CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 280 – MEMANASKAN AIR DAN MINYAK



Perjalanan menuju Jakarta lancar tanpa hambatan. Briefing yang diberikan oleh Hans kepada Raditya, Ayah, Bunda serta para pengawal yang akan ikut ke Jakarta nanti membuat mundur 30 menit dari jadwal.


Untung saja lalu lintas pagi itu ramai lancar. Mereka tiba di tempat acara 30 menit sebelum acara dimulai. Raditya sudah mengganti kemeja sipil dengan seragam perwira tingginya sebelum sampai di tempat acara.


Jalur masuk mereka terpisah. Ayah, Bunda dan pengawal yang akan memasuki gedung harus melalui pemeriksaan undangan dan barang bawaan mereka.


Seorang yang berseragam perwira tinggi dan seorang perwira menengah langsung mengenali mobil Lexus yang mereka naiki. Kedua orang tersebut menghampiri mobil Lexus.


Begitu Raditya keluar dari pintu mobil kedua orang tersebut langsung menghampiri Raditya dengan mengucapkan password yang diberitahu Hans.


“Aman dan secure,” ucap mereka dengan suara pelan nyaris berbisik.


Raditya mengangguk lalu mengamati wajah mereka berdua. Ketiganya langsung tersenyum lebar. Tidak menyangka akan bertemu dalam suasana seperti itu.


Ayah dan Bunda berjalan bersama dua orang yang berjaga di depan di belakangnya. Bahkan hingga meja pemeriksaan.


Undangan dipindai dengan menggunakan alat pindai barcode untuk menentukan posisi kursi. Tubuh dan barang bawaan mereka dipindai dengan menggunakan alat infra merah. Mereka bahkan harus melalui gerbang pindai untuk meyakinkan mereka tidak membawa senjata.


Ruang aula sudah diatur sedemikian rupa. Karpet merah yang digelar. Letak podium dan layar lebar yang digunakan untuk memperjelas acara sama persis dengan yang tadi dijelaskan oleh Hans melalui laptopnya.


Kebanyakan yang hadir mengenali Ayah dan Bunda karena pemberitaan tentang keluarga mereka yang beruntun dalam dua bulan terakhir ini. Mereka mengangguk hormat kepada Ayah dan Bunda. Berusaha menyapa dan membuat pembicaraan dengan Ayah dan Bunda.


Begitu mereka tahu untuk apa Ayah dan Bunda hadir di acara tersebut, mereka terkejut. Mereka tidak menyangka Raditya mempunyai hubungan kekerabatan dengan Keluarga Gumilar.


Pihak MC memberitahukan acara akan segera dimulai. Orang-orang berhenti berbincang dan duduk sesuai nomor kursinya. Seperti kata Hans, pengawal yang ikut masuk ke dalam gedung menempati kursi tepat di belakang Ayah dan Bunda.


Acara sudah dimulai. Diawali dengan penghormatan kepada lagu kebangsaan kemudian sambutan-sambutan. Ada beberapa anggota yang diberi kenaikan pangkat dan juga jabatan baru.


Tetapi hanya Raditya yang mendapat kenaikan pangkat secara luar biasa karena prestasi dan juga kepercayaan masyarakat. Atas desakan parlemen juga desakan masyarakat luas, Raditya menempati jabatan yang berpengaruh di tubuh instansinya.


Kedudukannya membuatnya menjadi salah satu pejabat pembuat keputusan yang berpengaruh baik di dalam ataupun di luar instansinya.


Saat namanya disebut, dan pangkat di pundaknya diganti dengan bintang 1, mata Raditya berkaca-kaca. Bunda melihat di layar besar. Para tamu undangan yang melihatnya pun ikut larut dalam suasana haru.


Kepala Instansi yang menyematkan bintang di pundaknya menepuk-nepuk punggung Raditya untuk menguatkannya dan memperlihatkan rasa bangganya atas pencapaian anak buahnya itu. Raditya mengangguk dan tersenyum tipis.


Pengucapan sumpah jabatan, Raditya meletakkan tangannya di atas al Qur’an. Air matanya jatuh. Dia menyekanya dengan cepat. Lalu menganggukkan kepala seolah-olah sedang menguatkan dirinya sendiri.


Dia menoleh pada Ayah. Ayah tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya. Ayah memberi semangat dengan kepalan tangannya ke arah Raditya.


Raditya tersenyum lebar lalu menganggukkan kepalanya. Acara pengucapan sumpah jabatannya berlangsung khidmat. Raditya tampak lega saat sumpah jabatan selesai dilakukan.


Acara berlanjut lagi. Hal yang biasanya tidak ada di acara pelantikan, MC meminta Raditya mengucap sambutan pertamanya sebagai pejabat baru di lingkungan instansinya.


Setelah mengucap salam kepada para hadirin, Raditya mengucap terima kasih kepada seluruh masyarakat yang sudah memberi kepercayaan kepadanya juga kepada rekan-rekan kerjanya terutama anggota timnya selama ia bertugas di Bandung.


Juga ucapan terimakasih kepada Ayah dan Bunda yang bersedia menemaninya di acara hari ini. Raditya juga mengucapkan terimakasih kepada orangtua mendiang istrinya.


“Kepada Bapak dan Ibu Sasmita, sampai kapanpun bagi saya kalian adalah mertua saya meskipun sudah tidak ada lagi almarhumah Masayu, istri saya, di antara kita. Terima kasih banyak atas dukungan Bapak dan Ibu dan saya memaklumi Bapak dan Ibu yang berhalangan hadir karena kesehatan Bapak yang menurun.”


