CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 269 – SIBUK



B GROUP, RUANG CEO


Ayah dan Bunda berada di ruangan Bramasta pagi itu.


“Ayah libur?” tanya Bramasta.


“Meliburkan diri untuk mempersiapkan sesuatu yang istimewa nanti malam,” Ayah tersenyum lebar.


“Ayah gak lupa untuk mengundang tetangga Adinda kan?” Adisti menyajikan kue-kue yang tersedia di stoples kaca bening yang tinggi dan langsing dengan tutup silver.


“Alhamdulillah, mereka sudah diberitahu sejak dua hari yang lalu. Kita undang sekitar 15 orang tetangga di sana.”


“Makanan bagaimana, Bun?”


“Sudah beres. Makanan dan dekorasi ditangani Mommy dan Mami sebagai orangtua angkat Adinda.”


“Waduh..” Adisti menepuk dahinya.


“Kenapa, Sayang?”


“Alamat bukan acara yang sederhana nih nantinya...”


Bunda dan Ayah mengangkat kedua bahunya.


Bramasta terkekeh.


“Abang sudah ngomong ke Mami dan Tante Dhani supaya konsepnya sederhana saja. Karena ini toh hanya khitbah, bukan pernikahan.”


“Masalahnya, sederhananya Mommy dan Mami itu berbeda dengan sederhananya orang kebanyakan, Bang..”


“Ya.. sudah, tinggal nikmati saja. Yang penting acaranya lancar, tamu tidak terlantar dan tidak kelaparan..” Bramasta mengelus punggung istrinya, “Iya gak, Yah, Bun?”


“Iya..” Ayah dan Bunda tertawa,


“Bagian Adek udah siap belum?” Bunda menggeser duduknya untuk menatap putri bungsunya.


“Tim wardrobe dari B Group, siap!” Adisti berdiri tegak sambil tersenyum lebar, “Yuk Bun.. Bunda lihat punya Bunda. Sebentar lagi Mommy, Daddy, Tante Al dan Om Al juga kemari untuk mengambil bajunya.”


Bunda mengikuti Adisti kemudian terkesiap.


“Ini konsepnya bagaimana?” tanya Bunda dengan mata melebar.


“Dua warna untuk masing-masing keluarga. Keluarga Adinda dan Keluarga Kakak. Cuma di warnanya saja yang sama tapi modelnya berbeda.”


Ayah dan Bramasta berdiri di ambang pintu penghubung antara ruangan Bramasta dengan ruangan Adisti.


“Itu wardrobe kita semua?” tanya Ayah.


Adisti mengangguk.


“Semuanya. Termasuk untuk para krucil, Erik dan Baby Andra juga.”


“Ini untuk launching baju formal dari divisi garment B Group ya?” Bramasta memandang istrinya dengan tatapan penuh cinta.


Adisti mengangguk.


“Bang Indra mana? Panggil ke sini aja Bang.”


Bramasta menggeleng.


“Gak bisa sekarang. Dia sedang berada di divisi Research Data untuk mencari tahu data-data tentang peternakan yang di New Zealand yang Buk Istri inginkan..”


Ayah dan Bunda mengerutkan keningnya. Memandangi putrinya yang berdiri sambil tersenyum menatap suaminya.


“Ya sudah. Menjelang makan siang saja ya, minta ke sini..”


Bramasta menggeleng lagi.


“Kalau datanya bagus, tidak ada hal yang mencurigakan, Indra akan langsung menghubungi contact person perusahaan tersebut. Langsung mengajukan penawaran harga.”


“Masyaa Allah... Pak Suami..” Adisti memeluk suaminya, “Hatur nuhun pisan nyaaaaa.”


“Sawangsulna, Buk Istri..”


“Kalian membicarakan apa sih?” Ayah tidak sabar untuk memenuhi keingintahuannya.


“Disti ingin peternakan sapi dan domba di New Zealand yang akan dijual karena terkendala krisis finansial pasca pandemi,” Bramasta menerangkan.


“Peternakan sapi dan domba perah?” Ayah bertanya lagi.


“”Iya.. sapinya sapi perah tapi dombanya utuk diambil wool-nya. Disti ingin mengembangkannya menjadi peternakan sapi dan domba pedaging yang hasilnya nanti diekspor dalam bentuk daging beku untuk memenuhi kebutuhan daging halal di seluruh dunia."


"Masyaa Allah.." Ayah menoleh pada Adisti, “Beneran, Dek?”


Adisti mengangguk dengan senyum dikulum.


“Semalam Adek ngomongnya ke Abang setelah melihat berita di TV. Rencananya juga nanti dikembangkannya secara organik Yah.”


“Bunda setuju banget, Dek dengan rencananya. Ternak dibudidayakan secara organik masih sangat jarang dan harganya masih sangat mahal. Padahal biaya perawatan ternaknya terhitung murah.”


“Bunda punya kenalan yang menguasai peternakan organik gak Bun yang bisa dijadikan referensi?” Bramasta memandang Bunda.


