CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 194 – HATI YANG TIDAK BAIK-BAIK SAJA



Mereka makan siang bersama setelah rombongan Bramasta dan Layla sholat Dhuhur berjama’ah di ruang tengah juga.


Semuanya melihat Eric dengan gemas. Bocah bule memakai sarung kecil dan peci berwarna biru muda itu menirukan gerakan sholat yang siang itu diimami oleh Bramasta.


Usai makan siang, Layla meminta Leon untuk mandi karena memang aromanya sudah tidak karuan. Bahkan Eric menutup hidungnya saat berada di dekat ayahnya.


Usai makan siang, mereka berkumpul lagi di ruang tengah. Para orang tua berada di sofa sementara yang lainnya memilih lesehan di atas karpet.


“Kata tukang urutnya bagaimana, Leon?” tanya Ayah.


“3 hari lagi insyaa Allah sembuh katanya. Tapi gak boleh dipakai mengangkat yang berat-berat dulu..” Leon menjawil hidung anaknya yang sedang mewarnai dibantu Adinda dan Adisti, “Eric jangan minta gendong dulu ke Dadda ya?”


“Dada?”Adisti mengerutkan keningnya.


“Modifikasi dari Daddy, Dis..” Layla terkekeh.


“Eric memanggil Kak Layla apa?” tanya Adinda ikut penasaran.


“Momman,” jawab Layla sambil tersenyum.


“Mommy-Maman?” Adisti menyengir.


“Maman siapa?” tanya Bunda yang baru saja bergabung sambil membawa buah potong di nampan-nampan putih persegi panjang.


Semuanya terkekeh.


“Maman itu bahasa Perancis untuk Ibu, Bun..” Adisti menjelaskan.


Bunda mengangguk mengerti.


“Kok Bunda jadi teringat dengan kakek kalian ya, Abah Maman..”


Bramasta dan Adisti saling berpandangan sebelum akhirnya tergelak keras. Sementara Leon tampak melongo memandangi Bunda.


“Abah Maman.. Bang Leon memanggil ayahnya dengan Abah dan memanggil ibunya dengan Maman, Bun..” Bramasta menjelaskan sambil terkekeh.


“Jadi kakeknya Disti dan Agung itu Abah Maman?” Leon tampak termangu yang disambut tawa oleh semuanya.


“Abang kenapa gak makan siang di jalan tadi?” tanya Adisti pada Bramasta.


Indra mengerutkan keningnya.


“Are you kidding me? Makan di jalan mah yang ada ketabrak pengguna jalan lain, Dis..” Indra memandang Adisti.


Adisti hendak membalas omongan Indra tetapi terdengar suara Hans mengucap salam. Semua membalas salam Hans.


Baru saja Hans mendudukkan diri di sofa depan Daddy, terdengar suara Anton mengucap salam.


Ayah terkekeh, “Bagus deh kumpul semuanya di sini..”


“Hai Din, bagaimana? Sudah enakan?” Hans memutar tubuhnya untuk melihat Adinda.


“Alhamdulillah sudah Bang.”


“Tadi bagaimana di perjalanannya?” tanya Anton sambil mengambil garpu untuk mengambil semangka potong.


“Kak, cuci tangan dulu,” Adinda menepak punggung tangan Anton.


Anton meringis lalu memamerkan cengirannya.


“Iya..iya..” Anton bangkit dari duduknya menuju pantry.


Agung menghembuskan nafas kasar. Dia menatap Adinda yang tengah memberikan dua jempol plus senyum lebarnya kepada Anton yang baru saja mencuci tangannya. Anton terkekeh menatap Adinda.


Agung menghembuskan nafasnya dengan kasar lagi. Pandangannya merunduk. Dia iri. Iri terhadap senyuman Adinda yang diberikan pada Anton. Sementara semenjak kejadian Adinda mendorong dadanya hingga punggungnya terbentur jendela mobil, Adinda menghindari kontak mata dengan dirinya.


Agung menghembuskan nafas dengan kasar lagi. Dia iri dengan Anton yang begitu mudah berbicaran dengan Adinda. Tanpa beban sama sekali.


[Ah, andai saja gue bisa seluwes Anton..] Agung berandai-andai dalam benaknya.


“Di jalan tadi ada insiden,” cerita Adisti yang membuat mereka menoleh pada Adisti.


“Insiden apa?” Bramasta menusukkan garpu plastik pada potongan nenas.


“Adinda dapat serangan panik lagi saat mobil melewati kantor polisi.”


“Kok bisa?” Anton mengerutkan dahinya sambil menatap Adinda yang tersenyum malu.


Adisti menceritakan semuanya. Agung berdiri lalu melangkahkan kakinya ke arah pantry.


Adisti menjeda ceritanya sejenak, matanya menatap kakaknya yang berjalan menjauh.


“Kakak mau ngapain?” tanyanya.


“Rebus air bikin kopi..” sahut Agung.


Adisti memandang Adinda lalu memberi kode kepada Adinda untuk membantu kakaknya. Adinda berdiri lalu melangkahkan kaki dengan segan. Tapi dia tetap mendekati Agung juga.


“Biar saya bantu, Om,” mereka berdiri bersebelahan di dekat bak cuci piring.


“Hmm..” Indra bergumam sambil menyerahkan cerek air dari atas kompor pada Adinda untuk diisi dengan air keran.


Cerek air hampir penuh. Adinda mematikan keran. Agung mengulurkan tangannya untuk mengambil cerek dari tangan Adinda.


