CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 193 – MENDADAK SIDANG DI GAZEBO



Adinda turun dengan ragu-ragu ketika mereka sudah tiba di kediaman Gumilar.


Adisti menggamit lengannya, mengajaknya masuk. Pintu ruang tamu sudah terbuka. Bunda rupanya menyuruh Bik Nung untuk membersihkan rumah dan menyiapkan segala sesuatunya.


Adinda mengamati teras. Dia baru pertama kalinya melihat rumah Keluarga Gumilar. Dan dia menyukainya. Asri dan teduh.


“Ayo.. Teteh tunjukkin kamar Dinda. Dinda pakai kamar Teteh sewaktu belum menikah ya,” Adisti semangat memberikan room touring guide, “Kamarnya di atas.”


“Yang ini ruang tengah menyambung dengan ruang makan dan dapur bersih. Dapur kotor ada di belakang. Sini..”


Adinda melihat-lihat dengan ternganga.


“Kamar yang di depan itu kamar tidur tamu. Sekarang jadi tempat Teteh dan Abang Bram kalau menginap.”


Adinda mengangguk.


“Kamar yang menghadap kebun samping itu kamar Ayah dan Bunda.”


Adinda mengangguk lagi.


“Ini kamar mandi. Di atas juga ada kamar mandi tapi gak di dalam kamar.”


“Ruang tidur yang ada di bawah, ada kamar mandi di dalam semua?” tanya Adinda.


Adisti mengangguk.


“Eh, Dinda bisa naik tangga gak? Kakinya sudah kuat belum?”


Adinda mengangkat kedua bahunya.


“Belum dicoba Teh. Tapi diusahakan bisa. Harus bisa,” Adinda terdengar seperti menyemangati dirinya sendiri.


Adisti tertegun. Ada rasa iba menyelinap di hatinya. Kemudian menggamit lengan Adinda ke arah halaman samping.


Gazebo sudah dikuasai oleh Bunda dan Mommy. Adisti mengajak Adinda untuk mengobrol di dekat kolam ikan, dibalik rimbunnya daun slada dan kangkung aquaponiknya Bunda.


“Sini.. kita duduk di sini saja. Ngumpet juga.."


Adinda mengangguk sambil terkekeh.


"Ma’afkan sikap Kakak ya yang sering gak peka. Maklumi saja, Kakak gak pernah dekat dengan perempuan manapun seperti dekatnya Kakak ke kamu,” Adisti mengambil daun kering yang tersangkut di kerudung Adinda.


Adinda tercenung.


“Beneran Om Agung belum pernah pacaran?”


Adisti mengangguk.


“Kakak kalau ke teman akan luwes bergaulnya. Baru kali ini Teteh, Ayah dan Bunda melihat Kakak sebegitu kakunya berhadapan dengan perempuan.”


“Kenapa Om Agung seperti itu?”


“Sepertinya Kakak itu 11 12 dengan Abang Bram,” Adisti terkekeh. Dia teringat perkataan Bramasta sebelum menjadi suaminya.


“Takut khilaf karena setan banyak banget dan gesit banget melihat peluang.”


Adinda mengangguk sambil tersenyum.


“Dinda yang betah ya di sini. Kalau ada apa-apa ngomong aja ke Bunda atau ke Teteh. Bunda itu asyik kok dijadiin tempat curhat.”


Adinda tersenyum lebar. Lalu memeluk Adisti. Adisti membalas pelukannya dengan hangat.


Di Gazebo, Ayah dan Daddy yang baru datang ikut bergabung. Agung juga ada di dalam gazebo.


Agung bersila dengan bahu lunglai. Ayah sedang berbicara dengan Agung, sekali-kali Daddy juga ikut berbicara.


Beberapa kali terlihat Agung menghembuskan nafas dengan keras. Dia semakin merasa bersalah tetapi juga tidak berdaya.


Sambil mendengarkan nasehat para orangtua, matanya mencari-cari sosok yang sedang menjadi bahan pembicaraan para orangtua, Adinda.


Tadi dia sudah mencarinya di dalam rumah tapi tidak ada. Adinda mengilang bersama adiknya. Entah dibawa kemana.


Khawatir Adinda diajak Adisti ke warung lotek Ceu Odah langganannya Adisti. Dia khawatir dengan Adinda karena kakinya belum kuat untuk berjalan ataupun berdiri terlalu lama.


"Jangan sampai Adinda merasa tidak betah di rumah ini, Kak,” kata Bunda, “Jangan terlalu kaku kepada dia. Masih abege.”


“Kasihan Adinda, Gung. Dia yatim piatu sekarang. Sementara untuk kembali ke rumahnya tidak mungkin, terlalu banyak kenangan buruk di sana,” kata Mommy.


Agung menggigit bibir bagian dalamnya. Dia semakin gelisah.


“Cuma Kakak yang bisa menenangkan Adinda saat dia mendapat panic attack,” kata Ayah, “Alam bawah sadarnya mempercayai kamu, Kak.”


