CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 89 – TRUST ME



Ruangan meeting mendadak sunyi saat Adisti behenti berbicara. Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mencerna apa yang Adisti sampaikan.


Hans yang memulai duluan, berkata sambil menyelonjorkan kakinya, “Masuk akal sih apa yang Adisti sampaikan.”


Yang lainnya mengangguk-angguk.


“Memangnya Disti mau ngomong apa besok?” tanya Bramasta.


“Mmmm nanti besok saja. Kalau diomongin sekarang nanti malah jadi basi,” Adisti menyengir sambil menatap suaminya.


“Adek yakin?” tanya Agung.


“Kakak sendiri pernah melihat bagaimana Adek menghadapi pasangan suami istri yang sombongnya pakai banget kan? Hilman Anggoro dan istrinya,” Adisti memandang kakaknya.


Agung mengangguk.


“Sama seperti dulu saat menghadapi Hilman Anggoro dan istrinya walau hati saat itu sedang berdarah-darah, tapi Disti punya Kakak, Ayah dan Bunda yang selalu menguatkan dan menerima Disti apa adanya.”


Adisti terdiam sejenak lalu memandangi kakaknya.


“Cukup bagi Disti meyakini kalian ada di belakang Disti, mendukung apa yang Disti lakukan. Keberadaan kalian di belakang Disti akan menjadi sumber kekuatan dan kepercayaan diri untuk Disti menghadapi Rita, ataupun siapa saja yang akan datang sebagai musuh.”


“Abang tidak ingin Disti terluka,” Bramasta menatap lurus mata Adisti.


“Disti bukan wanita yang lemah, Bang. Disti bukan perempuan manja dan cengeng. Percaya ke Disti, Bang. Rita bukan level Abang,” Adisti memandang pada Daddy, “Disti tidak akan biarkan Rita menghina keluarga kita lagi, Dad.”


Daddy mengangguk mengerti.


Tuan Armand menatap Daddy dan Adisti bergantian, “Saya rasa ini cara yang terbaik yang kita punya. Benar apa yang dikatakan Adisti tadi. Publik akan menilai Rita Gunaldi hanya seseorang yang pansos. Percayakan saja pada Adisti. Kita akan lihat, apabila situasinya nanti menjadi semakin tidak kondusif baru Tuan Alwin ataupun Bramasta turun tangan.”


“Baiklah..” kata Daddy, “I trust you..”


“Me too,” ucap Bramasta.


“Thank you so much..” Adisti membungkukkan badannya saat berucap.


“OK, jadi sudah selesai? Anton persiapkan untuk besok ya. Indra dan Hans seperti biasa tangani media,” kata Bramasta.


“Daddy mau langsung pulang?” tanya Adisti.


“Iya. Kenapa?”


“Ada titipan buat Mommy. Hasil petikannya Abang,” Adisti terkekeh.


“Bram, suruh driver taruh titipan buat Mommy di mobil Daddy..” kata Daddy sambil menerima salim dari Bramasta dan Adisti diikuti yang lainnya.


Saat Daddy dan Tuan Armand berlalu, Adisti menatap suaminya.


“Bang, Bang Hans dan Bang Indra kan umurnya lebih banyak dari Abang Bram..”


“Maksudnya tua?” kata Agung.


“Gak usah diperjelas gitu, Gung. Pasti nyelekit tuh rasanya,” Anton terkekeh sambil memandang Indra dan Hans yang melotot ke arahnya.


“Terus?” tanya Bramasta sambil tersenyum.


“Kok Abang Bram tidak memanggil mereka dengan sebutan Abang, Kakak atau Aa?”


“NO WAY!” serempak Hans dan Indra menjawab pertanyaan Adisti.


“Kan gak sopan?”


“NO WAY!” mereka berdua masih kompak.


“Kenapa?”


“Biar mereka bisa tetap merasa seumuran dengan Abang,” jawab Bramasta sambil tersenyum lebar.


“Dih!” Adisti meringis.


“Supaya lebih enak aja kalau ngomong, gak ada batasan. Bisa ngomongin apa aja tanpa harus takut merasa gak enak hati, takut bikin tersinggung, ataupun dianggap tidak sopan,” jawab Indra.


