
Dari semenjak sholat Subuh hari Senin ini, hati Agung terasa was-was. Entah mengapa. Setelah mengaji, hatinya berangsur lebih tenang. Tetapi saat dia memakai kemeja kerjanya, perasaan was-was itu hadir lagi. Agung mengelus dadanya sambil beristighfar. Dia berdo’a semoga tidak terjadi apa-apa saat Adisti, Bunda dan calon besannya saat berada di rumah sakit.
Menuruni tangga dengan sedikit lesu lalu menghampiri adiknya yang sedang menyapu. Menjawil pipi adiknya hanya untuk membuatnya jengkel.
“Rajin amat calon manten..” goda Agung. Adisti hanya menatap jutek pada kakaknya.
“Dek, nanti hati-hati ya di rumah sakit..”
Adisti menatap kakaknya.
“Kak, perasaan dari semalam deh Kakak udah berkali-kali ngomong hal yang sama. Abang Bramasta juga subuh tadi ngomong hal yang sama. Sebenarnya ada apa sih dengan kalian?”
“Ya kan Kakak hafal banget dengan kelakuan kamu, Dek. Pecicilan kadang petakilan..”
“Gegabah! Kapan coba Adek pecicilan dan petakilan?”
Agung terkekeh lalu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
“Pokoknya nanti di sana, Adek jangan ke toilet sendiri atau jalan sendirian. Harus ada yang damping Adek, ya. Gak boleh menolak pengawalan dari keluarga Sanjaya. Ingat, Adek sebentar lagi menjadi bagian dari Keluarga Sanjaya, jadi harus membiasakan diri dengan pengawalannya ya.”
“Iya… iya..”
“Jangan punya pikiran buat ngikutin adegan di film-film Hollywood ataupun drakor untuk sok-sok an kabur dari pengawalan.”
“Isssh…”
“Ingat.. nurut.”
“Iya.. ih Kakak ngeselin deh.”
Agung terkekeh melihat adiknya kesal.
“Kakak sayang Adek. Sayang banget. Sedih tahu kalau Adek kenapa-napa..”
“Iyaaaaa Kakak tersayang…”
Agung pamit kepada Ayah dan Bunda setelah sarapan. Dia berangkat lebih pagi untuk menyiapkan berkas-berkas laporan yang dibutuhkan untuk rapat direksi nanti.
Lalu lintas masih belum terlalu padat Agung membawa motor scoopy adiknya dengan santai. Sebenarnya, dia merindukan motornya yang dulu, si merah Honda CBR150R yang terpaksa dijual untuk memenuhi tuntutan keluarga Prasetyo. Jujur saja, dari Honda CBR lalu berganti Scoopy, rasanya seperti turun kasta.
[Astaghfirullah…ikhlasin…ikhlasin…] Agung berbicara dalam hati.
Beberapa stafnya sudah ada yang lebih dulu datang. Setelah saling mengucap salam dan menyapa, masing-masing sibuk dengan pekerjaannya masing-masing di dalam kubikelnya. Layar-layar excel dengan tampilannya khasnya. Dengung AC, suara ketikan keyboard juga klikan mouse terdengar. Sesekali terdengar suara batuk.
“Lim,” panggil Agung setelah sekian lama bekerja dalam kesunyian, “Minta laporan pembelanjaan bulan lalu ya.”
“Sebentar Pak, sedang saya kerjakan. 15 menit ya,” staf yang bernama Halim menyahut.
“OK.”
Seorang office boy lewat di samping kubikel Agung.
“Eh, Mas Harno, tolong buatin kopi ya,” kata Agung.
“Iya Pak Agung.”
Agung melirik jam tangannya, 20 menit lagi jam kantor dimulai. Hatinya berdebar was-was lagi. Dia menyentuh dadanya [Ya Allah, tenangkanlah hati hamba. Jauhkan kami dari segala marabahaya. Jauhkan kami dari segala kejahatan makhluk-makhlukMu]. Agung menghela nafas panjang untuk membuang resahnya.
Menyentuh gawainya, membuka pesan chat pada Adisti.
Agung_Dek, dimana?_
Adisti_Masih di jalan_
Agung_Ingat pesan kakak tadi pagi_
Adisti_Iya_
Office boy datang dengan membawa nampan berisi gelas kopi.
Agung merogoh saku celananya. Mengeluarkan selembar uang sepuluh ribuan, menyelipkannya di tangan office boy tadi.
“Buat jajan anak-anak ya,” kata Agung sambil membuka tutup gelas.
“Terima kasih banyak, Pak Agung. Alhamdulillah..” Office boy berlalu dengan wajah berseri.
