CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 195 – SIDANG DI GAZEBO LAGI?



Mommy mencolek Bunda lalu memberi kode dengan dagunya untuk melihat Agung dan Adinda.


Bunda memperhatikan mereka berdua lalu memandang Mommy. Mommy berbisik. Bunda mengangguk lalu menggamit lengan Mommy menuju halaman samping.


Gazebo menjadi tujuan mereka. Mereka berdua terlibat pembicaraan serius hingga kemudian cekikikan.


Di ruang tengah, Bik Nung mendekati Agung dengan ragu-ragu.


Agung mengubah sikap duduknya.


“Ada apa Bik?”


“Kakak sama Neng Adinda ditunggu Bunda dan Momi di gajebo,” ucap Bik Nung sambil pamit untuk melanjutkan pekerjaannya di dapur belakang.


Ruangan mendadak hening. Agung dan Adinda saling berpandangan penuh tanya.


“Memangnya ada apa Bik?” tanya Agung.


“Bibik juga gak tahu Kak. Buruan Kak.. Neng..” Bik Nung memandang pada Adinda.


“Sudah sana buruan,” Adisti menepuk paha Adinda.


“Nah loh kalian berdua..” Leon menakuti.


“Alaaah palingan ada perubahan jadwal khitbah,” Indra mengambil wajit Cililin yang tadi dibeli oleh Bramasta.


“Atau jangan-jangan, kalian berdua mau langsung dinikahkan," Hans menyelonjorkan kakinya di atas karpet.


Agung dan Adinda tampak terperanjat. Saling berpandangan dengan canggung satu sama lainnya.


“Eh, gak bisa gitu dong Hans. Tetap harus gue dulu,” protes Indra.


“Lu harus cari anak-anak Lu dulu, Ndra sebelum bertemu dengan jodoh Lu. Seperti kata Adisti pagi tadi,” Bramasta terkekeh.


“What??” Hans dan Anton mendadak kompak seperti paduan suara.


Bramasta menjelaskan ucapan Adisti pagi tadi kepada mereka. Indra tampak melamun.


“Don’t worry, Bro. Kita-kita bakal bantuin Lu buat ketemu dengan jodoh Lu...” Anton menepuk pundak Indra.


“Kita juga bakal bantuin meyakinkan MakNyak dan Babeh, Bro..” Hans mengambil bantal berbentuk boneka sapi hitam putih yang gepeng.


Di dalam gazebo, Bunda dan Mommy menatap Agung dan Adinda bergantian.


“Kalian marahan?” pertanyaan pertama dari Mommy.


Agung dan Adinda sama-sama terperanjat. Keduanya menggeleng.


“Terus, kenapa diam-diaman?” pertanyaan kedua dari Bunda.


“Ini ada apa sih sebenarnya? Sampai-sampai Kakak dan Dinda dipanggil ke gazebo? Masih belum cukup tadi menyidang Kakak?” protes Agung.


“Sidang?” Adinda menoleh pada Agung, “Sidang apa?”


Agung mengangkat kedua bahunya. Lalu kembali menatap pada Bunda dan Mommy.


Bunda dan Mommy saling berpandangan lalu terkekeh bersama.


“Issh Kakak mah su’udzhon ke orang tua,” Bunda meraih plastik kemasan simping kencur.


“Kita mah gak mau lihat kalian saling diam-diaman seperti itu setelah apa yang terjadi di mobil tadi,” Mommy mengambil kepingan simping kencur yang disodorkan Bunda.


“Kita gak diam-diaman, gak marahan kok Mom, Bun..” Adinda melirik Agung.


Mommy menggerakkan tangannya.


"Body’s geture never lie.”


Bunda menganggung-angguk.


“Kami hanya merasa canggung satu sama lainnya setelah kejadian tadi, Mom, Bun..” Adinda menggosokkan telapak tangannya.


“Kakak sudah minta ma’af ke Dinda?” Bunda memiringkan wajahnya mengamati wajah Agung.


Agung mengangguk lalu menunduk.


“Sudah.. tapi ...”


“Tapi Dinda malah membuat Kakak semakin merasa bersalah.”


Bunda mengernyit. Mommy mengambil keping simping kencur lagi. Menggigit 3 keping sekaligus.


“Dinda menolak permintaan ma’af Kakak.”


