CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 85 - RASA BERSALAH



Setelah sekian lama, baru kali ini Adisti memasuki lagi kamarnya. Bramasta tersenyum saat melihat tingkah istrinya yang sedang melepas rindu dengan barang-barang yang ada di dalam kamarnya.


Adisti menyentuh semua barang yang ada di atas mejanya, tempat tidur dan juga koleksi boneka sapi perah dengan motif warna khas hitam dan putih.


“Kenapa suka dengan boneka sapi perah?” tanya Bramasta.


“Mereka wajahnya polos banget, imut dan lucu,” jawab Adisti sambil memeluk salah satu bonekanya.


“Mau lihat aslinya gak? Melihat mereka dari dekat?” Bramasta memainkan ujung rambut di tengkuk Adisti.


“Di Ciwidey? Udah pernah. Sapi hitam putihnya gak banyak. Lebih banyak sapi coklatnya. Deketin ke kandangnya... bau...” Adisti mengernyitkan hidungnya membuat Bramasta gemas.


“Ke peternakan terbesar dan modern, tempat populasi hewan ternaknya jauh lebih banyak daripada populasi manusianya,” Bramasta memeluk erat istrinya.


“Dimana?”


“New Zealand.”


Mata Adisti membelalak, “Ciyus?”


Bramasta mengangguk sambil tersenyum.


“Makasiiiiih,” Adisti mengecup pipi Bramasta dengan cepat lalu merasakan pipinya memanas.


Bramasta terkekeh lalu menunjuk pada semua koleksi boneka sapi.


“Ini dari siapa aja bonekanya?” tanya Bramasta dengan hati waswas.


“Dari Kakak, Ayah, Bunda, sepupu juga dari Erni.”


“Erni sahabat Disti di kampus? Yang dia meluk Disti terus saat di atas pelaminan sambil menangis?”


“Iya..”


“Gak ada boneka dari...”


“Gak ada Bang...” Adisti menyentuh lengan atas Bramasta, “Sudah gak ada barang-barang dari dia di kamar Disti dan di rumah ini lagi. Semua sudah Disti kembalikan bersamaan dengan barang-barang seserahannya.”


“Ma’af Abang buat Disti jadi mengingatnya lagi,” Bramasta memeluk Adisti. Merebahkan kepala Adisti pada dadanya.


“Abang akan bercerita tentang apa yang terjadi pada keluarga Anggoro ya. Semua dimulai saat penyerangan kalian di rumah sakit. Dari rekaman CCTV sejam sebelum kalian tiba di teras rumah sakit, orang yang disuruh mencelakai kalian, terlihat berbicara dengan seseorang yang berada di dalam sedan Jaguar,” Bramasta terdiam sejenak.


“Orang yang memerintahkan untuk mencelakakan kalian sama dengan orang yang membuat Kakak Ipar dipecat dari Buana Raya.”


Adisti terduduk lalu memandang Bramasta.


“Siapa dia? Kenapa bisa ada sangkut pautnya dengan pemecatan Kakak?”


Bramasta menceritakan semua hasil rekaman CCTV yang dikirim ke Singapura atas permintaan Bang Leon juga dari hasil penyelidikan orang-orangnya Hans. Mata Adisti terbelalak saat mendengar semua penjelasan suaminya.


“Suaminya terlibat? Tiyo juga?” tanya Adisti sambil memegang jemari Bramasta.


Bramasta menggeleng, “Tidak. Bahkan saat Tuan Hilman diberitahu kejahatan istrinya dia tampak tidak menyangka sama sekali istrinya bisa senekat itu. Saat Hans membeberkan perselingkuhan istrinya dengan Gunawan Tan, Komisaris Buana Raya, Tuan Hilman tampak hancur.”


“Malam harinya, Tuan Hilman datang bersama Prasetyo ke rumah ini. Saat itu ada Daddy dan Hans juga,” Bramasta membelai rambut Adisti.


“Yang waktu malam-malam Kakak pergi bareng Daddy dan Abang Hans setelah mengejek rambut Disti?” Adisti mencebik mengingat kejadian itu lagi.


Bramasta terkekeh sambil mengangguk.


“Sebenarnya Tuan Hilman meminta tolong pada Daddy dan Hans untuk menjadi mediator pertemuan dia dengan Ayah dan Bunda. Beliau merasa malu dan sungkan pada Ayah dan Bunda setelah mengetahui kejahatan istrinya,” Bramasta merebahkan dirinya di atas kasur Adisti. Lalu menarik tubuh Adisti untuk ikut berbaring di sampingnya.


“Hans cerita, Tuan Hilman berlutut di depan Ayah dan Bunda atas inisiatifnya sendiri..”


Adisti yang tadinya ikut rebah mendadak duduk.


