
WAG Kuping Merah mendadak ramai.
Hans_Ada perlawanan dari Ferdi kah?_
Leon_Tidak ada_
Anton_Ah, gak rame dong_
Indra_Sebenarnya kasusnya seperti apa sih?_
Leon_Sadis banget. Sampai heboh se-Singapura_
Leon mengirimkan lampiran dari Alex, isi lampirannya sudah beredar di pers Singapura.
Agung_Ya Allah, masih bocah banget wajahnya. Gw gak tega lihat foto-foto mayatnya. Kasihan banget_
Hans_Sesadis itu Ferdi Gunandi?_
Indra_Sakit jiwa_
Anton_Semua pelaku sadism dan masokism adalah orang-orang yang jiwanya sakit kan?_
Hans_Para pelaku sadism punya kecenderungan untuk menjadi pembunuh dari aksinya. Walaupun nanti ia akan berargumen sebagai kecelakaan, kebablasan_
Leon_Itu yang dikatakan Ferdi Gunaldi di depan Rita, kata Alex_
Agung_Tuman!_
Leon_Alex mengirimkan video penangkapan Ferdi Gunaldi. Dilihat dari gambarnya, sepertinya video diambil dari jenis kamera yang sama yang gw dan Indra pakai di The Ritz. Tapi video ini jangan sampai bocor ya_
Leon mengirimkan video.
Indra_BTW, Bram mana?_
Leon_Palingan tidur karena pijatan terapis spa_
WAG mendadak sepi. Semua anggotanya minus Bramasta menonton video berdurasi 47 menit.
Anton_Speechless nonton videonya_
Leon_Sama_
Indra_Gw kok kasihan ke Rita Gunaldi ya?_
Hans_Ciyeeee. Dah sana adopsi Rita Gunaldi jadi anak angkat lu, Ndra! (emot ngakak)_
Indra_Hisssh! Gegabah!_
Anton_Tuaan anak angkatnya daripada bapak angkatnya (emot ngakak 3)
Leon_Om Dhani dan Tante langsung mencoret nama Indra dari kartu keluarga (emot ngakak)_
Indra_Maksud gue, gue kasihan dengan masa lalu Rita_
Agung_Setiap orang punya masa lalu. Tergantung dari kitanya saja apakah kita bisa bangkit dari masa lalu yang buruk untuk berubah menjadi lebih baik atau tetap berkubang dalam keburukan_
Indra_Nah itu, yang gue lihat, harusnya Rita bisa menjadi lebih baik untuk tidak terlibat lagi dengan hal-hal yang berkaitan dengan masa lalunya. Dia berbakat dalam designer baju juga usaha salonnya bagus. Baju rancangannya bagus kok. Dipakai juga nyaman_
Anton_Bukan dia yang jahit, Bro. Dia cuma design doang. Eksekusi potong dan jahit itu anak buahnya. Jadi untuk jahitan dan nyaman dipakai seharusnya yang dipuji tukang bikin pola dan tukan jahitnya…_
Indra_Tapi kan dibawah koordinasi dia_
Agung menanggapi komentar Indra_It’s her choice, Bro. Dia lebih memilih untuk stay tune di jalur yang salah, entah karena tidak ada yang membimbing atau karena lebih mudah menghasilkan rupiah di sana_
Leon_True said_
Hans_Pak Armand memberitahu untuk kasus penyerangan Adisti, Rita akan dipanggil lusa_
Agung_Hari Minggu libur ya kantor polisinya?_
Anton dan Indra mengirimkan emot tawa.
***
“A Agung,” panggil sepupu yang dipanggil Neng, “Dipanggil Teh Adis.”
“Udah boleh masuk?”
“Tetehnya sedang sauna,” jawab Neng.
“What?? Sejak kapan di rumah ada sauna?”
“Pakai alat bawaan orang spa, A,” Neng membuka pintu kamar.
