
WAG KUPING MERAH
Bramasta_ Assalamu’alaikum, Good Morning Guys. Bagaimana semalam? Bisa tidur semua kan?_
Hans_Wa’alaikumussalam. Morning too.. Semalam gue yakin jadi malam terberat untuk kita semua. Pasca menyaksikan bagaimana dua orang bejat memperlakukan gadis belia dengan brutal. Ambil hikmahnya Guys, selalu perlakukan wanita kita dengan baik. Baik fisik maupun non fisiknya_
Leon_Meskipun mereka pekerja *3** komersial, tidak selayaknya mereka diperlakukan seperti itu_
Indra_Kok gue jadi kepikiran perempuan-perempuan muda pesanan Bryan di The Ritz ya? Apakah mereka baik-baik saja?”
Anton_Memangnya database transaksinya belum ditemukan, Bang Hans?_
Hans_Nanti gue tanyakan lagi kepada orang gue di sana_
Bramasta_Kalau sekiranya mereka susah untuk membuka database-nya, susupkan saja orang The Shadow di sana, Hans_
Hans_Nanti akan gue pikirkan lagi. That’s not easy, Bram...(Emot Mata Pusing)_
Bramasta_Tekan Rita Gunaldi. Interogasi lagi khusus menanyakan tentang Bryan Amsel dan para perempuan pesanannya_
Hans_Nanti gue bicarakan lagi dengan Pak Raditya_
Indra_Pak Raditya ini orangnya Lu, Hans?_
Hans_Bukan, tapi gue ingin merekrutnya menjadi orangnya gue. Dia bersih dan kinerjanya luar biasa_
Bramasta_Just becareful, Bro..._
Hans_Sure.._
Leon_Ton, Lu semalam bagaimana?_
Indra_ Alhamdulillah.. Walau gue dan Anton jomblo, tapi kami bisa saling menghibur diri.._
Leon_Kok terdengar menyedihkan, Ndra?_
Semua memberi emot tawa.
Anton_Nggak Bang. Kami berdua hepi semalam. Malam bujangan.._
Hans_Kalian gak ngelayap kan semalam?_
Anton_Su’udzhon nih Bang Hans. Semalam mengobrol sebentar di balkon terus tidur nyenyak. Teh lavender yang diberi Tante Dhani efektif banget untuk mengatasi insomnia gue.”
Agung_Tidur lu nyenyak, Ton?_
Anton_Alhamdulillah Bang. Baru kali ini setelah bertahun-tahun tidurnya gak pernah benar, baru kali ini gue merasakan deep sleep dengan badan terasa segar_
Agung_Lu sejak kapan insomnia, Ton?_
Anton_Gue lupa. Tapi seperti sejak tahun pertama kuliah_
Bramasta_Awal masa-masa berat Lu ya Ton_
Anton_Iya Bang_
Indra_Semalam gue dan Babeh menghubungi Lothar. Dia sangat berharap pada Prince Zuko untuk dapat menyiarkan kebejatan Helena dan Bryan. Supaya publik Jerman mengetahuinya_
Hans_Terus Lu bilang apa?_
Anton_Tadinya Bang Indra sudah menyusun skenario, Agung seolah-olah membuat kode di CCTV publik kepada Prince Zuko..._
Agung_Dih rumit amat.._
Indra_Untungnya Anton mengingatkan, alasan itu untuk dipublikasi atau hanya untuk Lothar saja (emot tawa)_
Hans_Cara berpikir Lu kadang kejauhan, Ndra.. (emot ngakak)_
Leon_Terus akhirnya Lu bilang apa ke Lothar?_
Indra_Gue bilang, gue punya beberapa kenalan yang berprofesi di dumay sebagai anonymous. Mungkin dengan bantuan mereka rekaman itu bisa disampaikan ke Prince Zuko_
Bramasta_Nah, kayak gitukan lebih simpel dan masuk akal.. (emot ngakak)_
Indra_Iya..iya.. gue akui kadang gue lebay. Untung semalam Anton tidur bareng gue. Dia beberapa kali mengigau sih, tapi tetap tertidur_
Leon_Si Bungsu ini memang harus lebih kita jaga (emot senyum dan es boba)_
Anton_Siiip Bang. Hatur nuhun. Nanti siang gue tunggu es bobanya ya..(emot ngakak)_
Leon_Woiyyy gue gak janjiin es boba_
Perang stiker pagi itu dimulai.
Agung_Sisipkan tentang pemasok perempuan pesanannya Bryan Amsel via The Ritz. Pancing dengan “Apa kabarnya mereka pasca di-booking Bryan Amsel?” Supaya publik mendesak penyelidikan menyeluruh terhadap kiprah dunia hitamnya The Ritz_
Bramasta_Nice idea. Let’s we do it_
Hans_Mau dimana tampilnya? Di Landmark atau markas?_
Bramasta_Gue gak mau Disti melihat adegan yang brutal itu_
Hans_OK. Insyaa Allah kita ketemu di markas ya ba’da Maghrib. Hana minta ditemani dulu_
Indra_Ciyeeee. Mbak Hananya atau Lu nya Hans? (emot ngakak 3x)_
Semua menanggapi chat Indra dengan emot ngakak.
