CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 288 – LANGSUNG K.O.



SANJAYA GROUP


Seorang head section dari divisi akuntan berlari ke arah ruangan Hans. Dia berhenti di meja resepsionis di depan ruangan sekretaris.


Asisten Hans yang menjadi resepsionis menatap pria itu sambil mengedipkan mata berulangkali.


“Anda tahu peraturan di lantai ini kan?” pria muda berkacamata itu menatap head section dari divisi akuntan itu dengan tatapan marah.


“Ya. Saya tahu, Pak. Tapi ini emergency. Pak Agung, dia berusaha menghentikan penyanderaan bersenjata di ruangan inap rumah sakit. Tuan Hans ada dimana sekarang? Saya harus menyampaikan pesan Pak Agung kepada Tuan Hans!”


Asisten Sekretaris terperangah.


“Ruang meeting 3!” secara otomatis dia memberitahu keberadaan Hans.


“Terimakasih!” salah satu head section itu berlari sambil mengumpat dalam hati, “D A M N ! Ternyata Tuan Hans hanya berbeda satu dinding dengan ruang rapat kami!”


Head section itu berlari lalu menjeblakkan pintu ruang meeting tempat Hans berada. Orang-orang yang sedang berada di dalamnya terkejut dan menatap ke arahnya.


Hans tampak sedang menerima telepon. Sebelum head section itu berbicara, telapak tangan Hans sudah terarah padanya. Memintanya untuk menahan diri.


Hans berdiri. Lalu menghadap ke arah tamunya.


“Ma’afkan saya. Ada kejadian yang sangat mendesak yang harus saya tangani. Meeting terpaksa kita undur dulu.”


“Tapi Tuan Hans!” pria bermata monolid berperut buncit memprotes tindakan Hans.


“Keadaan ini sangat genting. Ma’afkan saya. Bila perusahaan Anda masih berminat untuk bekerjasama dengan Sanjaya Group, nanti asisten saya akan memberi kabar jadwal meeting yang baru kepada Anda. Tapi bila tidak?” Hans mengangkat kedua bahunya, “Apa boleh buat. Mungkin perusahaan kita tidak berjodoh. Selamat pagi.”


Hans meninggalkan ruang meeting dengan terburu-buru.


“Tuan Hans!” pria buncit itu memanggilnya, “Saya ingin bertemu dengan Tuan Alwin Sanjaya! Saya tidak terima diperlakukan seperti ini. Anda hanyalah seorang sekretaris di Sanjaya Group!”


Wajah Hans menjadi dingin. Tidak ada lagi wajah senyum bisnis terpasang di ekspresinya. Bahkan head section yang menjeblakkan pintu ruang meeting menatap ngeri pada Hans.


Hans memutar kakinya. Dia menghadap ke arah pria bermata monolid itu.


“Betul saya adalah sekretaris di Sanjaya Group. Tapi kedudukan saya dalam setiap meeting yang saya hadiri juga sebagai chairman dari Sanjaya Group. Artinya, keputusan saya adalah keputusan Tuan Alwin Sanjaya.”


Pria bermata monolid yang tadinya berdiri mendadak terduduk. Tangannya gemetar.


Hans maju selangkah.


“Tuan Tjipta, atas sikap Anda ini, ma’af. Perusahaan kita tidak bisa bekerja sama. Nanti akan saya sampaikan kepada Tuan Alwin yang saat ini sedang berada di Kuala Lumpur.”


“Tu..Tuan Hans..” suaranya bergetar, “Sa..saya minta ma’af. Tolong ma’afkan saya!” Dia luruh dari kursinya.


Tubuhnya bertumpu pada kedua lututnya. Kedua tangannya berada di samping tubuhnya dengan bahu terkulai.


Hans tidak berminat lagi untuk berbicara. Karena dia tahu, bila dia berbicara lagi maka berikutnya hanya akan terdengar rengekan permintaan ma’af.


Head section itu dengan gemetar menatap Hans yang menghampirinya. Dia mengelap keringat di pelipisnya dengan lengan bajunya.


“Pesan Pak Agung?”


“Segera datang ke ruang meeting kami. Kami masih terhubung dengan panggilan video untuk meeting online saat tiba-tiba Pak Agung lenyap dari jangkauan kameranya untuk mengambil pensil yang jatuh, lalu Pak Agung tiba-tiba membalikkan posisi kamera.”


“Siapa yang disandera?”


“Saya tidak tahu, Tuan. Tapi dari seragamnya dia adalah orang dari AMANSecure.”


Hans menyentakkan pintu ruang meeting di sebelahnya hingga terbuka. Orang-orang divisi akunting terdiam. Hans menatap layar TV di depannya dengan wajah tegang.


“Zoom in area bed pasien!” Hans memerintahkan salah seorang di sana, “Panggilan video call ini direkam kan?