Agung kemudian tenggelam dalam pekerjaannya. Pukul 10 pagi ini meeting akan dimulai. Memastikan batere laptopnya dalam keadaan full dia mulai menyiapkan berkas-berkas yang sudah difoto kopi oleh stafnya. Agung berdiri sambil membawa laptop dan berkas. Menentengnya ke ruangan manajernya. Menungguinya di luar pintu untuk bersama-sama ke ruangan meeting.
Manajernya bukan orang yang cakap dalam pekerjaan. Dia bahkan sering tidak tahu dengan tugas dan apa yang sedang dibahas. Begitu pun dengan manajer lainnya. Itu sebabnya walau dirinya hanya sebagai asisten manajer, tapi untuk rapat direksi semua manajer mengandalkan dirinya. Untuk menjelaskan langsung kepada dewan direksi.
Agung menghela nafas sambil menyandarkan punggungnya di dinding yang menghadap pintu ruang manajernya, nasib jadi pegawai kubikel di perusahaan full nepotisme.
Pintu akhirnya terbuka. Saling menyapa lalu berjalan bersama ke arah ruang meeting. Beberapa manajer sudah ada di ruangan tersebut. Menyapa Agung dengan ramah, siklus rutin setiap kali rapat direksi digelar, para manajer mendadak bersikap manis dan ramah padanya.
Para direktur memasuki ruangan. Kopi dan camilan disajikan. Rapat dimulai. Pertanyaan-pertanyaan para direktur terkait laporan bulanan dijawab dengan lancar oleh Agung.
Saat Agung sedang menerangkan tentang laporan ekspor impor, suara gawai seorang direktur berbunyi. Ruangan langsung senyap. Agung menghentikan penjelasannya.
Direktur tersebut menjawab telepon tersebut. Tidak menjawab hanya mendengarkan saja. Matanya melirik Agung. Tangannya memegang erat gawainya. Melirik lagi pada Agung. Duduknya gelisah. Semua orang bergumam merasa aneh dengan perilaku direktur tersebut. Direktur tersebut berdiri lalu memberi isyarat kepada Agung untuk kembali melanjutkan penjelasannya. Dia berjalan menuju pintu ruang meeting, berbicara di luar ruang meeting.
“Sampai dimana tadi saya?” tanya Agung. Manajernya memberitahu poin pembicaraan pada Agung. Agung mengangguk. Dia melanjutkan. Baru saja dia melanjutkan, gawai para direktur serentak berbunyi notifikasi pesan chat yang masuk. Kasak-kusuk terjadi di antara mereka. Melirik Agung dan bahkan ada yang menatap lurus pada Agung.
“Apa-apaan ini?” tanya seorang direktur wanita.
“Gak salah ini? Bisa oleng perusahaan ini!” seorang direktur yang sudah memutih semua rambutnya buka suara.
Agung menghentikan penjelasannya lagi. Menatap heran pada para direktur. Tak berapa lama, gawai para manajer berbunyi bersamaan. Notifikasi pesan chat. Para manajer membuka pesannya. Lagi, Agung melihat tingkah ganjil yang sama dari para direktur pada para manajer. Gumaman terdengar seperti dengungan. Agung mendengar namanya disebut-sebut dalam beberapa gumaman pelan. Agung memutuskan untuk duduk hingga situasi kondusif untuk melanjutkan rapat.
“Ada apa, Pak?” tanya Agung kepada manajernya.
Yang ditanya tidak menjawab. Dia hanya memandang Agung lama sekali.
“Gung,” akhirnya manajernya bersuara, “Sebenarnya kamu terlibat apa sih?”
“Maksudnya, Pak?”
“Kamu menyenggol siapa?”
“Menyenggol? Nggak Pak, tadi pagi perjalanan saya aman, tidak menyenggol ataupun tersenggol kendaraan lain.”
“Bukan itu. Maksud saya, kamu sudah menyinggung keluarga siapa? Keluarga yang punya power hingga membuat dewan direksi kelimpungan begitu?”
“Saya tidak mengerti maksud Bapak.”
Pak Manajer mengusap wajahnya. Manajer lain mendekati Agung, dia menepuk bahu Agung,
“Kita sangat berterimakasih kepada kamu Gung. Kamu karyawan yang sangat berdedikasi pada perusahaan ini.”
Agung semakin bingung dengan arah ucapan manajer yang sering dibantunya dalam laporan pajak.
Direktur yang tadi menerima telepon masuk kembali ke dalam ruangan rapat dengan wajah tertunduk lesu. Teman-temannya menanyakan ada apa dan mengapa kepada direktur tadi. Dia berdiri menghadap peserta rapat.
