
Hans memerintahkan Anton untuk menghentikan video.
“Lu sudah lihat video ini sebelumnya, Ton?" Hans memandang Anton.
Anton menggeleng.
"Gue cuma lihat bagian awalnya saja untuk mengecek ada audionya nggak dan bagaimana keadaan audionya, bersih atau nggak. Itu aja Bang. Karena gue rasa audio dan visualnya OK jadi gue gak lihat isinya.”
Hans mengangguk lalu menyisir rambutnya kasar dengan jemarinya.
“Kenapa Hans?” Bramasta menatap Hans dengan penuh rasa ingin tahu.
“Gue tahu alasannya,” Indra memandang Hans, “Karena pengakuan si Driver tentang pembunuhan berencana terhadap istrinya Raditya kan?”
Hans memandang Indra dan Bramasta bergantian lalu mengangguk.
“Gue yakin Raditya belum tahu tentang ini. Rasanya akan sangat menyakitkan bagi dirinya saat tahu dari media.”
“Jadi maunya bagaimana nih? Kita pending untuk spill tentang Raditya?” Agung memandang Hans.
“Tidak. Jangan,” Hans terlihat getir, “Tapi kita sudah tidak punya banyak waktu lagi. Ini harus dituntaskan segera.”
“Berapa durasi waktu video tadi, Hyung?” Adisti menatap Anton dan layar proyektor bergantian.
“22 menit.”
“Berapa durasi CCTV jalan tol yang sudah dirangkum Hyung?”
“Kurang dari 3 menit.”
“Durasi untuk spill flashdisk?”
“Kira-kira 8 menit.”
“Jadi maksud Disti bagaimana?” Hans menatap Adisti dengan serius.
“Menurut Disti, sorotan utama kita sebaiknya Raditya saja. Tentang Flashdisk itu sebagai sampingan saja,” Adisti mulai menjelaskan.
“Why?” Hans mengerutkan keningnya.
“Karena dari CCTV tempat parkir GOR Saparua itu banyak hal yang bisa diketahui masyarakat luas. Mulai dari upaya fitnah dengan rencana OTT palsu terhadap Raditya, aksi nakal petugas jahat, pembunuhan berencana istri Raditya yang didalangi Tuan Thakur, juga Tuan Thakur yang masih berkuasa hingga saat ini.”
Adisti terdiam sejenak. Memandang semuanya
“Sedangkan tentang flashdisk, durasi waktunya kita persingkat saja. Tidak perlu kita spill semua isi flashdisk karena Disti khawatir akan lebih banyak mudharatnya. Siapa tahu si pemakai jasa gelap The Ritz itu sudah bertobat. Tidak etis rasanya mengorek masa lalunya bila dia sudah berhijrah. Akan ada banyak orang yang tidak bersalah akan terluka.”
Ruangan hening. Mereka menyimak dan mencerna ucapan Adisti.
“Itu sih pendapat Disti ya. Kalau diterima ataupun tidak diterima ya Disti gak gimana-gimana kok..” Adisti tersenyum.
Agung mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kok gue sependapat dengan Adek ya?” Agung tersenyum lebar pada adiknya sambil mengacungkan kedua ibu jarinya, “Dek, tumben Adek pinter..”
Adisti melotot kesal memandang kakaknya. Tangannya dikepalkan lalu ditunjukkan kepada kakaknya.
Indra dan Bramasta menahan tawa melihat kelakuan kakak beradik itu.
“Bang Bram, pegangin istrinya. Gue gak mau bonyok!” Agung meringis.
Hans mengamati mereka semua dengan tangan memegang dagunya. Lalu mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Gue ngerti dengan maksud Disti. Sepertinya Disti ingin mengambil contoh pada keluarga Hilman Anggoro yang tercerai berai pasca perselingkuhan Nyonya Hilman dengan Gunawan Tan itu ya?”
“Tapi sebenarnya, hanya diawalnya saja mereka terlihat rapuh. Tetapi yang gue lihat sekarang, Keluarga Hilman Anggoro lebih solid daripada saat masih ada Liliana Sukma sebagai Nyonya Hilman,” Bramasta duduk menyandar sambil bersidekap.
“Kok Lu tahu, Bram?” Indra menatap serius pada Bramasta.
“Beberapa hari yang lalu Prasetyo chat gue. Saling bertukar kabar. Dia enjoy di Canada. Selain melanjutkan kuliah di sana dia mencoba membangun bisnis startup,” Bramasta meraih gelas tehnya.
“Kok Abang/Lu gak cerita?” Adisti dan Indra bertanya dalam waktu bersamaan membuat yang lainnya tertawa.
“Lah, ini kan gue lagi cerita...” Bramasta meneguk tehnya.
“Kebiasaan!” Adisti dan Indra berseru dalam waktu bersamaan lagi. Suasana menjadi riuh dengan tawa.
“Setelah dipikir-pikir lagi, ucapan Adisti banyak benarnya...” Hans mengusap dagunya, “It means kita harus sortir nama-nama yang tercantum di flashdisk lagi ya, Ton.”
