CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 126 – SESUAI PREDIKSI



Begitu sampai di apartemen Bramasta, Anton dibantu Indra dan Hans langsung mempersiapkan segala sesuatunya untuk siaran langsung di burung biru. Rekaman video CCTV gerai donat sudah diedit sedemikian rupa oleh Anton sehingga wajah Adinda tidak tampak dan wajah para berandalan juga diblur.


Publikasi video rekaman CCTV gerai donat difokuskan kepada aksi Agung yang menyelamatkan seorang gadis remaja dari bullying dan pelecehan. Agar masyarakat bersimpati terhadap Agung yang sudah menjadi korban tak bersalah dalam kasus The Ritz dan dapat mengangkat kasus menjadi perhatian publik sehingga masyarakat bisa mengawasi jalannya pemeriksaan dan pengadilan nanti.


Anton memberi tanda pada Hans untuk memulai. Hans berbicara dengan lancar tanpa teks. Semua terkonsep di kepalanya. Public speech-nya sangat baik karena terlatih sebagai orang penting di Sanjaya Group.


Siaran berlangsung 10 menit. Begitu Hans melepas headset bermikrofon, suara bel terdengar. Leon memeriksa melalui monitor pintu depan. Kurir delivery food.


“Alhamdulillah.. akhirnya sampai juga. Lapar banget..” Indra langsung membantu Leon mempersiapkan makanan di meja pantry.


“Makan di balkon saja biar sejuk udaranya, mumpung cerah,” usul Hans.


Semuanya setuju.


Hans memperlihatkan foto para mantan Ivan yang baru ia dapat dari anak buahnya. Pipi mereka memar-memar.


“Ivan yang melakukannya?” tanya Anton, “Gila bener!”


“Tidak. Ivan menyuruh mereka untuk saling tampar sebagai hukuman sudah mengganggu Adinda.”


“OMG! Psikopat tuh anak ya. A danger teenager.”


Hans mengangguk.


“Kabar Tuan Thakur bagaimana? Cedera di kepalanya karena dipukul oleh si Jon?” tanya Bramasta.


“Hanya luka terbuka kecil. Cuma 5 jahitan.”


“Ah.. sayang banget ya,” kata Leon sambil menyuap sepotong rendang.


“Rita bagaimana?”


“Semua yang terlibat insiden The Ritz masih di tahanan kecuali Tuan Thakur yang meminta dirawat karena cederanya.”


“Cih! Lemah!” Indra berdecih.


“Dia takut dipenjara. Musuhnya banyak,” Hans mengambil kerupuk di atas meja.


“Bini Lu mana, Bram? Gak mau makan lagi dengan kita?” tanya Leon.


“Habis mandi kayaknya tidur deh. Soalnya tadi di mobil juga menguap mulu bawaannya.”


“Setelah ini gue langsung balik ya,” kata Leon.


“Gue juga,” Hans meraih gelas.


“Semuanya langsung pulang aja. Udah beres semua kan Ton?” Bramasta memandang Anton.


Anton mengangguk, “Sudah rapi semua, Pak Bos.”


“Terus besok rencananya bagaimana?” tanya Indra.


Semua orang memandang Hans.


“Kita tunggu saja perkembangannya. Spill-an kita tentang Tuan Thakur membuat kebencian masyarakat terhadapnya semakin meningkat. Sepertinya para pemain kasus harus berpikir ulang untuk memblurkan kasus ini.”


Semuanya terkekeh senang mendengar ucapan Hans.


“Inspektur Vijay sepertinya besok pagi muncul. Animo masyarakat terhadap kasus ini meningkat tajam. Desakan masyarakat untuk pemeriksaan yang transparan dan pengadilan yang adil sepertinya membuat Inspektur Vijay harus menenangkan masyarakat.”


***


“Pak Suami, bangun..”


“Hmm..”


“Buruan.. udah siang. Katanya mau ngantor pagi-pagi..”



“Bentar lagi..”


“Issh bangun.. Makanya habis subuh jangan tidur lagi..” Adisti menusuk-nusuk pipi suaminya.


Bramasta menangkap tangan Adisti. Menariknya hingga mata Adisti mendekat ke matanya.


“Bangunin suami yang mesra dong...” Bramasta mencebik.


Adisti terkekeh.


“Ya sudah, kita ulang ya. Abang geseran dikit agak ke tengah.”


Bramasta menurut. Matanya dipejamkan lagi. Adisti berbaring di sebelahnya. Bramasta membalikkan tubuhnya memunggungi Adisti sambil menarik selimut.


Suara nafas lambat dan teratur terdengar dari Bramasta. Dia kembali tertidur. Adisti berdecak kesal.


[Gue gigit juga nih Abang Bram..] Adisti menyeringai jahil menatap leher putih suaminya.


“Eh?! Disti?” Bramasta tersentak kaget, “Woiyy udah.. geli tau! Udah.. Disti..”


Semakin didorong, Adisti semakin mengetatkan pelukannya pada Bramasta.


“Udahan ah. Iya.. Abang bangun sekarang..” Bramasta mencoba bergeser hingga tepi tempat tidur.


Adisti terkekeh jahil.


“Ah.. Disti nih. Masa banguninnya pakai cara-cara vampire begitu sih..”


“Lihat leher Abang jadi teringat Edward Cullen di film Twilight Saga.”


“Kemarin film Titanic, sekarang Twilight Saga, besok film apa lagi?”