“Maksudnya rapat diskors, Pak?” tanya direksi perempuan.
“Tidak, Bu. Rapat ini kita hentikan.”
Ruangan berdengung seperti ada kawanan lebah.
“Pak Agung,” Direktur tadi mulai berbicara, “Jujur saja, saya selaku direktur sangat kaget dengan pemberitahuan mendadak ini. Tetapi kami tidak bisa berbuat banyak karena tekanan dari pihak luar. Kami menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada Pak Agung Aksara Gumilar bahwa berdasarkan keputusan komisaris meminta kepada kami untuk menghentikan hubungan kerja antara PT Buana Raya dan Pak Agung Aksara Gumilar dengan alasan yang tidak bisa kami sebutkan.”
Banyak suara seruan dari dalam ruang meeting menentang keputusan tersebut.
“Kami ucapkan banyak terimakasih kepada Pak Agung….” Direktur tersebut masih melanjutkan tetapi Agung sudah tidak dapat mendengarkan kata-katanya. Telinganya berdenging. Matanya menatap nanar. Ia hanya melihat orang-orang saling berbicara tanpa suara yang terdengar di telinganya. Mereka berdiri mengelilingi Agung. Ada yang memeluknya, menepuk-nepuk bahunya. Berusaha membesarkan hatinya. Banyak yang menatapnya dengan iba. Berlinang air mata saat menatap wajahnya. Tidak menyangka dengan keputusan sepihak dari komisaris yang sangat tidak adil dan mendadak.
Dia mengusap wajahnya. Menganggukkan kepalanya dan berusaha tersenyum kepada para direksi dan para manajer yang mengelilinginya. Dia membawa laptopnya dan berkas-berkas. Bangkit tanpa suara lalu membungkukkan tubuhnya, “Terima kasih banyak atas kepercayaannya kepada saya. Terima kasih atas kebersamaan kita selama dua belas tahun saya di sini.”
Agung melangkahkan kaki ke kubikelnya. Stafnya menatap heran melihat keberadaannya dengan wajah kusut seperti itu di saat rapat direksi seharusnya masih berlangsung.
“Pak Agung sakit?” tanya Halim. Agung tersenyum dan menggeleng.
Dia duduk terpekur di kursinya.
[Mungkin ini arti perasaan was-was dari subuh tadi].
[Ya Allah Ya Rabb, kuatkan hamba. Kuatkan hamba. Yaa Jabbar Yaa Rahman Yaa Raahim. Ampunilah segala khilafku].
Agung mengusap wajahnya.
Mas Harno, office boy yang tadi pagi melintas.
“Mas, bisa cariin kardus?”
“Kardus mie instan, Pak?”
‘”Iya, boleh. Kardus apa saja.”
“Ada Pak. Nanti saya ambilkan dulu ya Pak.”
Agung mengangguk. Dia sibuk membuka laci-laci mejanya. Mengumpulkan barang-barang pribadinya untuk dibawa pulang.
Seorang pegawai wanita masuk ke dalam kubikel Agung. Agung mengenalinya sebagai pegawai HRD personalia. Pegawai tersebut menatap Agung dengan bingung. Dia menyerahkan sebuah surat di dalam map biru.
“Pak Agung, sebenarnya ada apa?”
Agung menggelengkan kepalanya, “Saya juga tidak tahu. Para direksi juga tidak tahu yang sebenarnya. Yang tahu hanya komisaris.”
Pegawai tersebut mengangkat kedua alisnya heran. Agung membuka map biru tesebut. Surat pemutusan hubungan kerja. Agung membacanya dengan tersenyum getir. Ada uang pesangon dan uang penghargaan untuk masa kerja yang akan diterima Agung.
“Surat paklaring bisa selesai hari ini?” tanya Agung.
“Sudah ada Pak di dalam berkas itu.”
Agung membalikkan lembar berkas PHK, ada surat paklaring yang sudah ditandatangani oleh manajer HRD.
“Luar biasa. Sepertinya pihak komisaris ingin saya segera angkat kaki dari perusahaan saat ini juga.”
Petugas office boy datang membawa kardus yang diminta Agung. Agung memandang petugas tersebut.
“Mas, sepertinya hari ini hari terakhir pertemuan kita di perusahaan ini. Baik-baik ya Mas Harno bekerja di sini. Maafkan bila saya ada salah dan pernah menyinggung perasaan Mas Harno.”
“Bapak beneran?” tanya Mas Harno.
