CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 70 – AKAD NIKAH : IJAB KABUL



Adisti sudah mengenakan kebaya putih akad nikahnya dari rumah. Kebaya anggun dengan bagian belakang yang memanjang tidak berlebihan. Kerudung putihnya tampak ringan melayang, bagian belakangnya membentuk lipitan besar rapi memanjang hingga betis.


Ayah dan Bunda tak henti mengucap hamdalah dan dzikir saat melihat Adisti yang begitu cantik dan anggun. Agung diam-diam menyeka sudut matanya yang tiba-tiba terasa basah menatap adiknya dalam balutan kebaya putih. Berkali-kali dia melihat adiknya yang duduk di kursi penumpang belakang bersama Ayah dan Bunda, sementara dia duduk di kursi penumpang depan dalam mobil pengantin.


“Ya Allah… kok Adek gugup begini ya. Degdegan..” Adisti meremat tangan Bunda.


“Kakak juga,” Agung merapikan jas


“Banyak dzikir dan sholawat, Dek, Kak, supaya tenang,” saran Ayah.


Iring-iringan mobil pengantin Jaguar silver dengan mobil kerabat dan tetangga melaju menuju The Cliff, Lembang. Perjalanan lancar karena ada mobil patroli pengawal yang membuka jalan di depan. Hanya di beberapa titik di Jalan Setiabudhi dan Ledeng mereka tersendat.


Mobil pengantin berhenti memasuki The Cliff tepat di depan tenda besar berwarna putih silver dengan aksen sedikit warna ungu. Sementara mobil lainnya langsung menuju tempat parkir yang sengaja disewa oleh B group, lahan di samping The Cliff.


Pihak Wedding Organizer langsung mengarahkan Adisti, Bunda dan kerabat perempuan ke ruang khusus wanita, di sana Mommy, Layla dan kerabat perempuan berdiri menyambutnya. Sementara Ayah dan Agung beserta kerabat laki-laki langsung menuju panggung akad nikah. Bramasta, Daddy, Leon, Anton, Hans dan Pak Dhani berdiri menyambut mereka.


Tidak ada kata-kata sambutan formal dari kedua belah pihak keluarga di atas panggung karena waktu yang mepet. Pemandu acara mempersilahkan Qori untuk naik ke atas panggung. Lantunan ayat suci al Qur’an dikumandangkan. Qori membacakan surat al Fatihah sebagai pembuka sesuai arti dari nama surat tersebut. Kemudian Qori membaca surat An Nisaa ayat 1 yang membahas tentang pernikahan dan kehidupan berumah tangga. Dilanjutkan dengan surat Ar Rum ayat 21 yang membahas berkah di dalam pernikahan. Dan diakhiri dengan al Baqarah ayat 285-286 sebagai penjaga dan pelindung manusia dari segala keburukan.


Adisti meneteskan air matanya mendengar bacaan Qori tersebut. Bunda menepuk-nepuk tangan Adisti, Mommy membelai punggung Adisti dan Layla menyodorkan tisu pada Adisti.


“Walau riasannya waterproof, hati-hati menyeka air matanya,” bisik Layla.


Adisti mengangguk sambil menempelkan perlahan tisu pada ujung matanya.


Usai pembacaan ayat suci beserta sari tilawahnya, MC menyerahkan acara pada penghulu. Penghulu memberikan khutbah nikah yang berisi pembekalan tentang kehidupan rumah tangga sekaligus keutamaan menikah dalam Islam. Bapak penghulunya belum terlalu tua. Tetapi dari raut wajah dan sorot matanya terlihat bijaksana dan humoris.


Sebelum ijab kabul dilakukan, Bapak Penghulu memberikan arahan kepada Ayah, Bramasta dan saksi dari kedua keluarga. Dia mencatat mas kawin yang nanti akan diberikan di buku nikah pengantin laki-laki dan perempuan.


Bramasta membisikkan sesuatu kepada Bapak Penghulu. Bapak Penghulu tercenung.


“Nak Bramasta sanggup?” tanyanya.


“Insyaa Allah, Pak,” Bramasta menjawab dengan mantap.


“Ini sebagai mahar atau sebagai hadiah di luar mahar?” tanya Bapak Penghulu lagi.


“Sebagai salah satu mahar yang akan saya berikan untuk istri saya, Pak.”


“Masyaa Allah…” Bapak Penghulu memandangi wajah Bramasta dengan kagum dan rasa hormat, “Nak Bramasta tahu makna dari memberi mahar tersebut?”


Bramasta mengangguk pasti dan tersenyum.


“Baiklah, saya catat dulu ya,” Bapak Penghulu mencatatkannya pada buku nikah.


Lalu membuat catatan kecil di secarik kertas dan diberikan kepada Ayah untuk dibaca nanti sebagai wali nikah.


Bapak Penghulu berdehem.


“Kita mulai acara inti ya. Wali nikah dari pengantin perempuan adalah ayahandanya sendiri yaitu, Bapak Gumilar.”


Ayah mengangguk, “Insyaa Allah.”


“Saksi dari pengantin perempuan adalah uwaknya, kakak kandung dari Bapak Gumilar yaitu Bapak Atep Saepuloh dan saksi dari pengantin laki-laki adalah pamannya, adik sepupu dari Bapak Sanjaya yaitu Faizan Arhan. Betul?”


Keduanya mengangguk, “Betul. Insyaa Allah.”


“Baik.. silahkan wali nikah menjabat tangan pengantin pria. Bapak Gumilar dan Nak Bramasta,” Bapak Penghulu mengarahkan.



