
Semua orang masih memberi standing applause kepada Raditya. Sementara itu pria berseragam perwira yang menggenggam bunga maju selangkah ke arah panggung podium.
Masih dengan tersenyum lebar. Tapi memandang Raditya penuh kebencian. Sementara Raditya terpaku di tempatnya.
“Terima kasih banyak Pak Raditya. Bapak adalah inspirasi bagi kami semua. Kalimat Bapak menjadi motivasi bagi kami," awalnya dia berkata lantang, kemudian berbisik agak keras kepada Raditya, "Salam dari Pak Jenderal untuk Bapak. Adios!”
DORRRR !!
Raditya bisa melihat percikan api di antara tangkai bunga. Dia melihat perwira tersebut terdorong ke samping dengan tubuh terhuyung. Sebelum akhirnya tubuhnya sendiri tersentak ke belakang dengan rasa sakit yang luar biasa pada area selangkanya.
Rasa sakit itu terasa pekat hingga ia tidak mampu lagi melihat sekelilingnya.
“LINDUNGI AYAH DAN BUNDA !” teriaknya sebelum ia tersedot dalam pusaran gelap.
Jerit ketakutan terdengar di ruangan. Raungan suara Bunda memanggil nama Raditya terkapar terdengar jelas di ruangan. Bunda dan Ayah berlari ke arah podium. Orang-orang ricuh. Banyak yang berlarian ke arah pintu.
Beberapa detik sebelumnya, pengawal yang duduk di belakang Ayah merasakan keganjilan pada perwira yang membawakan bunga untuk Raditya.
Dia berlari ke arah perwira itu saat melihat isyarat jari Raditya di tepi mimbar podium. Melipat empat jarinya secara bersamaan dengan telapak tangan menghadap ke luar. Kode jari permintaan tolong yang diketahui secara internasional.
Dia mendorong si perwira dengan bahunya bersamaan dengan suara letusan senjata. Dia ikut terjatuh bersama si perwira yang didorongnya.
Pistol si perwira terlempar ke tepi podium di tempat MC berdiri. Pak Budi, pria berseragam perwira menengah, dengan sigap mengamankannya dengan memegang laras senjata menggunakan tisu.
Pengawal sempat bergulat sebentar dengannya sebelum akhirnya pengawal tersebut menghadiahkan jab kanan yang membuat si perwira KO.
Pengawal kedua berlari mengikuti Ayah dan Bunda. Perwira Tinggi yang menemui Raditya pagi tadi tengah memangku kepala Raditya. Memeriksa nafas Raditya.
Dia meletakkan kepala Raditya dengan hati-hati di atas karpet podium. Kemudian mulai melakukan pertolongan pertama CPR.
Telapak tangan kanannya diletakkan di atas pertengahan dada Raditya. Tangan kirinya dikepal di atas punggung tangan kanannya. Dan mulai menekan dada Raditya antara 1 hingga 2 tekanan per detiknya. Dia mulai menghitung tekanannya.
Pengawal yang menyeruduk perwira penembak membantu Perwira Tinggi yang tengah memberi bantuan kompresi dada pada Raditya untuk me-rang-sang jantungnya bekerja kembali.
Pengawal itu mengambil posisi di samping kepala Raditya. Memegang dahi Raditya dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya mengangkat dagu untuk membuka jalur nafas Raditya.
Saat Perwira Tinggi itu sampai di hitungan 30, Pengawal itu menjepit hidung Raditya lalu meniupkan udara ke dalam mulut Raditya sebanyak 2 kali.
Belum ada respon dari tubuh Raditya.
Perwira Tinggi itu mengulangi gerakan push fast kompresi dada Raditya. Hitungan 30, pengawal itu mengulang lagi memberikan nafas buatan pada Raditya.
Bunda menangis histeris melihat kondisi Raditya. Ayah memegangi Bunda. Pengawal satunya tampak berbicara dengan seseorang dengan earphone-nya.
Seorang Polwan menarik tangan Bunda.
“Ayo Bu, ikut saya. Biarkan Pak Raditya mendapat pertolongan pertama. Silahkan Ibu ikut saya ke tempat aman.”
