CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 98 – PENGALIH PERHATIAN



“Gile beneeeerrrr! Mentang-mentang lakinya lagi dipenjara di Singapur!” komentar Anton.


“Edan...!” Hans menyandarkan punggungnya pada sofa.


“Disti masuk kamar,” perintah Bramasta.


“Kenapa? Disti juga mau lihat..” Adisti menutupi matanya dengan jemarinya.


“Gak boleh. Kecuali kalau nontonnya cuma berdua dengan Abang.”


“Ciyeeeeee,” kompak yang berada di ruangan bersuara.


“Disti nurut,” suara Agung terdengar tegas.


“Iyaaaaa,” Adisti beranjak dari sofa menuju kamarnya.


Bramasta mengamati Adisti hingga masuk ke dalam kamar.


“Heran banget, sama Kakak Ipar kok patuh banget ya?” Bramasta menatap heran pada Agung.


“Ya iyeslah.. Dari orok nempel terus sama gue..” jawab Agung, “Gak ada camilan ini?”


“Lu kira kita lagi nonton bioskop, Bro?” Anton terkikik.


“Tadi siang, Disti buat salad buah banyak. Tuh masih ada di kulkas.”


“Siiiip! Salad buah buatan Adek gue, mantap rasanya,” Agung beranjak menuju pantry.


“Ini mereka mau sampai kapan ciuman seperti itu sih?” Hans terdengar bete.


“Lah.. itu kapan buka bajunya?” tanya Indra heran.


“Berasa nonton bokep berjamaah...” gumam Hans, “Untung bini lu udah masuk kamar, Bram.”


“Ho oh...”


Mereka terkikik bersama.


“Ton, ini terekam kan di hardisk?” Bramasta memandang Anton.


Anton mengangguk, “Kenapa Pak Bos?”


“Lu bayangin aja, mereka menginginkan video gue dengan Adisti lewat kamera penyadap, tapi malah kita dapat video mereka..” Bramasta mengambil wadah kedap udara berisi salad buah.


Mereka tertawa bersama.


“Bisa jadi senjata pamungkas nih..” ujar Hans.


“Mereka beneran mau begituan di ruang tunggu butik?” baru saja Indra bertanya, Rita tampak menggandeng tangan Tuan Thakur ke arah tangga.


“Fiuuuuh akhirnya pindah tempat juga. Kita gak disuguhi tontonan mereka..” Agung melahap sesuap besar salad buahnya.


Layar monitor sepi. Hanya menyisakan pakaian atas yang berserakan di lantai.


Hans menyendokkan salad ke mulutnya. Dia mengangguk, “Enak!”


“Istri Tuan Thakur ini terkenal paling bawel, paling merasa sok pejabat di kalangan para istri pejabat lainnya. Sebanding dengan Liliana Sukma,” Indra mengisi mangkuknya dengan salad.


“Lu tahu banget kehidupan para sosialita, Bro..” Anton menunggu giliran untuk mengisi mangkuknya.


“Gue kan gaul..” Indra menyombongkan dirinya.


“Lu gaulnya sama ibu-ibu,” sahut Anton.


“Beberapa ada yang berusaha menjodohkan gue dengan putrinya,” Indra menyuapkan salad ke dalam mulutnya. Lalu mengangguk setuju dengan rasanya.


“Cakep?” tanya Bramasta.


“Ya cakeplah...” Indra menjawab setelah menelan.


“Tapi...?” Agung menoleh pada Indra, “Kayaknya ada tapinya deh.”


Indra mengangguk, “Gue nya gak sreg aja. Gak ada chemistry. Kebanyakan terlalu kekanakan dan naif. Bukan tipe gue...”


“Spek lu mengikuti usia lu, Ndra,” kata Hans.


Indra menggeleng, “Dari dulu, gue gak suka cewek yang kekanakan sifatnya. Ribet. Apalagi yang manja-manja begitu. Bukannya imut atau manis malah terlihat nyebelin di mata gue..”


“Berarti yang Adek gue bilang itu bener ya?” Agung melahap suapan terakhirnya.


Bramasta menoleh pada Indra lalu Agung. Menunggu jawaban.


“Nggaklah.. Kalau tahu dia indigo udah dari dulu dia diobati dengan ruqiyah. Karena indigo itu gangguan jin bukan sesuatu yang harus dibanggakan,” Agung terkekeh.


Bramasta tampak lega.


“Cuma dia berbeda saja dalam melihat sesuatu. Mungkin karena jiwa senimannya sehingga dia punya perspektif yang berbeda dalam kerangka berpikirnya,” Agung meletakkan mangkuknya di atas meja. Ingin menambah lagi tapi Anton sudah menghabiskan semuanya.


“Maksud Kakak Ipar?” tanya Bramasta.


“Adek itu unik cara berpikirnya. Lihat saja bagaimana dia mengatasi hinaan Rita Gunaldi. Lihat saja bagaimana dia bisa berbicara dengan Bang Hans tanpa harus merasa takut dengan aura Bang Hans,” Agung memandang Hans.


