
“Tahu apa kamu tentang pengelolaan dunia malam, dunia bawah tanah?”
“Saya mengetahuinya dengan baik karena saya murid yang baik bagi suami saya.”
“Bagi kekuasaan milik Ferdi pada saya, maka saya akan menjamin usaha kamu akan berlangsung aman dan semakin maju,” Tuan Thakur mendekatkan wajahnya pada wajah Rita.
Rita tertawa lantang penuh ejekan.
“Jangan mimpi!”
“Jangan sombong kamu! Saya yang ikut membesarkan usaha kamu di sini. Saya yang memodali kamu hingga bisa sebesar ini.”
Rita menaikkan alisnya.
“Anda memakai usaha saya sebagai tempat pencucian uang Anda. Dan saya sebagai pemilik usaha hanya diupahi kecil sekali dari nilai transaksi. Cih!” Rita menatap nyalang kepada Tuan Thakur, “Anda mendapat untung besar dari pencucian uang di tempat saya. Justru saya yang membesarkan Anda, memakmurkan Anda!”
Wajah Tuan Thakur memerah.
“Kurang ajar kamu! Kalau kamu minta kenaikan fee bilang dong pada saya!”
Rita terkekeh, “Impossible. Kamu dikenal sebagai orang yang pelit, Bang. Bahkan terhadap orang-orang yang loyal kepada Anda.”
“Hey kamu,” kata Rita kepada anak buah Tuan Thakur, “Saat kamu kesusahan secara keuangan dan bercerita pada bos kamu, pernah tidak dia memberi kamu uang ataupun pinjaman?”
Anak buah Tuan Thakur tampak terkejut ditanya seperti itu. Dengan takut-takut memandang bosnya.
“Jawab!”
Anak buah Tuan Thakur menggeleng ragu.
Rita tertawa puas, “Bos kamu itu pelit sampai ke ubun-ubun. Masih kamu setia kepada dia? Masih kamu mau menjadi kaki tangannya?”
Anak buah Tuan Thakur bingung. Dia memandang Tuan Thakur dan Rita bergantian.
“Jon! Awas kamu jangan macam-macam!” ancam Tuan Thakur.
“Ma’af Bos!” si Jon membungkukkan tubuhnya pada Tuan Thakur.
“Saya dan Suami saya tidak pernah memperlakukan anak buah seperti keset. Diinjak dan diacuhkan,” Rita tersenyum miring sambil memandang Tuan Thakur dan anak buahnya bergantian, “Kami memperlakukan anak buah seperti layaknya keluarga. Itulah sebabnya mereka sangat loyal kepada kami.”
Rita melangkah mendekati Tuan Thakur. Tangannya berada di kancing kemeja Tuan Thakur. Mempermainkan kancingnya.
“Anda berusaha mempersekusi manajer tempat usaha suami saya kan? Tapi dia memilih setia kepada kami, walau anak buah Anda menyiksanya sedemikian rupa atas perintah Anda, Tuan.”
Tuan Thakur tampak terkejut.
“Apa maksud kamu? Aku tidak p...”
Belum sempat Tuan Thakur selesai berbicara, Rita menarik kancing kemeja Tuan Thakur hingga terlepas.
“Tidak usah berkelit! Sekarang manajer kami dan keluarganya dalam perlindungan kami. Sebagai balasannya, anak buah Anda yang melakukan penyiksaan sudah tewas semuanya!”
“Kurang ajar kamu! Bohong kamu!” Tuan Thakur mengambil gawainya.
Menghubungi anak buahnya di Batam. Tidak ada jawaban. Menghubungi nomor lainnya, sama. Tidak ada jawaban.
Rita tertawa kencang, “No mercy!_Tidak ada ampun!”
“Anda pikir, saya bisa diremehkan karena saya perempuan dan suami saya ditangkap interpol?”
“Tidak mungkin!” Tuan Thakur mengambil senjatanya yang diselipkan di pinggang belakang, tertutup dengan jaket kulit yang diikenakannya.
Dengan cepat dia menodongkan pistolnya ke arah Rita yang terkejut.
“Hubungi anak buah kamu, katakan kalau kamu berbagi kekuasaan denganku!” Tuan Thakur menarik pengaman pistolnya.
“Kita berdua akan menguasai keseluruhan dunia bawah tanah Pulau Batam dan berikutnya dunia bawah tanah Bandung dan Jakarta. Kita akan jadi partner yang cocok sekali. Di dunia siang, kamu jadi warga sipil pengusaha dan aku jadi abdi negara, di dunia malam, kita menjadi pasangan kekasih, penguasa dunia bawah tanah. Bagaimana?”
Rit tertawa mengejek, “Anda berpikir kita hidup di dunia dongeng? Dunia novel tentang asmara mafia?”
“Aku tidak main-main dengan ucapanku. Hubungi sekarang atau akan aku lubangi wajahmu yang cantik itu dengan salah satu peluruku!”
