
“Tidak apa-apa Pak. Kebetulan saya sudah bebas tugas jam segini,” Hans melirik Daddy yang memamerkan cengirannya pada Hans.
“Sepertinya sedang ada acara di sana ya Pak Hans. Ramai sekali..”
“Ah.. tidak. Kami cuma sedang makan malam di rumah Bramasta, syukuran Bang Leon, menantunya Tuan Alwin yang baru sembuh dari cedera sendi bahunya, pagi tadi berobat ke Cimande.”
“Wah.. tidak menyangka, jauh-jauh dari Singapura untuk berobat ke Cimande,” mereka berdua tertawa.
“Cedera karena melawan 3 preman itu ya. Hebat sekali ya menantunya Tuan Alwin Sanjaya. Gerakannya luar biasa. Sampaikan salam kagum saya kepada Pak Leon ya Pak Hans..”
“Bang Leon dapat salam dari Pak Raditya,” kata Hans pada Leon.
‘Wa’alaikumussalam,” jawab Leon sambil tersenyum lebar.
“Sudah saya sampaikan salamnya langsung ke yang bersangkutan ya Pak Radit..” Hans tertawa.
“Wah.. langsung dijawab ya,” Raditnya terkekeh, "Saya mendengar suaranya.."
Jeda sejenak.
Kemudian suara Raditya berubah menjadi serius.
“Tentang kasus peracunan hingga menyebabkan kematian dengan terduga Endang Mawarti dan Safrudin Mulyana, kami butuh izin dari putri korban untuk melakukan pembongkaran makam sehubungan dengan keperluan autopsi untuk penyelidikan lebih lanjut.”
Hans menatap semuanya. Lalu menatap lama pada Agung.
“Kira-kira kapan kami bisa mendapatkan izinnya, Pak Hans?”
“Untuk kepastiannya saya belum tahu, Pak Radit. Kondisi Adinda juga belum pulih benar secara kejiwaannya. Dia baru saja keluar dari rumah sakit siang tadi.”
“OK.. baiklah saya mengerti. Kabari saya bila Adinda sudah siap uuntuk menandatangani berkas pemberian izin untuk pembongkaran makam dan autopsi jenazah papanya ya Pak Hans.”
“Iya.. insyaa Allah akan segera saya kabari. Saya kira ini bukan hal yang mudah bagi Adinda.”
“Iya Pak Hans.. Terimakasih banyak atas waktunya ya. Salam untuk semuanya. Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumussalam..” Hans mengakhiri panggilannya.
Dia menatap Agung yang tampak muram.
“Bagaimana Kakak ngomong ke Dindanya, Dek?” Agung menatap Adisti yang sedang menggunting kemasan kerupuk mie pelengkap asinan.
“Nanti akan Adek bantu, Kak. Sudah Kakak tidak usah cemas. Adek yakin, Dinda tidak selemah yang kita lihat.”
Mommy menghampiri Agung yang duduk termenung di sofanya.
“Jangan khawatir, kita semua akan membantu kamu untuk membicarakan ini dengan Adinda, juga untuk memberikan dukungan moril pada Adinda.”
Agung mengangguk, “Terima kasih banyak, Mom..”
Mommy hanya menepuk-nepuk pundak Agung.
“Sudah Kakak Ipar, jangan terlalu dipikirkan dahulu. Sekarang Kakak Ipar menikmati asinn Bogor buatan Adisti saja,” Bramasta mengangsurkan mangkuk berisi asinan Bogor.
Agung mengangguk sambil menerima mangkuknya.
“Hmmmmh!!” seru Leon sambil mengacungkan ibu jarinya, “Mantap Dis rasanya!”
Adisti hanya terkekeh melihat Kakak Iparnya.
“Dis, gue mau bawa pulang buat Hana, boleh ya?” Hans menatap penuh harap pada Adisti.
“Gue juga buat Papi dan Mami,” Indra tak mau kalah.
Bramasta menggelengkan kepalanya sambil terkekeh. Adisti tertawa.