“Kok gue dibawa-bawa sih?” protes Hans.


“Gue yakin cewek-cewek apalagi seumuran Adek gue bakal merasa terintimidasi dengan kehadiran Bang Hans dan berusaha menghindari Bang Hans,” Agung menyandarkan punggungnya. Yang lain mengangguk setuju dengan ucapan Agung.


“Gue akui, hanya istri gue dan Disti aja yang bikin gue gak bisa berkata-kata...” kekeh Hans diikuti yang lainnya.


“Abang lihat lukisan Adek kan? Sudut pandangnya tentang suatu keindahan itu berbeda dengan kita. Kita jadi bisa melihat keindahan dari sudut pandang yang lain,” Agung mengelap mulutnya dengan tisu.


Bramasta mengangguk, “Purple Veil, Good Morning, Dew.. Whispering Rain..”


“Ah, gue pulang dulu ya Bang. Kasihan Ayah Bunda kalau nungguin Aa,” Agung beranjak sambil membawa mangkuk dan gelasnya ke bak cuci piring di pantry.


“Gak usah dicuci, Kakak Ipar. Biar Abang saja yang cuci,” kata Bramasta.


“Beneran nih?”


“Setiap orang butuh pengalih perhatian dari rasa gelisahnya. Adisti, kalau tidak cabuti rumput liar dia melukis, kalau lakinya beda. Cara pengalih perhatiannya dengan bersih-bersih dan beres-beres rumahnya,” Indra membawa mangkuk dan gelasnya juga ke bak cuci piring.


“Gue juga pulang, ah. Percuma nungguin The Ritz. Seumuran Tuan Thakur, setelah becete, dia bakal molor. Gak bakalan dia pulang ke rumahnya,” Hans mengikuti meletakkan mangkuk dan gelasnya di bak cuci piring.


“Ya udah, gue juga pulang..” Anton memutuskan koneksi tayangan kamera penyadap dari The Ritz dengan laptopnya.


“Iya.. udah malam. Kalian pulang semua. Hati-hati di jalan ya.”


“Pak Bos, kotak biskuit tempat buntelan sarung tangan Agung, saya bawa ya. Besok saya bawa ke kantor. Bang Leon dan temannya bakal ke B Group kan?” tanya Anton.


Indra mengangguk, “B Group perlu disterilisasi dari penyadap. Kita beli detektor penyadap saja, Boss?”


Bramasta mengangguk, “Ton, lu cari rekomendasi alat detektor yang bagus ya. Bukan hanya alat penyadap mikro saja tapi nano juga.”


“OK.. range harga?” tanya Anton.


“Gue mau yang terbaik,” jawab Bramasta.


Anton mengangguk.


Bramasta mulai membersihkan meja. Menyemprotkan cairan pembersih kaca lalu mengelapnya. Aroma lemon yang menyegarkan membantunya rileks. Lalu mulai mengambil vacuum cleaner.


Teringat dengan obrolannya dengan Adisti yang mengira dirinya tidak pernah menyapu. Bramasta memang jarang memegang sapu karena dia lebih suka vacuum cleaner. Sapu hanya memindahkan debu dari lantai ke benda-benda lainnya.


Setelah sofa tengah rapi dan bersih, dia beralih ke pantry. Mencuci mangkuk, gelas dan teko juga nampan. Tidak lupa menyeka bak cuci piringnya hingga bersih dan kering setelah selesai mencuci.


Saat memasuki kamarnya, dia terkejut dengan Adisti yang tertidur di atas sajadah sambil memeluk al Qur’an. Dia menyimpan al Qur’annya lalu melepas mukena Adisti.


Adisti tidak terbangun bahkan setelah dipindahkan ke atas tempat tidur. Wajahnya terlihat lelah tapi damai. Bramasta merapikan poni samping Adisti. Rambut peri dan wajah peri istrinya.


Setelah sholat Isya, dia berganti baju dengan baju rumahnya. Lalu berbaring menghadap istrinya. Sambil mendawamkan al Mulk, dia membelai wajah istrinya yang masih terlelap.


“Abang Bram..” Adisti membuka matanya.


“Ssssh.. tidur lagi... Masih malam. Abang juga mau tidur..” Bramasta memeluk istrinya.


Adisti membalas dengan memeluk leher suaminya. Kepalanya ditelusupkan ke dada suaminya. Nyaman. Terlindungi.


Bramasta tersenyum. Membelai pelan punggung istrinya. Dia menyukai perasaan ini, perasaan yang menenangkan pikiran, hati dan jiwanya. Perasaan mencintai dan dicintai. Perasaan yang menjanjikan kelembutan namun juga kekuatan. Bramasta mulai terlelap menyusul istrinya.



***


Sssst


Jangan berisik, mereka sedang bobo...