
“Bang...” Adisti mengelus kening suaminya yang tengah berbaring di pangkuannya setelah mereka kembali lagi ke kantor.
Bramasta masih memejamkan matanya. Dia menyukai sentuhan jemari Adisti di rambut dan keningnya. Rasanya menenangkan dan menentramkan. Mampu mengerem dan merilekskan otaknya yang selalu sibuk berpikir tentang B Group, para karyawan, ekspansi terutama tentang keluarga dan para sahabatnya.
“Pak Suami..!” agak keras Adisti memanggilnya, “Eh.. tidur?”
Adisti mencebik.
“Ya... ditinggal tidur deh..” Adisti menghela nafas,, “Padahal ada yang mau Disti omongin..”
“Abang gak tidur kok,” Bramasta berbicara dengan mata terpejam, “Abang hanya menikmati belaian tangan Buk Istri..”
Bramasta melanjutkan lagi bicaranya.
“Kalau mau ngomong ya ngomong aja.. Abang dengerin kok..”
“Disti sudah cerita ke Bunda, Mommy dan Mami tentang rencana kita mau ke NZ..”
“Terus?”
“Mereka happy..” Adisti menggeser duduknya karena pahanya sudah terasa kebas, “Kata Mommy, kita disuruh mampir ke pamannya Abang yang tinggal di sana...”
Bramasta menggeleng.
“Kita gak ke daerah sana, Sayang. Next time deh ya. Waktu kita juga terbatas..”
“Memangnya kita mau ke daerah mana dan Paman Abang di daerah mana?"
"Kita mau ke daerah timur sedangkan tempat Paman ada di Selatan..”
“Silaturahmi, Bang..”
“We don’t have much time, Dear..”
Tangan Adisti berhenti mengelus kening dan rambut suaminya. Bramasta meraih jemari istrinya untuk mengelus rambutnya lagi.
“Kita gak pure honeymoon. Kita sedang bekerja tapi dibawa santai. Nanti ya.. kalau kita libur. Abang kenalkan ke keluarga Abang yang tersebar di di beberapa benua..”
Adisti tersenyum lebar. Menatap ke bawahnya. Lalu mengecup lama puncak hidung Bramasta.
“Mommy cerita, istri Paman jago banget buat steak domba...”
Bramasta terkekeh.
“Kami biasanya barbeque-an di halaman belakang rumahnya yang menghadap ladang apel jenis royal gala dan pear hijau..”
“Asyik dong..”
“Memang.. tapi sayangnya anak mereka rese..”
“Sepupu Abang?”
“Iya. Ada 3, Darren, William dan Robert. Biang kerok semua. Tengil kelewatan..”
“Gegara Bunda cerita mereka punya ladang pear hijau, Bunda langsung minta dibawain bibitnya. Mau coba ditanam di depan rumah, katanya.”
“Laaah? Memang bisa tumbuh?”
“Don’t know..”
“Ya sudah nanti abang hubungi Darren untuk kirimkan bibit pear hijau dan apel red royal gala-nya.”
“Gak bakal mati di jalan, Bang? Pakai ekspedisi apa biar cepat sampai?”
“Pakai yang sehari sampailah..” Bramsta tertawa, “Susah amat..”
“Alhamdulillah.. punya suami kaya raya.. Mertua pengen apa langsung diiyain..”
“Heissszzt..” Bramasta membuka matanya sambil mencebik. Bersamaan dengan bunyi notifikasi pesan chat dari gawainya.
Bramasta duduk sambil membaca pesan dari Indra.
Indra_Bos, ada Tuan Armand di tempat gue_
Bramasta_OK. Gue ke tempat Lu sekarang_
“Sayang, kita ke tempat Indra ya sekarang. Ada Tuan Armand. Abang mau menanyakan tentang persidangan Rita Gunaldi.”
“Sebentar, Disti rapi-rapi dulu..”
Di meja sofa Indra sudah tersuguh kopi. Banyak berkas menutupi meja. Tuan Armand tengah berbicara serius sementara Indra membaca berkas-berkas lalu memilahnya.
Bramasta dan Adisti mengucap salam. Setelah menyalami Tuan Armand, Bramasta berdiri di belakang kursi sofa yang diduduki Indra. Membaca berkas yang ada di tangannya.
“The Ritz?” Bramasta menaikkan alisnya, “Legalitasnya sudah selesai semua?”
Tuan Armand mengangguk sambil tersenyum.
“Alhamdulillah lancar. Sesuai permintaan Tuan Indra juga agar identitasnya dirahasiakan. Walaupun pihak Rita Gunaldi ngotot ingin tahu siapa yang membeli propertinya.”
“Bagaimana perasaan Bang Indra?” Adisti tersenyum lebar.
“Antara senang dan sedih..”
“Kenapa?”
