CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 45 - THE FAMOUS: ADISTI



Sebelum jam 7 pagi tadi, driver Mommy sudah mengirimkan baju ganti untuk Bramasta. Agung pulang sejenak ke rumahnya untuk mandi dan berganti pakaian juga membawa baju ganti untuk Adisti yang sementara masih memakai baju pasien dari rumah sakit. Setelah sarapan, Ayah dan Bunda pulang karena masih banyak yang harus ditangani untuk persiapan Hari H.


Adisti sudah bisa turun dari tempat tidur juga beraktifitas normal lainnya. Adisti menolak menghabiskan sarapannya di atas tempat tidur. Dia lebih memilih menghabiskan sarapannya di sofa U yang menghadap TV besar. Dia sudah mandi, sudah berganti baju dengan bajunya sendiri juga hijab bergo berbahan kaos yang nyaman.


“Kak,” Adisti berbisik pada Agung yang tengah memindahkan channel TV.


“Hmm..”


“Kenapa gak bawa perlengkapan make up Adek sih? Yang di tas kecil gambar Kucing Oyen..”


“Gak inget. Adek gak ngomong sih..”


“Ish, kakak mah gak peka,” Adisti memanyunkan bibirnya, “Masa ada Abang Bramasta muka Adek polosan banget, Kak.”


“Mulai…. Mulai deh ganjennya..” Agung meleletkan lidahnya pada Adisti.


“Kalian ngeributin apa sih?” Bramasta baru keluar kamar mandi. Wangi dan segar. Memakai kemeja lengan pendek formal motif kotak putih biru bercelana jogger santai.


“Tau nih si Adek mendadak jadi ganjen begini. Perasaan dulu mah gak kayak gini deh..”


“Kan Adek udah makin besar, Kak. Masa kayak anak kecil mulu..”


“Kalian ngomongin apa?” Bramasta ikut duduk di sofa U.


“Adek ngeributin tas kosmetiknya yang tidak Aa bawa, Bang. Dia mengkhawatirkan penampilannya di depan Abang.”


Bramasta tersenyum pada Adisti, “Tanpa make up aja kamu udah bikin Abang klepek-klepek kok..”


Adisti mencibir, “Mulai deh keluar gombalnya…”


“Tanyakan ke A Agung bagaimana tampang Disti saat tidak sadarkan diri sewaktu habis jatuh ke jurang,” Bramasta membela diri.


“Hmm.. bengep,” Agung menjawab singkat.


“Isssh Kakak jahat banget sih..”


“I’m telling you the truth_Aku ngomong sesuai kenyataan_,”wajah Agung terlihat datar sambil menatap TV.


“Biar bengep juga tetap bikin Abang jadi klepek-klepek kan?” Bramasta menaik turunkan alisnya.


“Jangan-jangan Abang suka ke Adek karena wajahnya yang bengep itu?” Agung menoleh cepat ke arah Bramasta.


Bramasta menunjukkan wajah kaget dan bingung tapi kemudian terbahak.


Adisti menatap Agung dan Bramasta, “Kalian berdua jahat banget sih..” tangannya secepat kilat menyambar bantal sofa di dekatnya lalu memukulkan kepada Agung dan Bramasta.


“HYAA..HYYAA…HYAAA,” Adisti berseru saat melontarkan pukulannya dengan hanya menggunakan tangan kanannya saja. Tangan kiri masih memakai gendongan.


Keduanya tidak menyangka dengan serangan kilat Adisti. Masing-masing terkena 3 pukulan bantal. Saat Adisti berhenti memukul, Agung dan Bramasta langsung memasang kuda-kuda. Bersiap menghadapi pukulan lagi. Tepat pada saat itu,


“Tuan-tuan dan Nona sedang apa?”


Bertiga mereka menoleh ke arah suara. 2 orang perawat dan seorang dokter menatap mereka dengan mulut melongo.


Adisti langsung berlindung di belakang tubuh kakaknya. Malu. Bramasta dan Agung terkekeh.


“Maaf, tadi kami berolahraga dulu sejenak..” kata Agung dengan wajah datarnya.


“Disti, sana ke bed. Visit dokter,” kata Bramasta.