“No problem, Bang. Kita udah punya catatan orang-orangnya Tuan Thakur yang ada dalam flashdisk. Baik rekan seprofesi atapun kroninya,” Anton menyugar rambut depannya yang menutupi alis, “Kita bisa spill mereka semua.”
Hans mengangguk. Anton memunculkan daftar nama yang ada di dalam flashdisk pada layar monitor. Ada dua sorotan warna pada daftarnya.
“Sorotan dengan warna oranye adalah rekan sejawat Tuan Thakur,” Hans menunjuk dengan menggunakan laser pointer, “Sedangkan yang berwarna ungu adalah para pengusaha yang menjadi kroninya Tuan Thakur.”
“Mereka jadi rekan dalam money laundrying juga?” Bramasta meletakkan telunjuk di cuping hidungnya.
“Bisa jadi, Bram,” Hans menunjuk nama sebuah perusahaan yang ada di kolom keterangan pada daftar nama yang ada di flashdisk.
“Orang-orang gue mencurigai aliran dana di MetroLine Corp. Baru kemarin, utusan Metro presentasi di kantor untuk menawarkan kerja sama. Tapi gue tolak.”
“Kenapa?” Indra memandang Hans.
“Karena alasan subyektif.”
Semua mengangkat alisnya menatap Hans.
“Dia tidak capable, presentasi dengan baju kurang bahan, bad attitude juga,” Hans berbicara dalam satu tarikan nafas.
"Pasti cakep ya?" Anton meyeringai.
Hans menepis udara.
“Make upnya sudah mirip make up buat ikutan kontes miss miss-an.”
Semuanya tertawa.
“Pada saat itu Lu udah tahu MetroLine Corp itu kroninya Tuan Thakur?” Bramasta menyandarkan punggungnya lagi.
Hans menggeleng.
“Gue baru dapat laporan sore harinya. Meeting presentasinya 10.30. Ada aliran dana tidak wajar untuk proyek yang nilainya jauh dibawah nilai dana yang disuntikkan untuk proyek tesebut. Kemudian ada penarikan dana besar yang tidak wajar juga untuk purchasing terkait proyek tersebut.”
“Sangat mencurigakan sekali,” Agung menggelengkan kepalanya.
“OK. Kita semua setuju dengan usul Adisti?” Bramasta bertanya.
Semua mengangguk setuju.
“Terimakasih banyak..” Adisti berdiri sambil membungkukkan badannya.
“Ton, coba geser, jadi penasaran siapa nama pengguna jasa gelap The Ritz dari MetroLine,” Indra masih bersidekap memandang proyektor.
Anton men-zoom out tampilan layar. Sebuah nama dan permintaan pesanan jasa terlihat.
“Wow. Dia wanita yang memesan 3 pria muda,” Indra tersenyum miring, “Anita Santoso. Apa hubungan dia dengan Tuan Santoso, CEO MetroLine Corp?”
Hans membuka berkas di hadapannya, membaca dengan cepat.
“Dia adik beda ibunya. Adik tiri.”
“Kira-kira Tuan Santoso tahu tidak perusahaannya menajdi tempat money laundry Tuan Thakur?” Anton mengetuk-ngetukkan pulpen ke atas meja.
“Who’s know?” Hans menagangkat kedua bahunya.
“Kalau aliran dana yang masuk dan keluar dalam jumlah besar dan dia tidak mengetahuinya, sungguh sangat keterlaluan. Ngapain aja dia kerjanya?” Agung tersenyum miring.
“Sekarang kita perjelas dulu perbagiannya. Bagian pertama kita spill Raditya. Narasinya bagaimana? Lalu kita masukkan video rekaman CCTV di jalan tol,” Bramasta duduk tegak memandang semuanya.
“Narasinya, tanpa menyebut nama, sebut saja seorang perwira tinggi yang menangani kasus The Ritz dan Brian Amsel mendapat ancaman serius,” Indra mencondongkan tubuhnya kepada Anton, “By the way, kita punya bukti bahwa kejadian di jalan to itu sebagai ancaman bukan hanya sekedar senggolan biasa?”
“Rekaman CCTV di simpang keluar tol arah Purwakarta, menampakkan wajah supir yang tersenyum puas sambil melihat mobil Raditya yang berjalan menjauh,” Hans menulis sesuatu di buku catatannya.
“Nanti gue buat kroppingan gambar video dipadu padan dengan kendaraan Raditya dari CCTV lainnya,” Anton berbicara sambil menulis juga di buku catatannya.
“Bagian keduanya, rencana fitnah OTT palsu terhadap Raditya di GOR Saparua,” Hans melihat semuanya yang mengangguk setuju lalu menulis lagi.
“Narasinya...” Hans berbicara sambil menggerak-gerakkan kakinya di kursi.
Semuanya menyimak ucapan Hans. Sesekali ada yang menambahkan dan menyanggah.
Beberapa video CCTV diputar, dipilih adegan mana yang akan ditampilkan.
.
***
Isi flashdisk jadi bom waktu, isi dari kotak Pandora.