CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 233 – CCTV TOKO SEBERANG JALAN



Mereka langsung disambut di pintu pagar rumah begitu turun dari dalam mobil. Pertanyaan yang sama, “Kalian tidak apa-apa?”


Adinda langsung dibawa masuk oleh Bunda, Mommy dan Bu Dhani ke dalam kamar depan, sementara para anggota Kuping Merah dan istrinya juga para orangtua laki-laki berkumpul di ruang tengah.


“Bro, Lu udah dapat rekaman CCTV 15 -10 menit sebelum awal mula kejadian? Bagaimana, ada penampakan si Kurus?” tanya Agung.


Laptop sudah terhubung dengan layar proyektor semenjak Hans mendapat laporan Agung diserang. Anton menggerakkan mouse-nya. Meng-klik beberapa file.


“Ini kamera CCTV dari depan toko yang kalian datangi..” Anton menekan tombol enter.


“Ada berapa CCTV yang Lu sedot, Bro?” tanya Agung lagi.


“Tiga. Yang dua lagi CCTV dari toko di seberangnya dan CCTV lalu lintas.”


“Itu..” Indra menunjuk pada proyektor, “Betul kan yang itu?”


“Ah.. sayang dia pakai topi, Gung,” Leon mencondongkan tubuhnya untuk melihat lebih jelas.


"Sepertinya dia memperhatikan adanya CCTV. Makanya dia mengenakan topi untuk menutupi wajahnya,” Bramasta mengamati proyektor dengan ibu jari pada dagu dan ujung telunjuk di cuping hidungnya.


“Dia terlihat sendirian. Tidak terlihat dia berinteraksi dengan orang lain,” Hans mengernyit.


Tampak di layar proyektor, Agung dan lainnya berkumpul di belakang mobil innova hitam dengan bagasi yang terbuka. Driver dan Pengawal sedang memasukkan belanjaan ke dalam bagasi.


“Bang Hans dan Bang Bram, tolong pengawal yang bertugas tadi tidak dimarahi ya. Posisinya sedang tidak memungkinkan untuk mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya.”


“Tetap saja, dia teledor. Tugas memasukkan belanjaan bukan tugasnya. Itu tugas driver. Apalagi dia bertugas seorang diri. Tidak mengapa bila dia membantu driver bila yang bertugas mengawal lebih dari satu orang,” rahang Hans mengeras.


Agung menatap Bramasta dan Indra. Bramasta dan Indra mengangguk bersamaan membenarkan ucapan Hans. Agung hanya bisa menghembuskan nafas kasar.


“Ya, betul. Lu memang targetnya, Bro..” Anton mem-freeze adegan. Si Kurus terus menatap ke arah Agung saat dia berdiri di dekat bak bunga yang terbuat dari beton.


Kemudian Anton melepas freeze-nya lagi. Si Kurus terlihat mengambil sesuatu dari belakang celana jeansnya. Sepertinya memang diselipkan di pinggang celana bagian belakangnya. Melepas penutupnya lalu menyimpan benda itu di saku jaketnya.


“Pisau atau sangkur?” tanya Ayah.


“Pisau buah Yah. Sama dengan milik Bunda, hanya beda warna gagangnya,” Agung menjelaskan, “Pisaunya sudah ditemukan oleh sekuriti toko. Kakak bawa. Ada di bagasi bersama dengan barang belanjaan.”


Pengawal yang tadi bertugas membawa masuk pisau yang dibungkus dengan plastik kemasan cetakan kuenya Adinda.


Semua memperhatikan pisau yang diletakkan di atas meja.


“Hhh, ternyata benar pisau biasa..” Indra meringis.


“Walau pisau biasa tapi kalau kena kan bisa fatal, Bang..” Adisti meringis membayangkan perut yang koyak oleh pisau.


“Dia mulai bergerak...” Anton menunjuk proyektor.


Si Kurus membuat ancang-ancang dengan membungkukkan tubuhnya ke arah Agung lalu berlari kecang ke arah Agung.


Saat Agung menoleh ke arah datangnya si Kurus, tangan Agung menarik tubuh Adinda dan mendorongnya ke arah pengawal sebelum dia berhadapan face to face dengan si Kurus.


Kemudian si Kurus mendongakkan wajah membuat sebagian wajahnya terlihat oleh CCTV depan toko, menyeringai jahat kepada Agung.


Anton mem-freeze wajah si Kurus. Menyimpan gambarnya untuk dicetak ataupun di kirim ke file pengenalan wajah.


“Dia si Kurus pengantar bunga itu kan?”