“Iya..iya.. Boleh. Semua sudah Disti siapakan untuk dibawa puang oleh kalian semua. Buat Ayah, Bunda dan Adinda, buat Mbak Hana, buat Kak Layla, buat Babeh dan MakNyak juga buat Hyung Anton. Nanti tinggal bawa saja.”
“Alhamdulillah...” semua berseru lega.
Daddy memandang Adisti dengan tatapan tidak terima.
“Buat Daddy dan Mommy gak ada yang dibawa pulang?”
“Memangnya Daddy masih mau makan di rumah?” Adisti menaikkan alisnya.
“Kan Daddy sama Mommy bisa makan sepuasnya di sini,” sergah Bramasta.
Daddy dan Mommy saling pandang lalu sama-sama mencebik. Semuanya terkekeh melihatnya.
“Tenang.. buat Daddy dan Mommy juga sudah Disti siapkan kok,” Adisti tersenyum jahil.
Daddy dan Mommy tampak lega.
“Dis,” leon menatap Adisti dengan serius, “Kalau Abang dan Layla mau pulang ke Singapura, bisa buatin asinan Bogor gak? Abang ingin bawa buat Abah dan Maman.”
“Memangnya di sana gak ada yang jual, Bang?” Bramasta mengerutkan keningnya.
“Ada sih tapi rasanya gak otentik dan gak seenak buatan Disti.”
“Ya sudah, nanti Abang kabari saja kapan Abang mau balik Singapura. Tapi jangan mendadak ya Bang. Kan harus disiapin dulu bahan-bahannya.”
“Siiip”.
Tidak berapa lama semua berpamitan dan membawa tas plastik berisi kotak asinan Bogor buatan Adisti.
***
RUMAH KELUARGA GUMILAR
Rumah sudah sepi saat Agung tiba. Saat keluar dari kamar mandi, Bunda keluar dari kamar tidurnya ke arah ruang makan.
“Baru pulang Kak?”
“Iya Bun. Adinda sudah tidur?”
“Sepertinya sudah. Dia naik ke kamarnya setengah jam setelah Kakak pergi tadi.”
“Ayah sudah tidur, Bun?”
“Belum. Masih membaca di kamar. Kenapa?”
“Ada yang harus Kakak bicarakan dengan Ayah. Bunda mau ngapain?”
“Ambil minum.”
Bunda mengangguk, “Terima kasih ya Kak..”
“Sama-sama Bun..”
Agung mengambil 2 mug. Lalu mengisinya dengan air hangat dari dispenser. Dia membawanya ke ruang tidur Bunda.
Ayah sudah menyingkirkan buku yang dibacanya saat Bunda memberitahu Ayah kalau Agung ingin berbicara.
“Ada apa Kak?” tanya Ayah saat Agung muncul dari balik pintu.
Agung meletakkan 1 mug di atas nakas. Lalu duduk di pinggir tempat tidur sambil meminum dari mug yang ada di tangannya.
“Tentang kasus Bryan, Prince Zuko berencana akan memakai taktik yang sama saat kita menghadapi Tuan Thakur.”
Ayah mengangguk mengerti.
“Satu-satunya cara menghadapi orang yang sangat berkuasa adalah dengan menggunakan keajaiban sosial media sebagai sarana pengontrol dan pengawas terhadap kebijakan-kebijakan yang mereka."
Ayah melanjutkan lagi.
"Semakin berisik netizen, maka mereka akan semakin gerah dan tidak membuat tindakan yang non populis yang dapat menyebabkan gejolak ataupun penolakan di tengah masyarakat.”
Agung mengangguk, “Iya seperti itu, Yah.”
“Lalu?”
“Prince Zuko akan mengambil adegan dari rekaman CCTV rumah sakit, dini hari saat peristiwa Adinda terjadi.”
“Siapa?”
“Kakak.”
“Kenapa Kakak?” Bunda bertanya sambil memeluk bantal.
