CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 32 - B GROUP



Adisti mengagumi ruangan kerja Bramasta. Abu-abu, krem dan sedikit silver. Di belakang kursi Bramasta terdapat logo B Group yang berwarna coklat kemerahan dengan huruf B besar berwarna silver chrome. Simple, kuat dan tegas, itu yang Adisti baca dari logo B Group.


“Disti mau minum apa?”


“Es campur ada?” Adisti tersenyum jahil. Dia duduk di sofa kulit berwarna coklat kemerahan sambil menyentuh daun sansievera yang tumbuh subur di atas meja kaca.


“Eh?” Bramasta yang tadi melirik berkas yang bertumpuk di mejanya melirik cepat pada Disti.


“Hehehe… becanda, Bang..”


“Kirain beneran. Coffee latte mau?” Adisti mengangguk.


“Apa saja, pilihan Abang kayaknya Disti suka.”


“So sweet banget sih Disti..”


“Kan kita seringnya satu frekuensi, Bang.”


Bramasta terkekeh. Lalu menghubungi pantry melalui interkom, “Tolong kopi untuk saya dan satu coffee latte, ya.”


Bramasta membaca berkas dan mempelajarinya. Memisahkan berkas-berkas itu dengan yang sudah ditandatangani. Adisti tidak berani mengganggu. Dia memperhatikan wajah Bramasta dari tempat duduknya. Wajah seriusnya, bagaimana dia meletakkan telunjuk di cuping hidungnya dengan alis mata yang hampir saling tertaut, gerakan tangannya saat membalikkan kertas.


Bramasta merasa diperhatikan. Menatap Adisti. Adisti membuang pandangan.


“Kenapa lihatin Abang terus?” Bramasta tersenyum, “Ganteng ya?”


“Terus Disti harus bagaimana? Abang sibuk dengan berkas-berkas sementara Disti di sini tidak melakukan apapun.”


“Hmmm..”


“Apa hmm?”


Bramasta tersenyum sambil membaca berkas lagi.


“Jangan hammm hemmm hammm hemmm mulu, Bang. Nanti malah Disti acak-acak meja Abang nih..”


“Jadi Disti pengen ngacak-ngacak meja Abang?” Bramasta menatap Adisti, “Jangan sekarang ya. Minggu depan aja ngacak-ngacak meja Abangnya.”


Adisti melongo dengan kalimat Bramasta. Bramasta juga kaget sendiri dengan kalimatnya barusan.


[Ya ampun.. si Abang, ngomong apa sih?]_Adisti.


[O.M.G. gue tadi kok bisa ngomong kayak gitu sih?]_Bramasta.


Suara ketukan pintu membuyarkan kecanggungan di antara mereka. Office boy mengantarkan minuman untuk mereka.


Mereka menikmati minuman dalam diam, tidak berani untuk bersuara lagi. Tidak berani untuk saling bersitatap lagi. Wajah mereka berdua bersemu merah.


Suara ketukan pintu dan Indra melangkah masuk. Memandang ganjil kepada mereka berdua sambil bertolak pingang.


“Kalian kenapa? Marahan?”


“Nggak,” keduanya kompak menjawab.


“Kok nggak saling bicara?”


“Lagi minum kopi,” masih kompak menjawab.


“Buset dah, kompak banget kalian.”


Indra membalikkan tubuhnya menghadap Bramasta, “Mau ikut opening meetingnya gak? Nanti selebihnya gue handle. Hadir bentar aja ya, supaya anak-anak semangat.”


Bramasta mengangguk, “Disti tidak apa-apa ditinggal sebentar?”


Adisti mengangguk.


Sepeninggal Bramasta, untuk mengusir sepi, Adisti mengeluarkan buku sketsanya. Dia mengguratkan garis-garis halus sambil berusaha mengingat detilnya.


Gambar sketsanya masih belum sempurna, baru 60%, tetapi kelopak matanya terasa berat tak tertahankan. Adisti tertidur dengan memeluk buku sketsanya. Pensilnya jatuh menggelinding ke lantai.