“Iya Tuan Hans.”


Raditya tengah mengulur waktu dengan membuat beberapa pertanyaan.


Hans mengambil gawainya. Menghubungi orang-orangnya di markas Shadow Team. Menjelaskan situasi yang ada.


Melacak ada berapa orang komplotan mereka dengan menggunakan rekaman CCTV rumah sakit.


“Gung? Kamu dengar saya, Gung?" ucapan Hans tidak dijawab oleh Agung.


Dari headset bluetooth Agung yang tersimpan di saku kemejanya membuat mereka bisa mendengar jelas dialog yang ada di ruangan rawat inap itu.


Pada saat itu, pengawal yang disandera menyodokkan sikunya ke ulu hati si penyandera membuat si penyandera menarik pengaman senjatanya.


“Oh no!” Hans memandang ngeri pada layar TV.


***


RUANG RAWAT INAP VVIP 1


Raditya memandang pria itu dengan tatapan mengejek.


“Kalau Anda menembak saya, Anda yakin bisa lolos dari ruangan ini?”


Orang itu tertawa.


“Teman-teman saya akan melindungi saya dengan baik.”


“Anda meremehkan kemampuan kami semua yang berada di ruangan ini?” Raditya bertanya lagi.


Orang itu tertawa lagi.


“Ma’af kepada yang lainnya. Kita tidak punya masalah tapi ma’af, kalian juga harus kami lenyapkan..” masih tertawa.


Tawa pria itu membuat pitingan tangan pada pengawal melonggar. Hal itu dimanfaatkan baik oleh pengawal. Dia menurunkan sikunya lalu menyodok ulu hati pria itu dengan keras.


Pitingan terlepas. Dia menunduk sambil mengaduh. Dia menempelkan ujung peredam senjatanya pada kepala si pengawal.


“Mati kamu! Kamu yang pertama yang akan merasakan panasnya peluru ini!” tangannya menarik pengaman senjatanya.


Agung tidak melewatkan kesempatan. Saat pria itu menempelkan senjatanya pada kepala pengawal, dia sudah berdiri di belakang pria itu.


Dengan gerakan cepat, Agung mengangkat kaki dan menekuk lututnya membentuk sudut 90° dengan tubuh dimiringkan 45°. Lalu melakukan tendangan yeop chagi, tendangan kaki menyamping sekuat tenaga dalam beladiri taekwondo. Sasaran tendangannya adalah tepat kepala pria itu.


Tendangan Agung membuat tangan yang menggenggam senjata terentang ke samping. Tepat di dinding samping pria itu.


PZZZT! PZZZT!


Dua kali senjatanya meletus. Terlihat asap putih dari ujung peredam. Tubuh pria itu terbanting keras ke samping kirinya. Kepalanya masuk ke kolong bed Raditya. Diam tak bergerak dengan senjata msih di tangannya dan tercium aroma mesiu.


Agung meloncat untuk menginjak tangan pria yang masih memegang senjata. Pak Budi dengan sigap melepaskan tangan pria itu dari senjatanya.


Pengawal yang dipiting tadi ikut terjatuh akibat hempasan tendangan Agung. Dia berusaha berdiri. Dibantu oleh Agung.


Setelah berdiri dengan baik, pengawal itu meletakkan telunjuknya di bibirnya.


“Masih ada 2 temannya di depan kamar..”


“Pindahkan Pak Raditya ke kamar mandi!” Agung memandang ke arah Pak Budi, “Cepat! Temannya pasti akan mengecek sebentar lagi setelah mendengar bunyi letusan yang teredam. Man, bantu saya angkat tubuh pria ini ke atas bed!”


Tubuh pria itu sudah berada di atas bed dengan posisi setengah duduk, Man meminta senjata yang dipakai oleh pria itu pada Pak Budi.


Mengambil 2 bantal dari tempat tidur keluarga pasien, Man menumpukkan bantalnya lalu menembakkan senjatanya sebanyak dua kali lagi pada bantal.


Aroma mesiu menguar tajam memenuhi ruangan.


Raditya yang sudah berada di depan pintu kamar mandi mengerutkan keningnya melihat tingkah laku Man. Begitu pula dengan Pak Budi.


Tapi dengan cepat, Pak Budi membawa Raditya masuk ke dalam kamar mandi. Tidak berapa lama saat mereka di dalam kamar mandi terdengar pintu geser yang dibuka.


.


***


Agung dan Man punya ide apa ya untuk mengelabui komplotan pembunuh kiriman Tuan Thakur?


Bagaimana weekend kalian?


Besok Senin lagi. I Love Monday!😁😁😉


Jangan lupa pencet like juga minta update ya. Supaya Author semangat nge-halunya 🤭


Utamakan baca Qur'an, Readers ❤️