“That’s it!” Hans menjawab sambil menunjuk menggunakan pulpen yang sedang dipegangnya, “Contohnya kayak gini nih, Bram walaupun dia anak bos gue, gue bisa nepak lengannya seperti ini...”


PLAK!


“...tanpa merasa gak enak atau gak sopan,” Hans tersenyum kepada Bramasta yang melotot ke arahnya.


“Hissssh! Sakit tau!” Bramasta memegangi lengannya.


“Dih lemah amat sih!” Hans mengejek, “Apa semenjak merid lu jadi lemah dan cengeng, Bram?”


“Di situ habis dikeplakin Disti sama Bunda... Keplakan Bunda mantap banget ya,” Bramasta meringis memandang Agung.


Suara tawa terbahak terdengar di ruang meeting.


“Halllaaagh, dikeplak Bunda cuma sekali juga...” Adisti mencibir.


“Tapi dikeplak Disti berkali-kali,” Bramasta mengelus lengannya.


“Gemesin sih.. udah dibilangin itu kucay malah masih nyabutin aja. Mana nyabutnya gak satu-satu lagi tapi seperti si Rita lagi ngejambak kerudung Disti..”


“Kan biar cepat beres rumputnya dicabuti..”


“Sebenarnya kalian berdua ngapain sih nyabutin rumput di kebun Bunda? Memangnya di suruh Bunda?”


“Nggak.. Tuh ada yang butuh melampiaskan emosinya kepada rumput liar...” Bramasta menunjuk Adisti dengan dagunya.


Adisti saat itu sedang sibuk membereskan kotak bekas tempe tepung.


Agung memandang Bramasta, menggerakkan mulutnya tanpa bersuara_Kenapa?_


Bramasta menjawab dengan cara yang sama_Hilman Anggoro_


Agung bertanya lagi_Terus?_


Bramasta menjawab dengan kedua jempol diangkat.


Hans, Indra dan Anton berpandang-pandangan.


Tepat pada saat itu Adisti membalikkan tubuhnya.


“Ada apa Bang?”


“Nggak.. ngobrolin kerjaan..”


“Tadi siang, pasca meeting dengan orang pajak, ada kejadian aneh,” Agung membuka cerita.


“Aneh bagaimana?”


“Kejadiannya di perempatan Pahlawan, sekitar pukul 11.30 lebih...” Agung mulai bercerita.


Iseng, Anton membuka laptopnya, mengetik dengan cepat hingga terdengar bunyi klak-klik-klak-klik dari laptopnya.


“Lu pakai scoopy-nya Disti kan?” tanyanya memotong cerita Agung.


“Nggak, gue pakai Honda CBR.”


“150 atau 250?”


“250.”


“Warna?”


“Motor baru ya? Mulus banget motornya...” Anton tersenyum lebar lalu menyambungkan kabel pada proyektor, “Noh....”


“Setdah! Langsung ada videonya!” Indra terkekeh.


Anton mem-freeze gambar.


“Keren ih motornya,” kata Hans.


“Motornya terlihat keren karena yang bawanya juga keren..” Agung tersenyum lebar.


Bramasta dan Adisti terekekeh .


“Terus ceritanya bagaimana?”


Agung melanjutkan bercerita.


Anton melepaskan freeze-nya, gambar bergerak lagi.


“Nah, itu tuh bocah SMUnya datang, tuh kan bener perkiraan gue, dia menangis sambil jalan dengan kepala tertunduk sampai gak lihat lampu lalu lintas...”


“Eh, kalian ribut?”


“Isssh Kakak ini malu-maluin banget ribut sama anak SMU..”


“Nyebelin dianya. Udah salah galak lagi. Kan sebel, mana matahari lagi panas-panasnya...” Agung membela diri.


“Eh, itu kok lu nyuruh dia naik motor lu?”


Anton mem-freeze lagi gambarnya. Gadis itu tampak mendekati jok belakang motor Agung.


“Feeling guilty, Bro. Gue udah ngatain dia, generasi now itu lemah. Baru diputusin pacar aja udah nangis-nangis kayak gitu.. ternyata gue salah. Dia mendapat kabar, bokapnya meninggal..”


“Innalillaahi wainnailayhi rooji’uun,” semuanya kompak mengucap kalimat istirja.


“Waah.. jahara lu Gung..”


