CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 141 – SEDIKIT LEBIH BANYAK DAN LEBIH SEDIKIT



“Anton mengantarkan Adinda pulang. Tadinya Adinda menolak tapi Anton memaksa.”


“Adinda ngomong apa saja ke Anton?”


“Gak ngomong apa-apa. Cuma banjir airmata saja. Menangis tanpa suara.”


“Kak,” Adisti menyentuh kaki kakaknya, “Cewek kalau sudah menangis tanpa suara, itu artinya dia sedang terluka sekali. Kakak melakukan apa sih ke Dinda?”


“ Kakak menolak bantuan Adinda saat dia mengulurkan tangannya untuk menolong Kakak duduk di kursi roda.”


“Alasannya?” tanya Adisti.


“Bukan mahram.”


Bramasta mengangkat alisnya, “Tapi Kakak Ipar menerima uluran tangan perawat yang notabene juga bukan mahram Kakak Ipar?"


"Kan itu sudah jadi job desk-nya perawat, Bang..” Agung terdiam sejenak, “Adinda juga berkata seperti itu..”


“Semua tergantung dengan niat, Kakak Ipar.”


“Disti yakin, niat Adinda adalah pure untuk menolong Kakak.”


“Rasanya seperti kena setrum saat Dinda menyentuh kulit Kakak.. merinding gimana.. gitu,” Agung berbicara dengan suara pelan.


“Memangnya Abang dulu tidak begitu? Saat pertama kali Disti menyentuh wajah Abang di tengah jurang, saat di tangga rumah, saat di tepi jurang...” Bramasta mengingat itu semua.


“Tapi karena waktu itu niatnya memang ingin menolong, jadi otak sudah menepis pikiran-pikiran negatif yang dibisikkan setan,” Bramasta mengeratkan pegangannya pada jemari Adisti.


“Berarti Kakak salama ini ngeres terus bawaanya ya?” tuduh Adisti.


Agung menatap dongkol adiknya.


“Gak boleh su’udzhon,” sergah Bramasta kepada Adisti, “Kakak Ipar hanya bersikap hati-hati. Karena memang tipu daya setan itu halus sekali."


"Tuh.. dengerin kata suami.." balas Agung pada Adisti.


Bramasta melanjutkan, “Yang awalnya berniat menolong, kemudin berubah karena suasana yang mendukung dan dibisiki setan, lalu merasa ada kesempatan dalam kesempitan. Dari bersentuhan, meningkat ke hal lainnya..”


“Jadi harus bagaimana?”


“Tetap semuanya bergantung dengan niat tapi tetap menggunakan akal kita serta kuatkan iman kita agar tidak mudah tergoda."


“Jadi Aa harus bagaimana?”


“Isssh kan tadi udah diterangin. Dasar amatir..” cibir Adisti.


Bramasta menepuk punggung tangan Adisti dengan gemas, “Gak boleh takabur merasa sudah profesional.”


“Memangnya sudah profesional gitu?” Agung meringis menatap adiknya, “Seprofesional apa sih Adek?”


Adisti terdiam tak bisa berkata-kata.


“Tuh kan bingung sendiri menjawabnya,” kekeh Bramasta.


“Buruan minta ma’af ke Dinda..” Adisti mengingatkan, “Jangan dibiarkan berlarut-larut. Ingat, selain Kakak masih ada Hyung Anton yang juga suka ke Adinda..”


“Yuk ah, pulang. Makin lama kalau kalian kumpul, omongan Disti makin ngaco..”


“Jangan.. jangan pulang dulu..” Agung mencekal tangan Bramasta.


Bramasta terkekeh, “Kenapa?”


“Tadi Adinda ngucapin selamat atas masuknya Aa ke dalam list lajang yang paling diinginkan di negeri ini..”


“Dah, Bang. Biar Kakak lega, temanin Kakak curhat dulu. Biar plong Kakaknya. Nanti malah gak bisa tidur lagi..”


“Abang rasa, Dinda cemburu deh. Ke perawat dan daftar lajang yang paling diinginkan..” Bramasta terkekeh.


“Disti juga rasa begitu, Bang. Kakak buruan chat atau telepon Dinda sekaran,”Adisti menepuk-nepuk kaki kakaknya, “Disti lupa memberitahu Bunda tentang buket anyelir tadi..”


“Buket Anyelir apa? Kenapa harus memberitahu Bunda? Memangnya dari siapa?” Bramasta melirik buket-buket bunga yang dibawa naik ke kamar.


Lalu melangkahkan kaki menuju meja tempat bunga-bunga itu berada. Hanya mengambil buket anyelir, mengamati buketnya lalu mengerutkan keningnya melihat tulisan yang banyak pada kartu ucapannya.


Adisti menutup mulutnya. Bertukar pandang dengan kakaknya yang mengedikkan bahunya.


Agung berkata tanpa suara kepada adiknya, “Nah lo!”


Adisti menggigit bibirnya. Wajahnya khawatir suaminya akan marah.


Bramasta selesai membaca. Lalu melangkah ke Bunda yang tengah menonton TV. Langsung duduk di samping Bunda.


“Bun, ada buket bunga dari Tiyo,” Bramasta menyerahkan buket pada Bunda.


“Tiyo?” Bunda mengernyitkan dahinya, “Dia tahu Kakak kecelakaan?”


“Pasti tahu, Bun. Beritanya heboh di TV dan sosmed,” Bramasta terkekeh.


Bunda membaca kartunya. Lalu mengangguk.


“Jadi dia di Kanada sekarang. Semoga dia bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik di sana.”


“Aamiin..”


“Nak Bramasta mema’afkan Prasetyo?”