“Senang akhirnya bisa punya properti di lahan strategis dengan harga terjangkau..” Indra tersenyum memandang Adisti, senyumnya pudar saat membaca berkas di tangannya tentang nominal total pembayarannya, “Sedih karena gue gagal beli mobil baru idaman gue...”
Bramasta meringis menatap Indra.
"Lu masih ngotot dengan super car warna hitam itu? Hey... wake up, Ndra! Bandung macet! Yang ada bakalan jebol tuh mobil baru karena Lu bawa jalan ataupun ngantor di jalanan macet..”
“Sepertinya Tuan Indra terlalu serius menonton film Fast & Furious..” Tuan Armand terkekeh.
“Gak boleh hedon..” Adisti menepuk lengan atas Indra dengan cukup keras yang membuat Indra menjengit, “Kalau mau beli mobil, pikirkan mobil keluarga. Abang bentar lagi maried. Dan langsung punya keluarga kecil.”
Semua tampak terkejut mendengar ucapan Adisti. Adisti menunjuk mengambil berkas bergambar The Ritz lalu menunjuk pada lantai atas bangunan tersebut.
"Ini akan jadi sarang cinta kalian. Akan ada banyak cinta di sana. Banyak banget hingga semua orang pun bisa merasakan cinta kalian.”
Adisti lalu menunjuk pada lantai bawah.
“Di sini adalah tempat keluarga berkumpul. Bukan sekedar berkumpul tetapi sebagai tempat bisnis keluarga. Ini yang mempererat silaturahmi kalian. Family love.”
Adisti menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Kemudian meletakkan tangannya di dagunya. Semua masih memandanginya dengan tatapan yang tak dapat ditebak.
Adisti menatap mereka semua dengan alis terangkat sebelah.
“Kenapa memandangi Disti seperti itu? Ada yang aneh? Kenapa diam semua?”
“Eh?” Bramasta dan Indra bersamaan.
Tuan Armand berdehem untuk menutupi kecanggungannya.
“Jadi Tuan Indra akan menikah dalam waktu dekat ini?”
Indra yang ditanya hanya menggaruk kepalanya.
“Do’akan saja semoga demikian, Tuan Armand..” Bramasta tersenyum kemudian duduk di dekat istrinya. Mengelus punggungnya.
"Do'akan saja segera bertemu calon istri saya..” Indra tersenyum lebar.
“Looooh saya kira...” Tuan Armand tampak bingung.
“Bukan hanya sekedar calon istri, Bang. Tapi juga calon keluarga Abang. Karena kuncinya ada pada anak-anak itu..” Adisti meralat ucapan Indra.
“Anak-anak? Itu artinya Tuan indra akan menikah dengan...” Tuan Armand tidak melanjutkan ucapannya, dia lebih tertarik dengan penjelasan Adisti, “Jadi... mereka belum pernah bertemu hingga saat ini?”
Adisti menggeleng.
“Belum saatnya. Begitu bertemu, benang merah akan saling mengait. Akan ada beberapa kejadian yang saling berkaitan hingga nanti akhirnya mereka akan bahagia setelah aneka cobaan.”
“Dis.. kok kedengarannya gue bakal nelangsa amat..” Indra menatap Adisti dengan serius.
“Sebagai imbas dengan ketengilan Bang Indra..”
Bramasta terkekeh.
“Gue dengan Agung kan 11 12, Dis..”
Adisti mengangguk.
“Kalian sama. Ujiannya begitu luar biasa sebelum mendapatkan kebahagiaan. Tapi gak usah khawatir. Dunia memang tempatnya ujian. Selama kita hidup, kita akan selalu diuji Allah. Dan ujian tidak akan pernah berhenti. Datang silih berganti...”
Adisti berhenti berbicara. Matanya mengerjap beberapakali.
“Minum Disti mana? Disti gak disuguhi nih?”
“Nah loh.. sajennya gak ada..” bisik Bramasta ke Indra.
“Eh, Disti mau apa? Nanti Abang pesanin..” Indra buru-buru bertanya pada Disti.
“Ah kelamaan.. Disti turun sendiri aja ke bawah. Biar bisa milih sajen sendiri..” mata Adisti menatap tajam pada suaminya.
Bramasta langsung duduk dengan tegak.
“Bercanda, Sayang.. hanya bercanda..”
Adisti berdiri sambil menenteng gawainya.
“Disti ke bawah dulu ya.. Assalamu’alaikum..”
Indra mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum lebar menatap Bramasta. Tuan Armand berusaha menyembunyikan senyumnya.
“Lu sih pakai ngatain sesajen segala..” Indra menyandarkan punggungnya sambil menikmati wajah paniknya Bramasta. Jarang-jarang dia melihat ekspresi seperti itu di wajahnya.
“Gue kan cuma bercanda..” Bramasta meremas rambutnya.
“Candaan Lu terlalu dalam kali bagi Disti. Dia kan memang berbeda tapi omongannya selalu kejadian. 11 12 dengan kakaknya..”
“Mereka bisa melihat masa depan?” Tuan Armand menatap Bramasta dan Indra bergantian.
