
Langkah Bramasta terlihat pasti dan mantap menuju ruangan Indra. Jasnya berada di lengan kanannya. Lengan kemejanya dilipat ¾.
Bramasta memastikan Indra ada di ruangannya terlebih dahulu dengan mendekatkan wajahnya pada jendela karena kaca terhalang oleh vertical blind.
Indra tampak sibuk mengetik di belakang laptopnya sambil sesekali matanya menatap layar monitor PC. Sesekali dia berbicara. Seperti sedang berbicara dengan diri sendiri tapi sebenarnya Indra terhubung dengan telepon.
“Assalamu’alaikum..” Bramasta mengucap salam sambil membuka knop pintu.
“Wa’alaikumussalam,” Indra mendongak kemudian mengangguk kepada Bramasta sambil meminta Bramasta menunggu dengan tangannya.
Indra masih berbicara dengan Bahasa Inggris dengan rekan bicaranya. Kemudian dia menggeser kursinya untuk meraih interkom.
“Assalamu’alaikum, Ton. Gue sedang bicara dengan orang dari Fujitama Company tapi dia kurang fasih berbahasa Inggris. Khawatir ada missunderstanding, gue alihkan ke Lu aja ya?” Jeda.
“Iya tentang permintaan sanitair sesuai spek kita untuk proyek di Jakarta dan Semarang.” Jeda.
“Yamaguchi-san. Iya.” Jeda.
“OK. Gue alihkan ya.”
Indra kembali berbicara bahasa Inggris kepada Mr. Yamaguchi lalu mengalihkan panggilannya pada nomor ekstensi Anton.
Bramasta melihat itu semua dari sofa. Dia duduk bersandar dengan tungkai yang diluruskan. Tangannya menjepit pangkal hidungnya. Penat.
“Sudah?” tanyanya pada Indra yang masih menggeser-geser mouse komputer PCnya.
“Nanti bentar lagi ya. Tanggung. Kasihan, dari Jepang minta kepastian kita tentang spek dan ukuran yang tidak biasa.”
Bramasta bergumam tidak jelas. Matanya terpejam.
“Yo! What’s up?” tanya Indra sambil berdiri dan menekan tombol enter.
“Lu tahu gue langsung ke ruangan Lu karena apa kan?”
Indra tersenyum lebar sambil duduk menyamping menghadap Bramasta. Mereka duduk di sofa yang sama.
“Jangan keburu emosi, Bos..”
“Lu tahu gue sudah lama. Aturan privacy gue. Batasan-batasan yang gue buat tentang publikasi.”
“Sebaiknya Lu langsung bertanya dulu ke yang bersangkutan. Sang Pemilik Ide.”
“Lebih baik gue ngejar Lu duluan sebelum langsung bertanya kepada Sang Pemilik Ide. Karena Lu yang paling tahu gimana-gimananya gue. Tapi Lu malah menyetujui semua ide-idenya. How could you, Bro!” Bramasta meraup wajahnya.
“Tapi idenya itu betul-betul out of the box loh.. Orisinil banget. Sesuatu yang tidak kita pikirkan dari dulu.”
“Out of the box? Which box?”
“Ah.. udah deh. Mending Lu langsung bertabayun dengan yang bersangkutan. Kalian berbicara baik-baik ya. Ingat, hargai idenya. Lu gak boleh asal main potong sebelum dia selesai menjelaskan semuanya...”
Bramasta memandang kesal pada Indra yang beranjak dari sofa menuju kursi kerjanya.
Sambil mengetik perintah pada keyboard PC, dia memandang Bramasta. Layar monitor menampakkan ruang meeting lantai 3, meeting masih berlangsung.
“Karena gue tahu bagaimana Lu kalau sedang emosi. Cooling down sebentar gih, dia masih ada di ruang meeting. Meetingnya masih belum kelar.”
Indra tersenyum lebar saat melihat Bramasta mencebik.
“Ingat bagaimanapun dia itu....”
“Iya..iya... gue ingat..”
Bramasta berdiri lalu berbalik lagi pada Indra.
“Beneran Lu gak bakal cerita ke gue tentang meeting tadi, Bro?”
“Tabayun langsung ke yang bersangkutan aja. Yang jelas, gue suka idenya. Tentang privacy yang selama ini Lu jaga juga akan tetap seperti itu.”
“How it could be?” Bramasta hendak berbalik ke arah Indra. Tapi Indra menggerakkan tangannya.
“Cooling down dulu di ruangan Lu. Sebentar lagi dia selesai. Gue akan langsung beritahu, Lu sudah menunggu di ruangan dan meminta penjelasannya."
Bramasta menaikkan alisnya sambil berkacak pinggang.
"Gue sibuk, Bos..." Indra terkekeh, "Selama kalian berbicara, gue handling semua urusan dan kerjaan Lu. Bicara baik-baik. Ingat, Kakaknya galak.”
Bramasta mendengus. Lalu berjalan meninggalkan ruangan Indra.
***
Bramasta mengikuti saran Indra untuk cooling down dengan mandi. Sengaja dia menyetel showernya dengan semburan yang paling kencang.