Bunda menoleh pada Polwan tersebut. Bunda sadar dia tidak membantu tetapi malah merepotkan orang-orang yang sedang memberikan pertolongan pertama pada Raditya.
Bunda berdiri. Ayah juga ikut berdiri. Mata Ayah meneliti wajah Polwan tersebut.
“Ayo Bu Gumilar, lewat sini. Ikuti saya,” perintahnya mendesak.
“Password?” tanya Ayah sambil menatap Polwan itu.
Polwan menatap bingung pada Ayah kemudian menatap Bunda.
“Ayo Bu, lewat sini!”
“PASSWORD ??!” Ayah mengeratkan cekalannya pada tangan Bunda.
“Apa?” polwan tadi menatap gugup pada Ayah. Tarikannya pada lengan Bunda dikeraskan, “Cepat Bu, lewat sini. Tidak aman di sini.”
Tubuh Bunda tertarik mengikuti tubuh polwan itu. Ayah dengan sigap melepaskan cekalan tangan Polwan yang menarik tangan Bunda.
Pengawal yang sedang berbicara di earphone dengan sigap memasang tubuhya sebagai menghalangi Polwan itu untuk menjangkau tangan Bunda lagi.
Ditatapnya polwan itu dengan tatapan mengintimidasi. Saat polwan itu masih memaksa maju untuk menjangkau tangan Bunda, Pengawal tadi mendorong tubuh Polwan ke belakang.
Tubuh Polwan terhuyung ke belakang tetapi tidak sampai terjatuh. Pengawal itu menunjuk pada Polwan, berbicara dengan suara dingin.
“Jauhi kami. Jangan ganggu kami!”
Polwan tersebut mundur dengan cepat. Menatap pengawal itu dengan tatapan terkejut dan tak percaya. Tubuh Polwan menghilang di balik pintu bertirai tebal.
“Ayah..” Bunda menubruk tubuh Ayah dengan tubuh gemetar.
“Sudah tidak apa-apa. Kita aman. Insyaa Allah.”
“Helikopter medis sudah datang,” Pengawal pengusir Polwan memberitahu temannya dan Perwira Tinggi yang masih berjuang melakukan CPR kepada Raditya.
Keringat sudah membasahi seragam perwiranya.
“Belum bisa dipindahkan bila jantungnya belum berdetak lagi.”
“Helikopter apa?” tanya Kepala Instansi menghampiri mereka.
“Kami akan membawa Nak Raditya ke rumah sakit di Bandung,” Ayah menatap Kepala Instansi.
“Tidak bisa. Kami punya rumah sakit khusus untuk kalangan kami sendiri.”
Ayah menggeleng.
“Setelah apa yang terjadi pada Nak Raditya sejak seminggu yang lalu. Dan apa yang baru saja terjadi, ma’af Pak. Saya sebagai orangtua Nak Raditya tidak mempercayai keamanan anak kami di rumah sakit yang Anda maksudkan.”
Kepala Instansi terdiam. Lalu mengangguk.
“Baiklah. Tapi tetap kabari saya apapun perkembangan Raditya.”
Suara tarikan nafas panjang terdengar jelas dari mulut Raditya. Dadanya mengembang dan ia terbatuk.
Orang-orang berseru lega. Ayah dan Bunda mengucap hamdalah dan saling berpelukan. Begitu juga dengan Kepala Instansi yang mengucap hamdalah sambil menepuk-nepuk pundak perwira tinggi yang memberikan pertolongan pertama pada Raditya.
Dua orang petugas medis datang berlari membawa tandu beroda. Mereka memandang orang-orang yang memberi pertolongan pertama pada Raditya.
“Aman dan secure?” tanya salah satu petugas medis tersebut.
Perwira tinggi dan pengawal mengangguk dan menjawab bersamaan.
“Aman dan secure!”
Petugas medis lalu menurunkan tandu dengan melipat kaki berodanya di dekat tubuh Raditya. Seorang di antaranya membuka tas perlengkapan medisnya untuk memeriksa dengan menggunakan stetoskop dan alat tensi digital.
Seorang petugas medis memasangkan selang oksigen pada hidung Raditya.
“Kronologi?” tanyanya.
