CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 297 – PRASANGKA HANS



Bramasta mengangkat telepon pada deringan pertama. Yang sudah bergabung Anton dan Indra, Leon belum ikut bergabung, tapi tidak berapa lama Leon sudah ikut bergabung dengan mereka.


Formasi Kuping Merah lengkap minus Agung.


Hans mengucap salam yang dijawab oleh mereka semua.


“Ma’af ya gue mengubungi kalian malam-malam begini by call. Karena yang akan kita bicarakan adalah salah satu anggota kita yang tidak ada di panggilan telepon ini..”


“Agung?” tanya Indra.


“Iya,” Hans lugas menjawab lugas, “Kalian ada yang melihat keanehan Agung saat makan malam tadi?”


Hampir semuanya menjawab, “Sepertinya gak ada yang aneh deh..”


“Saat baru datang sih gak ada yang aneh,” Anton yang duduk di depan Adinda teringat sesuatu, “Keanehan yang gue lihat sih saat makanan datang dan kita mulai makan..”


“Ah ya.. gue baru ingat,” Bramasta ikut berbicara, “Saat itu Disti mengomentari makan Kakak Ipar yang sedikit, seperti yang tidak berselera makan.”


“Kan saat itu, Agung bilang dia banyak ngemil sebelum datang ke kafe..” Indra mengingatkan.


“Gue gak tahu apa-apa. Gue duduknya di ujung.." terdengar Leon mendengus.


“Sama, gue juga duduknya di ujung,” hans ikut menimpali, “Ton, Lu yang duduknya di depan Adinda, lu melihat hal apa yang aneh dari Agung selain makannya sedikit?”


“Yang gue perhatikan sih dia tiba-tiba seperti yang menarik diri bukan dari kita tapi dari Dinda..”


“What??” nada suara Leon terdengar penuh tanya. Aksen Perancisnya begitu jelas terdengar, “Memangnya apa yang sudah Dinda lakukan? Kan kita bercanda bareng, tertawa bareng..”


“Tadi.. gue lupa lagi Dinda ngomong apa saja ya sewaktu masih ada Agung..” Indra tampak berusaha mengingat.


“Kalian yakin ini semua karena ada sikap atau perkataan Dinda yang salah?” Hans bertanya.


“Maksudnya?” semuanya kompak menjawab.


“Agung tidak langsung pergi ke rumah sakit malam tadi..” Hans menjawab pertanyaan mereka.


“Loh, bukannya Pak Raditya sendirian di sana? Makanya Agung bergegas pulang ke rumah sakit?” tanya Indra.


“Gue kirim foto di WAG ya. Foto yang dikirim oleh pengawal Agung,” Hans terdengar menghela nafas.


“Kenapa di WAG? Nanti kalau Agung lihat bagaimana?” Bramasta bertanya dengan cepat.


“It’s OK Bram.”


Suara notifikasi pesan masuk terdengar dari gawai Bramasta. Bramasta segera membuka pesan masuk berupa foto dari Hans.


“OMG... Hans, pengawalnya Agung punya bakat jadi fotografer?" suara Leon terdengar lagi, “Ini.. kenapa fotoya keren banget sih?”


“Siluet itu, Agung?” Indra terdengar tidak yakin.


"Itu memang Kakak Ipar," Bramasta menjawab pertanyaan Indra.


“Wait the minute please...” suara Anton berbarengan dengan suara keyboard yang diketik cepat, “Bang Agung posting di medsosnya. View yang sama dari angle duduknya.”


“Kirim ke WAG, Ton,” Leon memerintahkan....


“Siap.. Semenit setelah posting, Bang Agung menonaktifkan ponselnya. Silahkan cek waktu terakhir Bang Agung Online di WA. Sampai sekarang, Bang Agung masih offline,” Anton membeberkan semuanya.


“Viewnya beneran bagus ya..” Indra memuji.


“Captionnya: menepi dari hiruk pikuk,” Bramasta membacakan untuk mereka, “Itu artinya Kakak Ipar tengah galau kan?”


“Apakah benar Agung hanya tengah galau terkait Adinda?” Hans bertanya pada semuanya.


“Sebentar...sebentar.. Ini sepertinya ada yang harus diluruskan nih. Hans, Lu berpikir apa sih?” kali ini suara Indra terdengar penuh ketidaksukaan atas kalimat Hans tadi.


“Hans, telepon terakhir sebelum Lu membubarkan kita semua, itu dari siapa?” Bramasta bertanya dengan nada mendesak, “Jelaskan kepada kita semua.”