“Ipin dan Upin, Bang.”


“Hisssh..,” Bramasta duduk sambil menjawil dagu Adisti, “Disti ikut Abang ke kantor ya? Nanti menjelang siang kita mau ke lokasi proyek di daerah Soekarno Hatta.”


“Asyiik halan-halan.. Abang buruan mandi. Sarapan sudah siap.”


Adisti menyiapkan pakaian dalam untuk suaminya. Untuk baju kerja, Adisti membiarkan Bramasta memilihnya sendiri.


Adisti menyalakan TV di ruang tengah. Berita tentang Tuan Thakur, Rita Gunaldi, The Ritz dan Prince Zuko dari kemarin merajai televisi. Hari ini ditambah dengan berita tentang Agung yang beberapa jam sebelum terkena peluru nyasar telah menyelamatkan seorang remaja putri dari perundungan dan pelecehan.


Bramasta yang sudah berpakaian rapi tampak keheranan memandang Adisti yang terdiam mematung berdiri sambil memegang remote TV.


“Kenapa?” bisik Bramasta sambil membelai rambut Adisti.


Adisti terkejut dan menoleh.


“Berita Kakak, kalimatnya betul-betul menggugah simpati dan empati.”


“Really?” Bramasta membuka burung biru di gawainya. Kemudian mengangguk setuju.


“Wow, hastag Agung the real hero jadi nomor satu, disusul hastag usut tuntas Jenderal XX,” mata Bramasta berbinar.


Tidak berapa lama, notifikasi pesan chat berbunyi. WAG Kuping Merah.


Hans_Gue dapat laporan, pagi ini, rumah sakit kebanjiran bunga lagi untuk Agung (emot senyum dan tawa)_


Indra_Kakak beradik itu sepertinya akan jadi tokoh favorit para petani bunga dan pemilik toko bunga (emot ngakak)_


Anton_Apa nanti kita akan mengadakan konferensi pers lagi?_


Hans_Tergantung keadaan_


Bramasta_Hastag tentang Agung jadi numero uno di burung biru (emot ngakak)_


Leon_Btw Ferdi Gunaldi dituntut hukuman mati, gue dapat info dari orang dalam_


Indra_Berarti benar ya apa yang diucapkan Tuan Thakur saat mengintimidasi Rita_


Anton_Rita dan Liliana Sukma bertemu tidak di penjara ya?_


Hans_Saat ini belum. Tapi saat keputusan hukuman sudah ditetapkan, pasti mereka akan bertemu_


Indra_Kayaknya ramai kalau mereka bertemu. Bakal ada adegan jambak-jambakan gak ya?_


Leon_Setdah! Indra kompor meleduk banget_


Indra_Kan seru, sesama nyonya songong bertemu.. Btw, Liliana Sukma masih songong gak?_


Hans_Kabarnya terjadi insiden di penjara. Liliana Sukma dipukuli oleh teman-teman satu selnya_


Bramasta_Subhanallah.. Terus?_


Leon_Pasti karena songong ya?_


Hans_Yang gue tahu, Liliana dipukuli karena menolak untuk membersihkan kamar mandi dan WC_


Anton_Waduh.. Nyonya besar... (emot tawa)_


Bramasta_Kalian sudah cek TV? Narasi berita-berita tentang Agung benar-benar sesuai prediksi kita_


Anton_Sangat mudah menggiring opini pemirsa dengan layar kaca ya_


Hans_Mempermudah tujuan kita_


Leon_Setuju_


Hans_Baru saja ada pesan masuk dari anggota Shadow Team yang berada di instansi Tuan Thakur, para pejabat kelimpungan dengan berita-berita dan desakan netizen terhadap pengusutan Tuan Thakur_


Indra_Berarti sesuai prediksi Lu, Hans. Inspektur Vijay akan muncul hari ini_


Hans_Sepertinya begitu_


***


“Sudah, meeting online di WAG?” Adisti memeluk Bramasta dari belakang, “Abang wangi banget.. Disti suka.”


Bramasta melirik arloji di tangan kirinya.


“Disti mancing Abang? Masih ada waktu nih..”


Sebuah keplakan mendarat keras di lengan atas Bramasta.


“Ngeres ih! Tahu gini gak bakal dipuji lagi deh...”


“Eh.. jangan gitu dong..”


“Tau ah!”


“Ngambek? Ma’af...”


Adisti mencebik.


“Ngambeknya gemesin deh. Yuk ah,” Bramasta tersenyum lebar sambil menaikturunkan alisnya.


“Sarapan terus ngantor,” Adisti menatap galak.


“Sarapan terus ke kamar,” Bramasta menyengir lagi, “Kan Abang bosnya.”


“Gak boleh seperti itu..”


Cengiran di wajah Bramasta lenyap. Berganti dengan cebikan.


“Sarapan...!” Adisti mendorong tubuh suaminya ke meja makan, “Duduk di sini. Disti sudah menyiapkan ini semua. Habiskan. Supaya Disti makin sayang ke Abang.”


Bramasta terkekeh. Menatap nasi goreng dengan topping gepuk goreng di hadapannya.


“Love you more...” Bramasta mencium pipi Adisti.


“Bang, pipi satunya ngiri tuh..”


“Sini.. biar nganan lagi..”


“Love you Abang Bram..”


.


***


Dasar pengantin baru ya... manis banget dah..