CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 170 – SESERU ADEGAN FILM



Seorang petugas polisi mengarahkan senjata apinya pada Bryan dan Asistennya.


Terdengar suara Anton berteriak, “Hey, jangan sembarang mengarahkan senjata ataupun menembak, mereka menyandera Hans Alvaro Fernandez, sekretaris Tuan Alwin Sanjaya dari Sanjaya Group!”


Kemudian, tanpa Bryan dan Asitennya sadari, Hans membuat isyarat tangan. Isyarat yang dipahami oleh petugas polisi yang menjadi penanggung jawab penyergapan dan juga Anton.


Anton mem-pause video. Semuanya yang sedang tegang menonton jadi memandang penuh tanda tanya pada Anton.


“Kalian lihat tangan Bang Hans?” tanya Anton.


Mereka semua hanya mengangguk.


“Itu kode Bang Hans, yang artinya dia baik-baik saja, dia bisa mengatasinya. Lanjutkan rencana berikutnya,” Anton melanjutkan penjelasannya.


“Apa rencana berikutnya?” tanya Daddy.


“Menyebarkan rekaman CCTV lounge hotel ke stasiun TV dalam tajuk breaking news. Kita gak perlu memakai Prince Zuko kali ini,” Anton tersenyum sambil menekan tombol pausenya.


Adegan berlanjut lagi. Bryan menyeret Hans ke arah lobby tapi masih di area lounge karena lobby diblokir oleh petugas polisi.


“Go away. Don’t block me. Or he will die! Pergi. Jangan halangi aku. Atau dia akan mati!"_ ancam Bryan dalam bahasa Inggris beraksen Jerman.


“Kalau aku mati, kau tidak akan selamat sedikitpun!” kata Hans dalam Bahasa Jerman yang fasih.


Bryan dan Asistennya terkejut memandang Hans.


Kemudian Bryan tertawa mencemooh.


“Aku punya kekebalan diplomatik. Aku tidak akan tersentuh hukum!” masih dengan suara yang pongah.


“Tidak di negera tempatmu bertugas tapi di negara asalmu,” Hans tersenyum miring.


“Dan kamu!” Hans memandang kepada si Asisten, berbicara dalam Bahasa Indonesia, “Kamu tidak punya kekebalan apapun. Kamu tidak akan lolos dari hukum sebagai kaki tangannya Bryan!”


“Diam!!” si Asisten tampak panik dan emosi. Dia mengacak-acak rambutnya sendiri.


Tangannya menampar Hans dengan keras hingga mulutnya mengeluarkan darah. Hans mengusap darah yang keluar dengan mengusap bahu ke sudut bibirnya.


“Tuan Bryan, bagaimana dengan saya? Bagaimana dengan nasib saya nantinya? Saya tidak mau ditangkap, saya tidak mau dipenjara. Anak dan istri saya bagaimana? Juga adik-adik saya yang masih sekolah?” si Asisten bertanya dengan cepat kepada Bryan.


Bryan memicingkan matanya menatap Asisten. Ada tatapan muak pada matanya.


“Kau bantu aku dulu. Yang penting bantu aku untuk keluar dari posisi ini. Jangan khawatir, aku akan membantumu!” Bryan mendengus kasar pada akhir kalimatnya.


Hans terkekeh.


“Kamu percaya?” tanyanya pada si Asisten yang memandang tuannya dengan wajah sangsi.


Si Asisten memandangi wajah Hans. Lalu membuang wajahnya seperti tampak berpikir. Dia menatap sekelilingnya. Para polisi sudah mengepung lounge. Bahkan untuk bergerak ke lobby pun diblokade oleh polisi.


Meskipun mereka menyandera Hans, tapi polisi tetap memblokade jalan menuju lobby. Entah bagaimana akhir drama penyanderaan ini bagi si Asisten. Sepertinya para polisi tidak mau bernegosiasi dengan tuannya.


“Kalian tidak akan bisa lolos. Sudah terkepung,” Hans tersenyum miring berbicara dengan si Asisten dalam Bahasa Indonesia.


“Untuk apa kamu tetap membela seorang penjahat kelam1n seperti tuanmu. Bekerjasamalah,” Hans berusaha mempengaruhi si Asisten.


Si Asisten terperanjat, “Anda tahu?”


“Saya sudah tahu semuanya. Kalian akan menjebak gadis itu untuk menjadi mainan baru tuanmu kan? Menjadi pemuas n4f$u bejat tuanmu itu. Program beasiswa hanya sebagai kedok saja,” Hans menatap tajam.


Bryan tampak tidak senang.


“Diam kamu! Jangan bicara lagi. Jangan coba mempengaruhi anak buahku!” pistol dalam genggamannya dihantamkan pada pelipis Hans.


Hans limbung ke samping tapi tubuhnya ditahan oleh Bryan. Si Asisten tampak terkejut dengan tindakan Bryan. Dia ketakutan menatap Bryan.


Tubuh Hans yang tertahan oleh Bryan tampak merosot. Hans merunduk lemas.