Sontak Bunda dan Mommy menoleh pada Adinda yang tertunduk sambil memilin jemarinya di atas pangkuannya.


“Dinda malah bersikeras Kakak tidak perlu untuk meminta ma’af karena dia yang bersalah,” Agung mengusap wajahnya dengan kasar.


“Tuh Gung.. Kurang baik bagaimana coba Adinda ke kamu?" Mommy menatap Agung yang terlihat nelangsa dengan iba. Ditatap Mommy seperti itu, Agung menunduk.


“Makanya.. jaga tuh mulut supaya tidak mengucapkan hal-hal yang menyakiti hati orang yang kamu sayang. Ucapan kamu ke Dinda saat di mobil tadi jahat loh Gung..”


Adinda mengusap sudut matanya.


“Kakak sayang kan sama Dinda?” tanya Bunda.


Adinda menoleh pada Agung, menunggu jawaban Agung.


Agung memandang Bunda dan Mommy bergantian. Lalu menganggukkan kepalanya.


“Sayang banget. Sampai-sampai tadi saat Dinda membalikkan semua kalimat yang tadi Kakak ucapkan di mobil rasanya sangat menyesakkan sekali,” suara Agung berubah menjadi pelan, nyaris berbisik.


Bunda dan Mommy saling menatap.


Adinda menengadah. Memandangi pola bilik bambu yang digunakan sebagai plafon gazebo. Mencegah air matanya mengalir.


“Next time, Kakak ngomongnya dijaga ya? Menyesalkan kalau sudah menyakiti?” Bunda memandang Agung yang sedang mengusap ujung matanya.


“Dinda, kamu jangan merasa bersalah ya. Ma’afkan Om kamu itu. Jangan diambil hati ucapan Agung yang terdengar nyelekit. Adiknya saja sampai memberi julukan kanebo kering ke kakaknya..”


Adinda mengangguk sambil tersenyum. Lalu memutar sedikit tubuhnya untuk menghadap Agung.


“Udah Om.. udah Dinda ma’afkan. Kita baikan lagi sekarang. Gak diam-diaman lagi, ya,” Adinda membungkukkan tubuhnya untuk dapat melihat wajah Agung yang menunduk.


Menatap mata Agung lalu tersenyum lebar sambil memamerkan gigi kelincinya. Agung terkejut lalu tertawa.


“Kamu...” Agung tidak meneruskan kalimatnya. Dia terkesima dengan dekik kecil yang muncul di bawah mata Adinda saat tertawa.


“Ciyeeee yang baikan lagi,” Bunda ikut tertawa, “Lega sekarang kami. Jangan diam-diaman dan jangan biarkan missunderstanding terlalu lama ada di antara kalian ya.”


“Manis banget sih kalian berdua ini. Jadi ingin dekat-dekat Daddy deh biar disayang. Yuk Bun, kita ke dalam lagi. Mendadak kangen ke pacar...” Mommy menggamit lengan Bunda. Tidak lupa membawa kemasan simping kencur bersamanya.



“Bun.. ini enak banget sih. Sampai gak bisa berhenti makannya,” kata Mommy saat mereka beranjak menuju rumah.


Agung dan Adinda yang dibiarkan berdua mendadak berhenti tertawa. Adinda beringsut menjauh dari Agung.


Adinda memilih duduk di atas pagar gazebo sambil memeluk tiang bambu besar penyangga atap.


Agung yang masih duduk lesehan, memeluk kedua lututnya sambil memandangi Adinda.


Cahaya matahari yang menerobos dedaunan pohon Ketapang Kencana yang berada di samping gazebo mengenai kulit wajah Adinda. Cantik.


“Kenapa duduk di situ?” tanya Agung setelah menunggu debaran jantungnya mereda.


“Biar aman. Social distantion,” Adinda memicingkan matanya mengamati dedaunan Ketapang Kencana di atasnya.


Agung terkekeh.


“Nanti kalau sudah mahrom, jangan meluk tiang lagi ya. Peluk saya saja.”


Adinda menoleh menatap Agung. Satu detik. Dua detik. Lalu memalingkan wajahnya dengan senyum simpul di wajahnya yang merona. Malu!


.


***


Ciyeeeee Babang Agung..


Ciyeeeee


😂😂🤣🤣