
Akhirnya Adinda bisa tertidur setelah pipinya memerah karena malu. Agung masih bertahan tertidur sambil duduk di samping bed Adinda.
Menjelang subuh, Ayah membangunkan Agung untuk sholat.
“Kak.. subuh dulu..” bisik Ayah sambil menepuk pelan punggung Agung.
Usai sholat subuh berjama’ah di mushola lobby lantai VIP, mereka kembali lagi ke kamar. Bunda tengah melipat mukenanya.
“Adinda berhasil dibangunkan?” tanya Ayah.
Agung mengangguk sambil membuat teh.
"Dipanggil dengan nama Adinda, tidak bereaksi. Nih..” Agung menyodorkan lengan kanannya yang terdapat bekas kuku Adinda.
“Itu kenapa? Kok bisa sampai begitu?” tanya Ayah keheranan.
“Kakak juga tidak tahu. Tangannya menggapai-gapai seperti mencari pegangan. Tidak mau dilepas, malah semakin erat. Baru bisa dilepas setelah Kakak memanggil nama lamanya, Puteri.”
Bunda ddan Ayah tampak tertarik.
“Baru bisa dibangunkan setelah Kakak membisikkan nama panggilan saat balitanya, Puput.”
“Kok Kakak bisa terpikirkan memanggilnya dengan nama balitanya?” tanya Ayah.
Agung menggelengkan kepalanya, “Entahlah Yah. Semuanya serba tiba-tiba.”
“Sakit Kak tangannya?” tanya Bunda.
“Sudah tidak begitu terasa, Bun.”
Agung menyorongkan cangkir teh pada Ayah dan Bunda.
“Bun, tolong bimbing Adinda untuk menghafalkan al Mulk. Semalam Kakak meminta Adinda untuk muroja’ah kepada Bunda ataupun Adek.”
“Insyaa Allah..” Bunda tersenyum.
"Kakak meminta tolong pada Ayah dan Bunda untuk membimbing Adinda sebagai santri privat, sebagai bekal untuk menjadi madrasah pertama bagi anak-anak kami, cucu Ayah dan Bunda.”
Ayah dan Bunda saling berpandangan. Lalu tersenyum lebar menatap Agung.
“Masyaa Allah..” Ayah memeluk Kakak dengan penuh haru.
“Bunda bangga dengan Kakak..” Bunda melihat Adinda yang semenjak tadi berdiri di belakang tirainya, “Sini, Dinda..”
Agung terperanjat lalu menoleh ke belakangnya. Adinda berjalan ke arah Bunda. Melirik pada Agung sebentar dengan pipi merona dan merunduk lalu masuk ke dalam pelukan Bunda yang sudah dari tadi melebarkan tangannya.
“Calon istrinya Kakak.. Selalu sholeha ya Nak..”
Adinda merasa matanya panas. Pandangannya berkabut. Hatinya terasa hangat karena limpahan kasih sayang dari Keluarga Gumilar. Keluarga yang belum lama dikenalnya.
“Sudah bangun dari tadi?” tanya Agung dengan hati yang tergelitik.
Rasanya seperti ada bulu-bulu halus yang menggelitiki dadanya.
[Sudah berapa lama Adinda berdiri di belakang tirai? Apakah dia mendengar semua perkataanku tadi? Duh....!]
Adinda mengangguk, tidak berani menatap Agung.
“Mau sholat subuh dulu..” suara Adinda terdengar pelan.
“Ya.. bergegas Nak..” kata Bunda.
Sepeninggal Adinda, Agung mennjelaskan rencananya pada Ayah dan Bunda.
“Tentang hal itu, Kakak sudah putuskan untuk mengambil kost-kostan saja.”
“Untuk Adinda?” tanya Ayah dambil mengerutkan keningnya.
Agung menggeleng.
“Buat Kakak Yah. Kakak lebih merasa tenang kalau Adinda tinggal di rumah kita. Dalam asuhan Ayah dan Bunda.”
Ayah dan Bunda menganggukkan kepalanya.
“Bunda gak yakin Adinda akan sanggup tinggal di rumahnya seorang diri dengan begitu banyaknya tragedi di dalamnya.”
Ayah mengangguk setuju.
“Adek juga sudah menghibahkan kamarnya untuk Adinda.”
“Adek sudah tahu?” tanya Bunda.
“Abang Bram juga sudah. Dia menyarankan untuk tinggal di apartemen saja yang dekat kantor. Tapi Kakak belum memutuskan.”
“Kakak mau tinggal di daerah mana?”
“Yang gak jauh dari rumah dan gak jauh dari kantor, Yah. Daerah pertengahan. Jadi supaya Kakak masih bisa makan masakan Bunda..” Agung terkekeh.
Bunda juga ikut terkekeh sambil mengambil remote TV. Acara berita pagi menayangkan adegan CCTV dan rekaman dari kamera laptop Anton tentang kejadian di lounge hotel X.
Hans dan Anton disebut-sebut sebagai pihak yang turut membantu penyergapan polisi. Bahkan adegan saat Hans menjatuhkan Bryan diulang-ulang beberapa kali dalam gerakan lambat.
Juga saat Anton mencekal hingga membanting tubuh Syarifudin ke lantai dan tendangan Bunga pada si Ibu Tiri juga diulang-ulang. Sebagai sesuatu yang epik.
Divisi Humas Kepolisian mengucapkan banyak terimakasih kepada Hans, Anton dan Bunga yang turut membantu penyergapan untuk kasus woman trafficking berkedok beasiswa luar negeri yang melibatkan orang kedutaan.