“Itu telepon dari Man, anak buah gue yang menemani Raditya malam ini. Dia menerima telepon dari pengawal yang mengawal Agung, melaporkan tindak tanduk Agung yang tidak biasa, seperti orang yang kebingungan.”


“Terus?” Leon bernada tidak sabar.


“Gue tanya, Agung ada bertemu dengan seseorang gak? Awasi terus dan langsung laporkan bila Agung bertemu seseorang.”


“Why?” Leon bertanya lagi.


“Agung sedang menjaga orang prioritas kita. Tokoh VVIP kita. Kalian bisa bayangkan gak kalau misalnya Agung main dua kaki?” Hans terdengar sangat berhati-hati.


“Ah.. kebangetan Lu, Hans..” Indra terdengar kesal sekali.


“Tega banget Lu, Hans..” Leon terdengar tidak percaya mendengar kalimat dari mulut Hans.


“Justru gue tanya Lu kenapa Hans?” Bramasta terdengar marah, “Lu gak biasanya seperti ini. Gue harap ini sekedar tekanan dari kerjaan Lu aja, Hans.”


“Benar-benar nih Hans.. Lu kebanyakan tekanan dari kerjaan Lu!” Indra benar-benar jengkel, “Bram dan Bang Leon, bilang ke Om Al supaya mengistirahatkan dulu Bang Hans dari AMANSecure!”


“Ndra.. gue punya alasan tersendiri!” Hans bersikeras.


“Gini aja deh Bang Hans,” suara Anton terdengar ingin menengahi, “Sejauh ini, ada laporan yang masuk dari Man lagi tentang Bang Agung? Ada laporan Bang Agung bertemu dengan seseorang seperti yang dikhawatirkan oleh Abang?”


“Sampai saat ini memang belum. Tapi kemungkinan untuk itu kan ada, Ton..”


“Lu sendiri baru saja ngomong, belum ada laporan. Tapi kenapa Lu bersikukuh untuk mencurigai Agung?” Leon mendengus.


“Bram, jangan sampai Disti tahu akan hal ini..” Indra mewanti-wanti.


“Gue tahu, Ndra. Kalau Disti tahu, bisa habis Bang Hans oleh Disti ditambah lagi kalau Adinda sampai tahu. Bisa-bisa gue besok batal berangkat ke NZ,” Bramasta mengacak rambutnya.


Mugnya yang tadi berisi air hangat sudah kosong.


“Bram, Lu gak boleh batalkan rencana ke NZ. Ini masalah perusahaan juga,” Indra mengingatkan.


“Hans, all you need is vacation. Take a rest your mind_Yang Lu butuhkan hanya liburan. Istirahatkan pikianmu_...” Leon memberikan nasehat, “Besok gue bicarakan dengan Daddy.”


“Bang Leon..”Hans hendak bicara tapi keburu dipotong oleh Leon.


“Gak Hans. Lu harus libur dulu. Gue yakin Daddy setuju dengan gue. Pikiran Lu memperngaruhi hati Lu. Tega banget.. Saudara sendiri sampai disangka main dua kaki. Atas dasar apa sih Hans?”


“Bang Hans gak ingat bagaimana Bang Agung melindungi Bang Raditya pagi tadi? Gak main-main loh Bang. Lawannya pegang senjata api sementara Agung menghadapinya dengan tangan kosong,” Anton mengingatkan Hans.


“Lagipula ide siapa yang menaruh musuh pertama yang terkapar untuk ditaruh di atas bed sementara Pak Raditya diungsikan ke kamar mandi? Lalu mereka semua berpura-pura mati tertembak?” Indra mengingatkan lagi, “Di video jelas itu ide Agung. Kecuali yang menembakkan senjata lawan ke bantal di atas sofa bed. Gue yakin karena Agung gak pernah pegang senjata api seumur hidupnya.”


“OK.. OK.. Gue akui gue terlalu terburu-buru dalam mengambil kesimpulan,” Hans terdengar beberapa kali menghela nafas, “Gue minta ma’af.”


“Lu harus minta ma’af ke Kakak Ipar, Hans..” Bramasta berbicara sambil membuka kulkas.


Mengambil kotak kecil berisi anggur yang sudah dicuci oleh istrinya.


“Iya.. gue akan minta ma’af langsung pada Agung..” jawab Hans.