“Ibarat kata kamu jadi pawangnya Adinda, Gung,” kata Daddy, “Lakukan apa yang kamu bisa dan menurut kamu baik tapi jangan berlebihan. Ingat, tipu daya satan itu sangat halus.”


Agung mengangguk.


“Saya serba salah dalam menangani Adinda. Psikiater menyarankan selalu melakukan eye contact dan juga kontak fisik agar dia kembali sadar dari kondisinya, tapi... saya takut khilaf. Makanya saya lebih sering menjadi kanebo kering seperti yang Adisti predikatkan pada saya,” Agung menunduk.


“Kanebo kalau terlalu kering, rusak loh Kak,” Ayah berkata sambil memandang Bunda.


“Kami semua percaya ke kamu, Gung. Kamu sudah dewasa dan bisa membedakan mana yang baik dan tidak,” Daddy berkata bijak disambut dengan anggukan Ayah.


“Kapan kira-kira Adinda bisa masuk sekolah lagi?” tanya Mommy.


Bunda memandang Ayah.


“Nanti kita ihat kesiapan Adinda saja,” jawab Ayah.


“Harus sedia oksigen yang bisa dibawa Adinda ya?” tanya Bunda.


“Nanti Kakak beli OxyCan Bun untuk bisa dibawa Adinda kemanapun dia pergi.”


“Isinya dikit loh Gung. Paling cuma beberapa kali hirupan,” Mommy mengingatkan Agung.


“Masa harus bawa tabung besi kemana-mana Mom. Berat. Kasihan Dinda.”


Mommy mengangguk mengerti alasan Agung.


“Selalu sedia tabung portabelnya saja di dalam mobil,” kata Ayah.


Notifikasi chat berbunyi dari gawai Agung. Agung melihat pop up pesannya.


“Abang Bram sebentar lagi sampai kemari,” kata Agung sambil menutup layar gawainya.


“Kita makan siang menunggu mereka saja ya?” Bunda meminta persetujuan lainnya. Semua setuju dengan usul Bunda.


“Mom, Layla dan Eric suruh ke sini saja,” Daddy meregangkan pungggungnya.


“Mereka sudah otewe dari tadi. Sebentar lagi juga sampai,” Mommy merapikan kerudungnya.


“Kita sholat dulu ya? Berjama’ah di ruang tengah saja?” tanya Ayah.


Bramasta, Indra dan Leon tidak jadi memasuki rumah saat lamat-lamat terdengar suara Daddy saat beri’tidal. Mereka menunggu di teras.


Beberapa kali Leon tampak menguap.


”Masih ngantuk juga?” tanya Bramasta.


Leon mengangguk sambil meregangkan kedua tangannya. Indra ikut meregangkan tubuhnya. Penat setelah mengendarai mobil melewati macet yang lumayan parah.


Sebuah mobil dengan suara halus berhenti di depan rumah.


Suara anak kecil yang riang terdengar nyaring, “Dadda! Da..da..!”


Dia melesat berlari begitu kakinya menapak tanah.


“Eric.. hati-hati..” Layla terdengar cemas.


Langkah kakinya yang masih belum kokoh membuat tubuhnya terhuyung ke depan. Untung saja, driver Innova dengan sigap menangkap tubuh Eric lalu menuntunnya menuju teras.


Leon yang melihat anaknya nyaris terjatuh sontak berdiri dari duduknya. Menghampiri Eric yang dituntun oleh drivernya Bunda.


“Terima kasih banyak ya Pak..” Leon langsung berjongkok menghadap Eric, “Bilang apa pada Bapak yang sudah menyelamatkan Eric?”


“Mesyi..(Merci..)_Terimakasih_”


“No.. in bahasa..” Leon menggeleng.


“Acih..”


Driver Innova terkekeh, “Sama-sama, Ganteng. Lain kali jangan lari-lari saat baru turun dari mobil ya?”


“Oiy.. (Oui..)_Ya_” Eric tersenyum lebar mendongakkan wajahnya untuk menatap bapak penolongnya.


Indra geleng-geleng kepala.


“Ribet amat jadi Eric ya. Berapa bahasa?” tanyanya saat Leon mendudukkan Eric ke pangkuannya.


“Indonesia, Perancis, Inggris dan Sunda,” jawab Layla sambil menyalimi Leon.


“Setdah. Dia gak bingung?”


Layla menggeleng, “Selama Eric mampu dan bisa, why not?”


Layla menatap suaminya, “Bagaimana tadi? Eh sudah tidak pakai gendongan tangan lagi?”


Layla merunduk. Mengendus leher belakang Leon kemudian memekik,


“Oh mon dieu... tu sens si mauvais!_Ya Tuhan.. Kamu bau banget!_”


Leon mencebik. Bramasta tergelak keras. Indra mengangkat sebelah alisnya meminta diterjemahkan oleh Bramasta.


.


***


Gak kebayang deh di dalam mobil baunya seperti apa.. 🤣🤣