“Sialan! Dia pingsan!” Bryan mengumpat, “Bikin repot saja!”


“Ini semua gara-gara kamu!” si Asisten tiba-tiba menuding wajah Bryan. Berbicara dalam Bahasa Jerman dengan nada sengit, “Kalau saja kamu bisa menahan emosi untuk tidak menarik perhatian para sekuriti hotel, kalau saja kamu bisa menahan diri saat berhadapan dengan orang kampung itu.. semua tidak akan runyam seperti ini!!”


“Iya! Kenapa?! Kamu bodoh!” umpat si Asisten dengan mata mendelik ke arah Bryan.


Bryan melepaskan tekanan ujung pistolnya pada pelipis Hans. Dia mengarahkannya kepada kepala si Asistennya sekarang.


Polisi berseru kaget. Tidak menyangka dengan tindakan yang Bryan lakukan. Menodongkan senjata anak buahnya sendiri.


Tubuh Hans semakin merosot karena tidak ada yang menyangga. Lalu dengan cepat dan kuat, Hans bergerak. Dia memukulkan sikunya ke arah ulu hati Bryan. DUG!


Bryan mengaduh sambil terbungkuk dan terhuyung ke belakang. Tangan yang memegang pistol tampak gemetar karena rasa sakit pada ulu hatinya.


Hans tidak menyiakan kesempatan itu. Dengan sekali tendang, pistol itu terlepas, terlempar tinggi dan jatuh dilantai lalu meluncur ke arah kaki petugas polisi. Senjata Bryan sudah diamankan.


Si Asisten langsung jatuh berlutut dengan tangan saling kait di belakang kepalanya. Menyerah.


Hans tidak mengambil jeda. Dia langsung berbalik ke belakang, mendekati Bryan yang tadi terhuyung mundur.


“Unnützer Mensch!_Dasar manusia tak berguna!_” seru Hans sambil meninju rahang Bryan.


Kepala Bryan terpelanting ke belakang. Dia rubuh dengan lutut menyentuh lantai lebih dulu. Lalu diam tak bergerak di atas lantai granit hotel. Knock Out !


Si Teman Pria melihat semua orang tertuju perhatiannya pada Bryan berusaha kabur dari lounge. Anton melihatnya.


Dengan tubuh jangkungnya, dia bergerak cepat meraih kerah belakang kemeja si Teman Pria. Menarik dengan kuat lalu membanting tubuhnya yang sudah babak belur karena dihajar Agung subuh tadi ke lantai.


Terdengar suara mengaduh dan merintih dari mulut si Teman Pria. Dia berusaha untuk bangkit lagi tapi Anton menahan tubuhnya dengan lututnya.


“Ini untuk perbuatanmu kepada Adinda!” Anton membenturkan kepala si Teman Pria pada lantai hotel.


Si Ibu Tiri meraih garpu salad dari meja. Tangannya terangkat di udara, hendak menusukkan garpu yang ada dalam genggamannya pada leher Anton yang sedang membungkuk membelakanginya.


Si Gadis Pemeran Pengganti bergerak cepat. Dengan bertumpu pada meja menggunakan kedua tangannya, dia mendorong tubuhnya dan mengarahkan kakinya ke lengan atas si Ibu Tiri dengan keras.


Garpu terlepas, sementara tubuhnya terhuyung ke samping membentur kursi-kursi sebelum akhirnya diam tak bergerak di atas lantai setelah sebuah sandaran kursi menimpa lehernya.


Anton tampak terkejut. Kemudian memandang si Gadis Pemeran Pengganti sambil menganggukkan kepalanya, “Nice move!”


Si Gadis Pemeran Pengganti mengangguk sambil tersenyum lebar. Wajahnya terekam kamera dengan baik. Cantik sekali.


Anton menekan tombol pause. Menyisakan wajah si Gadis Pemeran Pengganti dengan senyum lebarnya.


“Selesai. Tamat. The End. Fin,” katanya.


Semua yang menonton tampak tidak bergerak. Masih terkesima dengan tontonan yang baru saja mereka tonton. Masih memandangi layar proyektor di depannya.


Entah siapa yang memulai, semuanya berdiri sambil bertepuk tangan, memandangi para bintang sore ini, Hans dan Anton.


“Itu tadi beneran kan? Bukan settingan?” tanya Adisti yang disambut tawa oleh yang lainnya.


“Keren banget sih kalian berdua? Mommy jadi bangga, tahu!” Mommy memeluk Hans dan Anton bergantian.


“Gadis itu, siapa namanya?” tanya Bu Dhani.


“Bulan, Nyonya,” jawab Hans, “Kenapa?”


“Jodohkan saja gadis itu dengan Anton,” jawab Bu Dhani disambut tepukan tangan riuh dari Gank Kuping Merah dan para istrinya.


.


***


Jadi ingin mampir ke penthouse-nya Bramasta & Adisti. Seru banget di sana ya.


Nanti security lobby penthouse-nya ngomong, “Siapa Lu?”


🤪


Jangan lupa bantu Author promosikan novel ini ya.. ❤️