
Pintu digeser dan terdengar ucapan salam. Pak Budi dan Man masuk ke ruangan.
“Sudah selesai pekerjaan tim forensik?” tanya Raditya.
Pak Budi mengangguk.
“Pintu lemari panel harus diperbaiki juga sofa bed-nya, Tuan..” Man melaporkan kepada Hans, “Bantal, selimut dan seprei masing-masing dua harus kita ganti.”
“Kami bawa untuk jadi barang bukti, Tuan Hans,” Pak Budi menatap Hans.
Hans mengangguk mengerti.
“Proyektilnya sudah ketemu semua?”
“Sudah Tuan. TKP sudah bersih.”
“Pihak rumah sakit sudah bisa membersihkan ruangannya?” tanya Hans.
Pak Budi mengangguk.
Hans mengambil gawainya, langsung menghubungi salah satu direktur rumah sakit. Berbicara sebentar lalu mengakhiri panggilannya.
“Pak Ilham dalam perjalanan ke sini, Pak Radit..” Pak Budi melaporkan.
Hans menunjuk pada Agung dan Adinda.
“Kalian berdua, berbicaralah di luar. Daripada kalian berbicara di sini, malah bikin Pak Raditya bengek..”
Agung dan Adinda meringis menatap Hans. Raditya kembali tertawa hingga membuatnya terbatuk-batuk lagi.
“Dah buruan sana. Tuh, bengek lagi kan?” Hans mendorong keduanya keluar dari ruangan.
“Kita berdua diusir, Din..” Agung memasang wajah sedih.
“Iya.. Bang Hans tega banget...” Adinda mengangguk setuju.
Hans menatap keduanya tak percaya.
“Gung, ingat apa yang kita bicarakan semalam...”
“Iya Bang.. iya..” senyum Agung tampak jahil, “Siiip, akhirnya kita bisa kencan berdua Din. Direstui pula oleh abang kamu yang paling jutek. Yuk..”
Hans menatap kesal pada Agung. Saat Agung dan Adinda mengarah pada lift, Hans memanggil lagi.
“Gung! Tunggu..!” kaki panjang Hans melangkah cepat, “Jangan ke bawah. Video kamu hari ini viral lagi di medsos. Orang-orang akan heboh melihat kemunculan kamu. Gak usah ke bawah. Pesan via telepon saja, Kalian makan di taman atas.”
“Ciyeee diatur lunch dating oleh Bang Hans di taman. Bang Hans romantis banget deh.. Baik banget sih calon kakak ipar...” Agung terkekeh.
Adinda tersenyum lebar sedangkan Hans berwajah masam.
Saat Hans hendak berbalik menuju koridor VVIP, Agung memanggilnya. Hans tidak menghampiri, hanya berdiri menghadap mereka.
“Video tadi... Abang kirim ke siapa saja?” Agung menatap Hans serius.
“Video dari tempat meeting? Abang gak share kesiapapun. Ada yang menge-sharenya secara berantai. Dan sengaja Abang biarkan.”
Agung menggeleng.
“Bukan video itu.”
“Ah...video srimulatnya kalian..?”
Agung mengangguk. Adinda juga menanti jawaban Hans dengan cemas.
Hans memandang mereka bergantian. Awalnya dengan wajah datar dan dingin tanpa ekspresi. Kemudian ada tarikan sedikit pada bibirnya yang berkedut. Makin lama makin lebar garis bibirnya. Hingga akhirnya Hans terkekeh sendiri.
Hans tidak menjawab. Dia membalikkan tubuhnya berjalan menjauh masih sambil terkekeh. Agung berdecih sebal. Adinda merengut.
“Yuk ke taman. Mudah-mudahan ada tempat yang adem di tengah hari seperti ini..” Agung memegangi siku Adinda pelan.
Agung mengambil gawainya. Mematikan mode pesawat. Suara notifikasi terdengar tak berhenti. Dia baru teringat, HPnya dalam mode pesawat saat Hans datang.