“Ada. Beberapa. Nanti Bunda hubungi mereka satu-satu ya Nak Bram,” Bunda mengangguk.


“Makasih Bun...” Bramasta tersenyum pada Bunda.


Gawainya berdering. Segera ia menjawabnya.


“Assalamu’alaikum Ndra. What’s up?” Jeda.


Bramasta memandang Ayah, Bunda dan Adisti.


“Bram tinggal dulu ya Yah, Bun, Disti..”


“Iya Nak Bram, silahkan..”


“Abang mau meeting dengan divisi research data? Hati-hati ya Bang..” Adisti salim pada suaminya.


Bramasta balas mencium telapak tangan istrinya. Kemudian salim pada Ayah dan Bunda.


“Memangnya tempat meetingnya jauh, Dek?” tanya Bunda saat Bramasta sudah pergi.


“Di ruangan sebelah, Bun..”


“What?? Kirain beda gedung atau beda lantai..”


“Memang ya, kalau orang lagi bucin, pamitan ke ruangan sebelah aja kayak yang mau pergi kemana aja..” Ayah terkekeh.


“Bunda ingin kalian bucin selamanya ya. Jangan hanya karena kalian masih pengantin baru..”


“Aamiin..”


*


B GROUP


RUANG MEETING


“Assalamu’alaikum,” salam Bramasta saat memasuki ruangan.


Semua menjawab salamnya. Bramasta duduk di samping Indra. Indra menyodorkan beberapa berkas.


“Jadi bagaimana?”


Indra memberi laporan singkat.


“Perusahaannya sebenarnya sehat, hubungan owner dan pekerjanya juga sangat baik. Kekeluargaan banget.”


Bramasta masih mendengarkan penjelasan Indra sambil matanya membaca berkas di tangannya yang sudah diberi stabilo dan keterangan-keterangan tambahan yang ditulis tangan oleh Indra di tepi kertas.


Bramasta memandang tim Research Data. “Minta laporan penjualan dari Jones Farm ya selama 2 tahun terakhir. Pisahkan buyer-buyer besar mereka.”


“Saya rasa kita harus ubah konsep awal kita, Pak Indra,” Bramasta memandang Indra yang tengah membaca email yang masuk memalui laptopnya.


Indra mengangguk lalu menggeser laptopnya hingga Bramasta bisa membaca isi emailnya.


“Timothy Jones, dia CP (contact person) kita. Jabatannya di sana sebagai PR (public relation). Sekarang dia meng-handle beberapa pekerjaan di sana sekaligus.”


“Dia ini...” Bramasta tidak meneruskan pertanyaannya, cukup dengan mengangkat sebelah alisnya, Indra paham dengan arah pertanyaan bosnya.


“Anak pertama Dalton Jones, owner peternakan tersebut.”


Bramasta mengangguk mengerti.


Seorang anggota tim menyerahkan berkas yang Bramasta inginkan. Cepat? Ya memang harus cepat bila Bramasta atau Indra meminta data. Para pekerja di B Group adalah orang-orang yang memang mempunyai skill sesuai bidangnya. The right man on the right place selalu diterapkan.


Bramasta membaca dengan cepat data yang diberikan. Mengambil pensil di depannya lalu melingkari hal-hal yang dirasa penting.


“Kita bisa pakai data ini saat perusahaan itu sudah masuk ke dalam B Group. Tapi kita ubah rencana awal. Mereka orang-orang baik, Ndra..” Bramasta berbicara dengan suara pelan pada Indra.


“Tolong dicek, perusahaan-perusahaan yang bekerja sama dengan peternakan itu masih ada gak saat ini. Karena banyak perusahaan yang collaps pasca pandemi,” Indra memandang semua anggota tim.


Bramasta mengangguk menyetujuinya.


“Gue juga setuju setelah tahu semuanya, Bos. Misi perusahaan kita...” Indra tidak meneruskan kalimatnya karena ia tahu Bramasta paham.


“Iya.. gue tahu Ndra. Makanya kita ubah niat awal kita.”


“Disti gak apa-apa?”


“It’s OK. You knew Disti lah.. Pemikirannya sama dengan misi perusahaan kita.”


“Kita lanjutkan saja nih? Gue jawab emailnya Timothy nih...” Indra mengambil data dari Bramasta, membacanya dengan cepat.


“Just do it. I trust you..” Bramasta bersiap berdiri, “Rapatnya sudah selesai kan?”


“Bagi Pak Bos sudah. Udah buruan sana. Gue tahu ada Ayah dan Bunda di ruangan Lu.”


Bramasta tertawa.


“Tante Dhani dan Om Dhani juga sebentar lagi datang.”


Indra menatap tak percaya.


“Mami Papi? Serius?”


Bramasta hanya menganggukkan kepala sambil tertawa pelan.


“Saya pamit dulu karena sedang ada tamu. Terimakasih banyak atas bantuannya ya,” Bramasta tersenyum memandang Tim Research Data, menganggukkan kepala kepada mereka, “Assalamu’alaikum..”


.


***


Memang peternakan yang diincar Buk Istri kenapa sih?