, duduk di dekat pinggang suaminya yang tengah berbaring miring. Membelai pelipisnya. Mata suaminya terbuka. Dia langsung mengecup pelipis suaminya.


“Ma’af...”


Bramasta menepuk tempat kosong di sampingnya. Adisti merebahkan dirinya di samping suaminya.


Bramasta memeluknya, menelusupkan wajah Adisti di lekuk lehernya. Tungkai kakinya memeluk kaki istrinya, menjaganya supaya tidak jatuh dari sofa.


“Ma’af..” bisik Adisti lagi.


“Sssh...”


Kemudian sunyi.


Di tengah ruangan, Agung melongo menatap adegan di depannya. Kamera videonya dinyalakan saat dia melihat adiknya terbangun.


_Nyesal gue... seharusnya setelah meeting gue capcus saja ke kafetaria daripada masuk lagi ke ruangan gue yang ada pasangan bucinnya. Tega banget si Adek ke Kakaknya sendiri. Tega banget adik ipar gue. Mereka udah tahu gue jomblo, malah harus melihat adegan seperti ini..._


WAG langsung rame dengan emot dan stiker tawa.


Leon_Hans, tertibkan mereka berdua!_


Hans_Gue kagak berani. Bininya lu tau sendiri, gue aja kena mental berhadapan dengan bininya_


Anton_Bro, lu jadi obat nyamuk di ruangan lu sendiri. Dah kabur aja ke kafetaria... Kali aja ada yang bening buat nyegerin mata (emot ngakak)_


***


Pak Kusumawardhani memasuki ruangan Indra. Kaget saat melihat mereka berdua.


Bramasta tersentak kaget, begitu pula Adisti.


“Kalian ngapain di ruangan Agung?” tanyanya sambil membantu menahan punggung Adisti supaya tidak terjatuh dari sofa.


“Om Dhani...” Bramasta tersenyum malu. Adisti juga.


“Loh, Agung mana? Tadi Om lihat setelah meeting dia langsung ke sini..”


Bramasta mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Tidak ada Agung di ruangannya.


Pak Kuumawardhani kembali lagi ke arah pintu.


“Loh, Om kok keluar?” tanya Bramasta.


“Lah, Om kan cari Agung, bukannya kalian,” Pak Kusumawardhani meninggalkan ruangan sambil menutup pintu.


Tidak berapa lama, pintu terbuka lagi, muncul hanya wajah Pak Kusumawardhani saja, tersenyum memandang Bramasta dan Adisti dengan wajah serba salah, “Lanjutkan saja apa yang tadi kalian lakukan. Anggap saja Om tadi tidak masuk ke dalam ruangan ini.”


Bramasta dan Adisti saling pandang lalu bengong menatap pintu yang sudah tertutup. Saling pandang lagi lalu terkekeh bersama.


“Abang.. ih malu...” Adisti menyembunyikan wajahnya di dada Bramasta.


Bramasta terkekeh sambil membuka gawainya karena notifikasi pesan chat yang berdering terus menerus. Dia sudah bisa menebak dari siapa pesan chat itu.


WAG Kuping Merah.


Indra_Gaes, tadi Babeh nelepon, dia baru saja nge-gep Bramasta dan Adisti sedang bobo sambil berpelukan di ruangan Agung_


Hans_(Emot ngakak) Terus??_


Indra_Ya Babeh keluar lagi lah karena gak ada yang dicari, merasa gak enak dengan Bramasta-Adisti..._


Anton_Nah loh.. (Emot ngakak 3x)


Agung_Bilangin Babeh, gue ada di kafetaria_


Indra_Kata Babeh bakal nyusul ke kafetaria. Sepertinya Babeh jadi galau pasca melihat Bramasta dan Adisti_


Perang stiker ngakak terjadi di WAG.


Bramasta_Kalian ghibahin gue... Kakak Ipar tega banget dah bikin video_


Agung_Kalian yang tega banget ke Aa... (Emot ngakak)_


Leon_Woiyyy gue pengen ikutan juga_


Hans_Ikut apaan?_


Leon_Ikutan ngakak_


Bramasta_Dih!_


Agung_Gue sama Babeh lagi ngakak bareng nih di kafetaria. Apalagi setelah gue tunjukin foto dan video mereka_


Agung_Bang Indra. Babeh minta dimasukin ke WAG. Katanya rame WAG kita_


Leon_Daddy juga, barusan ngomong ke gue_


Hans_Hyaaaaa..... (Emot ngakak lagi)_


Bramasta_Urusan Indra. Dia kan pendiri WAG Kuping Merah_


Indra_Oh tidak bisa... WAG ini berdiri setelah kita semua mendapat jeweran dari Daddy yang rasanya mantap beud hingga berhari-hari nyut-nyutannya kan? Babeh kan pada hari itu gak dijewer Daddy, malah ngetawain kita. Daddy juga gak mungkin kan menjewer kupingnya sendiri sampai semerah Daddy menjewer kita?_


Stiker ngakak muncul lagi di WAG.


***


Padahal Author juga ingin dimasukkan ke WAG Kuping Merah 😁