Agung memasuki kamar Adisti. Aroma wangi bunga, akar, kayu dan rempah menyeruak. Agung menghirup aroma itu dalam-dalam.
Massage bed sudah dilipat dan disandarkan di pojok ruangan.
“Hmmm wangi apa ini?” tanyanya.
“Dupa pewangi, Tuan,” jawab terapis spa.
“Wanginya enak. Memangnya kalau di tempat spa juga seperti ini aromanya?”
“Kami memakai aroma terapi dengan menggunakan dupa pewangi untuk merelaksasi pikiran. Ini juga bagus untuk merilekskan otot tubuh.”
“Oooh…” Agung mencari-cari Adisti.
Ada kotak plastik berwarna pink dengan motif jahitan kotak diagonal di ujung tempat tidur Adisti.
“Dek?”
Adisti sedang menelengkupkan wajahnya, hanya kepalanya yang terlihat.
“Ya Allah.. kirain ini lemari plastik pakaian jaman dulu.. Neng, ini yang kata kamu alat sauna?” tanya Agung. Neng mengangguk sambil tersenyum lebar.
“Itu sauna portable, Tuan.”
“Panas?”
Petugas Terapis Sauna mengangguk sambil tersenyum lebar.
“Setelah sauna, diapain lagi Mbak?” tanya Agung sambil duduk di tepi tempat tidur Adisti.
“Terus?”
“Nona Adisti nanti mandi susu.”
“Susu sapi??” Agung menoleh cepat ke arah Adisti, “Dek, susu dibuat mandi Dek! Mubazir amat..”
Terapis Spa tidak tahan untuk menahan tawanya. Neng dan Leni juga ikut tertawa.
“Kak, please deh gak usah norak begitu. Malu tau!” Adisti menatap Agung dengan malas.
“Ini susu yang sudah diolah khusus untuk campuran air mandi. Dicampur dengan wewangian, madu, dan zat lainnya yang berfungsi untuk menghaluskan, melembutkan dan mencerahkan kulit, Tuan. Susunya dalam bentuk bubuk siap pakai.”
“Wah harus pakai bathup dong. Kan gak ada bathup di sini.”
“Kami membawa bathup portable, Tuan. Berbahan silikon sehingga bisa dilipat dan dibawa kemana-mana.”
“Whattt? Bathup silikon?”
“Kakaaaaak.”
“Ntar Dek, Kakak lagi penasaran.”
“Ini, Tuan,” Terapis Spa memberikan bathup portable yang dibawanya.
“Setipis ini?” alis Agung terangkat.
Dia membolak-balikkan benda tipis memanjang, lebih panjang dari meja setrikanya Bunda. Lebarnya selebar bahunya yang memang lebar.
Terapis Spa mengangguk dan menahan tawanya melihat tingkah Agung.
“Ditekan saja Tuan bagian bawahnya dengan telapak tangan dan tarik ke atas dengan tangan lainnya, nanti baknya akan terbentuk.”
Agung mengikuti petunjuk yang diberikan Terapis. Dia menekan dengan sebelah telapak tangannya, tangan lainnya menarik ke atas KLEP. Ruas paling bawah muncul. KLEP. Ruas berikutnya muncul lagi.
“Bunyinya lucu ya. Saya suka suaranya. Seperti orang lagi mretek-mretekin tulang,” kata Agung.
Semuanya tertawa mendengar perkataan Agung.
“Maafkan kakak saya yang katrok ya Mbak..” kata Adisti memandang sebal pada kakaknya.
“Apaan sih..” Agung berjalan mendekati Adisti yang masih mendekam di dalam sauna portablenya, “Ada apa?”
“Kak, gimana dong..” Adisti terdengar galau.
“Apanya?”
“Screenshot yang Kakak kirim itu. Beneran deh Adek gak maksud gimana-gimana ke Abang. Kan Adek malu jadinya.”