Dia menyerahkan gawainya pada Adinda.
“Kamu aja yang cek, saya lagi males..”
“Beneran Om?” mata Adinda berbinar suaranya juga terdengar bahagia.
Agung menoleh pada Adinda. Sedikit heran dengan kelakuannya.
“Memangnya kenapa?”
“Om Agung nggak takut kalau ada chat rahasia ketahuan sama saya?”
Agung menoleh lagi.
“Gak ada yang rahasia kok.. Saya gak pernah macam-macam dengan teman atau rekan kerja lawan jenis. Kamu calon istri saya. Cuma kamu satu-satunya yang saya chat spesial..”
Adinda merona. Pandangannya dialihkan pada gazebo dengan pergola bunga pink tempat ia pernah duduk berdua di sana bersama Agung menikmati pie apel.
Di tengah hari seperti saat ini, tempat itu terlihat sejuk. Telunjuk Adinda terarah pada tempat itu. Agung menahan siku Adinda saat Adinda hendak beranjak ke sana.
Adinda menoleh ke arahnya.
“Ada apa, Om?”
“Saya mau bicara dulu..”
Adinda menatap heran pada Agung.
“Ma’afkan saya tentang kemarin pagi saat di video call itu. Saya tidak bermaksud menyinggung perasaan kamu..” Agung menunduk setelah menatap mata Adinda selama 3 detik.
Adinda mengangguk.
"Iya..”
“Din..” Agung menahan sikunya lagi saat Adinda hendak beranjak, “Berdiri dulu di sini sebentar.. Tadi iya apa?”
“Iya.. Dinda sudah ma’afin Om.”
“Semudah itu? Secepat itu? Gak pakai drama?”
“Laaah. Om maunya hubungan kita harus penuh drama? Capek Om..” Adinda menarik lengan Agung ke arah tempat yang ia mau.
“Eh..? Kok saya ditarik-tarik begini, Din? Saya calon suami kamu loh..”
“Terus yang ngatain Om itu kambing siapa?”
“Hah?”
Detik berikutnya Agung mencebik kesal sambil mengikuti langkah Adinda.
“Subhanallah...Om Agung..!”
“Apa? Ada apa? Kenapa?” Agung terlonjak dari lamunannya sesaat setelah duduk di bangku taman.
“139 panggilan tak terjawab.. Kebanyakan dari Teh Adisti, 76 panggilan. Dari para Abang, dari Bunda, Mommy dan Mami...” mata Adinda membulat menatap Agung.
Menggemaskan! Membuat Agung ingin sekali menarik pipi Adinda ke kanan dan ke kiri. Dirinya mengerjap menatap Adinda untuk menghilangkan pikiran nyelenehnya.
“Belum lagi pesan chat. WAG Kuping Merah sudah ratusan chat yang belum Om baca..”
“Bacain..” Agung meletakkan kepalanya di meja dengan disangga lengannya. Matanya memandangi Adinda yang tengah menekuri layar gawainya.
“Ntar dulu. Ada chat dari Bunda.
_ Bunda sedang bareng Mommy dan Mami membicarakan video Kakak yang viral itu. Tadinya kami khawatir. Tapi setelah menonton video kiriman dari Nak Hans, sepertinya kekhawatiran kami gak beralasan. Bunda bangga dengan Kakak! Teruslah jadi orang baik tanpa harus lupa jati diri Kakak, jangan arogan, tetap membumi. Bunda percaya Kakak bisa menjaga nama baik kedua orangtua_ Tuh.. Om Agung dido’akan banyak oleh Bunda..”
Agung tersenyum. Dia suka memandangi Adinda yang tengah berbicara. Membacakan chatnya Bunda, beberapa kali dirinya melihat dekik kecil dibawah mata Adinda.
“Ini masih chat dari Bunda lagi nih Om...
