CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 289 – SKOR 2:1 UNTUK AGUNG DAN MAN



Pintu sorong dibuka dengan hati-hati. Dua orang pria dengan masker medis warna biru memakai kaos lengan panjang hitam dan celana taktikal krem masuk ke dalam ruangan.


Mereka berjalan dengan hati-hati. Menyamarkan bunyi sol sepatu mereka yang berat dengan cara menggeser langkahnya. Kedua tangan mereka masing-masing menggenggam pistol dengan peredam suara.


Melihat tiga tubuh bukan kawan mereka tergeletak di lantai dan satu di kursi membuat salah satu di antara mereka tertawa senang.


“Wuih! Marcel bersenang-senang seorang diri rupanya. Berapa tembakan yang kita dengar tadi?”


“Empat.”


“Tiga terkapar di lantai dan satu pasti di atas tempat tidur. Target utama kita!” tersenyum puas sambil mengibaskan kepalanya membuat rambut gondrong yang diikatnya bergoyang.


“Hmmmh!” temannya yang memakai gesper sabuk Levi’s mengibaskan tangannya di depan hdungnya, “Aroma mesiu ini.. mengingatkan gue dengan aroma lebaran! Adu mercon."


Mereka berdua tertawa bersama.


“Cel, lu dimana?” Rambut Gondrong berteriak memanggil namanya.


Tidak ada sahutan. Rambut Gondrong saling pandang dengan Gesper Levi’s. Tubuh mereka waspada. Mereka berkeliling menatap ruangan dengan desain open space ini.


Terdengar bunyi kran air dinyalakan dari dalam kamar mandi. Keduanya tersenyum lebar.


‘’Rupanya di kamar mandi dia. Bersih-bersih mungkin supaya tidak tercium aroma mesiu di baju dan tangannya..” Gesper Levi’s tertawa.


“Cel, lu masih lama?”


Tidak ada jawaban.


“Cel?!”


Terdengar suara air dari flush valve toilet duduk yang ditekan.


“Setdah! Habis tugas langsung boker!”


Keduanya terbahak.


“Ayo kita lihat hasil kerja si Marcel. Gue gak sabar untuk mengupload fotonya pada Pak Jenderal. Cair nih bonus kita... cair!” Rambut Gondrong melewati pengawal berbaju AMANSecure sambil menendang kakinya.


Pengaman senjatanya dikunci lagi lalu menyelipkannya di tali pinggang celana bagian belakang.


Gesper Levi’s tertawa. Senjatanya diselipkan di pinggangnya.


Melewati tubuh Agung yang telungkup, Gesper Levi’s menginjak jemarinya. Sol sepatu si Gesper Levi’s yang tebal dan keras mengoyak kulit punggung tangan Agung. Setengah mati Agung menahan nyeri. Dia mengetatkan rahangnya.


Di depan tirai bed, tangan Rambut Gondrong terulur. Dia menyibak tirai dengan sentakan yang dramatis. Detik berikutnya, si Gondrong dan Gesper Levi’s melongo dengan mulut menganga.


Tidak menyiakan kesempatan yang berharga, Agung menggerakkan kakinya yang terulur di dekat kaki Gesper Levi’s dengan cepat.


Dia melakukan tendangan dwi hurigi dengan posisi berbaring terlentang. Dalam taekwondo, dwi hurigi dilakukan sambil berdiri dengan melompat memutar ke belakang dan gerakan kaki seperti mengait, arah serangannya adalah kepala ataupun leher.


Tendangan dwi hurigi yang Agung lakukan sambil berbaring, mengaitkan kedua kakinya pada kaki Gesper Levi’s. Dengan kuat, Agung menyentakkan tubuhnya.


Si Gesper Levi’s, tanpa sempat mengambil senjatanya, tertekuk kakinya dan terpelanting ke samping dengan dagu membentur handrail bed sebelum akhirnya jatuh membentur lantai.


Rahang kirinya membentur lantai dengan keras. Dia diam tak bergerak. Sama seperti rekannya, Marcel yang dibuat KO oleh Agung dengan tendangan taekwondonya.


Sementara itu, saat s Rambut Gondrong terkejut melihat yang di atas bed adalah temannya sendiri, Man yang berpura-pura terkulai di kursi samping bed, langsung bergerak.


Menerjang si Gondrong dengan tinju mengarah pada lehernya. Pukulan telaknya membuat si Gondrong shock tak bergerak. Matanya menatap nanar memandang Man yang wajahnya mendadak menjadi dingin dan bengis.


Bibir si Gondrong bergetar saat Man mendekat ke arahnya. Tangannya bergerak ke belakang untuk mencabut senjatanya. Tapi Man lebih cepat.


Gerakan tangan dan kakinya cepat sekali saat membuat gerakan membanting tubuh si Gondrong. Suara pekik ketakutan terdengar dari mulut si Gondrong.


Wajah si Gondrong mendarat lebih dahulu di lantai. Ada potongan gigi yang meloncat ke lantai. Si Rambut Gondrong diam tak bergerak. Ruangan menjadi hening.


Pengawal dan Man bergerak cepat mengamankan senjata mereka. Man mengambil gawainya, menghubungi Hans. Agung bergegas ke kamar mandi membantu Raditya.