“Bismillahirrahmaanirraahiim. Aku nikahkan engkau, ananda Bramasta Reynard Sanjaya bin Alwin Ahsanu Sanjaya dengan anak saya yang bernama Adisti Maharani binti Gumilar dengan mas kawinnya berupa seperangkat alat sholat, satu set perhiasan berlian dan ….” Ayah terjeda sejenak untuk menelan ludahnya karena lehernya terasa tercekat, “Hafalan Al Qur’an surat Ar Rahman, tunai.”


“Saya terima nikahnya dan kawinnya Adisti Maharani binti Gumilar dengan mas kawinnya tersebut, tunai,” Bramasta mengucapkannya dengan jelas tanpa terburu-buru.


“Para saksi, bagaimana?” tanya Bapak Penghulu.


“Sah!” seru para saksi dan hadirin.


“Alhamdulillahirrobbil ‘aalamiin,” kata Bapak Penghulu. Kemudian Bapak Penghulu mulai membacakan do’a akad nikah, “Barakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir_Semoga Allah memberkahi engkau, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan engkau berdua pada kebaikan.”


Bramasta dan Ayah mengusap wajahnya sambil berucap hamdalah. Bramasta mengambil tisu di atas meja. Mengusap matanya. Punggungnya berguncang. Dia menangis haru. Daddy merangkulnya dari belakang.


Ayah memandangi Bramasta dengan mata berbinar dan penuh senyum. Bapak Penghulu mengangguk-angguk dengan senyum tersungging sambil memandang Bramasta.


“Silahkan kedua mempelai dipertemukan,” kata Bapak Penghulu.


Adisti didampingi oleh Bunda dan Mommy berjalan ke atas panggung. Adisti berjalan dengan mata tertunduk, tidak berani menatap semua orang terutama Bramasta. Jantungnya berdegup kencang.


Bramasta melirik ke arahnya. Terkesima dengan penampilan Adisti. Lebih dari sekedar cantik. Lebih dari sekedar anggun. Gambaran sempurna untuk bidadari dalam benaknya. Dia sudah menemukan bidadari hatinya dan kini sudah menjadi bidadari surganya.


Seorang petugas WO memasangkan klip mikrofon pada beskap putih yang dikenakan Bramasta. Klip mikrofon sudah terpasang. Juga pada kerudung Adisti. Bramasta menegakkan tubuhnya.


“Ananda Bramasta, benar yang duduk di sebelah Ananda adalah istri Ananda? Adisti Maharani?” Bapak Penghulu tersenyum menggoda, “Coba dipandang lagi, barangkali salah orang.”


Hadirin tertawa. Bramasta memandang Adisti dengan malu-malu. Adisti tertunduk malu.


“Adistinya menunduk terus, Pak. Gak terlihat jelas,” jawab Bramasta sambil tersenyum.


Hadirin tertawa lagi.


“Ananda Adisti coba tunjukkan wajahnya pada suaminya. Jangan menunduk terus..” Bapak Penghulu kali ini menggoda Adisti.


“Nah sekarang bagaimana, Ananda Bramasta?”


“Mirip Adisti sih. Tapi kok beda. Cantik banget..”


Hadirin riuh lagi.


“Jadi sebelumnya Adisti cuma cantik biasa?” tanya Bapak Penghulu.


“Nggak.. bukan begitu.. Dia selalu cantik bagi saya. Gadis tercantik yang pernah saya lihat. Cantik paras dan hatinya, cantik budi pekertinya, dan yang paling penting sholihah,” Bramasta menjawab dengan lancar. Pipi Adisti bersemu merah. Dia semakin tertunduk malu.


“Masyaa Allah.. rupanya Ananda Bramasta memang pandai merayu..”


Hadirin tertawa lagi.


“Bukan rayuan, Pak. Tapi memang begitu adanya seorang Adisti bagi saya..”


“Waduh.. ini para wanita bisa meleleh hatinya nih… Kuatkan hati kalian wahai para wanita, ingat, Adisti Maharani itu sabuk hitam taekwondo. Video tendangan memutarnya betul-betul viral. Dan saya salah satu penggemar dadakannya,” Bapak Penghulu terkekeh.


Guyonan Bapak Penghulu mengejutkan pasangan pengantin. Wajah Bramasta dan Adisti yang tadinya tegang sekarang ikut tertawa bersama hadirin.


“Ananda Adisti, benar pria yang di sebelah Ananda adalah Bramasta Reynard Sanjaya?” tanya Bapak Penghulu.


Adisti melirik sebentar ke sampingnya. Dia melihat Bramasta tengah tersenyum padanya. Adisti kembali menunduk.


“Saya baru tahu nama tengah suami saya, Pak..” jawab Adisti.


“Loh, Ananda Bramasta tidak pernah memberitahu?” Bapak Penghulu memandang Bramasta dan Adisti bergantian dengan wajah bingung.


“Sepertinya belum sempat, Pak. Lagipula saya jarang menggunakan nama tengah saya kecuali untuk hal-hal formal seperti saat ini,” Bramasta menjelaskan sambil sesekali memandang Adisti di sebelahnya.


“Ananda Adisti kenapa gak berani menatap suaminya? Kok menunduk terus dan cuma sekedar melirik-lirik saja?” tanya Bapak Penghulu.


“Gugup, Pak. Suami saya gantengnya kebangetan. Saya jadi makin deg-degan..” jawab Adisti.


Hadirin tertawa.


“Masyaa Allah… rupanya saya sedang menghadapi pasangan bucin akut,” Bapak Penghulu terkekeh keras, “Bisa-bisa saya terkena diabetes nih sepulang dari acara ini. Kalian berdua manisnya kebangetan sih..”


Hadirin semakin riuh bahkan ada yang bertepuk tangan.


“Ya sudah, kalian tandatangani buku nikahnya.”


***


Udah sah ya... 😉


Mau ngasih kado apa buat Bramasta-Adisti?


Bunga setaman? 🤓