CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 277 - BIG GOTCHA!



“Jangan khawatir Bang Radit, AMANSecure bisa melacak nomor mobilnya. Juga wajah petugas yang mengancam para petugas Damkar,” Agung menenangkan Raditya.


“Saya tidak meragukan kemampuan AMANSecure. Karena saya melihat sendiri bukti-bukti foto dari rekaman CCTV saat menjerat Liliana Sukma, mantan calon mertua Nona Adisti.”


“Ah ya..” Agung mengangguk, “Waktu itu AMANSecure bekerja sama dengan pihak CSI Singapura untuk memperjelas rekaman gambar CCTV yang terlalu jauh dari lokasi target.”


“Wah.. Keren!” Raditya menerima mug teh yang disodorkan Agung.


“Bagaimana dengan rekaman CCTV depan rumah?” Anton menyesap tehnya sambil menatap Hans.


“CCTV rusak karena terkena panas," pria yang bersama Hans berbicara, “Tapi kita sudah mendapatkan gambar sebelum akhirnya CCTV benar-benar tidak bisa merekam gambar sama sekali.”


“Kita sedang menyusun videonya. Nanti Pak Radit bisa tunjukkan kepada publik tentang adanya konspirasi untuk melenyapkan Bapak,” Hans mengambil gawainya.


“Saya?” Raditya terheran.


“Selesai pelantikan, biasanya adalah acara ramah tamah yang masih diliput oleh wartawan. Nanti orang-orang saya akan bergerak untuk mengamankan proyektor ataupun layar lebar di sana. Saya akan menghubungi Pak Radit untuk berbicara kepada semua yang hadir. Mengenai konspirasi penyingkiran Bapak.”


Hans mengangsurkan gawainya lalu menekan tombol play pada rekaman video.


“Bapak kenal dengan orang ini?”


Raditya, Agung dan Anton serentak mendekat pada gawai Hans.


Seorang pria berjaket hitam, mirip Raditya membuka kunci pintu depan lalu masuk ke dalam rumahnya. Dari arah luar, terlihat TV dinyalakan. Cahaya TV bisa dikenali dari balik gorden.


Dua orang pria, yang satu memakai hoodie abu-abu dan satunya memakai jaket jeans menuangkan cairan dari jerigen plastik. Gerakan mereka dilakukan dengan cepat seolah memang terlatih dan terbiasa. Ada 4 jerigen cairan yang mereka tuangkan di bagian depan rumah dan teras.


Selesai menuang, mereka tinggalkan begitu saja jerigen-jerigen itu di teras. Keduanya lalu mundur hingga diluar jangkauan CCTV untuk mengambil gambar keduanya. Lalu dua botol beling minuman bersoda dengan sumbu kain yang menyala dilemparkan ke arah tembok.


Api yang menyentuh dinding yang sudah dibasahi cairan dalam jerigen langsung menyambar dinding hingga ke plafon. Botol terjatuh dan pecah.


Api menyebar di lantai teras. Dalam hitungan menit dinding, pintu dan plafon depan sudah terjilat api hingga ke atap. Teriakan tetangga terdengar.


Hans menghentikan videonya. Dia memutar ulang adegan penyiraman cairan dalam jerigen. Mem-pause adegan saat salah pelaku yang mengenakan hoodie menoleh ke arah pohon tempat CCTV berada.


“Terlihat familiar, kan?” Hans tersenyum miring.


“Si Cungkring!” Agung mendesis marah.


Raditya menoleh pada Agung.


“Yang hendak menusuk saya saat di parkiran toko bahan kue hari Minggu lalu.”


Raditya mengangguk. Dia teringat lagi.


“Kesayangannya Pak Jenderal. Maksud saya, Tuan Thakur.”


“Pria yang satunya?” Anton menunjuk pada pria yang memakai jaket jeans.


“Sayangnya dia tidak pernah menengok ke arah CCTV...” Hans menatap balik Anton.


“Adegan awal, saat mereka baru memasuki range area CCTV...” Anton menatap gawai Hans.


Telunjuknya menarik mundur adegan ke adegan awal setelah sosok mirip Raditya masuk ke dalam rumah.


Pria berjaket jeans berjalan di sebelah kanan si Cungkring. Sebagian wajahnya terlihat jelas oleh CCTV. Anton mem-pause lalu menge-zoom separuh wajah si Jaket Jeans.


“Bang Radit kenal?”


“Sepertinya....” Raditya menatap semuanya dengan tatapan tegang, “Video dari Prince Zuko tentang penyerangan night club-nya Ferdi Gunaldi!”


Hans mengangkat alisnya.


“Sebentar, kalau tidak salah saya menyimpan videonya..” Raditya mengeluarkan gawainya. Mencari di galeri video.


“Ini.. Tuan Thakur yang sedang menghisap cerutu dan mengamati laptop duduk di kursi penumpang, pria yang duduk di kursi pengemudi... sudut gambarnya sama. Wajahnya sama kan?”


Raditya meletakkan gawainya di sebelah gawai Hans. Tampak kemiripan yang sangat mirip antara si pengemudi dengan si Jaket Jeans.


“Daya ingat Anda luar biasa, Pak Radit..” Hans memperhatikan dua layar gawai di hadapannya, “Anda tahu siapa dia?”


Raditya mengangguk.


“Anggota di Pulau Batam. Perwira juga. Pada saat penyergapan dari pusat, dia sudah berada di luar Pulau Batam untuk tugas berikutnya dari Tuan Thakur. Dia lolos dari penyergapan dari pusat saat penangkapan Tuan Thakur.”


Gawai Hans berdering. Nama yang tertera hanya berupa dua tanda titik. Hans segera menerima panggilannya.