Agung_Antarkan saja Mbak Hana dan baby Andra ke rumah Ayah, Bang. Supaya gak bete. Kita kan gak tahu sampai jam berapa kelarnya_
Hans_Great! Nanti gue hubungi Hana_
Bramasta_Ya sudah, nanti gue juga antarkan Disti ke rumah Ayah juga. Dia gak suka sendirian di apartemen_
***
MARKAS SHADOW TEAM
20.00
Semua sudah berkumpul. Bahkan Daddy, Pak Dhani dan Ayah pun ikut bergabung di ruang rapat. Saat black mode ruangan dinyalakan oleh Hans, mereka terperangah.
Mereka masih dalam proses editing video. Bagaimana menyatukan semua bagian dalam satu video tetapi untuk setiap pergantian potongan videonya terlihat smooth.
Untuk tayangan adegan CCTV nightclub, mereka juga memburamkan wajah para para gadis belia itu juga aurat yang tampak.
Prince Zuko akan berbicara dalam bahasa Inggris seperti biasa. Auto text Indonesia dan Jerman akan muncul di bawahnya pada bagian yang berwarna hitam. Teks berbahasa Indonesia berwarna putih sedangkan teks berbahasa Jerman berwarna kuning.
Ketika Hans sudah siap dengan headset bermikrofonnya, Anton mulai menghitung mundur dimulai dari tiga. Layar monitor menampakkan wajah Prince Zuko dengan baju kerajaannya.
Hans seperti biasa lancar membawakannya. Berbicara tanpa aksen akan membuat susah mengenali darimana Prince Zuko berasal. Sesekali dia menjeda kalimatnya untuk tayangan potongan video.
Dengan halus, Prince Zuko mengggiring opini publik. Orang yang menyamai kemampuan public speech seperti Hans adalah Indra.
Semua potongan video dan laporan otopsi juga potongan-potongan berita lokal dari Jerman belasan tahun yang lalu dan dari Filipina beberapa tahun yang lalu sudah ditampilkan.
The Ritz juga disebut sebagai penyedia perempuan muda yang biasa dibooking oleh Bryan Amsel selama bertugas di Indonesia. Keprihatinan dan kekhawatiran akan keadaan mereka pasca dibooking Prince Zuko diutarakan secara gamblang.
Video diakhiri dengan pertanyaan seperti biasa: “Kepada Publik dan Netizen Jerman, silahkan menanggapi. Adilkah bila Helena Schidt dan Bryan Amsel dibiarkan tidak tersentuh hukum?”
Lalu Prince Zuko mengedarkan tatapannya kepada sekelilingnya, “Dan kepada Publik dan Netizen Indonesia, relakah kalian kasus The Ritz yang melibatkan pejabat instansi penting dibiarkan berlarut-larut?”
“Saya, Prince Zuko dari Negara Api, datang dengan damai. Untuk menerangi yang gelap, menjelaskan yang temaram. Agar semuanya menjadi jelas, benar dan salah, hitam dan putih. Apabila situs kami di-takedown, saya mohon, teruskan perjuangan saya. Prince Zuko, salam!”
Anton meng-klik tombol mouse lalu berseru, “...and cut!”
“Prince Zuko tadi live?” tanya Ayah setelah sekian lama menahan diri untuk bertanya.
“Iya Yah. Kita live di Burung Biru,” Bramasta mengangguk.
“Gak hack TV lagi?” Daddy mengambil potongan cake buatan Adinda yang tadi dibawa oleh Ayah saat diajak oleh Hans ikut ke markas saat mengantarkan istri dan anaknya menunggu di rumah Ayah.
“Tidak perlu membajak TV, sebentar lagi juga video Prince Zuko ditayangkan di TV sebagai breaking news,” Leon terkekeh.
“Bang, non aktifkan mode black,” Anton menatap Hans, “Supaya kita bisa pantau aktivitas penyerang dari sini.”
Hans mengangguk. Suara gemeretak es terdengar lagi. Ruangan berangsur terang. Dan kaca yang mengelilingi ruangan menjadi kaca biasa yang bisa melihat ruangan di sekitarnya.
“Tiga..lima.. wah tujuh!” Bramasta menghitung berapa monitor yang menyala merah, “Wah.. 7 hacker berusaha melacak dan menyusup Prince Zuko..”
“Kita aman?” Pak Dhani terdengar cemas.
“Insyaa Allah aman, Beh..” jawab Agung sambil mengangguk yakin.
“Don’t worry, kita punya banyak hacker handal,” Indra tersenyum lebar.
“OK.. kita cek masing-masing akun Burung Biru kita..” suara Bramasta membuat masing-masing dari mereka memeriksa gawainya.
Prince Zuko menjadi top trending di media sosial Burung Biru.
.
***
Kita lihat besok ya bagaimana tanggapan publik dan netizen terkait kabar yang dibawakan oleh Prince Zuko.