CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 84 – BINGUNG



Makan malam di rumah Keluarga Gumilar berlangsung dengan hangat.


“Rumah sepi gak ada Adek,” kata Ayah.


“Kakak kesepian gak ada yang bisa dijailin setiap pagi..” kata Agung.


“Apaan? Baru juga cuma semalam Kakak gak jailin Disti..” Bramasta mencibir.


“Maksudnya?” tanya Bunda.


“Kakak menginap di apartemen Abang sepulang dari The Cliff,” jawab Adisti.


“Apaaa??” Ayah dan Bunda keheranan.


“Bareng Bang Indra juga...” Agung melotot melihat adiknya.


“Ngapain kalian di apartemen Abang?” selidik Ayah dengan wajah tidak suka, “Kalian jahilin Abang dan Adek?”


“Nggaaaaak..” Agung menyikut Bramasta yang duduk di sebelahnya untuk membantu menjawab pertanyaan Ayah.


Bramasta hanya mengangkat bahunya.


“Adek panik, bicara di telepon sambil nangis dan teriak-teriak melihat Abang Bramasta mimisan,” Agung melirik pada Bramasta yang langsung tersedak, “Untung Kakak saat itu masih berada di The Cliff bersama Abang Indra dan Anton. Jadinya, Kakak pergi ke apartemen berdua dengan Abang Indra. Kan yang lebih tahu Bang Bramasta itu Abang Indra karena mereka bagai kembar tak identik.”


Bramasta melotot menatap Agung. Adisti terkekeh geli.


“Yang tahu nomor pin pintu apartemennya Abang kan Bang Indra. Jadinya kami langsung masuk.”


“Terus?” tanya Bunda.


“Ada Abang Bramasta keluar kamar dengan hidung disumpal tisu. Kanan kiri...”


“Mimisan dua-duanya? Kanan kiri?” tanya Bunda cemas.


Bramasta mengangguk sambil tersenyum malu.


“Tadinya mau dibawa ke rumah sakit atau manggil dokter, tapi Abang menolak..”


“Terus?” tanya Ayah.


“Ya ditunggu sampai berhenti sendiri darahnya..” Agung menoleh menatap Bramasta, “Eh, Bang.. pas besok paginya pasti hidung Abang jadi banyak upilnya ya?”


Bramasta menaikkan kedua alisnya mendengar ucapan Agung [Pertanyaannya nggak banget deh!].


“KAKAK JOROK BANGET SIH?! Ini Disti masih makan tau..!” Adisti mencebik.


“Ya ma’af.. tiba-tiba terlintas dalam pikiran Abang..”


“Bun, mulai deh.. Tom & Jerry beraksi..” kata Ayah disertai anggukan Bunda.


“Paginya, Kakak ngatain Adek pocong!” adu Adisti pada Ayah dan Bunda.


Bramasta berusaha menahan tawanya.


“Kok bisa?” tanya Bunda keheranan.


“Anak cewek Bunda tuh katrok banget. Kedinginan tidur di kamar ber AC sampai menggulung dirinya pakai bedcover dari kepala sampai ujung kakinya. Mana kamarnya masih remang-remang, warna bedcovernya putih pula...”


Ayah dan Bunda terkekeh bersama.


“Krem, Kaaaak itu warna kreeeeeeeem.”


“Tauk ah.. saat itu kelihatannya warnanya putih. Nyeremin.”


“Kalian berdua menginap di sini saja malam ini, ya?” pinta Ayah.


Adisti tersenyum lebar sambil melihat suaminya dengan alis mata dinaik-turunkan. Bramasta mengangguk.


Notifikasi pesan chat gawai Bramasta dan Agung berbunyi bersamaan. Jeda sejenak kemudian berbunyi berturut-turut. Bramasta dan Agung saling berpandangan sambil membuka pesan chat.


Keduanya melongo saat membaca pesan chat yang dikirim Indra yang kemudian menjadi hujan stiker ngakak di WAG Kuping Merah.


Indra_Papi ngirim foto ini.. (Foto yang diambil oleh Om Dhani saat hendak masuk ke ruangan Agung), pertanyaan Papi: Mereka sedang ngapain sih? (Emot ngakak 3x)_


Hampir pukul 22.30 ketika Adisti sudah tertidur di kamar bawah, Bramasta keluar kamar. Kemudian menaiki tangga menuju kamar Agung. Dia mengetuk pintu kamarnya.


“Kakak Ipar.. assalamu’alaikum..”


Agung membuka pintu kamarnya, “Wa’alaikumussalam. Ada apa Bang? Adek udah tidur?”


Bramasta mengangguk.


Agung mempersilahkan Bramasta masuk. Bramasta duduk di kursi yang ada di meja tulis.


“Sewaktu resepsi kemarin, Tuan Hilman Anggoro hadir dan memberi selamat. Disti sepertinya tidak menyukainya, keberatan dengan kehadirannya. Abang sudah jelaskan kalau Daddy yang mengundang Tuan Hilman Anggoro karena rekan bisnis.”


Agung mengangguk mengerti.