Wajah para tersangka dipampangkan di depan kamera. Minus Bryan karena kekebalan diplomatiknya dan juga karena dia sudah dipulangkan ke negaranya.
Korban sebenarnya dari woman trafficking hanya disebutkan inisial namanya saja. Dan dijelaskan korban adalah anak tiri dari tersangka wanita. Selain hendak diperjualbelikan, disebutkan tersangka wanita juga menguras harta warisan korban. Beberapa aset sudah dipindahnamakan menjadi namanya.
Polisi juga menyelidiki dugaan adanya mafia dalam instansi yang mengurusi pertanahan atas pemindahnamaan secara ilegal.
Polisi juga menyebutkan si tersangka wanita dan tersangka pria mempunyai hubungan khusus dan ada dugaan mereka melakukan pembunuhan berencana terhadap suami tersangka wanita dengan meracuni kopi yang diminumnya dengan sianida. Terinspirasi dari kasus yang viral beberapa tahun lalu.
Tersangka mengelabui anak tiri dan para tentangganya tentang kematian mendadak dari suaminya yaitu Bapak Adang Rahmat sebagai akibat serangan jantung.
Penyidikan akan dilakukan terpisah karena harus melakukan autopsi terhadap jenazah korban. Untuk melakukan autopsi harus atas izin keluarga korban. Satu-satunya keluarga yang dimiliki korban hanyalah anak semata wayangnya, berinisial APR, yang saat ini tengah dirawat di rumah sakit akibat penganiayaan, pelecehan dan shock terhadap peristiwa yang menimpanya.
Adinda berjalan mendekati layar TV yang menyala. Langkahnya lambat dan ragu-ragu. Ayah, Bunda dan Agung sangat terkejut.
Ayah langsung meraih remote untuk mematikan TV. Layar TV mati. Adinda memutar tubuhnya menghadap mereka.
Tatapannya kosong. Tangannya bergetar.
“Jadi karena itu saya ada di sini? Kenapa saya bisa melupakan kejadian yang begitu besar?! Kenapa??!” Adinda memegangi kepalanya sambil merunduk.
Rasa sakit yang menyengat dengan kejam merobek semua rasa bahagianya pagi ini. Kenangan-kenangan kejadian dini hari itu dengan cepat datang silih berganti.
Adegan saat si Teman Pria ibu tirinya merobek bajunya. Mengejarnya ke kamar. Menyentuh kasar tubuhnya.
Adegan saat Ibu Tirinya dengan lantang mengakui telah meracuni Papanya. Adegan saat Papanya yang terbujur kaku dalam balutan kain kafan.
Yang paling menyesakkan adalah adegan saat Papanya menggenggam jemari Adinda di sofa ruang tengah. Menatap Adinda dengan linangan air mata. Percakapan sebulan yang lalu.
“Ma’afkan Papa.. Papa menikahi wanita yang tidak baik untuk menjadi ibu sambung Adinda. Ma’afkan Papa sudah membawa ular masuk ke dalam rumah kita..”
Adinda yang saat itu tengah bersandar pada lengan Papanya terkejut. Dia mengusap air mata dari pipi Papanya.
“Tidak.. Papa tidak salah. Memang suratan takdir kita seperti itu, Pa. Kita jalani saja apa yang sudah ditakdirkan oleh Allah. Papa menikahinya dengan niat baik. Dinda tidak masalah dengan Papa menikah lagi.”
Papanya memeluk Adinda erat.
“Kalau Papa sudah tidak mampu lagi membimbing Ibu untuk menjadi istri yang baik, lepaskan saja, Pa.”
Papa mengangguk.
“Iya.. insyaa Allah setelah Dinda lulus. Papa yakin, bukan hal yang mudah untuk mengeluarkan perempuan itu dari rumah ini juga dari kartu keluarga kita.”
Adinda terkekeh kecil sambil mengusap air matanya.
“Apapun yang Papa lakukan, Dinda akan selalu mendukung Papa.”
Papanya memeluk erat. Kenangan pelukan erat Papa melemparkan lagi dirinya ke dunia nyata.
Sekarang dia sendirian. Tidak akan ada lagi yang memeluknya erat. Tidak akan adalagi tertawa bersama Papa atau sekedar berjalan bergandengan menyusuri jalanan komplek rumah.
Dia sendirian sekarang. Satu-satunya yang terhubung pertalian darah dengannya sudah pergi dengan cara yang kejam oleh ibu tirinya. Adinda menjerit keras.
Kenapa semua terasa tidak adil bagi dirinya? Papanya orang baik tidak semestinya berakhir dengan cara didholimi seperti itu.
Adinda meraung. Tidak terima dengan apa yang sudah terjadi.
“Papa!” Adisti terisak keras.
“Dinda..” Bunda berusaha mendekat meraih Adinda dalam pelukannya.
Adinda menolak. Dia mundur menjauh. Matanya menatap nyalang. Penuh kemarahan.
“Perempuan itu! Perempuan tdak tahu diri itu! Bawa saya menemuinya!” Adinda menatap Ayah dan Agung bergantian dengan penuh kemarahan.
Jemari Adinda meregang kaku. Tubuhnya membungkuk.
“Mata dibalas dengan mata. Nyawa dibalas dengan nyawa! Akan saya habisi perempuan itu!!”
Agung maju, menatap cemas pada Adinda.
“Ayah dan Bunda, mundur. Biar Kakak yang mengatasinya.”
.
***
Dinda...😥
Jangan lupa jejaknya dan bantu Author mempromosikan novel ini ya. Love you.