CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 256 – RENCANA BRAMASTA UNTUK ANTON



Proses rekaman Prince Zuko sudah selesai. Beberapa bagian ada yang dipotong karena masalah durasi.


Anton, Agung, Indra, Bramasta dan Hans berkolaborasi di depan komputer yang saling terhubung satu sama lainnya.


Adisti yang tidak menguasai coding dan segala sesuatu tentang dunia hacker memilih untuk mengamati saja. Sesekali dia memberikan pendapat tentang kualitas gambar video.


Semua akhirnya selesai. Bramasta meregangkan jemarinya. Anton meregangkan tulang punggungnya hingga terdengar suara KREK nyaring yang membuat semuanya menoleh padanya.


“Setdah! Suaranya renyah banget jadi ingat Bang Leon digarap Mamang Urut,” seru Indra, membuat yang lainnya tertawa.


“Besok Lu libur ya, Ton. Istirahat aja,” Bramasta.


“Gak bisa, Bos. Harus ke site yang di Bandung Timur. Cek pekerjaan para sub kontraktor juga cek material juga.”


“Ya sudah, lu harus sudah selesai semuanya jam 15.00. Bisa?” Bramasta menatap Anton yang tengah berpikir.


"Memangnya kenapa? Ada tugas khusus lagi?” Anton malah balik bertanya.


“Bisa selesai jam 15.00 gak semuanya?” Bramasta masih dengan pertanyaan yang sama.


“Insyaa Allah bisa sih.”


“Good. Pukul 15.30 Lu sudah harus sudah ada di Pare Padi Resort & Spa.”


Kedua alis Anton terangkat.


“Interior atau eksterior nih?”


Bramasta menatap Indra sambil berkedip. Seperti Tuan Alwin dan Hans yang mempunyai bahasa tanpa kata begitu pula dengan Bramasta dan Indra.


“Nanti Lu hubungi saja manajernya, Ton. Eka Bagja,” Indra memandang Anton dengan serius, “Nanti dia yang akan memberi pengarahan.”


Anton mengangguk mengerti. Dia mencatat di agenda gawainya tentang tugasnya besok.


“Lu gimana sih Bram? Awalanya nyuruh libur tapi akhirnya disuruh kerja..” Hans terkekeh.


“Dianya gak mau libur..” Bramasta memasang wajah datar.


“Sudah siap semuanya?” Anton bertanya sambil memasang headset, “Dis, cek Burung Biru. Trending topic saat ini apa?”


Adisti menggulir gawai yang ada di tangannya.


“Masih tentang Prince Zuko..”


“Kita tambahin lagi ya malam ini,” Anton terkekeh.


“Gaskeun, Ton.. Urang edunkeun lah sakalian,” seloroh Agung yang disambut kekehan lainnya.


“Are you ready?” Anton, “Count down on three... two... and one!”


Anton menekan tombol enter.


Seketika layar proyektor yang tengah menampilkan halaman Burung Biru menjadi hitam. Blackout selama 3 detik. Samar-samar musik latar kemunculan Prince Zuko terdengar.


“Cek halaman Burung Biru masing-masing..” Hans memerintahkan.


Semua menurut. Tampilan layar sama dengan tampilan di proyektor, hanya selisih 2 detik.


“Komentar-komentar mulai muncul di bawahnya..” seru Adisti.


Tayangan berjalan lancar. Komentar yang bermunculan semakin ramai. Bramasta dan Hans memperhatikan komputer di ruang kendali.


Tiga monitor menyala merah. Tetapi tidak lama, monitor tersebut sudah tidak menyala merah lagi.


Bramasta menatap Hans dengan tatapan heran.


“Secepat itu?” Alis Bramasta terangkat, “Ini kerjaan orang-orangnya Lu atau anonymous lain yang membantu?”


Hans menggeleng.


“Orang-orang gue masih makan malam. Tuh, kan ruangan sepi. Para anonymous juga belum bergerak karena gue yakin mereka masih serius menyimak apa yang tengah di-spill Prince Zuko.”


“So?”


“It was Anton. Dia sudah membuat sistem pertahanan baru untuk Prince Zuko..”


“Ck!” Bramasta berdecak sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, “Anak itu.. kapan terakhir dia tidur sih?”


“Jadi, besok sore Lu kirim Anton ke Pare Padi buat apa?” Hans menoleh menatap Bramasta.


“Buat menerima perawatan spa lengkap. Anak itu butuh terapi pijat lengkap. Kalau perlu sekalian chiropractic,” Bramasta tersenyum lebar.


“Memangnya dia mau?” Hans menatap Bramasta dengan sangsi.


“Indra punya cara sendiri. Dia sudah menghubungi manajer di sana. Menyusun skenario supaya anak itu mau tak mau harus mau..”


“Gue lama-lama ngobrol dengan Lu jadi kacau Bahasa Indonesia gue, Bram..” Hans terkekeh pelan, “Apa itu, mau tak mau harus mau!”


Bramasta tergelak hingga membuat Adisti menoleh menatapnya dengan tatapan bertanya.