“Komplotannya sudah berhasil diringkus semua?” tanya Raditya ketika dipapah oleh Pak Budi dan Agung.


“Saya tidak tahu, Bang, berapa persisnya jumlah mereka.”


“Pak Agung, tangannya berdarah..”


“Hanya luka kecil..”


Mereka membaringkan Raditya di tempat tidur untuk keluarga pasien karena masih ada Marcel di atas bed pasien.


Pintu sorong terbuka, seorang pria berseragam AMANSecure memasuki ruangan diikuti oleh beberapa security rumah sakit.


“Semua baik-baik saja?” tanyanya.


“Kami baik-baik saja. Tolong kalian urus mereka bertiga,” Man memberi perintah kepada mereka yang datang, “Jumlah mereka ada berapa?”


“Lima orang. Yang dua orang menunggu di mobil mereka di basement. Sudah kami lumpuhkan.”


Man mengangguk.


Raditya mengangkat telapak tangannya ke arah Man.


“Biarkan tim forensik kami yang melakukannya.”


“Tuan yakin mereka bersih?” Man memandang Raditya.


Raditya menatap Pak Budi. Pak Budi mengangguk.


“Insyaa Allah,” jawabnya mantap.


Man mengangguk.


“OK. Kalau begitu kita semua mundur dari area tempat tidur pasien. Jangan ada yang ke sana kecuali untuk mengamankan penjahatnya. Kita tidak mau merusak TKP.”


Raditya dan Pak Budi mengangguk setuju.


Agung kemudian teringat dengan gawainya. Dia berlari ke arah gawainya sambil memakai headsetnya lagi.


Suara tepuk tangan riuh terdengar dari ruang meeting yang tadi tinggalkannya.


“Pak Agung keren!” suara salah seorang head section di divisinya terdengar.


“Kalian melihat semuanya?” Agung bertanya sambil tersenyum lebar.


“Kami melihat dan mendengar dengan baik, semuanya.”


Terdengar suara riuh lagi. Agung mengambil gawainya lalu membalikkan lagi posisi kameranya.


“Pak Agung..! Tangannya berdarah!" suara head section wanita.


Agung memperhatikan punggung tangannya. Ada bekas tapak sepatu di sana dan di beberapa tempat ada darah yang sudah mengering.


“Kalem saja, saya berada di rumah sakit,” Agung tersenyum lebar.


“Tuan Hans ikut menyaksikan aksi Bapak tadi dari sini. Kemudian sibuk menelepon. Baru 5 menit yang lalu dia meninggalkan ruangan ini,” seorang head section bercerita.


“Pak Agung, jangan dimatikan dong sambungan video callnya. Di sana sedang ramai. Seru sekali. Kami berasa menonton film action, tadi...” pinta salah seorang di antara mereka diikuti iya dari yang lainnya.


“Penonton puas, kami lemas! Kerja woiyyy kerjaaa!” Agung berseloroh membuat anak buahnya tertawa.


“Meeting mingguan kita pending ya. Kalau di sini bisa beres cepat, kita meeting menjelang sore nanti. Bagaimana?” Agung menatap semua peserta rapat dari gawainya.


Semua menyetujui usulan Agung. Mereka sudah tidak sabar menceritakan apa yang terjadi kepada yang lainnya.


Agung menutup layar laptopnya saat mendengar suara familiar di telinganya. Hans masuk dengan langkah kaki panjangnya. Matanya tertuju pada Agung yang masih duduk di depan laptop di sofa U.


Hans gegas menghampirinya. Agung berdiri. Hans menarik pundak Agung lalu merangkulnya dengan keras.


“Gue khawatir banget ke Lu, Gung. Gue ngeri kalau Lu sampai kenapa-napa. Gue gak bakal siap untuk berhadapan dengan Ayah, Bunda, Adek Lu yang bawel dan galak juga tunangan Lu yang kalau nanya seperti petasan rawit!”


“Memangnya masa kecil Bang Hans juga main petasan rawit?”


“Lu kira masa kecil gue, gue mainin granat nanas?”


Agung tertawa. Dia memeluk Hans dengan erat. Hans tertawa sambil berurai air mata.


“Gue lega melihat Lu baik-baik saja, Gung.”


“Alhamdulillah, Bang. Allah masih melindungi. Thanks a lot,” Agung menepuk-nepuk punggung Hans.


Mereka melepaskan diri. Agung meraih tisu dari atas meja, menyodorkannya pada Hans.


“Bang, hapus dulu air mata Lu. Citra diri Lu sebagai pribadi yang dingin seperti es balok bisa luntur karena air mata.”


“Hhhh! Sialan Lu. Lu kira gue robot yang gak berperasaan?” Hans tertawa tapi tetap membersihkan jejak air matanya.


“Nggak sih Bang. Lebih mirip ke orang yang kebanyakan suntik botoks sampai-sampai wajahnya datar banget seperti wajan teflon..”


.


***


Tenaaaang, semuanya selamat.


Kecuali penjahatnya, ketiganya langsung KO dan si Rambut Gondrong harus kehilangan gigi depannya juga.


Jangan lupa tekan like untuk menghitung retensi pembaca dan tekan minta update ya... 🤓😁


Utamakan baca Qur'an ❤️