“Apa yang Tuan Hilman katakan kepada Adek?”


“Dia meminta ma’af. Dan meminta Disti untuk mema’afkan istri dan anaknya.”


“Itu sebabnya kalian menyingkir dari pelaminan?”


Bramasta mengangguk.


Agung mengangguk.


“Kita bicarakan dengan Ayah.”


“Sudah tidur belum?”


“Biasanya belum. Yuk.”


Ayah dan Bunda mengangguk mengerti saat Bramasta menceritakan lagi apa yang tadi sudah ia ceritakan kepada Agung. Mereka berbincang dengan suara pelan di ruang tengah.


“Bunda juga pada saat itu bingung, bagaimana nanti menyampaikannya kepada Adek,” Bunda menyentuh lengan atas Ayah. Ayah menepuk-nepuk jemari Bunda.


“Besok biar Ayah dibantu Bunda untuk berbicara pada Adek,” kata Ayah.


“Kakak gak bisa nemenin buat bicara dengan Adek loh..” Agung memandang ayah dan Bunda bergantian, “Kakak ngantor..”


“Iya.. Kakak ngantor mah ngantor aja,” kata Bunda, “Cuma nanti kalau Adek salah mengerti, Kakak nge-back up ya. Karena Bunda khawatir Adek akan salah pengertian dengan uang pemberian ganti rugi dari keluarga Anggoro.”


Agung mengangkat kedua jempolnya pada Bunda, “Insyaa Allah..”


“Bang, kabari kalau Adek jadi gimana-gimana atau kenapa-kenapa ya,” kata Agung kepada Bramasta.


“Siip Kakak Ipar..”


“Dek, gak sarapan?” tanya Agung saat dia bersiap untuk pergi ke kantor.


“Nanti aja, Adek pengen bubur ayam si Emak langganan kita. Mumpung di sini.”


“Jualan gitu?”


“Gak tahu. Nanti bareng Abang mau ke sana.”


“Bungkus aja. Jangan makan di sana. Nanti Abang dikerubutin ibu-ibu atau dicolak-colek ibu-ibu, bisa berabe nanti.”


“Iya..iya..”


“Sebuas itukah ibu-ibu di sana?” tanya Bramasta dengan alis terangkat.


“Semenjak Kakak muncul di konferensi pers, para ibu-ibu yang beli bubur ayam si Emak jadi makin genit ke Kakak. Kakak sampai dicubitin, ditoal-toel. Dulu sih biasanya hanya ngajak ngobrol Kakak doang sambil bergenit-genit begitu...”


Ayah dan Bunda terkekeh mendengar pembicaraan mereka.


“Ayah dan Bunda juga mau bubur ayam?” Bramasta menawarkan.


“Boleh..” jawab Bunda.


Adisti salim ke kakaknya ketika mengantar kakaknya di carport.


“Abang salim juga dong ke Kakak,” kata Adisti memandang suaminya, “Kan sekarang Abang jadi adiknya Kakak..”


“Hissh Kakak bisa pamali kalau Abang salim ke Kakak. Umur Abang lebih tua daripada umur Kakak,” kata Agung canggung.


Bramasta juga berdiri canggung di depan Agung dengan tangan ditarik-tarik istrinya. Ayah dan Bunda yang menyaksikan mereka pagi itu terbahak di teras.


“Salam secara manly saja, Kakak Ipar,” kata Bramasta mengajak hi five.


“Issh kalian berdua tuh ya gak asyik,” Adisti mencebik.


Agung sudah di atas motornya.


“Kakak makin ganteng deh di atas motor,” Adisti tesenyum lebar pada kakaknya.


“Woyyadong..” Agung tersenyum pede.


“Gantengan Abang,” Bramasta mencibir.


“Iya.. gantengan Abang,” Adisti melirik suaminya.


“Kak, mudah-mudahan Kakak bertemu jodoh Kakak ya saat memakai motor ini..”


“Maksudnya Kakak ngojek?” tanya Agung heran.


“Hhhhh! Kok jadi ngojek sih?” Adisti menatap jengkel kakaknya, “Ya udah sana deh berangkat. Nanti telat dimarahi Om Dhani atau Daddy sekalian.”


Agung mengeluarkan cengiran tengilnya kepada Adisti. Bramasta yang di samping Adisti terkikik geli. Agung berlalu setelah melambaikan tangan kepada mereka semua.


Notifikasi pesan chat Bramasta berbunyi. Dari Hans di WAG Kuping Merah.


Hans_Cek berita online_


Bramasta membuka berita online. Semua berita dipenuhi oleh judul dan narasi yang sama. Tentang alasan Rita Gunaldi ditangguhkan penahanannya. Dia membaca isi berita di beberapa portal berita online. Isi beritanya sama narasinya.


Bramasta_Berita pesanan. Ada yang mulai panik_


Leon_Sebentar lagi, Inspektur Vijay akan keluar membasmi Inspektur Thakur_


Anton_We can use him_


“Abang, ayo,” ajak Adisti, “Gak usah pakai jaket ya.”


***