CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
Bab 274 – TERIMAKASIH MIKROFON KLIP ON



!


“Kamu mau mema’afkan saya?” Agung masih meremas gamis Adinda.


“Om! Gamisnya jangan digituin. Terangkat-angkat nantinya..”


“Eh iya.. ma’af.”


Agung merapikan gamis yang terlihat kusut akibat ulahnya.


“Eh, Om ngapain kaki saya dielus-elus? Geli, tahu. Lagian juga belum boleh..”


“Saya cuma mau rapihkan lagi gamisnya. Ma’af kusut..” Agung memandang Adinda, “Sewaktu di toko peralatan kue, kamu tertarik dengan panci kukus susun tiga warna pink kan?”


“Terus kenapa?”


“Kita baikan. Terusin lagi acaranya. Nanti saya belikan panci kukus susun tiga itu. Sekalian sama cetakan bolu yang seperti keplintir itu juga yang berukiran rumit deh..”


Adinda mencebik.


“Gak gitu juga kali konsepnya, Om!”


“Celemek baru? Mixer stand baru?”


“Isssh. Apaan sih Om Agung. Lagian ngapain dari tadi Om Agung berlutut seperti itu?”


“Saya boleh berdiri?”


“Saya gak pernah meminta Om Agung untuk berlutut kok!”


“Eh iya..”


Agung berdiri. Tapi karena terlalu lama berlutut, sebelah kakinya kesemutan. Tubuhnya goyah. Limbung ke belakang.


Gerakan reflek Adinda patut diacungi jempol. Dengan sigap langsung menarik tangan Agung ke arahnya. Sontak, tubuh Agung maju ke depan menabrak tubuh Adinda. Keduanya terhuyung.


Tubuh Adinda tidak siap menerima dorongan dari tubuh Agung. Sebelum dirinya terjengkang ke belakang bersama tubuh Agung, Agung melindungi bagian belakang kepala Adinda dengan kedua tangannya.


Tehnik bela diri Agung yang bagus juga membuatnya terlatih untuk melakukan gerak jatuh yang aman. Dengan cepat, Agung memutar tubuh Adinda. Bertukar posisi agar dirinya tidak menimpa Adinda.


Semua orang berseru kaget melihat adegan itu.


Saat tubuh Agung terbanting ke lantai akibat bertukar posisi, tangannya sigap menangkap tubuh Adinda agar tidak membentur lantai. Dia meletakkan kepala Adinda di atas dadanya.


Satu detik. Dua detik. Mereka masih terdiam dengan posisi seperti itu. Saat terasa beberapa pasang kaki yang terbungkus sepatu bagus berdiri mengelilingi Agung, dia baru bergerak.


“Adik gue, Lu apain?”


“Tolong.. bantu Dinda berdiri. Dia menekan bekas operasi gue..” Agung mengernyit.


Indra dan Bramasta bergegas membantu Adinda untuk berdiri. Anton membantu Agung untuk duduk.


“Lu kenapa sih Bang?” tanya Anton.


“Kaki gue kesemutan. Makanya gue gak bisa berdiri tadi..”


“Sekarang?” tanya Indra.


“Masih..”


“Ya sudah, bawa ke kursinya. Acara gue yang handle,” Indra memandang pada Anton.


Anton mengangguk. Dia membantu memapah Agung untuk duduk di kursinya. Hans dan Bramasta mengangkat sebelah alisnya mentap Indra. Indra tersenyum jahil sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Lihat aja deh nanti... Dia udah nyebelin banget tadi... Time to revenge_saatnya balas dendam_,” bisik Indra agak keras.


Ketiganya tertawa. Dari kejauhan, Leon bertanya ada apa. Bramasta hanya mengibaskan tangannya sambil memamerkan cengirannya.


Indra berbicara dengan MC. Kemudian mengambil mikrofon. Indra mengambil posisi di tengah ruangan.


“Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh. Mohon ma’af kepada para hadirin sekalian. Ada sedikit interupsi sejenak dari acara penting malam hari ini. Interupsi karena kesalahpahaman. Yang membuat kami semua heran, kok bisa ya, calon suaminya sampai tidak mengenali wajah calon istrinya?” kalimat pembuka dari Indra membuat riuh ruangan.


“Memang adik saya ini, sudah cakep sih tanpa make up juga. Tapi ya masa iya, sampai gak dikenali begitu. Gung, ini baru tunangan loh. Bagaimana nanti kalau kalian menikah? Jangan-jangan kamu masih mencari-cari istri kamu hingga malam harinya yang kamu kira kami sembunyikan. Bablas deh malam pengantinnya..” Indra terkekeh.


Ruangan semakin riuh dengan gelak tawa. Agung mencebik sambil berusaha meredakan kesemutan pada sebelah kakinya.


“Setelah tadi diinterupsi dengan cara yang menyebalkan, untungnya mereka berdua secara tidak sengaja menghibur kita dengan acara live stand up comedy. Karena mereka tidak menyadari mikrofon klip on-nya masih menyala..” Indra memandang Agung dan Adinda bergantian.


Keduanya tampak panik dan kaget. Wajahnya juga memerah. Apalagi beberapa pengunjung ada yang bertepuk tangan segala menambah riuh ruangan.


“Jadi Om Agung rupanya kurang uptodate terhadap perkembangan mode sementara Adinda seperti anak muda pada umumnya selalu gak ingin ketinggalan mode..” Indra berhenti sejenak.


“Yang lebih anehnya lagi, Om Agung malah ngajakin Dinda buat ghibahin Ken, pacarnya Barbie. Pakai ngatain Ken belum disunat segala...” Indra geleng-geleng kepala, sambil tersenyum lebar menatap Agung yang mendelik ke arahnya.


Orang-orang semakin riuh. Adinda menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


“Dan adik saya denga polosnya ingin memakaikan sarung pada Ken. Bagaimana Om Agung gak panik, tuh?”


Bunda dan Ayah tampak mengelap ujung matanya karena tertawa.


“Kita disuguhi permintaan ma’af yang paling ajaib. Setelah ghibahin Ken, mendadak Om Agung bahas panci kukus tiga susun. Coba, eta terangkanlah, Om...!” Indra terkekeh.


Mommy tampak memijat-mijat pipinya yang terasa pegal karena banyak tertawa. Agung menggelengkan kepalanya sambil menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya.


“Endingnya, setelah bahas panci kukus tiga susun, kita juga disuguhi dengan adegan dari film Bollywood...” Indra menengok ke arah Daddy, “Next time, Om Alwin bikin setting ruangan pakai padang rumput, pohon, pilar, kalau perlu pakai efek hujan sekalian ya Om..”


Tuan Alwin mengangguk sambil mengacungkan kedua ibu jarinya. Para hadirin semakin riuh.


“Tapi sih sebaiknya, jatuh-jatuhan berduanya setelah halal saja. Terserah sih kalau mau dilanjutkan dengan guling-gulingan a la Bollywood. Nanti kami, para abangnya Adinda dengan senang hati akan menjadi penari latarnya. Hans, Bram, Bang Leon, dan Anton kalian siap kan?”


Keempatnya mengacungkan kedua jempolnya ke atas sambil tertawa.


“Siip. Kita nanti latihan koreo dulu..” Indra terkekeh lagi.


“Sebelum menlanjutkan acara yang sempat tertunda tadi, kita minta pada Agung untuk meminta ma’af dulu pada Ayah dan Bunda juga pada para orangtua Adinda dan Abang-abangnya. Sungkem, Gung. Lu ngeselin sih tadi..” Indra memandang Agung.


Agung berdiri dengan ragu. Dia melangkah ke arah Bunda.


“Bang Indra. Sekarang?” Agung memandang Indra.


“Tahun depan aja, mau?” Indra mengangkat kedua alisnya.


Hadirin tertawa lagi.


“Eh, jangan dong Bang...” wajah Agung memelas.