“Maksudnya meramal?” Indra mengerutkan keningnya, “Nggak.. Bukan meramal. Dalam agama kita, ramal meramal gak dibolehkan.”
“Mereka-mereka yang pernah dalam situasi hidup dan mati mungkin akan mempunyai kelebihan daripada kita. Lebih bijak, lebih berhati-hati melihat dan memutuskan sesuatu.”
“Something supranatural?” Tuan Amand menatap Bramasta.
Bramasta menggerakkan telapak tangannya sambil menggeleng.
“Disti dan Agung lebih ke menganalisa sesuatu dengan cepat tetapi dengan visi yang lebih maju di depan kita..”
“Hanya saja semua itu dilakukan seperti di alam bawah sadarnya..” Indra ikut menjelaskan.
“Rumit,” Tuan Armand berkomentar, “Tetapi selalu kejadian seperti itu?”
“Tidak selalu sama persis tapi ya seperti itu secara garis besarnya..” Indra mengangguk.
“Tuan Armand, saya dan Disti berencana akan ke NZ besok siang,” Bramasta menatap Tuan Armand, “Selama 3 hari..”
“Wah, short honeymoon?” Tuan Armand tersenyum.
Bramasta menggeleng.
“Gak juga. Ini kunjungan kerja. Kami memutuskan untuk bekerja sama dengan perusahaan peternakan di sana. Tadinya Disti ingin membeli peternakan tersebut, tapi karena sesuatu hal, berubah menjadi kerja sama..”
“Ah ya.. saya mengerti. Tuan pasti ingin bertanya mengenai jadwal sidang Liliana Sukma dan juga sidang penyerangan Rita Gunaldi terhadap Nona Adisti?”
Bramasta mengangguk dan tersenyum.
“Tiga hari ya...” Tuan Armand mengangguk, “It’s OK. Gak apa-apa kalian pergi. Tapi jangan sampai lebih dari 3 hari ya terutama untuk sidang Rita Gunaldi. Jadwalnya selang sehari setelah sidang Liliana Sukma. Dan itu adalah sidang pertama. Nona Adisti wajib menghadirinya bila tidak ada hal yang krusial sekali.”
“OK.. Gak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, Pak Bos. Insyaa Allah semua aman terkendali.”
“Semua dokumen sudah siap semua?”
“Tuh..” Indra menunjuk dokumen yang sudah rapi di atas mejanya.
“Siip. Thanks ya Ndra.”
Suara Adisti mengucap salam terdengar. Membuat Bramasta menoleh.
Adisti tidak datang sendiri. Ia datang bersama seorang gadis berseragam kafetaria yang datang membawa troli. Gadis tersebut tampak bingung hendak meletakkan dimana makanan dan minuman yang sudah dipesan istri CEO.
“Trolinya tinggalkan saja di sini. Nanti saat jam pulang, ambil lagi ya Teh,” Adisti memandang gadis itu dengan tersenyum.
“Baik Bu,” gadis itu mengangguk, “Saya permisi.”
“Buk Istri bawa apa?”
“Disti bawa batagor kuah. Ngemil sore..”
“Alhamdulillah.. Bu Bos....” Indra memberi jari love pada Adisti.
Bramasta memukul tangan Indra.
“Bini gue itu!”
“Semua orang juga tahu!” Indra mencebik.
“Bang Indra cuma bercanda, Bang.. Sama kan dengan tadi Abang Bram ngatain Disti yang butuh sesajen?”
Bramasta langsung terdiam. Terpekur di sofanya. Dia tidak berbicara lagi hanya menatap istrinya yang tengah sibuk membagikan mangkuk-mangkuk batagor kuah.
“Disti..” akhirnya Bramasta tidak tahan lagi untuk tidak bersuara.
“Ini untuk Abang Bram. Makan sendiri ya. Jangan minta disuapi. Disti sibuk makan sesajennya Disti..”
“Please.. appologize..” Bramasta berdiri setelah sebelumnya meletakkan mangkuknya di atas meja yang tidak ada berkasnya, “I’m really sorry..”
Tangan Bramasta menjangkau Adisti. Menariknya untuk mendekat tubuhnya. Memeluknya dari belakang.
“Jangan marah lagi, please.. Abang gak suka disindir-sindir ataupun didiamkan seperti itu..” Bramasta berbisik di lekukan leher Adisti yang tertutup hijab.
Tuan Armand tampak terbengong menatap pasangan bucin itu.
“Dimakan saja Tuan Armand, batagor kuahnya. Kalau dingin gak enak lagi,” Indra terkekeh melihat ekspresinya, “Anggap saja kita sedang menonton live show drakor romans.”
.
***
Mendadak jadi ingin batagor kuah. Apa daya yang ada di hadapan hanya ada takoyaki. Disyukuri saja...
Jangan lupa tekan tombol like dan minta update ya...
Love you more, Readers 🌷