“Yupz.. exactly,” Hans mencondongkan tubuhnya.


"Kenapa dia masih berkeliaran?" tanya Bramasta.


"You knew lah.." Daddy menimpali.


"Sepertinya memang dibagi orang-orang Tuan Thakur.. Pembagian tugas untuk mempertahankan pengaruh dan kekuasaan,” Indra menatap proyektor.


“Maksud Lu?” Leon dan lainnya fokus menatap Indra.


Para ibu keluar dari kamar depan bersama Adinda.


“Kemana, Mom?” tanya Bramasta.


“Lanjutin masak untuk makan siang. Dad, Ayah dan Pak Dhani, come on.. Ikannya sudah direndam bumbu oleh Bik Nung,” Mommy mengomandai.


“Papi ngapain? Papi kan gak bisa masak,” Indra memandang penuh keheranan pada Pak Dhani.


“Bakar ikan, Ndra. Papi jago banget bikin bara. Papi kan dulu Pramuka sejati..” Pak Dhani terkekeh meninggalkan Indra dan yang lainnya yang tengah memandanginya tak percaya.


Para orang tua langsung menuju halaman samping.


Sedangkan Adinda ke pantry. Langsung memakai apron dan mengeluarkan belanjaannya. Adisti, Hana dan Layla langsung menghampiri Adinda.


Di ruang tengah, pembahasan tentang si Kurus masih terus berlangsung.


“Cek CCTV berikutnya. Semoga kita bisa mendapatkan sesuatu dari kamera dengan sudut pandang yang berbeda,” Leon menggeser duduknya.


Anton mengangguk lalu menggerakkan mouse-nya.


“Kamera CCTV dari toko di seberangnya...”


Adegan yang sama dari sudut yang berbeda tampak di layar proyektor.


“Itu.. pause!” Agung menunjuk pada layar monitor.


“Apa? Kenapa? Ada apa?” pertanyaan bertubi dari Anton yang tampak kaget membuat yang lainnya terkekeh.


“Kalem, Ton,” Hans menutup bibirnya dengan jemarinya.


“Ada apa sih? Memangnya Kakak Ipar tadi lihat apa?” Bramasta menatap Agung.


“Pria berkemeja jeans lusuh yang berpapasan dengan si Kurus, kalian perhatikan gesture tubuhnya. Dia seperti mengenali si Kurus dan membuat kontak mata untuk berkomunikasi..” Agung duduk dengan tegak bersiap mengamati dengan lebih detail.


Anton kembali dengan mouse-nya. Menarik adegan saat kemunculan si Kemeja Jeans. Lalu mengatur speed adegan. Adegan berlangsung dalam slow motion sekarang.


Si Kemeja Jeans datang dari arah seberang jalan. Terlihat biasa bahkan saat melintas di samping Agung. Tatapan matanya selalu terarah pada Agung.


Mendekati si Kurus, tatapannya beralih ke depan. Terlihat dia melirik ke si Kurus lalu menganggukkan kepalanya. Dan berlalu seolah tidak terjadi apa-apa, seolah mereka tidak saling mengenal.


Anton mem-freeze adegan, menatap Agung dengan takjub.


“Bagaimana Lu bisa melihat detil yang samar seperti itu, Bro?”


“Arah matanya,” Agung mengernyit, “Orang itu sepertinya bertugas untuk memastikan target adalah betul, gue orangnya...”


“Dari skenario Indra tadi, berarti tugas si Kurus adalah sebagai eksekutor dan tugas si Kemeja Jeans adalah sebagai informan target,” Bramasta menatap yang lainnya. Semua mengangguk setuju dengan pemikiran Bramasta.


“Gaes.. cek Burung Biru! Video Kakak sedang jadi trending topik. Hastag Agung diserang sedang jadi nomor satu di sana,” seru Adisti dari arah pantry.


Serentak semuanya membuka gawainya masing-masing. Bramasta dan Indra saling berpandangan.


“Kok sekarang gue jadi khawatir dengan keselamatan Lu, Gung..” Indra menatap Agung.


“OK.. pengamanan Agung kita ubah menjadi pengamanan VVIP, termasuk untuk Ayah, Bunda dan Adinda. Bagaimana?” suara Hans memecah keheningan setelah beberapa saat hening.


Agung mendongak menatap Hans, matanya penuh penolakan dan ketidaksetujuan, “No way!”


.


***


Nah loh. Pengamanan ditingkatkan ke level VVIP tapi Babang Agung gak mau. Kunaon eta?


🌷