Hadirin semakin tertawa.


Agung berlutut di depan Bunda, mengambil tangan Bunda, mencium punggung tangannya.


Dari tempatnya berdiri, Indra mengangguk pada penata suara untuk mengaktifkan mikrofon klip on yang dikenakan Agung.


“Ma’afin Kakak ya Bun..”


“Kenapa Kakak senyebelin itu sih?” Bunda mengelus pundak Agung.


“Ma’af.. Kakak panik dari tadi gak lihat Dinda..”


“Memangnya Kakak gak tahu Adinda yang pakai baju pink terang?”


“Nggak Bun. Wajahnya bule banget campur Pakistan. Mana warna matanya biru lagi..”


“Benar kata Adek tuh..”


“Apaan Bun?”


“Kakak norak!” Bunda menepuk bahu Agung dengan gemas.


Hadirin tertawa lagi.


Agung bergeser kepada Ayah. Meraih tangan Ayah untuk dicium punggung tangannya.


“Ayah.. ma’afkan Kakak..”


“Ayah gak pernah mengajarkan anak-anak Ayah berperilaku tidak sopan seperti itu..”


“Ma’af Ayah.. “


“Kalau tidak tahu sebaiknya bertanya. Bukan dengan mengambil kesimpulan sendiri. Akhirnya kamu sendiri kan yang malu? Kasihan dengan Adinda. Kamu gak sayang dengan Dinda?”


“Iya Ayah.. ma’af. Kakak sayang ke Adinda. Sayang pakai banget...”


Di kursinya, Adinda tampak tersipu memandang punggung Agung.


“Ma’afkan Agung, Mom..”


“Kamu nyebelin banget tadi, Gung..”


“Iya Mom.. saya juga mengakuinya. Saya kira itu keponakannya Mommy..”


“Cakep banget ya Adinda?”


“Banget Mom!” Agung menengadah menatap Mommy dengan senyum lebarnya.


“Sayangi dan bimbing Adinda. OK?”


Agung mengangguk mantap.


“Insyaa Allah, Mom..”


Agung bergeser ke Daddy. Mengambil tangan.


‘Ma’afkan Agung, Dad...”


“Hmmm kamu tahu kesalahan kamu?”


“Tahu Dad..”


“Jangan diulang lagi.”


“Iya Dad..”


“Ya sudah..”


“Sudah Dad?”


Daddy menatap Agung kesal. Dia meraup wajahnya.


“Terus kamu maunya bagaimana, Gung?”


“Eh, nggak Dad. Saya gak mau apa-apa...”


“Beneran gak mau apa-apa? Gak jadi khitbah Adinda dong..”


“Eh, jangan gitu gong, Dad. Saya mau. Saya mau lanjutin acaranya.”


“Nah, gitu dong!” Daddy menepuk bahu Agung dengan keras.


Agung mengernyit.


Hadirin riuh lagi. Suara gelak tawa terdengar dimana-mana.


“Saya minta ma’af, Bu Dhani.. atas kejadian tadi..” Agung mencium punggung tangan Bu Dhani dengan takzim.


“Tadinya saya marah ke kamu, Gung. Jengkel ke kamu. Tapi karena kalian berdua dari tadi bikin saya tertawa terus, ditambah kamu habis-habisan diroasting oleh Indra, saya ma’afkan kamu...” kata Bu Dhani sambil tertawa.


“Terimakasih Bu Dhani...”


“Pak Dhani, saya minta ma’af atas kejadian tadi. Saya tidak bermaksud menyakiti Adinda...”


“Iya, saya tahu. Jangan pernah sakiti Adinda, ya. Kamu harus ingat, Adinda punya banyak orangtua. Dan yang paling digarisbawahi, abang-abangnya Adinda itu galak-galak loh..” Pak Dhani menepuk pundak Agung sambil melirik ke arah Indra dan yang lainnya. Mereka mengacungkan jempolnya kepada Pak Dhani sambil menyengir lebar.