“Dan gue setuju dengan Bang Leon. Lu harus take a vacation dulu. Cooling down your brain. Refreshing, Bro. Lu gak pernah ambil jatah libur Lu semenjak Mbak Hana melahirkan. Kasihan tuh istri dan anak Lu gak pernah diajak liburan..” Bramasta membuka wadah plastik kedap udara dengan kedua tangannya sementara gawainya ia jepitkan pada pundak dan telinganya.


Suara Hans menghela nafas terdengar lagi.


“Iya... nanti gue ajukan libur ke Tuan Alwin. Tapi AMANSecure bagaimana?”


“Lu gak usah pikiran AMANSecure bakal gimana-gimana. Gue yakin Daddy tahu apa yang harus diperbuat,” Bramasta menjawab lagi.


“Indra dan Anton, gue tugasin kalian untuk menanyakan pada Agung, ada apa sebenarnya. Bantu dia untuk keluar dari masalahnya. Kalian berdua kan sangat dekat dengan Agung,” Leon memberi perintah langsung pada keduanya.


“Iya Bang.. insyaa Allah,” keduanya kompak menjawab.


“Untuk AMANSecure, gue akan meminta supaya Daddy mempercayakannya kepada kita, Kuping Merah, selama Hans libur. Karena selain kita tahu bagaimana AMANSecure dan Shadow Team bekerja, mereka juga sudah mengenal kita yang sering beraktifitas di sana,” aura kepemimpinan Leon terdengar dari suaranya.


“Kalian?” tanya Hans.


“Iya. Setiap keputusan yang diambil untuk setiap tindakan, kita bicarakan bersama. Selama Lu libur, Lu gak boleh meminta laporan langsung ke anak buah Lu, Hans,” tegas Leon.


“Kok gue merasa sedang dihukum, ya?” Hans terdengar tak percaya.


“Lu memang harus dihukum karena berani menuduh saudara Lu sendiri main di dua kaki, Hans. Itu tuduhan jahat banget!” Leon kembali berkata tegas.


Terdengar suara wanita dari arah Leon. Leon menjawabnya pelan dan lembut.


“Rien, chérie. Désolé de perturber votre sommeil. Ssssh.. retourne dormir, ok_Tidak ada apa-apa, Sayang. Ma'af mengganggu tidurmu. Ssssh.. tidur lagi ya_..”


“Ya ampun, Bang.. Abang nerima teleponnya di dalam kamar? Kenapa gak di ruang kerja saja?” Bramasta meringis.


“Lupa. Tadi gue sedang tidur saat Hans menelepon..” Leon terkekeh, “Ya sudah ya. Ini sudah larut. Kita semua butuh istirahat malam ini. Terutama kamu, Hans. Tidur dulu sebelum gabruk-gabrukan. Goodnight all, gue duluan ya. Assalamau’alaikum..” Leon mengakhiri pangilannya.


“Sekali lagi gue minta ma’af ya, Brothers..” Hans terdengar tulus dan merasa malu.


“It’s OK Bang. No body is perfect,” Indra menanggapi Hans.


“Kita akhiri saja ya. Goodnight all. Assalamu’alaikum.”


Panggilan berakhir. Bramasta masih termenung di sofa ruang tengah. Mengunyah anggur dengan perlahan.


Menelaah lagi obrolan tadi. Bramasta menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin Agung untuk bermain di dua kaki.


Suara pintu yang dibuka membuatnya menoleh ke belakang. Adisti dengan wajah mengantuk berdiri di ambang pintu.


“Abang ngapain? Kenapa ninggalin Disti? Disti cariin tadi..”


Bramasta mengangkat kotak anggur ke arah Adisti. Ia menepuk tempat di sampingnya.


Adisti mendekat dan langsung tidur lagi di pangkuan suaminya.


“Buk Istri gak mau anggur?” Bramasta mengoleskan anggur di bibir istrinya.


Merasa terganggu, Adisti menepis tangan Bramasta. Masih dengan suara mengantuk,


“Buk Istri gak mau dianggurin, Bang..”


“Beneran ya..” Bramasta melepas kaosnya.


“Abang mau apa?”


“Supaya Buk Istri gak merasakan dianggurin...”


“Gak di sini juga kali Bang..”


“Biarin. Tanggung.”


“Tapi di sini kan sempit. Gak muat buat kita tidur berdua..”


“Gak sempit kalau kita tumpuk-tumpukan..”


.


***


Sudah.. bubar..bubaaaaaar


Jangan diganggu mereka berdua.


Hans kira-kira mau liburan kemana ya?


Utamakan baca Qur'an 🌷