“Waah ternyata betul-betul keluarga jagoan ya kalian ini.. sulit dipercaya kalau tidak melihat aksi olahraga sejenak kalian tadi,” kata Pak Dokter yang disambut kikikan para perawat.


“Nona Disti, tendangan berputarnya luar biasa sekali. Anak saya yang baru kelas 5 SD minta didaftarkan Taekwondo,” kata Pak Dokter itu lagi, “Ini sih sudah sehat nih pasiennya..”


Setelah diperiksa, dokter tadi menyodorkan dari notes resep miliknya, “Tolong tandatangani, untuk Atika, putri saya. Dia jadi penggemar berat Nona Adisti.”


“Saya juga, Nona,” kata kedua perawat itu bersamaan sambil menyerahkan buku notes kecil milik mereka berikut pulpen.


“Jangan lupa untuk Ibu Dokter Jaga kemarin sore, Disti,” Bramasta tersenyum lebar. Agung menahan tawanya.


“Dari kemarin Disti memberikan tanda tangan untuk penggemarnya.”


“Kemarin?” Agung bertanya heran.


“Buyer lukisannya meminta Adisti untuk menandatangani lukisan Adisti yang dibelinya. Di bagian belakang kanvasnya,” Bramasta memperhatikan Adisti yang sedang menandatangani buku-buku notes para perawat, “A Agung pernah lihat lukisannya berjudul Purple Veil?”


Agung mengangguk, “Lukisan sedih itu ya..”


“Jadi Nona Adisti ini pelukis? Aliran apa, Nona?” tanya Pak Dokter.


“Saya menyukai gaya impresionis, Dok.”


“Datang saja ke Lunar Gallery & Art, Dokter. Di sana ada beberapa lukisannya yang dipajang,” kata Bramasta.


“Saya akan ke sana setelah tugas saya selesai,” kata Pak Dokter sambil tersenyum.


“Nona,” kata seorang perawat, “Teman saya memberitahukan, di lobby bawah sudah banyak bunga-bunga untuk Nona. Dari para pengagum Nona. Berita kemarin betul-betul menghebohkan sekali. Simpati kepada Nona sangat luar biasa.”


Sekarang giliran Adisti, Agung dan Bramasta yang melongo mendengar perkataan perawat itu.


08.20, Anton datang mengantarkan laptop dan berkas-berkas yang harus ditandatangani oleh Bramasta.


“Luar biasa di lobi dan teras bawah,” katanya ketika sudah duduk di sofa bed.


“Kenapa?”


“Sudah jadi taman bunga. Semuanya untuk Adisti dan Bramasta. Selamat, ya, kalian jadi +62’s sweethearts_pujaan hati +62_. Gegara video tendangan memutar kemarin sekarang olahraga bela diri menjadi olahraga yang paling diminati masyarakat.”


“Wow. Apa Kakak mau membuka kelas taekwondo?” tanya Adisti pada Agung.


“Halagggh..” Agung mencibir.


Anton mengangguk, “Minta Nyonya Alwin untuk menyiapkan konferensi pers tertutup sore ini supaya berita tidak simpang siur dan melebar kemana-mana. Untuk tempat, pakai saja meeting room rumah sakit.”


Bramasta mengangguk.


“Mengapa harus tertutup?” tanya Agung.


“Ini untuk membatasi jumlah undangan karena kita memakai tempat di rumah sakit,” Bramasta menjelaskan. Anton mengangguk.


“Saya gak lama-lama di sini, Pak Bos. Saya masih harus menyiapkan peralatan mata-mata buat Indra dan Bang Leon. Tugas dari Tuan Alwin. Saya juga masih harus ke site mengecek pekerjaan di sana.”


Bramasta mengangguk, “Thanks a lot ya Ton.”


“OK semuanya, saya pamit dulu ya..” Anton menghentikan ucapannya teringat sesuatu, “Jadi, kalian di sini cuma bertiga?”


“Iya. Kenapa?” tanya Agung heran.


“Kata Pak Ustad, bila ada seorang laki-laki dan seorang perempuan berduaan, maka yang ketiganya adalah setan. Berarti lu Gung, yang jadi setannya..” Anton terkekeh. Bramasta dan Adisti merasa pipinya panas.


Agung menatap tidak percaya pada Anton, “Sial*n lu, Ton!”


“Ya udah, gue cabut dulu ya. Assalamu’alaikum.”