Giliran Agung meminta ma’af kepada kakak-kakaknya Adinda beserta para istrinya, Hans langsung berdiri.


“Gak usah sungkem ke bini Gue. Bukan mahrom.”


“Ke Layla juga jangan. Layla cuma boleh disentuh gue,” Leon merangkul istrinya dengan posesif.


“Iya Bang.. gue juga tahu itu semua. Gue minta ma’af ya. Gak ada maksud sama sekali untuk menyakiti Adinda.”


“Tapi Lu udah su’udzhon ke kita ngumpetin Adinda. Jahat banget, Lu Gung..” Indra mendramatisir gayanya.


“Iya..iya.. Gue tahu, gue tadi menyebalkan banget. Ma’af ya..” Agung meraih tangan Hans.


Hans terkejut, menarik tangannya.


“Lu mau ngapain?”


“Salim.”


“Nggak. Gak usah. Memangnya gue cowok keren apaan, punggung tangannya dicium oleh Lu, Gung!”


“Dih!”


Ucapan mereka sontak membuat hadirin tertawa riuh lagi.


Daddy berdiri sambil bertolak pinggang.


“Boys, sudah belum? Kita semua sudah lapar nih. Makan malam tertunda cukup lama.”


“Ya Om.. kita lanjutkan lagi..” Indra memberi kode kepada MC untuk melanjutkan acara, “Om Dhani kalau lagi lapar, ngeri semua kitanya..”


Orang-orang tertawa lagi dengan celotehan Indra. Daddy membalas dengan mengelus-elus perutnya.


Untung saja acara berlangsung lancar dan singkat. Bunda memakaikan cincin pada Adinda. Sementara Mommy memakaikan cincin pada Agung. Bu Dhani ikut memakaikan kalung dan gelang kepada Adinda.


Makan malam berlangsung dengan penuh keakraban. Orang-orang memberi kesempatan untuk Agung mendekati Adinda. Tanpa mikrofon klip, pastinya.


“Kamu masih marah dengan saya?” Agung sengaja makan di dekat Adinda.


Adinda melahap kerupuk udang. Lalu menggeleng.


“Tapi hati ini masih gak enak..”


Agung yang hendak menyuapkan potongan gurame asam manis langsung menoleh.


“Din.. jangan gitu dong. Ma’afin ya..”


“Udah dima’afin dari tadi juga . Tapi tetap saja gak enak kalau ingat perlakuan Om Agung menghentikan Bunda saat hendak memakaikan cincin ke saya..”


“Din... would you please?”


“Iya..iya..” Adinda tertawa memamerkan dekik kecil di bawah matanya.


Membuat Agung berkedip beberapa kali memandang wajah Adinda. Degup jantungnya terasa kencang sekali. Agung berdehem.


“Saya ada request ke kamu.”


“Apa Om?”


“Jangan pakai contact lens lagi ya. Please.”


Adinda menatap Agung. Tersenyum malu-malu. Lengkap dengan dekik di bawah matanya. Lalu mengangguk.


Agung tersenyum lebar.


“I love you,” Agung berkata dengan pelan sambil menatap mata Adinda.


Wajah Adinda memerah.


“Love you too, Om,” masih menatap Agung yang tersenyum lebar, “Om.. itu..”


“Hmm?” tanya Agung lembut sambil mengangkat kedua alisnya.


“Itu..”


“Ngomong saja. Gak usah malu-malu, Calon Ma’mum..” Agung tersenyum lebar.


“Itu.. ada cabe yang nempel di gigi depan Om Agung...”


Sontak Agung berhenti tersenyum, menutup rapat mulutnya.


.


***


Yaelah Adinda...


Om Agungnya berasa rungkad itu.


Ibarat diajak terbang tinggi lalu dihempaskan ke bumi....😁😁😁


1 bab saja tapi panjang beud... hampir 1800 kata. Gak tega Author mau potong jadi 2 bab..


Selalu pencet tombol like ya untuk penilaian retensi pembaca 🙏🏼🙏🏼