
“Disti duduk di depan,” kata Adisti langsung memegang handle pintu depan.
“Loh kok gitu?” Bramasta tidak terima.
“Disti satu-satunya cewek. Kalian laki semua. It means, I’m special,” Adisti tersenyum lebar, “Lagian Disti pengen ngerasain naik mobil baru...”
“Besok Abang beli mobil baru ya tapi sekarang Disti duduknya dekat Abang..”
“Nggaaaak.”
Hans menepuk pundak Bramasta sambil menggeleng, “Trust me, lu gak bakal menang berdebat dengan makhluk ras terkuat di semesta.”
“Ton, gue yang bawa mobilnya,” kata Bramasta.
“Gak boleh!” Adisti membalikkan tubuhnya menghadap Bramasta yang sudah duduk di tengah bersama Hans, menatap galak kepada Bramasta, “Semalam kita cuma tidur 2 jam!”
“Whattt!”
“Setdah!!”
“Gile benerrr? Durasi euy..durasi!”
“Warbiyasah!”
“Woiyyy adek gue itu... adek gue....!”
Mobil Pajero milik Anton dipenuhi tawa.
Bramasta menyandarkan punggungnya sambil menutupi wajahnya.
“Disti....” panggil Bramasta dengan wajah tertutup jemarinya.
“Ya Bang?” Adisti menoleh melihat suaminya.
“Love you more!” Bramasta memberi jari love pada Adisti.
“Ciyeeeeee!”
Pajero dengan ledakan tawa membahana dari dalam mobil melaju menyusuri jalanan kota Bandung dimalam hari demi sate ayam Madura.
“Baru 3 hari merid, Adek lu bawaannya udah seperti orang ngidam aja. Pakai ngajakin kita semua lagi,” seloroh Hans pada Agung yang duduk di belakang, “Apalagi kalau sedang ngidam beneran..”
“Isssh gegabah betul deh,” Bramasta menyenggol lutut Hans.
“Karena di apartemen, gak ada kebun Bunda yang bisa dicabuti rumput liarnya. Dan karena di apartemen, Adek gue masih belum bisa melukis terkendala tempat,” kata Agung dengan suara pelan, “Di rumah, Adisti melukis di garasi karena dia benci dengan aroma cat minyak yang dipakainya. Di garasi, sirkulasi udaranya bagus, aroma cat minyak tidak masuk ke dalam rumah.”
“Jadi maksud lu, Adek lu bersikap seperti ini untuk menghilangkan stresnya karena kamera penyadap yang berhasil masuk ke dalam apartemen?” tanya Indra.
Agung mengangguk.
Bramasta memiringkan tubuhnya untuk mendengar percakapan di bangku belakang. Sementara di bangku depan, Adisti mengobrol dengan Anton tentang tempat nongkrong yang enak yang ada sate Maduranya.
“Pantesan tangan Disti dingin banget..” Bramasta memandang bagian belakang kursi uang diduduki istrinya.
“Aslinya dia ketakutan, Bang. Makanya dia butuh pengalih perhatian seperti ini untuk meredakan emosinya.”
“Wajar sih, dia ketakutan,” kata Hans, “Musuh berhasil masuk ke dalam area privasi lewat kamera penyadap. Untung saja Bramasta meletakkan bunga itu di meja foyer. Bayangkan kalau malam itu Bramasta meletakkannya di meja ruang tengah.”
“Apalagi kalau di bawa ke dalam kamar...” Bramasta mengepalkan tangannya, “Damn!”
“Mungkin tujuannya memang seperti itu, Pak Bos..” Anton tiba-tiba berkata dari arah depan.
“Maksudnya?”
“Wanita mana sih yang bisa menolak pesona anggrek bulan sebagai tanaman hidup bukan bunga potong?” Anton melirik pada Adisti.
“Itu yang membuat Disti merasa sangat bersalah pada Abang Bramasta. Malam itu Abang sudah merasa ada yang aneh, merasa curiga dengan kiriman bunga yang tidak jelas, karena Abang atau Disti tidak pernah memberitahukan orang lain tentang alamat rumah,” Adisti menoleh pada suaminya yang tengah memandanginya, “Tapi Adisti memaksa Abang untuk membawa bunga itu ke atas.”
“Benar omongan Bang Anton, Disti sempat membayangkan meletakkan bunga anggrek itu di dalam kamar, di meja bundar dekat sofa di kamar..” Adisti berkata lirih.
“Oh My God..” Bramasta bergumam.
“Untung saat itu Disti kelupaan memindahkan bunga dari meja foyer ke dalam kamar,” Adisti menunduk.
“Gila kalau malam itu Disti memindahkan bunga ke dalam kamar.. they got your live show!” Hans memandang Bramasta dan Adisti bergantian.
“Tujuannya seperti itu supaya mereka punya rekamannya. Lalu mengedarkannya di medsos untuk mempermalukan Pak Bos dan Adisti. Bayangkan, pasangan yang viral di media sosial dan media TV yang terkenal lurus, sholeh, gak macam-macam, tiba-tiba beredar video live show mereka,” Anton memandang wajah Bramasta dari spion dalam.
“Dan publik akan digiring opininya bahwa rekaman tersebut, kalian yang buat untuk kenang-kenangan tapi bocor ke publik,” sambung Anton.