Semuanya menjawab salam Anton.


Bramasta menghubungi Mommy. Menceritakan perkembangan berita dan meminta diadakan konferensi pers terkait video viral. Mommy menyetujui rencana tersebut. Pagi ini Mommy dan timnya akan menyiapkan konferensi pers.


Pintu diketuk. Seorang staf Agung, dari Sanjaya Group mengantarkan laptop dan berkas untuk dipelajari. Meeting via zoom akan diadakan pukul 10 nanti. Agung harus mempelajari berkas dan memeriksa pembukuan yang ada.


Di ruangan ini hanya Agung yang memakai baju formal. Lengan panjang dimasukkan. Ikat pinggang rapi celana panjang slim fit dan sepatu. “Khawatir nanti sewaktu-waktu dipanggil ke kantor atau meeting via zoom,” jawab Agung ketika ditanya adiknya. Pilihan busananya tidak salah.


Ruangan mulai sunyi. Bramasta dan Agung tenggelam dalam pekerjaannya. Adisti merengut merasa terabaikan. Dia bergerak ke arah pintu.


“Disti mau kemana?” Bramasta memandang Adisti. Agung menghentikan pekerjaannya, menatap ke arah adiknya.


“Mau jalan-jalan sekitar lobby, Bang.”


“Gak boleh, Sayang.”


“Hmmm, udah manggil sayang, sekarang?” Agung menatap lagi layar laptopnya.


“Tau tuh..” Adisti berjalan ke pantry. Membuka kulkas di sana untuk mengambil buah.


“Kan memang Abang sayang sama Disti.”


“Geli, tau dengernya,” kata Adisti.


“Geli bagaimana?” Bramasta menyuruh Adisti untuk duduk di kursi di depannya.


“Ya geli aja. Sampai merinding..” Adisti bergidik sambil mengupas apel.


Bramasta terkekeh.


“Manggil sayangnya nanti saja. Setelah akad,” protes Agung.


“Kenapa, A?”


“Jawabannya sama dengan Adek. Geli.”


“Lah, kok Kakak ikutan geli sih?”


“Kakak geli lihat kalian jadi bucin kayak gini,” Agung mengerucutkan bibirnya, “Bucin akut.”


“Siapa yang bucin?” Adisti berdiri sambil bertolak pinggang pada Agung.


“Dia,” Agung menunjuk pada Bramasta, “Bukan Adek. Adek mah gak bucin.”


“Laaahh?” Bramasta mencibir.


“Hargailah jomblo satu-satunya di ruangan ini,” Agung berkata sambil menutupi wajahnya dengan berkas di tangannya.


“Dih, ternyata…” Adisti terkekeh, “Ternyata itu alasannya, Kak? Makanya cari calon istri dong Kak..”


Bramasta terkekeh sementara Agung cemberut menatap berkas.


“Jadilah adik yang peka terhadap kakaknya,” balas Agung.


Pintu ruangan diketuk. Pengawal yang berjaga di luar masuk sambil membawa paper bag di tangannya. Lalu menyerahkannya pada Adisti. Adisti terheran.


“Ini apa Pak?”


“Tuan Bramasta meminta driver untuk mengambilkan barang-barang Nona dari rumah,” pengawal tersebut berlalu untuk berjaga lagi di depan pintu.


Adisti membuka paper bag. Mengeluarkan barang-barang di dalamnya.


“Masyaa Allah… punya calon suami peka banget deh. Alhamdulillah…”


Bramasta terkekeh sambil memberi jari love pada Adisti.


Agung mengangkat wajahnya. Memandangi barang-barang yang dikeluarkan Adisti dari paper bag. Ada tas kecil bergambar kucing oyen yang tadi pagi diributkan adiknya. Ada buku sketsa, kuas, cat air dan perlengkapannya juga.


“Saaaayang Abang,” Adisti tersenyum lebar pada Bramasta sambil menunjukkan jari love-nya.


“Cih. Ternyata bucin dua-duanya,” Agung menenteng berkas-berkas dan laptopnya.


“Mau kemana, A?” tanya Bramasta.


“Ke sofa depan TV. Empet banget lihat kalian berdua.”


“Ciyeeeeeeee,” Bramasta dan Adisti kompak meledek Agung.