_Teruslah jadi pasangan srimulat walau kalian dijuluki kanebo kering. Itu sangat menghibur kami sebagai orangtua. Kalian yang akur ya. Semoga langgeng, samawa hingga jannah nanti_ Aamiin.. tapi kok kita disebut pasangan kanebo kering sih? Kan yang kanebo kering cuma Om. Saya mah nggak..”
“Tau ah..”
“Om kenapa? Sakit? Kok berbaring di meja?”
“Saya capek. Setelah melawan penjahat, kirain bakal disayang oleh kamu. Tapi yang ada malah saya digebukin kamu. Dikeplakin juga. Dicubit juga...”
Adinda terdiam. Memandangi Agung dengan cemberut.
“Apa?” alis Agung terangkat.
“Pukulan saya..”
“Pukulan dan keplakannya sih gak sakit. Tapi cubitan kamu 11 12 dengan cubitan Adek. Nyelekit. Panas, “ Agung menyingkap lengan bajunya, ada beberapa bilur ungu kebiruan di kulitnya yang berwarna terang.
Mata Adinda melebar.
“Subhanallah.. Om.. ma’af. Gak nyangka bakal memar seperti itu..”
“Jangan cubit saya lagi ya..” Agung masih merebahkan kepalanya di atas meja.
“Tapi Om jangan bacain ayat kursi lagi..”
“Kenapa? Kamu kepanasan?”
“Om kira saya demit?!”
Agung tersenyum lebar sambil menepuk-nepuk punggung tangan Adinda.
“Yang sabar menghadapi ketengilan saya ya..” mata Agung menatap iris coklat Adinda.
Dipandangi seperti itu membuat Adinda malu. Pipinya memerah.
“Kamu semakin cantik saat pipi kamu memerah seperti itu. Di sini...” telunjuk Agung terulur ke arah pipi Adinda.
Tidak menyentuh kulit pipinya tapi mampu membuat Agung dan Adinda merasakan sensasi kesetrum. Dengan buru-buru, Agung menjauhkan telunjuknya dari pipi Adinda. Keduanya salah tingkah. Tidak berani saling bertatapan.
Agung berdehem. Duduk dengan tegak.
“Mau makan apa?”
“Terserah Om Agung saja..” Adinda menunduk berpura membaca chat di gawai Agung.
“Beneran?” Agung tersenyum lebar, “Saya ingin makan berat karena lapar banget. Gak apa-apa?”
Adinda mengangguk. Menatap Agung sejenak sebelum akhirnya menunduk lagi.
“Steak?” Agung mengaitkan kedua tangannya di atas meja, “Sirloin steak dengan nasi dan kentang goreng. Kamu?”
“Chicken cordon bleu dengan kentang goreng. Minumnya cola dingin.”
Agung mengangguk. Tangannya terulur ke arah Adinda.
“Apa?” Adinda menatap bingung.
“Handphone saya. Bagaimana saya bisa memesan makanan kalau handphone saya dipegang kamu terus.”
“Bentar Om! Ada pesan masuk dari Kinanti..” Adinda menatap Agung sambil memicingkan matanya.
Agung terdiam ditatap seperti itu. Alisnya terangkat sebelah.
Adinda dengan cepat membuka pesan dari Kinanti. Membacanya dengan cepat. Detik berikutnya matanya mengerjap dengan cepat lalu menatap Agung.
“Ada apa? Apa katanya?”
“Dia menanyakan tentang meeting sore nanti sebagai pengganti meeting pagi tadi jadi gak?” Adinda tersenyum malu-malu.
“Kamu tadi pasti sudah menyangka yang nggak-nggak kan?” Agung tersenyum lebar sambil terkekeh.
Adinda tidak menjawab. Tapi semburat merah di pipinya sudah menjadi jawaban buat Agung.
Tangannya terulur ke wajah Adinda. Telunjuk dan jari tengahnya menekuk, lalu menarik puncak hidung Adinda.