“Tertembak di area selangka kanan,” pengawal yang memberi nafas buatan menjawab, “Korban sempat henti jantung. Kami berhasil melakukan CPR.”
Petugas medis memeriksa dengan menggunakan stetoskopnya. Kemudian mengacungkan dua jempolnya kepada mereka berdua.
“Great job!” pujinya, “Kita lihat seberapa parah luka tembaknya.”
Dia membuka kancing seragam Raditya. Saat kemeja sebelah kanannya disibak, sebuah benda logam dengan bentuk silinder penyok dan bengkok terjatuh menimbulkan bunyi berdenting.
“Apa itu?” tanya Ayah.
Pengawal yang memberi nafas buatan memungut benda itu dengan mengunakan tisu dari sakunya. Lalu meletakkannya di atas telapak tangannya yang dialasi tisu.
Dia memperlihatkan kepada semua orang yang ada di podium. Peluru tajam dari senjata pelaku berubah bentuk menghantam kevlar milik AMANSescure.
“Wah.. sampai penyok begitu. Berarti tidak ada luka tembak ya?” Kepala Instansi membungkuk di samping Raditya yang masih tidak sadarkan diri, “Itu apa yang dipakainya? Yang bisa menahan peluru tajam dari jarak tembak sedekat itu?”
“Rompi kevlar,” pengawal menjawab singkat.
“Kenapa tidak sama dengan punya kami?” tanyanya lagi.
Pengawal tadi hanya menjawab dengan senyuman.
Petugas medis berhitung sampai tiga untuk bersama-sama memindahkan tubuh Raditya ke atas tandu. 4 orang pria membantu mengangkat tubuh Raditya yang tinggi besar.
“Siapa yang akan mendampinginya hingga sampai rumah sakit?”
“Saya,” jawab Perwira Tinggi itu tegas.
Pengawal mengangguk hormat pada Perwira itu. Mereka berjabat tangan. Ayah juga berjabat tangan dengannya.
“Titip Nak Raditya. Kami percaya Bapak bisa menjaganya dengan baik.”
Perwira Tinggi bertubuh tegap itu tersenyum.
“Insyaa Allah Pak Gumilar.”
Perwira Tinggi itu berbisik kepada pengawal, “Selalu waspada. Tidak akan mudah bagi kalian keluar dari Jakarta. Mereka juga pasti sudah menyiapkan rencana B.”
Pengawal tersebut mengangguk mengerti.
Para Petugas Medis dan Perwira Tinggi itu masuk ke dalam lift dengan membawa tubuh Raditya di atas tandu beroda. Menuju helipad di lantai teratas gedung.
“Bapak dan Ibu Gumilar sudah siap?” tanya Pengawal itu.
“Bismillah. Insyaa Allah,” jawab Ayah.
“Kita bergerak cepat. Ibu pegang tangan Bapak ya,” Pengawal berjalan mendahului mereka.
Pengawal satunya mengawal di belakang. Kanan kiri Ayah dan Bunda diapit oleh para perwira orang-orang Hans.
Pak Budi tampak berbicara dengan earphone-nya.
“Tunggu dulu, mobil belum masuk ke area drop off di teras lobby. Area teras, clear.”
Clear yang dimaksud Pak Budi adalah orang-orang yang berada di teras lobby adalah orang-orangnya yang ia seleksi dan juga orang-orangnya Hans.
Mereka berhenti di koridor yang berhias karpet merah dan bunga dekorasi.
“OK. Mobil siap. Jalan tanpa terlihat panik ya..” suara Pak Budi pelan, hanya terdengar oleh mereka yang berpassword “Aman dan Secure”.
.
***
Author gak ngasih caption lagi. Masih deg-degan..
Telat upload, maljum Author ada rapat di majelis dulu sampai tengah malam 🙏🏼
Catatan Kecil:
Tulang bahu, dibentuk oleh dua buah tulang pipa.Yaitu tulang selangka yang terletak di depan (di atas rusuk dada) dan tulang belikat yang terletak di atas rusuk punggung
Area selangka terletak di antara bahu dan dada.
Jelas ya bedanya dengan area selangkang.
🙏🏼
Ayo..jangan siwer bacanya 🤓