
Suara musik mengalun pelan dari audio sistem yang terbaik. Suara Celine Dion yang jernih mengalun apik dan tidak mengganggu percakapan para tamu.
Manajer resto mengarahkan mereka ke ruangan tempat Hans dan Raditya berada.
Di depan pintu geser, manajer itu berhenti. Dia mengetuk pintu. Setelah mendengar jawaban dari orang yang berada di dalam, baru dia membuka pintu.
Mengangguk hormat pada tamu yang berada di dalamnya.
“Ada Tuan Bramasta beserta Istri juga Tuan Indra di luar.”
Hans mengangguk.
“Suruh mereka masuk.”
Manajer itu undur diri lalu mempersilahkan mereka untuk masuk.
Indra masuk lebih dahulu sambil mengucap salam. Bramasta masih membantu Adisti merapikan hijabnya yang tersangkut dengan tas slempangnya.
Bramasta dan Adisti memasuki ruangan sambil tertawa karena kekonyolan tali tas yang tersangkut hijab.
“Assalamu’alaikum..” Bramasta dan Adisti bersamaan mengucap salam. Bramasta menyalami hans dan Raditya.
“Kalian berdua kenapa?” tanya Hans setelah menjawab salam.
“Tali tasnya iseng banget..” Bramasta menjawab sambil terkekeh.
Hans dan Raditya menatap mereka dengan alis terangkat sebelah, penuh tanya.
Adisti mengibaskan tangannya.
“Percuma.. diceritain juga kalian gak bakalan ngerti. Lucunya malah jadi hilang..”
Bramasta menarik kursi untuk Adisti duduki.
“Makasih Pak Suami..”
“Ingat.. gak usah bucin-bucinan. Ada jomblo di sini..” Indra mencibir kepada mereka berdua.
Hans dan Raditya terkekeh.
Bramasta menatap Raditya.
“Pak Radit, congrats ya atas kenaikan pangkat dan jabatan baru Bapak..”
Raditya menggeleng. Wajahnya mendadak sendu.
“Saya.. saya tidak tahu. Saya tidak merasa senang dengan ini semua. Semuanya terasa hampa bagi saya..”
Indra yang duduk di samping Raditya menepuk pundaknya.
“Di saat saya sudah bisa menerima kepergian istri saya yang begitu mendadak, tiba-tiba sekarang seperti harus dipaksa untuk merasa kehilangan lagi setelah mengetahui penyebab meninggalnya istri saya.”
“Semua pencapaian yang saya raih, buat apa? Dengan siapa saya bisa berbagi semuanya? Istri yang mendampingi saya sejak masih nol, sudah tidak ada. Kedua orangtua saya juga sudah tidak ada. Anak? Saya belum punya..” Raditya menunduk, beberapa kali terlihat menghela nafas.
Mata Adisti ikut berembun melihat Raditya.
“Disaat kita bimbang saat sedang melakukan sesuatu, mau terus, rehat atau berhenti,” Bramasta jeda sejenak untuk menatap Raditya, "Kita kembali lagi kepada niat awal kita saat akan memulai pekerjaan tersebut. Apa niat awal Pak Raditya saat memutuskan untuk bergabung sebagai abdi negara?”
Raditya menatap Hans. Hans balas menatap Raditya. Menunggu pria gagah berseragam perwira tinggi itu untuk menjawab pertanyaan dari Bramasta.
Ingatan Raditya kembali pada saat dia memutuskan untuk mendaftar sekolah tinggi khusus untuk menjadi abdi negara. Saat meminta do’a restu kepada bapak dan ibunya.
Raditya tersenyum dengan mata menerawang.
“Dulu, saat memutuskan mendaftar ujian masuk sekolah tinggi khusus abdi negara dibandingkan ikut ujian masuk perguruan tinggi negeri, keinginan saya hanya ingin membuat bangga Bapak dan Ibu saya. Bisa mengangkat derajat keluarga.”
Air mata Adisti meluncur di pipinya. Dia mengelapnya dengan hati-hati tanpa sepengetahuan yang lainnya.
“Kemudian berkembang menjadi cita-cita idealis. Saya bisa masuk ke sekolah tersebut hingga lulus dengan nilai yang bagus tanpa bantuan orang dalam apalagi dengan uang pelicin puluhan ataupun ratusan juta. Bapak dan ibu saya bukan orang mampu,” Raditya berhenti untuk meminum air mineral botol yang disediakan di atas meja ruang VVIP.
“Cita-cita idealis bagaimana?” Indra menggeser duduknya hingga miring menghadap pinggir Raditya.