“Karena bagi Prince Zuko, kakak sudah dikenal sebagai good person dan sudah menarik simpati netizen terkait peristiwa The Ritz vs Tuan Thakur juga peristiwa Gerai Donat.”
“Kakak siap dengan resiko ketenaran Kakak?” tanya Ayah serius.
“Bukan cuma kawan baru tapi juga musuh baru, Kak,” Bunda terlihat cemas.
“Insyaa Allah Yah, Bun. Tolong do’akan Kakak supaya selalu dalam perlindungan Allah Subhanahu WaTa’ala,” Agung menatap Ayah dan Bunda dengan penuh hormat.
Bunda dan Ayah mengangguk.
“Insyaa Allah Kak. Ayah dan Bunda akan selalu mendo’akan Kakak, Adek dan Adinda.”
“Prince Zuko juga akan memakai rekaman CCTV dari ruang tengah rumah Adinda dan rekaman CCTV pintu masuk UGD.”
Ayah dan Bunda mengangguk.
“Artinya wajah Adinda akan terpampang di layar.”
“No way!” seru Ayah. Bunda mengangguk.
“Tidak.. jangan wajah Adinda. Pertimbangkan lagi untuk menampilkan wajah Adinda. Pertimbangkan beban moril bagi Adinda, bagaimana orang-orang akan memandang Adinda dengan penuh rasa kasihan..” Ayah bersikeras.
“Apa kata Daddy dan Mommy?” tanya Bunda.
“Awalnya Daddy dan Mommy menolak Prince Zuko menayangkan wajah Adinda. Tapi setelah Anton menjelaskan hasil rekaman CCTV itu tidak begitu jelas penampakan wajah Adinda yang terlihat, akhirnya mereka setuju.”
Ayah dan Bunda terdiam dan saling pandang.
“Baiklah kalau wajah Adinda tidak terlalu jelas terlihat oleh kamera CCTV, Ayah setuju.”
Bunda memegang lengan Ayah lalu mengangguk pada Agung.
“Pesan Ayah hanya satu kepada kalian semua: Lindungi Adinda.”
Agung mengangguk, “Insyaa Allah, Yah, Bun..”
Agung terlihat ragu-ragu untuk melanjutkan.
“Ada apa lagi, Kak?”
“Mmm tadi Bang Hans menerima telepon dari Pak Raditya.”
“Terus?”
“Pak Raditya akan mengajukan berkas ijin pembongkaran makam dan autopsi jenazah Papanya Adinda kepada Adinda.”
Ayah dan Bunda saling bertatapan lagi. Rematan tangan Bunda semakin keras pada lengan Ayah.
“Kakak bingung bagaimana menyampaikan ini kepada Dinda nanti. Kondisi Dinda akankah baik-baik saja setelah kita memberitahukan hal ini atau justru semakin memburuk? Kakak takut..”
“Bang Hans bilang apa pada Pak Raditya?”
“Bang Hans meminta waktu karena Adinda baru keluar dari rumah sakit siang tadi.”
“Tidur saja dulu. Sekarang sudah malam. Nanti kita bicarakan bersama lagi ya,” kata Ayah sambil melepas kacamata bacanya.
Agung mengangguk.
“Makasih Yah, Bun...” Agung beranjak menuju kamarnya.
Aung berdiri di depan pintu kamar Adinda. Memastikan Adinda sudah tertidur dengan menguping dari balik pintu.
Lalu Agung berbalik ke arah kamarnya. Berganti pakaian lalu duduk di tepi tempat tidurnya, mendawamkan surat Al Mulk dan do’a tidur.
Dia terbangun saat mendengar suara perempuan yang menangis tapi juga penuh amarah. Masih antara tersadar dan tidak dari tidurnya. Dia malah berpikir itu suara-suara yang tidak begitu jelas terdengar adalah suara Neng Kunti. Dia melirik jam weaker di atas meja tulisnya, 03.07.
“Kuntilanak?” pikirnya.
.
***
Eh, Babang Agung kok jadi meng-horor?
Ah Babang Agung ini..
👻👻👻