Para staf Agung keluar dari kubikelnya masing-masing, berkumpul di kubikel bosnya.
“Bapak serius?”
“Kenapa Pak?”
“Mbak Ani dari HRD membawa surat PHK dan paklaring untuk saya. Ini Mbak Ani juga masih ada di sini. Tanyakan saja ini prank atau bukan,” Agung tersenyum di depan stafnya, “Saya tanda tangani di depan kalian ya. Kalian orang-orang terdekat saya di kantor ini. Susah senang kita lalui bareng. 12 tahun saya di perusahaan ini, dan hari ini takdir sudah memutuskan saya untuk tidak bekerja di perusahaan ini lagi.”
Para staf terdiam. Menatap tidak percaya pada Agung.
“Bapak bikin kesalahan apa pada saat meeting tadi? Kalau kesalahan data, seharusnya kami juga ditegur dong..” seorang staf wanita berkata dengan suara parau menahan tangis.
“Dewan direksi marah ke Bapak?”
Agung menggeleng. “Tidak, saya tidak membuat kesalahan apapun saat meeting tadi. Laporan dan data yang kalian berikan pun tidak ada yang salah. Bahkan pihak direksi beserta manajer sendiri bingung dan kaget dengan keputusan yang datang tiba-tiba ini. Komisaris sendiri yang memutuskan dan mendesak saya agar meninggalkan kantor ini sekarang juga.”
“Bapak…”
“Pak Agung…” Semua staf menangis sambil memeluk Agung.
“Sudah, gak apa-apa. Kalian di sini kerja yang baik ya. Nanti juga bakal ada pengganti saya. Mudah-mudahan penggantinya nanti sosok yang lebih baik daripada saya.”
“Terus Bapak mau kerja di mana?”
“Saya juga belum tahu. Tapi saya yakin, rejeki Allah yang mengatur. Pasti ada hikmah dari kejadian ini.”
“Sudah.. sekarang kalian bantu saya berkemas saja ya. Mencari barang-barang pribadi saya. Lim, tolong buatkan surat serah terima laptop yang saya pakai. Diserahkan kepada manajer kita ya.”
Halim mengangguk. Segera ia mengetik dengan cepat dan langsung dicetak. Agung membaca cepat lalu menandatanganinya. Dibawanya surat itu dan laptopnya ke ruang manajer.
“Bahkan kita tidak bisa mengadakan perpisahan yang layak untuk Pak Agung, memberi kenang-kenangan, misalnya,” kata seorang staf wanita saat memasukkan barang pribadi Agung ke dalam kardus mie instan.
“Hilang sudah, pemandangan terindah di kantor ini,” staf wanita yang lain menitikkan air mata.
“Kita kehilangan sosok yang sangat dewasa, cerdas, humble, gak pelit bagi ilmu atapun nasihat,” kata Halim.
Agung memasuki ruangan. Langsung menuju kubikelnya. Para staf masih berkumpul di sana.
“Sudah semua? OK, saya pamit ya.. mohon maafkan segala kesalahan saya.”
“Secepat ini, Pak?
“Saya diminta meninggalkan kantor ini sesegera mungkin. Seolah saya punya penyakit menular ya,” Agung mencoba bercanda tapi malah membuat para stafnya menangis.
“Eh, sudah, jangan menangis. Ayo hapus air matanya. Senyum ya.. kita foto bareng. Foto terakhir kita di ruangan ini.”
Agung keluar ruangan sambil menenteng kardus mie instan. Di belakangnya, para staf mengikutinya sambil menangis. Para manajer juga bergabung di lobby. Di teras lobby, Agung membalikkan tubuhnya menghadap mereka. Tersenyum dan melambaikan tangannya pada mereka semua.
Di dalam sedan hitam yang kaca jendelanya tertutup semua, senyumnya tersungging saat melihat Agung dengan ransel di punggung dan tangan menenteng kardus mie instan melangkah menuju tempat parkir motornya.
Dia tertawa terbahak saat melihat Agung mengenakan jaketnya dan mulai menyalakan motornya. Agung melambaikan tangan lagi ke arah teras lobby. Lalu berlalu meninggalkan gedung.
“Jalan, Pak. Kita pulang sekarang,” kata orang di bangku belakang itu. Diturunkannya kaca jendela saat melewati teras lobby, mencibir sinis ke arah para pegawai yang masih meneriakkan nama Agung.
“Cih!”
Catatan kecil:
Paklaring adalah dokumen berupa surat keterangan yang menyatakan bahwa seseorang pernah bekerja di sebuah perusahaan dengan posisi tertentu dalam jangka waktu tertentu. .