
Bramasta menatap istrinya dari ruangannya. Adisti tengah menerima laporan dari divisi advertising.
Menjadi keasyikan tersendiri bagi Bramasta mengamati wajah istrinya yang tengah mendengarkan serius lawan bicaranya juga melihat catatan-catatan laporan. Bramasta tersenyum lebar. Tapi kemudian senyumnya memudar saat melihat banyaknya berkas yang harus ditandatangani olehnya.
Keasyikannya terhenti oleh kewajibannya sebagai pemimpin perusahaan besar. Saat mengambil berkas di hadapannya, kembali dia menatap istrinya dari kejauhan.
Kebetulan saat itu Adisti tengah melihat kepada dirinya. Tidak disia-siakan, Bramasta langsung mengirim jari love dari kursinya pada istrinya. Berikut cium jauh. Lalu tersenyum lebar.
Mata Adisti melebar tapi hanya sebentar. Dia menunduk dengan pipi merona. Di depannya pegawai dari divisi advertising masih berbicara.
Gawai Bramasta berbunyi notifikasi pesan chat masuk.
Disti_Kerja, Bang... Kerja..._
Bramasta membacanya lalu terbahak.
Bramasta_I love you more!_
Tidak berapa lama pesan balasan Adisti masuk.
Adisti_Love you more than yesterday!_
Bramasta mengetik balasan dengan cepat.
Bramasta_Ke ruangan Abang, sekarang_
Adisti_Gak bisa. Ada karyawan_
Bramasta_Jangan membantah. Ini perintah. Abang gak suka ditolak_
Bramasta bisa melihat wajah kesal istrinya. Dia berbicara sebentar dengan lawan bicaranya. Kemudian berdiri, membuka pintu kaca pembatas ruangannya dengan ruangan Bramasta.
Bramasta berdiri. Menghampiri istrinya.
“Ada apa?” Adisti menatap suaminya yang menjulang.
Bramasta tersenyum lebar menunduk menatap istrinya. Kemudian menariknya untuk duduk di sofa.
“Abang kangen Buk Istri...”
“Buk Istrinya sedang kerja, Pak Suami..”
“I'm your priority, right?” Bramasta menatap tajam mata Adisti.
Adisti merasa ada sesuatu yang berbeda dari biasanya dengan sikap suaminya.
“Of course you are my priority..” Adist membelai tepi rahang suaminya.
“Tapi Abang merasa diabaikan..”
“Kan Abang juga sedang sibuk dengan berkas-berkas..”
“Abang sedang kangen dengan Buk Istri tapi ditanggapinya begitu..”
“Begitu bagaimana?”
“Ditolak. Sepertinya Abang sudah tidak menjadi prioritas Buk Istri lagi...”
“Abang kenapa sih? Kok jadi merajuk seperti anak kecil?”
“Tuh kan..”
“Kasihan banget sih.. Pak Suami..” Adisti membelai rambut suaminya.
“Gantengnya Disti merajuk.. Ma'af ya kalau merasa diabaikan..”
CUP. Rahang kiri.
“Ma'af kalau merasa ditolak. Masa sih Buk Istri menolak Pak Suami yang ganteng banget?”
CUP. Rahang kanan.
“Pak Suami selalu jadi prioritasnya Disti kok..”
“Buktikan.”
“Apa?”
“Buktikan kalau Abang selalu jadi prioritas Disti?”
“Begini?” Adisti menaiki pangkuan suaminya.
Mata Bramasta melebar.
“Terus begini?” tangan Adisti dikalungkan ke leher suaminya.
Mata Bramasta mengerjap beberapa kali. Akhirnya meredup. Wajahnya mendekati wajah istrinya. Menyentuhkan hidungnya dengan hidung Adisti dengan hati-hati.
Bibir mereka bersentuhan. Awalnya hanya bersentuhan. Entah siapa yang memulai, berubah menjadi deep kiss. Ciuman pertama mereka di bawah lukisan My Man, hadiah Adisti untuk Bramasta. Lukisan yang memenuhi dinding di belakang sofa berwarna coklat kemerahan.
Entah di menit ke berapa, Adisti menarik wajahnya. Memandangi mata suaminya dengan kening menyatu sambil membelai tengkuknya.
“Jangan pernah merasa diabaikan. Karena Pak Suami selalu menjadi prioritas Disti. OK?” bisik Adisti.
Bramasta mengangguk patuh.
“Let's on duty again..” Adisti berbisik lagi sambil mengecup pelipis suaminya lama.
Bramasta mengangguk lagi.
“Abang kerjakan bagian Abang, Disti kerjakan bagian Disti. Makan siang kita di hotel saja. Abang gak ada jadwal meeting siang hingga sore nanti,” Adisti menatap suaminya lagi.
Adisti berdiri dari pangkuan Bramasta. Menarik tubuh Bramasta untuk ikut berdiri. Memeluk suaminya sebentar sambil menggosok-gosok punggung suaminya.
“Anggap saja kita sedang honeymoon sambil bekerja,” masih berbicara sambil berbisik.
“Disti... ma’af kalimat Abang tadi..” wajah Bramasta memerah karena merasa malu, “Ma’af, dengan sikap Abang tadi..”
Adisti menggeleng sambil terkekeh.