Mendapat serangan seperti itu, Adinda tidak tinggal diam. Dia membalas dengan cara yang sama pada hidung Agung.
Suara tawa terdengar dari samping mereka. Detik kemudian, suara pria beraksen Perancis terdengar.
“Gile bener... Pacarannya pasangan srimulat rupanya seperti ini. Main tarik-tarikan hidung!” suara Leon diikuti tawa yang lainnya mengelilingi meja di bawah pergola bunga pink rindang.
Agung dan Adinda segera menghentikan perbuatan mereka. Agung menatap mereka dengan tak percaya.
“Kalian ngapain di sini?”
“Kan tadi gue udah bilang, kita ketemuan siang ini di WAG..” Leon duduk di sebelah Adinda.
“Din, kamu pindah tempat duduk di samping saya,” perintah Agung.
“Ciyee kanebo kering mulai protektif rupanya..” Anton duduk di samping Agung.
Semuanya tertawa. Kecuali Agung. Dia mencebik kesal. Lunch datingnya gagal total.
“Kami belum makan siang,” Agung menatap Leon dan Hans bergantian.
“Sama, kami semua juga,” Hans tertawa menatap Agung.
“Kalem... Gue traktir," Leon mengambil gawainya bersiap untuk memesan.
Adinda melambaikan tangan ke arahnya.
“Chicken cordon bleu, saus jamur dengan kentang goreng, Sirloin dengan saus blackpepper, kentang goreng dan nasi. Minumnya cola dingin.”
“Gercep banget, Din?” Leon tertawa.
“Lapar, Bang.. menghibur kalian semua kan butuh tenaga..” ucapan Adinda sontak membuat mereka semua tertawa.
Indra dan Bramasta saling mengedipkan mata. Tidak menyangka dengan perubahan sikap Adinda yang menjadi lebih ceria dan tidak menarik diri seperti sebelumnya.
Agung menatap Adinda yang duduk di sampingnya. Tangannya mengelus kepala yang tertutup hijab dusty pink itu dengan lembut.
“Calon istri..”
“Buruan halalin, Om. Keburu disamber yang lainnya..” seloroh Adinda sukses membuat semua mata menatap ke arahnya.
“Gak bisa. Saya gak bisa diburu-buru secepat itu walaupun saya ingin.”
“Kenapa?” Adinda menatap Agung.
“Abang kamu, belum bertemu dengan anak-anak dalam mimpinya juga ibu mereka...”
“Terus, kita harus menunggu Bang Indra untuk menikah dulu baru kita bisa menikah?”
Agung mengangguk.
“Makanya selalu do’akan Bang Indra untuk segera bertemu anak-anak itu dan ibu mereka setelah sholat fardhu dan tahajud kamu..”
Bramasta menyenggol Indra.
“Saya gak apa-apa kok kalau kalian mau duluan..” Indra menatap Agung.
Agung menatap Indra lama. Membuat tengkuk Indra meremang. Agung menggeleng.
“Gak bisa. Jodoh, kematian dan kelahiran itu sudah diatur oleh Allah. Jangan diubah seenaknya. Karena akan mengubah suratan yang sudah ditentukan...” ada aura aneh yang dirasakan oleh mereka semua saat Agung berbicara.
“Gung..” setelah beberapa saat hening, Hans berbicara, “Are you OK?”
Agung mengerjap. Lalu mengangguk.
“Memangnya kenapa? Kalian kok jadi terdiam begitu?”
“Nah loh.. 11 12 dengan Adisti kalau begini nih..” Leon menggeleng.
“Artinya, sebentar lagi Lu bakalan merid, Ndra,” Bramasta menepuk bahu Indra.
“Aamiin..” semua mengaminkan ucapan Bramasta.
.
***
Agung kenapa mendadak bikin merinding ya?
Jangan lupa like dan minta update ya 😉
1700 kata lebih buat Readers.
Utamakan baca Qur'an ❤️