
Para perawat bergerak dengan sigap. Salah satunya memasang selang oksigen pada Raditya.
“Hubungi Dokter Lintang,” perintah salah seorang perawat ke perawat satunya.
“Pasien yang baru masuk, Dok. Pasien Raditya Pradipta. Respirasi 35 kali per menit. Kemungkinan pasien mengalami takipnea dari anxiety disorder pasien. Tensi 170/110. Pulse 185,” Perawat memberi laporan melalui gawainya.
Perawat tersebut mendengarkan instruksi dokter.
“Baik, Dok. Infus Ketamine akan kami berikan.”
Raditya menoleh pada perawat yang sedang berbicara dengan gawainya.
“Ketamine? Are you kidding me?!” Raditya terdengar penuh emosi.
“Bun, hubungi Indra. Segera datang kemari,” Mommy melangkah mendekati Raditya.
Kedua perawat tampak terkejut.
“Saya tidak membutuhkan infus Ketamine. Kalaupun saya membutuhkan anti depresan, saya tidak akan memasukkan ketamine ke dalam tubuh saya. Ma’af, saya tidak bermaksud untuk membentak kalian.”
“Nak Raditya.. Ada apa? Kenapa dengan Ketamine?”
“Zat Ketamine sering disalahgunakan oleh para pengguna narkoba, Nyonya. Di dunia malam, sering disebut sebagai Special K. Saya tidak mau mengotori tubuh saya dengan zat adiktif yang sering disalahgunakan.”
“Sebenarnya ketamine itu obat apa?” Mommy bertanya pada perawat.
“Infus Ketamine berfungsi sebagai anti depresan, Nyonya. Respirasi oksigennya menurun karena mengalami takipnea akibat rasa cemas yang berlebihan. Tapi denyut jantung dan tekanan darahnya tinggi. Kami khawatir, kondisi Pasien akan bertambah buruk bila dibiarkan apalagi Pak Raditya baru saja mengalami henti jantung.”
Pintu sorong terdengar digeser dengan ucapan salam. Agung tiba dengan terengah.
“Ada apa?” Agung menatap Raditya, “Abang kenapa?”
“Tadi alarm monitor berbunyi beberapa kali. Tensi darah dan denyut jantung Pak Raditya meningkat sedangkan respirasi oksigennya menurun. Kami mengkhawatirkan kondisi Pak Raditya yang baru saja mengalami henti jantung,” Perawat menjelaskan dengan wajah cemas.
“Kami sudah menghubungi Dokter Lintang, dokter yang menangani Pak Raditya. Beliau menganjurkan untuk menggunakan infus Ketamine agar takipneanya bisa teratasi.”
“Ketamine?” kening Agung berkerut.
“Obat anti depresan,” seorang perawat menjelaskan.
Agung mengangguk.
“Iya saya tahu. Tapi coba jelaskan, sebenarnya apa yang terjadi pada Bang Raditya tadi. Mom? Bun?”
“Nak Raditya terkenang dengan almarhumah istrinya. Dia menjadi sedih. Lalu alarm monitor berbunyi terus menerus. Sebenarnya itu saja sih,” Bunda menjelaskan disertai angukan dari Mommy.
Agung mengangguk mengerti.
“Bagaimana keadaan Bang Raditya sekarang?” Agung mendekati Raditya.
“Saya baik-baik saja, Gung. Tadi, saya hanya terbawa emosi karena teringat dengan Masayu.”
“Are you sure that you are allright?”
“Insyaa Allah..” Raditya menatap para perawat, “Suster, kalau alarmnya bunyi lagi, bolehlah saya diberi anti depresan tapi bukan dari zat ketamine. Saya yakin masih banyak anti depresan lainnya selain ketamine yang bisa diberikan pada saya.”
“Baiklah Pak Raditya. Tapi tolong , Pak Agung tanda tangani dulu penolakan infus Ketamine yang disarankan oleh Dokter Lintang.”
Perawat memberikan catatan laporan obat dan tindakan medis pada Agung.
“Sebenarnya alasannya kenapa Bang?” tanya Agung dengan suara pelan.
“Saya sudah diberi obat pereda nyeri yang setidaknya sudah ada kandungan zat adiktif di dalamnya. Saya gak mau menambah lagi untuk mengotori darah saya,” Raditya memegangi area selangka kanannya yang sudah menerima hantaman peluru dari orangnya Tuan Thakur.
“Masih sakit?”
“Masih lah,” Raditya meringis.
“Besok pasti pegal-pegal,” Agung terkekeh sambil mengembalikan catatan laporan kepada perawat.
“Untuk anti depresannya, biar Pak Raditya mencoba mendinginkan hati dan pikirannya dengan dzikrullah, Mbak." Agung tersenyum kepada kedua perawat.
Keduanya balas tersenyum dan mengangguk.
“Kalau begitu kami permisi. Tolong dijaga supaya Pasien tidak menjadi stress dan ada lonjakan emosi berlebihan.”
Pintu sorong dibuka, Ayah dan Daddy memasuki ruangan.
“Ada apa ini? Loh, sudah selesai?” Ayah terheran.
“Saya sudah bilang apa tadi. Serahkan saja pada Agung. Dia pasti bisa mengatasinya..” Daddy terkekeh.
Kedua perawat itu mengangguk hormat kepada Ayah dan Daddy lalu berlalu dari ruangan.
Ibu Senna sedari tadi meremat kedua tangannya.
“Ma’afkan saya yang sudah membuat Raditya jadi sedih. Seharusnya saya tidak datang malam ini..”