“Apa kabar Mathew di Italy?” Bramasta menanyakan sepupu Hans, satu-satunya keluarga yang tersisa di negara asal pizza itu.


“Mathew?” Hans mengernyit sambil melirik Bramasta yang tersenyum lebar, kemudian menghembuskan nafas kasar, “Bodo amat..!”


Bramasta tergelak lagi. Selalu begitu setiap kali Hans diingatkan dengan keluarganya yang masih ada di Italia. Mereka tidak akur setelah Mathew memaksa Hans untuk bersama-sama mengelola bisnis keluarga mereka.


Tapi walau hubungan Hans dan Mathew kurang akur, keduanya saling menyayangi. Bramasta tahu betul itu bagaimana keduanya saling menunjukkan rasa kasih sayangnya dengan cara yang aneh bagi sebagian banyak orang.


“Kalian berdua sedang ngobrolin apa sih?” Adisti muncul dari belakang membuat keduanya menoleh.


“Sedang mengamati ruang kendali..” Bramasta menoleh sambil tersenyum.


“Gak ada alarm yang menyala merah kan? Berarti aman?” Adisti menatap keduanya bergantian.


Hans dan Bramasta mengangguk.


“Gue tadi menyuruh Bram untuk segera berbulan madu..” Hans menyengir menatap Bramasta yang tengah menatapnya dengan alis terangkat sebelah.


“Kalem, Bang.. New Zealand masih tetanggaan dengan Australia. Belum bergeser ke Kutub Selatan..” Adisti terkekeh sambil memeluk lengan suaminya.


“Dih.. bini Lu Bram.. kalau bicara tuh kadang nyebelin...” Hans mencebik kesal.


“Lah, Disti kan ngomong benar. Iya gak Bang?” Adisti bertanya pada suaminya.


Bramasta hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil terkekeh membuat Hans makin sebal.


Mereka berbalik lagi menatap proyektor. Komentar-komentar makin banyak di bawah Prince Zuko yang tengah berbicara tentang flashdisk.


Prince Zuko menampilkan beberapa daftar nama. Beberapa nama pengguna jasa bisnis gelap The RItz diblurkan. Begitupula seluruh nama para gadis dan pria yang menjadi pelayan layanan gelap The Ritz.


Nama Brian Amsel diberi sorotan warna pink terang. Tujuh kali dia menggunakan layanan gelap The Ritz dengan gadis yang berbeda. Prince Zuko menginformasikan tentang kondisi pada gadis muda pasca melayani Brian Amsel.


Nama-nama rekan sejawat Tuan Thakur ditampilkan berikut jabatannya. Lengkap dengan tanggal, jam dan tempat transaksi. Begitu juga dengan nama kroni Tuan Thakur.


Tayangan ditutup seperti biasa. Musik latar dan gambar Prince Zuko yang semakin blur hingga akhirnya menghilang. Layar menghitam.


Suara Anton terdengar lagi...


“Count down on three, we’ll go out_Hitung mundur dari tiga, kita akan keluar_ Three..two..one. Out!”


Anton menge-klik mouse-nya sementara Agung masih sibuk mengetik di laptopnya. Begitu pula dengan Indra.


“Kalian ngetik apa?” tanya Adisti.


Indra menggunakan tangannya untuk memberitahu Adisti untuk tidak menyela apa yang sedang mereka kerjakan.


“Bang Hans..!” Anton berseru pada Hans yang tergopoh menghampiri komputernya.


Hans segera duduk dan mengetik dengan cepat.


“I’m ready!”


Bramasta mengetik juga di komputernya.


“I’m just already in!”


“Get set_Bersiap..” Anton memberi aba-aba, “Three..two..one! Let’s do it!”


Kelimanya mengetik dengan cepat. Mata mereka fokus bergantian pada keyboard dan layar.


Adisti yang tidak melakukan kegiatan apa-apa, berjalan mendekati jendela dekat ruang kendali. Matanya terbelalak melihat semua monitor menyala merah, tiga monitor kemudian padam.


Adisti melirik kelima pria yang tengah mengetik dengan cepat.


[Apakah ini ada hubungannya dengan mereka?]


Adisti berjalan ke arah suaminya. Penasaran dengan apa yang tengah diketiknya.


Adisti mengeryit menatap layar monitor di depan keyboard cahaya yang diketik oleh suaminya. Bahasa perintah komputer yang tidak dipahami olehnya.


10 menit berlalu.


“I’m done!_Gue sudah selesai!” Agung berseru.


“Finish!” seru Bramasta.


“End!” seru Indra.


“Fin!” seru Hans.


Anton masih sibuk mengetik dan menggerakkan kursor mouse-nya.


“Masih lama, Ton?” Hans memandangi Anton.


“Just a minute.._Bentar lagi.._” Anton menggerakkan bahunya yang terasa pegal, “Gue sedang menghapus jejak-jejak kalian..”


Keempat pria lainnya saling berpandangan dengan alis terangkat.


.


***


Serumit itukah?


Setelah penampilan malam lalu ada yellow light pada monitor, Anton menjadi lebih berhati-hati. Dia tidak mau lengah.


Hyung Anton.. saranghaeyo!


😁😍