Adisti merapikan pakaian suaminya. Dia juga merapikan baju dan hijabnya. Bramasta ikut membantunya.
“Sudah..” Adisti tersenyum memandang suaminya.
“Sebentar lagi..” Bramasta memeluknya erat. Lalu melepaskan pelukannya.
“Let’s go work again.”
Adisti terkekeh. Melambaikan tangannya pada suaminya.
“Ma’af harus menunggu lama..” kata Adisti sambil menutup pintu kaca penghubung ruangan suaminya, “Tadi sampai dimana?”
Bramasta kembali lagi ke kursinya dengan perasaan berbeda. Tubuhnya terasa ringan. Dia bekerja dengan cepat sekarang.
Membaca berkas dengan lebih fokus. Menandatanganinya. Mengambil berkas sambil melirik ke arah istrinya yang juga tengah melirik ke arahnya.
Senyumnya melebar. Dia baru merasakan, perasaan dicintai bisa menjadi mood booster yang luar biasa bagi dirinya. Dicintai oleh orang yang memang ia cintai.
Dua puluh lima menit berlalu. Semua berkas di atas mejanya sudah selesai ia kerjakan. Ia mengambil remote TV, lalu menyalakan TV layar lebarnya untuk memeriksa pergerakan indeks saham dan nilai tukar mata uang asing.
Baru lima menit menonton sambil menyesap kopi yang dibuat oleh office boy, Indra membuka ruangannya dengan tergesa.
“Bram, TV nasional. Breaking news. Raditya.”
Bramasta mengganti salurannya. Indra berdiri di sebelahnya sambil bersidekap. Keduanya fokus menatap TV.
*
SANJAYA GROUP
Lobby pada jam makan siang tampak ramai. Banyak karyawan yang keluar dari gedung untuk makan siang atau janji lainnya.
Agung yang tengah menelepon di dekat meja resepsionis terkejut saat sikunya ada yang menarik-narik. Agung menoleh. Mengernyit melihat kepala yang ditutupi jilbab berwarna putih.
Agung membungkukkan badannya untuk melihat wajah pemilik kepala tertutup jilbab putih itu.
“Kamu? Sama siapa ke sini?” Agung terheran kemudian tersadar dirinya masih terhubung dengan panggilan teleponnya, “Eh, ma’af Lim. Nanti saya hubungi lagi ya. Assalamu’alaikum..”
“Ya sudah. Saya pulang lagi..” gadis itu berbalik.
“Eh, bukan begitu..” Agung menahan bahunya, “Saya cuma merasa aneh saja tiba-tiba kamu ada di sini. Biasanya kan kalau mau mampir ada pemberitahuan dulu.”
“Ya sudah kalau Om gak suka kalau saya ke sini..” Adinda menoleh pada lift yang berdenting.
Tuan Alwin melangkah keluar diikuti Hans. Adinda berlari ke arah mereka. Orang-orang di sekitar area lift memperhatikannya.
“Daddy..!” Adinda berhenti tepat di depan Tuan Alwin.
Tuan Alwin tertawa melihat Adinda.
“Salim..” Adinda meminta tangan Tuan Alwin.
Adinda mencium punggung tangan Tuan Alwin. Tuan Alwin mengusap kepala Adinda.
“Pulang sekolah langsung ke sini, Din?”
Adinda mengangguk.
“Bang Hans, salim..” Adinda meminta tangan Hans.
Agung yang memperhatikan dari jauh mengernyit. Lalu mendatangi mereka.
“Kok sama Bang Hans salim tapi sama saya nggak?”
Tuan Alwin dan Hans tertawa.
“Bang Hans baik. Gak pernah bikin kesal. Lagi pula Bang Hans sudah saya anggap sebagai abang sendiri.”
“Memangnya saya kenapa?”
“Om Agung bukan mahrom. Ngeselin lagi."
Tuan Alwin dan Hans terkekeh lagi. Tanpa sadar mereka berempat menjadi pusat perhatian di area lobby. Orang-orang penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
“Sudah ah.. Daddy sudah ditunggu Mommy. Kalian berdua yang akur ya. Jangan ribut melulu. Ngalah Gung.. Pagi tadi Ayah laporan ke Daddy, kalian berdua seperti Tom & Jerry..” Tuan Alwin melambaikan tangannya sambil meninggalkan mereka, masih terkekeh.
“Bang Hans mau kemana?” Adinda menatap penuh harap.
“Mau ketemu Pak Radit,” Hans tersenyum, lalu menatap Agung, “Sudah tahu berita terakhir?”
Agung mengangguk.
“Sepertinya Bang Hans sudah memprediksi ini akan terjadi?”
Hans mengangguk.
“Pelantikannya dua hari lagi. Penjagaan di lantai kalian akan saya tingkatkan. Tetap waspada ya Gung.”
Agung mengangguk.
“Insyaa Allah, Bang.”
“Kalian berdua yang akur ya,” Hans memandang pada Agung dan Adinda.
Dia menyentuh kepala Adinda.
“Lapor saja ke Abang kalau om kamu nakal. OK? Bye.. Assalamu’alaikum.”
Agung mencebik kesal.
Hans bisa melihat Kinanti yang memperhatikan mereka sejak tadi. Saat matanya bertemu, Hans menatap datar seperti biasa. Gadis itu menunduk.
.
***
Apa yang terjadi dengan Raditya?