“Kok bisa?? Terus Ayah dan Bunda bagaimana? Mereka pasti merasa risih kan?”


Bramasta menarik tangan Adisti lagi.


“Ssssh.. sini, samping Abang,” tubuh Adisti direngkuh masuk dalam pelukannya, “Untuk lebih jelasnya bagaimana Tuan Hilman dan Prasetyo di rumah ini dan apa yang terjadi, sebaiknya tanyakan langsung pada Ayah dan Bunda ya. Biar lebih afdhol.”


Adisti mengangguk.


“Tragis ya. Wanita yang angkuh dan sombongnya luar biasa nasibnya berakhir dalam penjara dan dicerai suaminya,” Adisti memandangi langit-langit kamar.


“Disti dengar Abang,” Bramasta memiringkan tubuhnya menghadap Adisti, Adisti pun melakukan hal yang sama, “Apapun yang terjadi, selalu percaya dengan Abang, ya. Abang tidak akan membiarkan seseorang untuk menghina Disti lagi.”


Adisti mengangguk. Matanya menatap mata Bramasta. Tangannya terulur menyentuh tepi rahang suaminya.


Bramasta meraih tangan Adisti yang masih terdapat lukisan henna. Mendekatkan pergelangan tangan kanannya pada bibirnya. Mengecup tulisan yang dibuat oleh petugas henna sesuai permintaannya, ada namanya yang ditulis dengan huruf berukir. Sebagai tanda, Adisti adalah wanitanya Bramasta.


***


Perempatan Jalan Pahlawan


11.30


Meeting dengan orang pajak selesai lebih cepat dari jadwal yang dibuat Agung. Dia mengendarai motornya di bawah teriknya matahari.


Saat motornya mulai melaju , entah darimana datangnya, seorang siswi berseragam putih abu tiba-tiba berjalan dengan kepala menunduk dan memotong jalurnya.


Refleks, Agung menekan tuas rem depan dan belakang yang mengakibatkan motornya menukik dengan ban belakang terangkat. Bunyi decit rem dan suara klakson panjang terdengar.


“Hey! Hati-hati kalau menyeberang! Lihat-lihat dong lampu lalu lintasnya masih merah atau sudah berubah warna!” Agung berkata penuh emosi.


Gadis itu mengangkat wajahnya, memandang ketakutan kepada Agung.


“Ma’af, Om!”


Agung tertegun. Gadis itu menangis. Bukan menangis karena dibentak olehnya tapi karena sepertinya si Gadis berjalan sambil menangis. Matanya sudah sembab dan memerah. Begitu pula hidungnya.


“Makanya kalau jalan jangan sambil menangis! Baru diputusin cowok aja langsung nangis. Cengeng! Hey, Dek, dengar ya, kamu tuh masih terlalu muda buat pacaran, lagipula cowok tuh bukan hanya mantan kamu saja. Generasi sekarang ya.. lemah!” Agung menyerocos sambil memandang meremehkan kepada gadis itu.


Gadis itu mengepalkan kedua tangan di samping tubuhnya, memandang geram ke arah Agung.


“Om! Kalau om gak ngerti permasalahannya lebih baik diam aja deh!” menatap galak pada Agung.


“Eh nih bocah gak sopan banget ya!” Agung membuka helmya.


“Terus Om mau apa? Mau mukul??!” Gadis itu melangkah maju.


“Siapa yang mau mukul kamu? Kamu kenapa gak sopan banget sih jadi anak?? Bukannya minta ma’af karena hampir bikin kita berdua celaka...”


“Baik! Saya minta ma’af!” Gadis itu membungkukkan tubuhnya, “Puas??!”


“Setdah generasi sekarang!” Agung berkacak pinggang.


“Saya tahu sopan santun, Om. Tapi Om yang duluan menuduh saya sembarangan!! Mana ngomongnya merepet mulu!”


“Saya nuduh kamu apa??!” Agung menaikkan kedua alisnya.


“Tadi, nuduh saya nangis karena diputusin pacar!”


“Terus kamu nangis sepanjang jalan kenapa??”


“Papa saya meninggal, Om!”


“Eh??!” hati Agung mencelos kemudian berkata pelan, “Ma’af...”


“Sekarang gegara Om ngajak ribut, waktu saya terbuang percuma di sini!” Gadis itu memandang Agung dengan tatapan galak tapi terluka dan sedih pada saat bersamaan.


Agung semakin dilanda rasa bersalah.


***


Bramasta-Adisti, ciyeeeeeee.


Kalian ngapain ??


Duh, Agung... Agung... kebiasaan banget nyerocos kalau ngomong..


Penasaran dengan view perempatan Jalan Pahlawan Bandung? Cekidot. Tugu Taman Makam Pahlawan jadi landmark-nya dan deretan pohon cemara lilin penanda boulevard-nya.