DI ruang meeting, setelah opening dilakukan oleh Bramasta, salah seorang pegawainya melakukan presentasi laporan bulanan. Bramasta tidak begitu memperhatikan isi pembicaraannya, pikirannya tertuju pada Adisti yang ia tinggalkan seorang diri di ruangannya.


Iseng, ia membuka gawainya. Ditekannya aplikasi yang menghubungkan gawainya dengan CCTV di ruangannya. Mengamati Adisti dari ruang meeting melalui gawainya.


Indra melirik Bramasta lalu terkekeh pelan sambil menutupi mulutnya dengan berkas yang ada di tangannya. Bramasta tersenyum memandangi layar gawainya. Adisti tengah menggambar dengan pensil pada buku sketsanya. Entah apa yang digambarnya. Terlihat Adisti menguap beberapa kali hingga akhirnya tertidur. Melihatnya tertidur, Bramasta jadi teringat saat menunggui Adisti di UGD sebelum Agung datang.


Bramasta melirik arlojinya. Dia berbisik pada Indra, “Gue cabut dulu ya,” Indra mengangguk.


Bramasta menginterupsi sejenak, “Maaf, karena ada urusan mendesak saya harus meninggalkan meeting ini. Untuk selanjutnya saya diwakili oleh Pak Indra ya. Assalamu’alaikum,” Bramasta meninggalkan ruangan.


Bramasta memasuki ruangannya dengan hati-hati agar Adisti tidak terbangun. Diambilnya pensil yang menggelinding di lantai lalu dimasukkan ke dompet tempat pensil yang ada di meja. Sambil berlutut di samping Adisti, ia mengambil perlahan buku sketsa dari pelukan Adisti untuk memenuhi rasa keingintahuannya dengan apa yang digambar oleh Adisti. Bramasta terperangah. Sketsa wajah dirinya yang belum selesai. Tapi walaupun begitu, gambar tersebut sudah mewakili wajah dirinya.


Tubuh Adisti bergerak mencari posisi nyaman, tubuhnya miring menghadap Bramasta. Bramasta tertegun. Wajahnya berjarak sangat dekat dengan wajah Adisti. Mata Adisti mengerjap, merasa ada orang lain yang memperhatikannya, membuka perlahan.


Matanya beradu pandang dengan mata Bramasta. Keduanya merasa déjà vu. Kejadian saat di dahan pohon di tengah jurang. Tangan Adisti menyentuh tepi wajah Bramasta. “Malaikat…” kata Adisti pelan. Bramasta merasakan seperti tersetrum. Dia memegang tangan Adisti. Menahannya di udara agar tidak menyentuh wajahnya lagi. Tangan Adisti terasa dingin saat disentuhnya. Tetapi lembut dan wangi kulitnya. Kulit Bramasta meremang hingga ke kulit kepalanya.


“Astaghfirullah,” Bramasta melepas tangan Adisti.


“Maaf,” kata Bramasta sambil mengernyit nyeri memegangi keningnya.


“Gak, Bang.. Disti yang salah. Maaf..” sudut mata Adisti tampak tergenang air mata. Sakit, benar-benar sakit.


“Eh, sakit banget ya? Mau dikompres? Coba Abang lihat, mimisan gak?” tangan Bramasta menyingkirkan tangan Adisti yang memegangi hidungnya. “Nggak kok, nggak mimisan,” dagu Adisti didengakkan, “Cuma merah aja di tengah hidungnya,” Bramasta mengelus-elus tengah hidung Adisti. Adisti merinding.


“Bang!” Adisti memukul lengan Bramasta, “Jangan pegang-pegang muka Disti napah? Entar setannya makin banyak loh yang ngerubungi kita.”


“Eh iya. Maaf. Disti, beneran deh Abang gak maksud modusin Disti..” Bramasta tampak serba salah.


“Iya, Disti juga tahu, Bang.”


“Maaf ya..”


“Disti juga minta maaf, galakin Abang Bramasta,” Adisti meringis malu, “Tadi reflek mukul lengan Abang. Maaf ya. Sakit gak?”


“Nggak..nggak apa-apa. Abang ngerti kok. Nggak sakit juga.”


“Mau dibikin sakit? Sini, Disti tambahin lagi.”


“Hey…” Bramasta menyentil ujung hidung Adisti.