“Kakak kebiasaan nyerocos sih..”


“Dia bilang, saking paniknya sampai salah naik angkot. Padahal rumahnya masih jauh dari situ. Ya udah gue anterin sekaligus untuk menebus rasa bersalah gue juga sebagai permintaan maaf dari gue.”


“Terus?”


“Ya gue anterin lah ke rumahnya..”


Anton melepaskan freeze-nya.


“Wow! Wow...!” serunya.


Dia mem-freezze lagi gambar. Lalu men-zoom in motor Agung.


“Mulus banget ya motornya...” Anton terkekeh. Diikuti yang lainnya.


“Wooiiy! Woooiyyy jangan pas bagian itu nge-zoom-nya...” Agung mengeplak lengan atas Anton yang langsung mengaduh kesakitan, “Gue udah berusaha nutupin pahanya pakai jaket gue.. Lu malah mantengin pahanya...”


“Abang jangan lihat!” Adisti menutup mata Bramasta dengan tangannya, “Aurat Bang..aurat!”


Suara tawa semakin keras terdengar dari ruang meeting.


“Iya..iya...” Anton menghindar dari keplakan berikutnya, “Gue lepas freeze-nya..”


“Eh iya, Agung beneran ngasih jaketnya buat nutupin pahanya,” kata Indra.


“Gentle banget lu Gung,” kata Hans sambil menyeka air matanya karena tertawa tadi.


“Woyyadooooong,” Agung menegakkan kepalanya.


“Rumahnya di daerah mana?” tanya Anton, tangannya bersiap mengetik lagi.


Agung menyebutkan alamat rumah si gadis.


Anton langsung mengetikkan alamat si gadis pada laptopnya. Di proyektor muncul tampilan dari mobil google yang tengah menyusuri jalan yang disebutkan Agung.


“Nah yang itu rumahnya, mundur lagi Ton. Yang oranye, rumah sebelah kiri,” kata Agung.


Anton memundurkan gambar. Lalu mem-freeze.


“Eh itu ada Bokapnya terekam mobil google.”


“Kok lu tahu itu Bokapnya?” Tanya Bramasta.


“Kan gue ikut takziah. Ada foto bokapnya. Adang Rahmat nama Bokapnya. Meninggal dalam usia 67 tahun.”


“Terus?”


“Pas gue lagi pakai sepatu, tuh bocah ngomong, ma’af say gak punya uang buat bayar ongkos anterin ke rumah... Setdah tuh bocah. Njirrrr, gue disangka Kang Ojek..!”


Semua yang ada di ruangan meeting itu kembali terbahak.


“Dia kira gue takziah buat nagih ongkos...”


“Terus?”


“Gue kasih uang takziah yang gue bungkus pakai sobekan buku agenda gue karena gue gak punya amplop. Amplop yang ada di ransel gue semuanya amplop yang ada kop Sanjaya Group. Gak etis dong pakai amplop kantor.”


Hans mengangguk setuju.


“Terus?”


“Ya udah, gue balik kantor. Sampai gak sempat makan siang karena jam istirahat sudah habis.”


“Beneran Kakak belum makan?” tanya Adisti khawatir.


“Udah tadi minta OB seduhin mie instan..”


“Cakep gak Gung?” tanya Bramasta.


“Ya gitu lah. Kalian kan udah lihat sendiri tadi dari kamera lalu lintas.”


“Gak begitu jelas,” kata Indra.


“Di-zoom juga percuma. Gambarnya pecah,” Anton berusaha meng-zoom wajah anak SMU itu.


“Yang gue inget, rambut coklatnya,” tatapan mata Agung menerawang, “Bentuk hidung dan alisnya sama dengan bokapnya. Mancung dengan tulang hidung berlekuk, alisnya panjang.”


“Deskripsi cantik ya Gung,” Anton terkekeh.


“Tau ah..! Tapi ada satu hal yang bikin gue dongkol, bikin gue bete, bener-bener bete.”


“Apaan tuh?”


“Dia manggil gue Om! Bayangin, orang sekeren gue, semuda gue dipanggil OM!”


Suara tawa meledak lagi dari ruang meeting.


***


Agung gak terima dipanggil Om, Gaessss 🤣🤣🤣


Bantu author untuk promoin novel ini ya Readers. Love you so much 🍓