"Assalamu'alaikum. Ya laporkan!” Jeda.


“Baik. Kirimkan pada saya juga hasil zoom in-nya.”


Hans mengakhiri panggilannya.


“Kita berhasil melacak mobil patroli.”


Gawai Hans berdering lagi. Masih dari orang yang sama.


Hans tersenyum lebar saat mengakhiri panggilannya. Gawainya berdering lagi. Notifikasi pesan. Ada kiriman video dan foto yang masuk.


“Ada apa, Bang? Kok terlihat senang sekali,” Agung meletakkan piring berisi kue dari acara khitbahnya.


Hans memandang Raditya dengan senyumnya.


“Kita mendapat tangkapan besar.”


Raditya memandang Hans dengan kening berkerut.


“Ada hubungannya dengan video yang baru dikirim?”


Hans mengangguk. Gawai Hans mendownload video dengan cepat.


“Sambungkan ke TV saja Bang, supaya kita bisa nobar tanpa berdesak-desakan kepala..” Anton terkekeh.


Hans tertawa menyerahkan gawainya pada Anton. Agung mengambil kabel USB dari laci di meja kerjanya.


Di layar TV, mobil damkar yang tengah melaju kencang di jalanan yang sepi dihentikan oleh mobil patroli yang diparkir menghalangi badan jalan. CCTV diambil dari CCTV sebuah rumah di TKP.


Seorang petugas damkar dengan seragam birunya turun dari mobil. Pria berjaket kulit yang mengemudi mobil patroli juga turun. Dia mengenakan masker hitam. Senjata laras panjangnya terselempang di bahunya.



Terlihat mereka terlibat perdebatan. Beberapa kali si Jaket Kullit mengibaskan tangannya seolah mengusir mereka untuk pergi. Beberapa warga yang melintas ada yang berhenti untuk melihat perdebatan mereka.


Perdebatan berakhir saat si Jaket Kulit menodongkan senjata laras panjangnya ke arah petugas pemadam kebakaran. Pria berseragam biru itu berjalan mundur dengan tangan ke atas. Lalu segera naik ke mobilnya.


Tidak berapa lama, mobil pemadam kebakaran itu memundurkan mobilnya untuk berputar balik di tempat memutar yang ada di dekat TKP. Lampu sirenenya dimatikan.


Pria berjaket kulit itu mengamati keadaan. Melihat orang-orang yang tengah menontonnya. Dia menudingkan telunjuknya kepada mereka lalu mengarahkan senapan panjangnya. Orang-orang ketakutan. Segera kabur dari tempat itu.


Rekaman CCTV beralih. Dari CCTV jalan raya, tampak melintas mobil patroli dengan nomor yang sama. Berbelok ke SPBU.


Rekaman CCTV beralih lagi. Kali ini dari arah CCTV SPBU. Bukan di jalur antrian pengisian BBM tapi CCTV yang menghadap ke arah toilet SPBU.


Pria berjaket kulit keluar dari mobil patroli yang diparkir di dekat toilet. Dia pergi masih mengenakan masker hitamnya. Tidak berapa lama kemudian pria tersebut kembali lagi ke mobilnya. Apakah ada yang terlupa?


Pria tersebut membuka jaketnya dan meletakkannya di kursi penumpang samping driver. Lalu melepas maskernya. Saat dia berbalik untuk ke toilet SPBU lagi, wajah dan seragam lengkapnya terekam di CCTV.


“Gotcha!” teriak Anton.


Hans terkekeh sambil merangkul Anton.


“Bukannya dia berkantor di Jakarta?” Agung menunjuk pada gambar yang di freeze.


“Pagi tadi saya bertemu dia di kantor. Entah mungkin sedang ada tugas atau meeting di Bandung atau bagaimana. Saya tidak ada tugas bersamanya.”


Raditya memandang Hans dengan mata terpicing.


“Dia ada dalam daftar yang Tuan Hans berikan kan? Dia berada dalam daftar kuning.”


“Daftar apa?” Agung seperti biasa selalu ingin tahu.


Hans mengangkat sebelah alisnya pada Agung. Agung mengerti.


“Owh.. masalah kerjaan kalian ya. Pardon me..” Agung mengangguk mengerti.


Anton mengedipkan matanya ke arah Agung. Hans tersenyum tipis nyaris tak terlihat. Tapi rahangnya berkedut. Agung melihatnya karena posisi duduknya di sebelah Hans.


“Berarti status dia meningkat ke daftar merah, Pak Radit,” suara Hans terdengar pelan karena berikutnya dia menyesap teh yang berangsur menjadi hangat.


Anton mencabut kabel USB lalu mengulik gawai Hans. Dia menyambungkan lagi kabel USB dengan gawai Hans. Profil si Jaket Kulit terpampang jelas di layar TV.


Hans tersenyum melihat apa yang dilakukan Anton. Melepas kabel USB saat mengulik pesan chatnya untuk membuka foto yang baru dikirimkan anak buahnya adalah tindakan tepat. Bila kabel USB masih terpasang, maka chat yang tampak pada layar akan bisa terbaca semuanya oleh semua orang di ruangan itu termasuk Raditya.


Hans berdehem.


“Skenario untuk besok, kita ubah saja Pak Raditya.”


Raditya menatap Hans dengan sungguh-sungguh.


“Jadi begini...” Hans memulai berbicara setelah menelan sepotong kue yang disuguhkan Agung.


.


***


Digantung lagi oleh Author? Authornya mau ngopi dulu, ada yang mau ngirimin secangkir kopi? 😁☕


Bang Hans, minum dulu. Nanti keselek...


Jangan lupa tombol like-nya ya untuk penilaian retensi pembaca.