Saat Raditya mengucapkan itu semua, Bunda mengangguk menyetujui tindakan Raditya.


“Kepada orang-orang yang menganggap saya sebagai musuh, maaf, harus membuat kalian kecewa. Tindakan kalian membakar rumah saya untuk melenyapkan saya, tidak berhasil dilakukan. Allah masih melindungi saya dan banyak orang baik yang menolong saya.”


Orang-orang bergumam heboh. Bahkan Kepala Instansi tampak bertanya kepada bawahannya tentang apa yang terjadi. Tidak ada yang tahu tentang kejadian semalam.


“Saya tidak berkata bohong seolah saya haus perhatian dan sensasi. Memang ada orang-orang yang ingin melenyapkan saya,” Raditya memandang ke arah sosok berbaju seragam perwira menengah yang berdiri di samping MC, “Pak Budi, bisa tolong bantu saya Pak untuk menunjukkan kepada hadirin sekalian tentang apa yang terjadi semalam..”


Seorang berseragam perwira menengah maju. Mengambil gawai milik Raditya. Orang tersebut mendekati layar besar. Menyambungkan perangkat dengan menggunakan kabel yang sudah ia persiapkan.


Di layar besar, tampak bagian depan rumah Raditya. Saat rekaman CCTV tayang, suasana aula senyap. Semuanya serius menatap layar lebar.


Saat orang-orang dalam rekaman mulai membakar rumah Raditya, semuanya berseru kaget. Sosok yang dikira Raditya keluar dengan seluruh tubuh terbungkus bedcover, mereka berseru lega.


Tayangan kembali lagi ke adegan si Cungkring menoleh ke arah kamera CCTV yang tak terlihat olehnya. Tayangan di-freeze-kan. Zoom in wajah Cungkring dengan keterangan profilnya dan kejahatan-kejahatannya sebagai kaki tangan Tuan Thakur.


Juga si Jaket Jeans dengan separu wajahnya. Videonya dikompilasi dengan video dari Prince Zuko. Zoom in wajah yang sama. Berikut teks keterangan profilnya serta bukti sebagai kaki tangan Tuan Thakur.


Orang-orang berseru kaget. Mereka geram dengan para pelaku.


“Warga sekitar rumah saya sudah memanggil pemadam kebakaran. Tapi hingga kebakaran berhasil dipadamkan atas swadaya warga, mobil pemadam kebakaran tidak pernah sampai ke TKP. Padahal menurut petugas jaga di kantornya, mereka sudah mengirim satu unit ke TKP,” Raditya memberi kode untuk memutar video mobil pemadam kebakaran vs mobil patroli.


Hadirin terdiam. Menonton tayangan di layar besar. Mereka geram saat orang dalam mobil patroli itu mengancam petugas pemadam kebakaran dengan senjata laras panjang juga saat mengancam masyarakat yang ada di sekitar TKP.


Tayangan terus berputar hingga tiba tayangan di CCTV SPBU. Saat si pelaku melepas jaket dan maskernya dan berbalik ke arah CCTV, hadirin ricuh.


Seseorang berteriak dari kursi perwira tinggi.


"BOHONG! HOAKS KAMU RADITYA!!” orang itu berdiri dengan wajah memerah.


Tangannya menunjuk pada Raditya.


“KAMU ANAK KEMARIN SORE SUDAH BELAGU DAN BERTINGKAH SEPERTI INI DI HARI PERTAMA KAMU SEBAGAI PERWIRA TINGGI!”


Orang itu, adalah pria yang baru saja terlihat melepas jaket dan maskernya lalu menghadap ke arah kamera CCTV berada.


Orang-orang meneriakinya. Menyorakinya. Wajah pria itu semakin memerah karena marah.


Kepala Instansi langsung berdiri dari kursinya.


“TANGKAP ORANG ITU. LANGSUNG JEBLOSKAN KE SEL !” tangannya menunjuk pada pria itu.


Orang-orang yang berada di dekat pria itu langsung bergerak bersama meringkus pria itu. Dia masih berteriak-teriak. Tidak terima dengan perlakuan yang diterimanya. Melawan saat hendak diborgol. Kaki dan tangannya bergerak memukul dan menendang.


Raditya hanya menatapnya dari atas podium. Dia menggelengkan kepalanya.


“Good cop, bad cop, memang ada dan bukan sekedar cerita dalam film atau novel saja. Saya harap, saya bisa mengajak rekan-rakan saya untuk tetap menjadi good cop, walau sesukar dan seberat apapun masalah yang kita hadapi,” Raditya menjeda sebentar, “Karena tugas kita adalah tugas pengabdian. Mengabdi kepada masyarakat. Mengayomi dan melindungi masyarakat.”


Suara tepuk tangan terdengar meriah mengakhiri kalimat Raditya. Para undangan dan para perwira berdiri sambil bertepuk tangan. Begitu juga dengan Kepala Instansi.


Seorang pria berseragam perwira tampak berlari ke arah podium sambil membawa beberapa tangkai bunga yang sepertinya diambil dari dekorasi ruangan. Berdiri di depan panggung podium sambil tersenyum lebar.


Raditya melihatnya. Melihat benda yang ia genggam dibalik tangkai bunga yang ia genggam juga. Raditya terpaku. Ujung benda itu mengarah ke kepalanya. Dan pria itu terus tersenyum menatap Raditya.


.


***


Waduh! Bahaya!!


Jangan lupa like-nya untuk menghitung retensi pembaca ya.


Ayo, minta update, supaya Author segera capcus ngebut nulisnya.


Ditunggu saweran kembang setaman, secangkir kopi supaya makin kuat nge-halunya ya..


Love you Readers❤