“Ibu.. Ibu jangan bicara seperti itu. Raditya bahagia sekali dengan kedatangan Ibu. Silaturahmi di antara kalian yang sempat koyak sekarang menjadi terjalin kembali. Dia sudah lama menantikan hal ini, Bu..” Bunda tersenyum sambil mengelus punggung Ibu Senna.
“Benar begitu, Dit?” Ibu Senna menatap sendu Raditya.
Raditya mengangguk.
“Bagi saya, Ibu dan Bapak adalah orangtua saya. Mertua sama dengan orangtua kan Yah?" tanya Raditya pada Ayah.
Ayah mengangguk sambil mengacungkan ibu jarinya.
“Tidak ada bekas mertua meskipun sudah tidak bersama lagi dengan anaknya. Baik melalui peceraian ataupun kematian yang memisahkan anak dan menantu. Karena pada hakekatnya mertua adalah orangtua.”
“Alhamdulillah, Bu..”
“Ibu pamit dulu ya. Sudah larut malam. Kasihan Bapak..” Ibu Senna mendekati Raditya lalu memeluknya.
“Kalau saya sudah sembuh, insyaa Allah saya akan berkunjung untuk bertemu dengan Bapak. Sampaikan salam saya untuk Bapak ya Bu..” Raditya mencium punggung tangan ibu mertuanya.
Ibu Senna mengangguk dan tersenyum.
“Cepat sembuh ya Dit. Ibu dan Bapak akan menunggu kamu di rumah kami..”
Raditya tersenyum lebar. Membuat Bunda dan Mommy juga ikut tersenyum lebar.
Ibu Senna lalu berpamitan kepada semuanya.
“Titip Raditya ya, Nak Agung..” katanya kepada Agung saat berpamitan.
“Insyaa Allah..” Agung mengangguk dan tersenyum.
“Daddy kok baru naik sih?” tanya Mommy saat Ibu Senna sudah pulang.
“Ya iyalah. Tadi kita sudah pesan makanan. Ya sayang dong kalau kita tinggal pergi. Mubazir. Iya gak, Yah?”
Ayah mengangguk sambil terkekeh.
“Terus, makanan yang dipesan Kakak?” Agung menatap Ayah dan Daddy bergantian.
“Ya kita makan dong.... Mubazir!” Ayah terkekeh diikuti Daddy.
“Dih!” Agung memesan lagi makan malam untuk dirinya sendiri.
“Bang Radit mau makan malam lagi gak?” Agung menghampiri Raditya sambil menunjukkan gambar menu makanan dari layar gawainya.
“Saya kan sudah makan tadi.”
“Kali aja Abang lapar lagi setelah debat tentang Ketamine. Lagian juga makanan rumah sakit walaupun di ruang VVIP apa enaknya sih?”
“Tapi tadi makanannya beneran enak kok,” Raditya tertawa.
“Jadi, mau menginap di sini lebih lama?” Agung menaikkan kedua alisnya.
“Ya nggaklah. Makan di rumah Bunda lebih enak. Saya bakal kangen dengan saat-saat suasana sarapan di rumah Bunda.”
“Kapan Abang pindah ke Jakarta?”
“Sepertinya sepulang dari rumah sakit, saya harus segera menempati rumah dinas di sana.”
“Abang tinggal sendiri. Yakin tinggal di rumah dinas?”
“Entahlah.. Untuk sementara mungkin di rumah dinas dulu.”
“Bicarakan dengan Bang Hans, Bang.”
“Saya tidak mau merepotkan Tuan Hans lagi. Segan saya..”
“Gak usah begitu. Bang Hans orangnya tulus kok. Walau terkesan dingin orangnya tapi hatinya hangat.”
“Iya.. saya juga merasa seperti itu.”
“Kalau tugas di Bandung atau libur, mampir dan tidur di tempat saya, Bang. Selama saya belum menikah,” Agung tersenyum lebar, “Kalau saya sudah menikah, Abang menginapnya di rumah Bunda saja..”
“Ngebet banget kamu menikahi Adinda.”
“Woyyaadooong. Kalau besok pagi saya disuruh menikahinya, saya siap kok. Siap banget malahan..” Agung terkekeh diikuti Raditya.
.
***
Gung, kok seperti yang kebelet banget sih menikahi Adinda?
Ciyeeee.
Awas loh, dialog kalian jangan sampai diketahui oleh Indra. Bisa misuh-misuh nanti dianya... 😆😆😁
Catatan Kecil:
• Takipnea adalah kondisi nafas yang tersengal dimana pasien akan bernafas pendek-pendek.
• Ketamine adalah merupakan obat yang bekerja sebagai obat penenang (pengantar tidur), analgesik (pereda nyeri) dan penginduksi amnesia (hilang ingatan sementara).
🌷🌷🌷
TIPS BAGI KELUARGA PASIEN RAWAT INAP
Penting bagi kita untuk mengetahui obat ataupun tindakan medis ataupun pemasangan alat medis yang diberikan kepada pasien berikut efek sampingnya.
Jaman now, informasi sangat mudah diperoleh. Jadilah keluarga pasien yang cerdas. Tahu akan hak-hak pasien.
Tapi please, jangan sampai menghalangi kerja tenaga medis ya.
Gunakan waktu visit dokter untuk mendiskusikan keadaan pasien. Tentu dengan tutur bahasa yang baik agar dokter yang sudah lelah tidak menjadi bete.
Komunikasi lancar dua arah yang terjalin antara dokter-nakes dengan keluarga pasien tentunya akan lebih membantu kesembuhan pasien.
❤️
Utamakan baca Qur'an.