“Ih, Abang!” Adisti memegangi hidungnya lagi.


Bramasta terkekeh lalu berdiri menjauhi Adisti. Dia menekan panel kayu di samping meja kerjanya. Panel kayu bergeser. Bramasta memasuki ruangan di dalamnya. Ada 2 pintu di dalamnya. Dia mengambil pintu yang ada di depannya. Toilet dengan kamar mandi lengkap di dalamnya. Membasuh wajahnya dengan air kran. Menatap pantulan wajahnya di cermin sambil menggelengkan kepala. [Tadi….. nyaris!]


Bramasta bergegas keluar. Mengambil air mineral dalam kemasan botol kecil di laci meja tempat tanaman pakis yang hijau subur. Membaca basmalah sebelum menenggak habis isinya, lalu menghampiri Adisti sambil memberikan air mineral kemasan lainnya.


Adisti membuka botolnya dengan tangan kanan memutar tutup dan tangan kiri yang digendong memegang botolnya. Membaca basmalah dengan perlahan lalu menenggak habis juga isi botolnya.


“Eh, maksud Abang itu buat ngompres hidung Disti..” kata Bramasta sambil mengambil botol air kemasan lagi.


“Memang Abang pikir, cuma Abang yang merasa kehausan setelah kejadian tadi?” Adisti menerima botol lalu ditempelkan pada hidungnya.


“Hehehe… maaf..”


“Dimaafin Bang.. dimaafin.. Disti mah gitu orangnya.”


Bramasta terkekeh, “Memangnya Disti bagaimana orangnya?”


“Ya gitu deh, gampang maafin orang.”


“Bisa gak sih, ngomongnya gak usah imut begitu? Abang kan jadi gremet banget lihatnya.”


“Gremet bagaimana? Adisti mah memang sudah imut sejak orok, Bang. Udah settingan dari sananya..”


“Abang kok jadi pengen ijab kabul sekarang juga ya?” Bramasta terkekeh geli.


“Ya ampun Abang… gremet sampai segitunya..”


“Ngomongin ijab kabul, Disti ingin minta mahar apa dari Abang?”


“Disti tidak ingin mempersulit Abang, yang sekiranya Abang mampu saja.”


“Spesifikasinya bisa diperjelas?”


“Jangan sampai karena ingin memberi mahar yang wah nilainya, malah membuat Abang kesusahan dikemudian hari. Disti tahu Abang orang yang lebih dalam harta, untuk hal mahar, Disti tidak ingin sesuatu yang berlebihan. Disti orangnya simple kok. Dan ingin selamanya jadi orang yang simple, menjadi diri sendiri. Menikah dengan Abang semoga tidak membuat Disti berubah menjadi materialistis ataupun menjadi orang yang arogan. Tolong ingatkan Disti bila Disti berubah menjadi seperti itu, Bang.”


Bramasta menatap Adisti lekat. “You are my precious_Kamu sangat berharga bagiku_. I want you more as my wife_Aku jadi sangat menginginkanmu sebagai istriku_.”


“So sweet banget sih Abang Bramasta, Si Babang Gantengnya Disti..” Disti menunjukkan jari love kepada Bramasta.


“Andai boleh mengunyel-unyel pipi Disti…”


“Belum boleh, Bang..” Adisti memegangi pipinya dengan sebelah tangannya yang bebas.


“Iya, ini kan Abang bilang andai..”


Adisti terkekeh.


Bramasta melirik arlojinya, “Kita berangkat yuk. Takut terlambat.”


Adisti mengangguk.


“Jadi memang benar kan, saat laki-laki dan perempuan berduaan, maka yang ketiganya adalah setan,” kata Bramasta, “Tadi, nyaris saja.. Alhamdulillah Allah masih menjaga kita.”


“Jaga jarak aman, Bang kalau lagi berdua..”


“Tadi, Disti manggil Abang “malaikat” lagi. Kenapa?”


“Isssh Abang..” wajah Adisti merah padam, “Gak usah dibahas dong.”


“Tapi kan Abang ingin tahu..”


“Please deh…” Adisti berjalan cepat menuju lift meninggalkan Bramasta di belakang. Bramasta terkekeh melihat aksi Adisti.