“Gak usah, Om. Biar saya yang meletakkannya di atas kompor. Nanti tangan kita bersentuhan lagi. Belum mahrom. Bisa-bisa nanti Om cedera lagi oleh saya,” Adinda berkata dengan pandangan pada kompor.


Agung mundur selangkah. Memberi ruang bagi Adinda agar bisa meletakkan cerek air di atas kompor. Lalu menyalakan kompornya.


Kedua tangan Agung dimasukkan ke dalam saku celananya. Hatinya mencelos mendengar kalimat Adinda.


“Dinda..” Agung berbisik di samping Adinda.


Tatapan mata mereka terpaku pada nyala api kompor.



“Ya?” Adinda memilin jemarinya.


“Saya...” Agung berhenti sejenak, memikirkan kalimatnya, “Ma’af.”


Adinda menggeleng.


“Saya yang harus meminta ma’af pada Om Agung. Atas sifat kekanakan saya, kebaperan saya, ketakutan saya dan kecemasan saya sehingga saya harus berkali-kali menyusahkan Om Agung dan menempatkan Om Agung dalam situasi sulit.”


Agung menoleh pada Adinda. Perbedaan tinggi tubuh membuatnya tidak bisa melihat wajah Adinda dengan jelas. Yang jelas, hati Agung semakin terpilin mendengar kalimat panjang dari Adinda. Rasa bersalah menempati porsi yang besar di hatinya.


“Dinda.. tolong.. jangan bicara seperti itu.”


Adinda mengangkat kedua bahunya.


“Semua yang tadi Om ucapkan di mobil memang benar adanya kok Om,” Adinda mendongak menatap api yang menyala biru.


“Ma’afkan saya sudah membuat kamu terluka dengan ucapan saya,” Agung menoleh lagi pada Adinda.


Adinda tersenyum getir.


“Saya yang salah kok Om.”


Suara Bunda membuyarkan kecanggungan di antara mereka. Mereka berdua terlonjak kaget hingga mundur selangkah dari depan kompor.


“Kak, Din?!” Panggil Bunda, “Kalian ngapain di depan kompor? Baru kali ini Bunda melihat orang masak air sambil ditungguin hingga mendidih. Takut gosong?”


Semua tergelak. Gank Kuping Merah berciyee-ciyee.


“Sini Din..” Layla menepuk tempat kosong di sebelahnya.


Eric sudah tertidur dan dipindahkan ke kamar depan oleh Bramasta.


Adinda mengangguk pada Layla lalu tersenyum lebar. Meninggalkan Agung di pantry yang menatapnya dengan hati yang tidak karuan. Dia merasa separuh hatinya pergi saat Adinda meninggalkan pantry.


Meninggalkan rasa yang tidak enak di dadanya. Agung mengusap dada kirinya yang berdebar keras. Agung melangkahkan kaki ke ruang tengah dengan ragu-ragu.


“Bro, gue punya akses dengan tempat mereka ditahan. Lu mau gue kasih pelajaran buat mereka? Gue gak terima Adinda sampai setrauma itu karena perbuatan mereka,” Hans duduk di sebelah Agung.


Agung memandang Adinda yang duduk berkelompok dengan Layla dan Adisti di karpet bundar di dekat pintu kamar depan. Kebetulan Adinda sedang memandang ke arahnya juga. Saat Agung hendak tersenyum, Adinda sudah mengalihkan pandangannya lagi.


[Serumit inikah jatuh cinta?] Agung menghela nafas kasar lagi yang kesekian kalinya.


Semuanya menatap Agung menunggu jawabannya. Agung menggeleng, lalu memandang Adinda lagi.


“Gue sudah baca laporan kondisi mereka pasca kejadian di lounge hotel X. Si Ibu Tiri mendapat memar tulang iga di tiga tempat dan leher belakang sementara lelaki itu menderita patah tulang di tangan kanannya. Gue rasa itu sudah sepadan untuk saat ini. Tinggal kita awasi saja proses persidangannya nanti.”


Semuanya setuju dengan perkataan Agung.


Agung menatap Hans dan Anton bergantian.


“Kalian sudah makan belum?”


Keduanya mengangguk.


“Kalian sengaja ke sini untuk melihat kondisi gue dan Adinda?” tanya Agung lagi.


Hans dan Anton saling pandang kemudian terkekeh.


“Nggaklah. Kita kan lagi kerja..” Hans menunjuk pada berkas yang ia bawa untuk ditandatangani Daddy, sementara Anton menunjuk pada laptop yang terbuka yang tengah dibaca oleh Bramasta dan Indra.


“Kok gue berasa jadi pengangguran ya? Gue besok ngantor aja ya?” Agung menatap Hans.


Hans memberikan cengirannya yang membuat wajahnya semakin tampan dibalik wajahnya yang dingin itu.


“No way.. Babeh udah nyuruh, Lu stay di rumah 3 hari. WFH, Gung. Baru Lu boleh masuk kantor.”


Agung mencebik. Menatap Adinda dari kejauhan yang sedang tertawa bersama Layla dan Adisti. Memperlihatkan dekik kecil di bawah matanya pada Agung. Hatinya tidak baik-baik saja. Rasa bersalahnya semakin membuatnya gelisah, galau dan merana sekaligus.


.


***


Babang Agung sedang gegana, gelisah galau dan merana. Sementara Adinda sedang berpura-pura ceria. Ah, kalian berdua ini... Dunia mereka sedang jungkir balik saat ini.


Bantu Author untuk promosikan novel ini ya Readers..🙏🏼