“Makanya kalau nelepon tuh lihat-lihat situasi dulu. Dan kalau berbicara dipikir dulu. Adek sudah besar. Besok sudah jadi istri Abang. Dan Abang bukan seperti orang kebanyakan. Jadi Adek harus belajar untuk menahan diri untuk berucap dan bersikap kalau berada di lingkungan luar. Tapi kalau di lingkungan sendiri, bebas. Khawatirnya, nanti diplintir media. Dampak kecilnya, masuk tayangan infotainment tapi dalam ulasan negatif, jadi bahan gosip seIndonesia Raya. Dampak besarnya, harga saham perusahaan bisa turun, efeknya kesejahteraan karyawan juga turun.”
Adisti tercenung. Dia mengangguk-angguk.
“Ribet ya jadi istri orang beken,” mata Adisti menerawang.
“Lah, terus Adek mau mundur?” tanya Agung panik.
“Ya nggak lah. Gegabah banget Kakak nih. Kami kan udah kadung sayang..”
“Dih mulai lagi bucinnya!”
“Terus gimana dong Kak..”
“Apanya yang gimana?”
“Adek malu ke Abang..”
“Haissh. Baca lagi dong itu screenshotnya. Abang aja gak gimana-gimana. Kok malah Adek yang gimana-gimana. Untung tadi ngobrolnya bareng Abang, calon suami Adek. Gimana kalau tadi ngobrolnya dengan yang lainnya? Abang Indra atau Abang Anton, misalnya. Atau Andrew Smith sekalian?”
“Hisssszh! Gimana sih Kakak?”
“Gimana apanya?” Agung duduk menyelonjorkan kakinya, “Jadi maunya Adek gimana?”
“Ya gak gimana-gimana.”
Terapis Spa, Neng dan Lina daling berpandang-pandangan mendengar pembicaraan mereka.
“Aa dan Teteh ngomong apa sih? Dari tadi gimana mulu yang dibahas. Gimananya bolak-balik banget,” tanya Neng.
Agung dan Adisti saling berpandangan. Lalu terkekeh bersama.
“Ciyeeeee yang kepo, yang nguping pembicaraan kita…” kompak Agung dan Adisti bersamaan.
“Bukannya nguping, A,” kata Leni, “Da kita mah punya kuping normal atuh. Jadi pasti mendengar. Kan kalau gak dengar berarti gimana gitu..”
“Tuh kata gimananya muncul lagi,” kata Terapis Spa sambil tertawa.
“Ya sudahlah, habis gimana lagi kalau memang waktunya kata gimana harus muncul lagi..” Adisti terkikik.
Suasana hening lagi. Adisti menghela nafas panjang lagi. Agung memandangi wajah adiknya. Wajah Adisti tampak galau dan bingung.
“Gimana Dek? Masih galau? Masih bingung? Masih mikirin yang tadi?”
Adisti mengangguk.
Agung beranjak dari duduknya. Mengambil dupa pewangi dari meja lalu menyodorkannya kepada Adisti.
“Nih, hirup yang dalam. Kata Mbaknya, aroma terapinya membantu merelaksasikan pikiran,” Agung menyodorkan tepat di bawah hidung adiknya, “Hiruuuup. Ayo hiruuup. Jangan malu-malu. Supaya gak gimana-gimana lagi..”
Terapis Spa, Neng dan Leni melongo melihat tingkah Agung tapi kemudian terbahak bersama. Adisti terbatuk-batuk karena serangan asap dupa pewangi.
“KAAKAAAKK!”
Agung mengambil langkah seribu keluar kamar sambil tertawa.
“Mbak, udahan dulu ah. Udah gerah banget ditambah punya kakak yang kelakuannya tengil banget. Makin gerah. Saya mau kejar kakak dulu!”
***
Hyaaaa Tom & Jerry beraksi lagi, gimana? Gimanaaa gabut banget kan gimana-gimananya. Terus gimana dong?