“Bedebah!” Bramasta meninju jok kursi yang didudukinya.
“Atau bisa jadi, rekamannya dipakai untuk memeras Bramasta dan Tuan Alwin,” kata Hans, “Memaksa B Group ataupun Sanjaya Group untuk melakukan bisnis-bisnis haram yang menguntungkan pemilik kamera penyadap.”
“Maksudnya, B Group ataupun Sanjaya Group jadi perusahaan boneka bagi mereka?” suara Indra terdengar penuh emosi, “Kurang ajar sekali!!”
“Alhamdulillah, Allah masih melindungi kalian semua. Allah masih memberi perlindungan kepada kalian,” kata Agung.
Semuanya mengangguk setuju dengan ucapan Agung.
“Siapa yang paling membenci Bramasta-Adisti?” tanya Hans, “Rita Gunaldi? Liliana Sukma?”
“Gue mengesampingkan Prasetyo Anggoro. Apalagi setelah terakhir kali bertemu dengannya di kediaman Pak Gumilar,” Hans berkata lagi.
Agung mengangguk, “Mudah-mudahan dia berubah ke arah yang lebih baik.”
“Liliana Sukma, tanpa dukungan Hilman Anggoro, dia tidak punya taji lagi kan? Gunawan Tan bahkan hanya bisa memberikan pengacara tidak terkenal,” Bramasta memandang Hans.
Hans mengangguk setuju.
Indra mengetuk-ngetuk dagunya, “Tentang Rita Gunaldi ini...” dia berhenti sejenak untuk menatap Hans, “Bisnis gelapnya, apa tidak mungkin dia menyandera dalam tanda kutip klien-klien pentingnya dengan video asusila yang direkam tanpa sepengetahuan si Klien?”
“Too risky for her bussiness, right_Terlalu beresiko untuk bisnisnya kan_?” Bramasta menoleh pada Indra, “Bisnis yang mengandalkan kepercayaan.”
“Don’t forget whose behind her_Jangan lupakan siapa yang berada di belakang Rita_,” Hans memandang Bramasta dan Indra.
“Mr. Thakur..” jawab Agung.
Hening di bangku tengah dan belakang. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Berusaha menyusun kepingan puzzle.
Adisti menunjuk ke arah pinggir jalan di depan sana. Anton mengangguk. Melambatkan laju pajeronya untuk mencari parkiran kosong.
Bramasta segera turun dari mobil begitu mobil sudah berhenti. Langsung membuka pintu depan. Membantu Adisti untuk turun dan langsung menggenggam tangannya.
“Jangan khawatir, jangan takut... kita hadapi ini bersama-sama.”
Adisti tengadah memandang suaminya. Lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya. Tangannya bergerak cepat menyusut sudut matanya yang basah.
Agung melihatnya. Dia menepuk pundak adiknya.
“Yang sabar ya Dek.. Pohon semakin tinggi maka akan semakin diterpa angin. Jangan khawatir, kita semua akan selalu melindungi kalian. Insyaa Allah, Allah akan selalu bersama kita.”
Adisti mengangguk dalam pelukan suaminya.
Mereka memasuki tenda sate ayam. Tidak banyak pengunjung malam itu. Mungkin karena bukan weekend. Indra memesan masing-masing 10 tusuk sate dengan lontong.
“Mas, bisa pinjam piring kosong gak? Mau lontong 1 aja gak usah dipotong dan bumbu satenya, sekarang,” pinta Adisti pada penjual sate.
“Disti lapar?” Bramasta bertanya tetapi tidak dijawab Adisti.
Penjual sate mengangguk dan langsung menyediakan apa yang Adisti minta.
Agung menaikkan sebelah alisnya pada adiknya. Adiknya hanya melengos. Agung berbisik pada Anton yang duduk di sebelahnya. Anton menatapnya tidak percaya. Agung mengangguk. Anton menyiapkan gawainya.
Adisti menatap piring ceper melamin kosong di hadapannya. Beberapa kali memutar piringnya. Tangannya kemudian mengambil sendok. Menutulkan sedikit ujung sendoknya pada bumbu sate, lalu mengoleskannya pada piring kosong dihadapannya.
Beberapa olesan bumbu sate yang tebal dan memanjang, ada yang membulat. Membuat goresan-goresan pada olesan bumbu sate dengan tepi ataupun ujung sendok yang dipegangnya.
“Masyaa Allah... Disti melukis?” Bramasta terheran melihat piring kosong di hadapan Adisti.
Semua menatap Adisti sekarang. Menggunakan sendok sebagai pisau palet. Menggunakan bumbu sate sebagai catnya. Untuk bagian gelapnya, Adisti menambahkan kecap pada bumbu satenya.
Lukisan di atas piring selesai. Semua menatapnya takjub. Semua tahu apa yang dilukis Adisti. Obyek yang menjadi beban pikirannya. Yang membuatnya gundah. Bunga Anggrek Bulan dengan daun-daunnya yang subur dan gemuk.
***
Adisti uwow banget ya...
Setiap orang menangani kegelisahan hatinya dengan caranya sendiri. Ada yang menggambar, seperti Adisti, ada yang menyulam, ada yang menulis, ada yang masak, ada yang baking bahkan ada yang belanja.
Readers bagaimana?