Berdiri di bawah shower dengan kepala menunduk, membantunya untuk kembali mendinginkan hati dan kepalanya.
10 menit diguyur shower yang kencang dirasa cukup olehnya. Pikirannya berusaha menganalisa ide-ide baru yang dikemukakan pada meeting yang tidak ia ikuti tadi. Tapi masih belum menemukan titik temunya.
Tangannya meraih bathrobe. Segera mengenakannya lalu berjalan menuju kamar. Dia membuka lemari pakaiannya. Hanya ada satu kemeja yang tergantung pada hanger baju.
Kemeja berwarna sage. Membuka lemari celana panjang, dia memilih celana berwarna khaki. Dia meembuka laci baju dalam dan mengambil satu dari sana.
Selesai memakai baju, Bramasta kembali ke ruangannya. Menyetel peralatan audio dengan murotal dalam suara pelan. Lalu menyalakan laptopnya sambil membuka-buka berkas laporan dan berkas yang harus ditandatanganinya.
Pintu terbuka dan suara salam terdengar. Bramasta hanya menoleh sebentar ke arah pintu lalu kembali lagi membaca berkas sambil menjawab salam dengan gumaman.
Kulit tangan suaminya terasa sejuk dan beraroma sabun mandi yang sering dipakai suaminya.
“Abang habis mandi? Eh iya.. bajunya juga ganti..”
“Gerah.”
“Meetingnya tadi bagaimana, lancar?”
Bramasta mengangguk. Dia membuka map berkas lainnya.
“Abang sibuk banget hari ini?”
“Gak juga.” Matanya masih tertuju pada berkas.
“Abang udah makan siang?”
Bramasta mengangguk.
“Enak gak?”
Bramasta mengangkat kedua bahunya, “Biasa saja..”
“Disti belum makan siang..”
Bramasta menatap nanar pada berkas di hadapannya. Tangannya berhenti membuka lembar halamannya.
“Kenapa?”
“Tanggung meetingnya belum kelar dan sedang seru-serunya.”
“Ooh..”
Bramasta mengambil ballpoint di dekatnya lalu menandatangani berkas. Berkas terakhir. Tangannya menggeser laptopnya. Matanya mengamati monitor laptop.
“Ya sudah, Disti makan dulu ya Bang. Abang mau menemani Disti makan gak?”
“Masih kenyang,” Bramasta menjawab setelah jeda beberapa saat.
Adisti mengangguk lalu berjalan sambil menunduk ke ruangannya. Suara notifikasi pesan chatnya berbunyi.
Indra_R U OK?_
Adisti_Nope_
Indra_Jelasin semuanya setelah Disti makan siang dulu. Abang sudah siapkan di meja Disti_
Adisti_Makasih banyak ya Bang. Abang memang paling ngertiin Disti_
Indra_Woiiyadong. Lagipula, Disti harus makan supaya kuat menghadapi singa ngambek_
Disti_Gak usah nakut-nakutin napa sih, Bang_
Indra_Trust me. Abang hafal banget dengan kelakuan Bram saat marah seperti saat ini. Sikapnya yang nyebelin, jangan masukin ke hati ya, Dis_
Adisti_Sakit tak berdarah rasanya...(emot menangis dan hati retak)_
Indra_Cup..cup..cup.. gak usah nangis. Bilangin aja ke Agung kalau Bramasta sudah keterlaluan..”
Adisti_Memangnya kenapa?_
Indra_Suami Disti sudah mengakui sendiri kalau istrinya punya kakak yang galak dan selalu sedia melindungi adiknya. (Emot ngakak)_
Adisti terkekeh membaca chat Indra.
Bramasta mendengar suara kekehan dari ruangan istrinya, memandang ruangan istrinya dari tempat ia duduk sambil memicingkan matanya lalu mendengus sebal saat melihat istrinya tersenyum pada layar gawainya.
Adisti membuka kotak makan siang yang disiapkan Indra. Matanya mengerut lucu dan bibirnya tersenyum lebar. Dia mendongak.
Matanya bertemu dengan mata suaminya yang tengah menatapnya dari kursinya.
Saling tatap selama 3 detik. Lalu Adisti berinisiatif memperlihatkan makanannya pada Bramasta dari tempat ia duduk. Tetapi Bramasta sudah mengalihkan tatapannya pada layar laptopnya dan mulai sibuk mengetik.
Hati Adisti mencelos.
Sakit? Sedikit sih.
Kecewa? Iya.
Sedih? Tentu saja.
Tapi tekadnya sudah bulat. Proyeknya harus maju terus. Walaupun harus menundukkan singa.
.
***
Sebenarnya ada apa sih? Kenapa sampai Bramasta sengambek itu ke Adisti?
Ayo tekan tombol minta update sebagai bentuk dukungan moril untuk Author. Supaya jadi makin bersemangat mengetiknya dan idenya mengalir lancar. Setiap like, setiap komentar, setiap hadiah dan permintaan update adalah moodbooster yang paling luar biasa bagi Author.
🌹