Rita tersenyum lalu tiba-tiba bernyanyi dengan suara lantang, “Cicak..cicak..di dinding..”
Seketika beberapa pria muncul dari balik lemari display, foyer dan ruang dalam butik. Masing-masing memegang pistol di tangannya dengan posisi siap menembak.
Yang mengejutkan Tuan Thakur, dia mengenali beberapa anak buahnya yang kini berpihak pada Rita tengah menodongkan senjata kepadanya.
“KALIAN GILA! PENGKHIANAT!!” Tuan Thakur tampak murka dan terluka, “BERAPA PEREMPUAN INI MEMBELI KALIAN??!!”
Dia bergerak cepat, maju meraih lengan Rita yang membelakanginya. Menarik lengannya ke belakang lalu menodongkan pistol ke leher Rita.
Tuan Thakur menyeringai puas.
“Amatir!!”
Yang sangat tidak disangka semua orang, anak buah Tuan Thakur, si Jon, bergerak diam-diam di belakang tuannya. Menarik siku lengan tuannya pada tangan yang memegang pistol.
Tuan Thakur menoleh ke belakang. Matanya membelalak tak percaya.
“Jon??” Kamu juga?”
Tuan Thakur bertahan menempelkan ujung pistolnya pada leher Rita.
“Ma’af Tuan. Saya hanya membaca situasi. Saya seorang oportunis, Tuan. Apalagi terhadap majikan seperti Anda.” Jon tersenyum miring menatap bekas tuannya.
Jon menarik dengan keras tangan Tuan Thakur sambil memiting leher bekas tuannya itu. Rebutan pistol terjadi sementara wajah Rita sudah memerah karena lehernya terpiting oleh Tuan Thakur.
Entah bagaimana kejadiannya, pistol Tuan Thakur menyalak mengenai mantan anak buahnya yang berdiri di dekat manekin tanpa kepala.
Jerit perempuan terdengar dari arah foyer dan ruang belakang butik. Suara orang panik berlarian terdengar dari arah foyer menuju pintu keluar.
Rita berusaha merebut pistol yang ada di lehernya. Dia berhasil menjauhkan pistol dari lehernya. Jon memiting keras leher Tuan Thakur. Tetapi Tuan Thakur tidak menyerah mempertahankan pistol di tangannya.
Rita menggigit lengan dalam Tuan Thakur. Tuan Thakur berteriak kesakitan. Pistol mengarah ke atas. Rita berusaha merebutnya lagi. Pistol meledak lagi. Lampu kristal di ruangan itu jatuh berantakan. Pecahan kristal dan kaca berhamburan.
Jon berhasil memukul kepala belakang Tuan Thakur. Pukulannya membuat Tuan Thakur tidak fokus dan kehilangan keseimbangannya. Rita mengambil kesempatan saat tubuh Tuan Thakur oleng.
Dia menggapai genggaman Tuan Thakur pada pistolnya. Pistol meledak lagi menghantam kaca jendela butik. Peluru menembus kaca dengan suara memekakkan langsung melesat keluar gedung.
***
Semua yang menyaksikan di sofa ruang tengah tampak tegang, Tidak ada yang bersuara, tidak ada yang bergerak.
Dari layar TV, terlihat Tuan Thakur ambruk dengan kepala berdarah dan Rita berhasil merebut pistol yang dipegang oleh Tuan Thakur.
Kemudian dari arah luar, terdengar suara benturan logam dengan aspal dan suara logam yang terseret lalu suara teriakan orang-orang.
“KAKAK!” Adisti menoleh ke arah pintu apartemen.
Semua terkejut dengan teriakan Adisti. Tidak ada siapa-siapa di foyer apartemen.
“Kakak Ipar sedang dalam perjalanan kemari, Sayang,” Bramasta menenangkan Adisti. Memeluk istrinya lagi sambil mengusap-usap punggungnya. Hatinya pun gelisah.
Hans tampak berpikir.
“Ton, kita mulai sekarang. Masuk ke burung biru, tayangkan rekaman yang terjadi di The Ritz 15 menit yang lalu. Lalu masuk ke 2 TV swasta nasional. Bisa?”
Anton tersenyum, “Piece of a cake!_Cetek itu sih!_”
Bramasta mengangguk setuju. Indra mendekati Anton lalu berdiri di belakang Anton untuk melihat Anton beraksi.
Hans mengambil headphone, memasangnya. Menunggu aba-aba dari Anton. Anton masih mengetik perintah-perintah dalam bahasa pemrograman.
Kemudian Anton memandang Hans. Menghitung dengan menggunakan jari tangannya, pada hitungan ketiga, dia menganggukkan kepala kepada Hans.
.
***
Agung terjatuh dari motornya karena tertembak.
Kasihan Adisti. Hubungan dia dengan kakaknya seperti anak kembar.
Adinda bagaimana ya?