“Karena saya sadar betul saya bukan berasal dari kalangan orang mampu dan tahu betul bagaimana kedudukan kaum kami di mata hukum.. saya ingin menjadi aparat yang adil, tegas dan tak terbeli. Aparat yang memihak pada orang yang benar meskipun dia orang tak mampu. Aparat yang tidak takut menghadapi tirani dari kaum borjuis yang sering bertindak seenaknya.”
“Itu dia!” Hans menepuk meja, “Itu yang bisa Anda lakukan sekarang ini, Pak Raditya.”
“Mereka semua sudah gak ada..” suara Raditya pelan.
“Ada kalimat bijak yang pernah dikatakan Ayah, maksud saya Pak Gumilar saat berbicara dengan Adinda. Kita semua tahu betul bagaimana kondisi Adinda saat itu. Saya masih ingat betul kalimatnya,” Indra berhenti sejenak,menatap buku menu di tempatnya, “Belajarlah ikhlas untuk menerima keadaan tanpa harus membenci kenyataan. Karena Allah akan gantikan semuanya dengan yang lebih baik.”
Air mata Raditya menetes begitu saja. Dia sendiri kaget saat air matanya jatuh di atas tangannya. Dengan gugup mengambil tisu di atas meja.
“Ma’af. Entah kenapa tiba-tiba saya kok jadi melow seperti ini..”
Raditya menunduk malu.
“Jangan merasa sungkan dengan kami, Pak Radit. Menangislah di kala kita merasa lelah secara emosi dan jiwa kita. Kata orang bijak, menangis bisa membasuh luka. Air mata bisa menyembuhkan luka. Itulah sebabnya, ada rasa lega dan plong setelah kita menangis,” Hans tersenyum pada Raditya.
Bramasta menoleh pada istrinya yang tengah menyusut hidungnya.
“Buk Istri kenapa?” Bramasta mengambilkan tisu untuk istrinya.
“Kantong air matanya bocor sejak tadi, Bram,” lapor Indra.
“Ma’af ya.. saya merusak suasana makan siang kita..” Raditya merasa tidak enak hati.
“Makan siang apa. Kita belum pesan apa-apa kok..” Indra terkekeh.
“Tapi benar apa yang dikatakan Tuan Hans. Rasanya memang terasa plong dan melegakan setelah menangis. Terimakasih kepada kalian semua yang sudah me-recharge jiwa saya.”
“Karena orang baik pasti bertemu dengan orang baik juga,” Adisti berkata setelah menyusut lagi hidungnya, “Itulah yang Disti rasakan saat baru pertama kali mengenal kalian, masuk ke dalam cicle kalian.”
Bramasta menaikkan kedua alisnya.
“Disti gak pernah cerita.”
“Disti dan Kakak bukan berasal dari kalangan kalian secara sosial ekonomi tapi kalian tidak pernah memandang itu. Bukan karena Abang Bram yang sedang fall in love dengan Disti tapi karena pembawaan kalian memang seperti itu.”
Adisti memandang semuanya.
“Bahkan bagaimana kalian memperlakukan Hyung Anton dengan hangat seperti adik bungsu kalian. Padahal dia sendiri dibuang oleh keluarganya karena perbedaan keyakinan.”
“Dari situlah Disti merasa, Allah memberi karunia yang luar biasa setelah berbagai ujian yang datang silih berganti yang dialami Disti dan keluarga. Betul-betul Allah mengantikan apa yang hilang dengan yang jauh lebih baik.”
Bramasta meraih bahu istrinya. Memeluknya hangat.
“Stop..Stop! Gak usah dilanjutin Bram!” Indra berdiri menghalangi Bramasta.
“Hisssh! Lu, Ndra. Ganggu suasana yang menyentuh hati!” Bramasta memukul tangan Indra.
Semuanya tertawa melihat kelakuan mereka.
“Masyaa Allah.. beruntung banget saya bisa mengenal kalian semua..” Raditya tertawa lepas.
“OK.. Kita pesan sekarang ya..” Indra membagikan buku menu, “Kallian mau pesan apa?”
“SOTO MIE BOGOR,” Bramasta, Adisti dan Indra kompak menjawab.
“Eh?” Hans dan Raditya saling berpandangan dan berakhir dengan kekehan lagi.
“B Group kompak banget ya hari ini?” Hans menggelengkan kepala tidak percaya, “Pak Radit mau pesan apa?”
“Samakan saja dengan mereka.Supaya kokinya gak ribet..”
Hans tertawa mendengar alasan Raditya.
“Loh, kalau pesanan sama artinya makanan lebih cepat diantarkan kan?” Raditya memberi alasan lagi.
“Betul Hans. Dah, Lu juga samain dengan kita. Udah lapar nih..” Bramasta menoleh pada Indra.
Hans memencet bel untuk memanggil waitress sambil tertawa.
.
***
Mereka nyadar gak ya, menu makan siangnya sama dengan menu yang dipilih Agung?
🤓😁