“Insyaa Allah, Bun..”


“Alhamdulillah...” Bunda memeluk Bramasta sambil menepuk-nepuk punggungnya.


“Disti..” Bramasta memandang Bunda.


“Ah, anak itu pasti hanya terkejut sesaat karena mengetahui Tiyo sudah tidak di sini lagi dan merasa kasihan dengan keadaanya sekarang. Tidak lebih. Karena Bunda tahu betul, Adek gak punya rasa yang mendalam pada Prasetyo.”


Bramasta tersenyum.


“Iya Bun.. Bram tahu itu,” Bramasta mengambil tangan Bunda lalu salim, “Bram sekalian pamit ya Bun. Mau kembali lagi ke kantor untuk ambil berkas supaya dikerjakan di rumah nanti.”


“Iya.. Hati-hati ya..“


“Disti, Sayang.. Pulang yuk. Kita singgah dulu ke kantor ya. Ambil berkas.”


“Iya Bang..”


Adisti memandang Agung.


“Eh, gak marah ternyata. Kirain bakal cemburu atau gimana-gimana..” bisik Adisti pada Agung.


“Makanya, jangan su’udzhon mulu.”


“Hmmm tapi Kakak bahkan tidak merasa salah sama sekali.”


“Gak usah ngeyel. Ini bukan tentang siapa yang salah. Karena bagaimanapun, wanita selalu benar. Contoh dong Ayah ataupun Abang Bram.”


“Iya..”


“Apalagi Dinda masih sangat muda. Kakak yang lebih dewasa harus lebih peka.”


“Iya..”


“Eh?” Adisti menoleh cepat pada kakaknya, “Tumben.. iya-iya mulu... Biasanya gak terima.”


Agung menatap kesal padda adiknya.


“Karena Kakak gak pernah menghadapi hal beginian selama ini. Gak punya pengalaman.”


“Good," Adisti tersenyum lebar.


“Baik, Suhu.”


“Dih!”


“Disti.. yuk,” Bramasta mendekati istrinya. Mengelus punggungnya


“Kami pulang dulu ya Kakak Ipar.”


“Disti belum pamit ke Bunda, Bang. Bentar ya..”


Bramasta mengangguk. Adisti melesat ke tempat Bunda.


“This is about us. Men talk,” Bramasta tersenyum pada Agung, “Menghadapi kaum Hawa, turunkan ego kita sedikit lebih banyak dari yang kita maui tapi juga lebih sedikit dari yang mereka maui. Agar kita juga tidak dianggap terlalu gampangan oleh mereka dan kita tetap memegang kendali.”


Agung menatap mata Bramasta. Berusaha menyerap maksud ucapan adik iparnya. Kemudian mengangguk mengerti sambil tersenyum lebar.


“Thanks, Bang.”


Mereka berdua ber-hi five.


“Abang.. ayo..” Adisti sudah memegang handle pintu.


***


“Tentang buket bunga anyelir, Abang tidak marah?” Adisti bertanya takut-takut sambil menatap Bramasta yang duduk di sampingnya.


Bramasta menoleh lalu menyentuh pucuk kepala Adisti yang tertutup hijab.


“Marah ke siapa? Dan kenapa harus marah?”


Bramasta menarik Adisti untuk bersandar di dadanya.


“Isssh Bang.. malu ih,” Adisti menunjuk driver dengan dagunya.


Bramasta terkekeh.


“Biarin ah. Sekali-kali..”


Mobil berhenti di teras lobby. Jam bubaran kantor. Lobby penuh dengan karyawan yang hendak pulang.


“Cuma ambil berkas kan?” tanya Adisti.


“Iya.. Kenapa?”


“Disti mau ke supermarket ya Bang. Mau beli buah-buahan. Bikin asinan Bogor.”


“Gak supermarket di gedung aparemen saja?”


Adisti menggeleng, “Gak lengkap.”


Bramasta mengangguk. Mereka bergandengan tangan di dalam lift.


Mereka melewati ruangan Indra. Bramasta melongokkan kepalanya di pintu sambil mengucap salam. Indra menoleh sambil menjawab salam.


“Kenapa kesini?”


“Cuma mau ambil berkas.”


“Kan gue bisa bawain nanti malam.”


“Supaya bisa dikerjakan sekarang. Nanti malam saat kira semua kumpul, fokus gue hanya ke Prince Zuko doang.”


Indra mengangguk. Kemudian notifikasi pesan chat mereka berbunyi bersamaan. Indra dan Bramasta saling pandang lalu terkekeh bersama.


Leon_Tebak, siapa korlap kejadian Batam semalam?_


Bramasta_No Idea_


Anton_Siapa Bang?_


Agung_Orang berpengaruh kah?_


Leon_Tuan Thakur sendiri_


Semuanya serentak mengetik _NO WAY_


Leon_Gue dapat info dari intelijen Singapura. Akibat salah satu warga negaranya menjadi korban penembakan, pemerintah tidak tinggal diam rupanya_


Indra_Bukannya dia sedang dirawat di rumah sakit akibat cedera kepalanya?_


Hans_Sebentar, gue hubungi dulu anak buah gue di sana..._


Indra_Ah, kalau benar seperti itu... breng$ek banget dah..._


Bramasta_Ini kejahatan terstruktur. Pasti banyak perwira tinggi yang terlibat._


Agung_Bang Leon punya foto atau video tentang keterlibatan Tuan Thakur?”


Leon_Baru sampai, sedang download_


Anton_Prince Zuko malam ini akan semakin garang ya.._


Semuanya memberi emot jempol pada chat Anton tanda setuju.


.


***


Tuan Thakur ngeri... masih bisa halan-halan untuk balas dendam.